
AAI 84 - Kehidupan Indah
Satu bulan berlalu. Selama itu pula Hesti menghabiskan waktunya di dalam rumah sakit. Gita senantiasa mendampingi sang ibu. Galih juga memperkerjakan seorang perawat untuk merawat ibunya karena ia dan Gita tidak bisa dua puluh empat jam berada di sampingnya. Bahkan Galih sampai rela mengulur waktu yang seharusnya ia kini sudah berada di jakarta tetapi karena kecelakaan sang ibu.
Hari ini Hesti sudah bisa dibawa pulang ke rumah. Meski ia belum bisa bicara lancar, tapi Hesti sudah bisa mengeluarkan suara walaupun tidak jelas. Selama di rumah sakitpun ia menjalani berbagai terapi agar bisa menggerakkan anggota tubuhnya. Namun karena stroke nya tergolong berat, membuat Hesti sulit untuk bisa sembuh seperti sedia kala. Bahkan dokter mengatakan itu sangat mustahil. Hesti hanya bisa mengangguk, menggeleng, serta menggerakkan jari tangannya.
"Ayo, kita pulang." Ucap Galih yang baru saja masuk ke dalam kamar inap. Di tangannya sudah menenteng sebuah tas berisi laporan medis serta obat-obatan yang dikonsumsi oleh Hesti.
"Iya, Mas." Sahut Gita.
"Biar aku sama Mas Galih yang bawa barangnya, Mbak Asih yang mendorong ibu." Ucap Gita kepada wanita yang diperkerjakan Galih untuk merawat ibunya.
"Iya, Non." Jawab Asih. Wanita berumur tiga puluh lima tahun itu langsung mengambil alih kursi roda Hesti. Ia yang sudah memiliki pengalaman dalam mengurus orang tua sangat telaten dalam menangani Hesti.
Setelah mengendarai mobil selama hampir satu jam, akhirnya mobil Galih tiba di rumah ibunya. Galih juga sudah memutuskan untuk tinggal di sana sampai ia akan berangkat ke Jakarta akhir bulan ini. Karena dedikasi dan loyalitasnya dalam bekerja, maka atasannya memberi kelonggaran waktu kepada Galih.
Cklek
Sesampainya di rumah, Galih langsung menuju kamarnya. Dengan jantung yang masih berdetak kencang, laki-laki itu perlahan melangkahkan kakinya memasuki tempat dimana ia menghabiskan beberapa tahun bersama istrinya. Kenangan demi kenangan masa lalu tiba-tiba melintas di benaknya. Canda, tawa, kebersamaan sang istri mampu membuat Galih menitikkan air mata.
"Lihatlah, Indah. Meski kau tak lagi di sini, semuanya masih tetap pada tempatnya." Gumam Galih seraya memandang berbagai macam bingkai foto yang berisikan dirinya bersama sang mantan istri.
"Masihkah kau memikirkan ku, Sayang? Salahkah aku jika aku masih mengharapkan cintamu?" Tanya Galih pada foto Indah yang tengah tersenyum manis ke arah kamera. Tak ada wanita dihati Galih selain dirinya. Wanita pertama yang mampu menembus benteng hati Galih dan memberikan warna di hidupnya.
"Aku masih sangat mencintaimu," gumam Galih seraya memeluk pigura foto pernikahan nya dengan Indah. Laki-laki itu menangis, sekuat apapun ia menahan diri pada akhirnya ia kalah. Dirinya kalah dari cintanya.
__ADS_1
Disisi lain, Indah sudah mulai bisa bangkit dari keterpurukannya. Sehari-hari ia menghabiskan waktu dengan tumpukan buku-buku lawasnya. Menggali potensinya yang telah terkubur sekian lama. Selain itu, ia juga mulai bergabung dengan komunitas-komunitasnya yang dulu pernah ia kenal.
"Hari ini kamu mau kemana, Nak? Kok dandan, tumben." Tanya sang ayah kepada Indah. Saat ini keduanya tengah sarapan bersama di pagi hari. Ratih yang baru datang dari dapur ikut menoleh ke arah Indah. Ia sedikit terkejut saat melihat Indah berpenampilan lebih tertutup dengan menggunakan hijabnya yang berwarna merah.
"Masyaallah, cantik bener putri Ibu. Mau kemana, Ndah?" Tanya Ratih.
"Ah, ibu bisa saja. Indah mau ke toko buku, Yah, Bu. Mau beli beberapa buku," ucap Indah dengan tersenyum manis.
Tak lama kemudian Irsyad datang, laki-laki itu duduk di samping ayahnya. Adik dari Indah itu terlihat terpesona melihat kecantikan sang kakak yang duduk di samping ibunya.
"Subhanallah, bidadari dari mana ini berasal? Sepertinya aku merasa seperti di surga, karena dikelilingi oleh dua bidadari cantik seperti ibu dan kakak." Ujar Irsyad yang seketika membuat Sang ayah langsung tersedak kopi hitamnya.
Uhuk
Uhuk
"Mbak, nanti nebeng ya. Motorku lagi ada di bengkel soalnya," ucap Irsyad dengan santai sambil menyendokkan nasi goreng ke dalam mulutnya.
"Nah, bener kan dugaanku." Gumam Indah. Indah yang sangat mengenal Irsyad tentu tahu setiap akal bulusnya. Setiap Irsyad mengagungkan kecantikan ibu dan sang kakak, itu artinya dia membutuhkan bantuan dari salah satunya. Dan hari ini adalah giliran Indah. Wanita itu menghela napas panjangnya, mengingat jarak kampus dan toko buku yang akan di datangi Indah begitu jauh. Bahkan arah kampus Irsyad melewati toko buku itu.
"Heleh, bilang saja minta anterin. Bilangnya apa tadi? Nebeng? Hello, adekku yang paling tampan. Mana ada ceritanya orang nebeng, tapi tempat tujuannya lebih jauh dari tempat yang menjadi tujuan si pemilik motor? Dasar," sahut Indah dengan sudut matanya menatap sinis sang adik.
"Manusia itu diciptakan untuk saling tolong menolong, Mbak. Hehehe," ujar Irsyad dengan senyum jenakanya. Laki-laki itu paling bisa ngeles dan menyahut semua perkataan dari sang kakak. Sedangkan ayah dan ibu mereka hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah laku anak-anaknya.
Setelah sarapan selesai, baik indah dan Irsyad kemudian langsung berangkat menuju tempat tujuan mereka masing-masing dengan menaiki motor bebek kesayangan Indah. Siapapun yang melihat keduanya pasti mengira jika mereka sepasang kekasih, pasalnya Indah dan Irsyad terlihat saling canda tawa seraya menaiki motor.
__ADS_1
"Mbak?" Panggil Irsyad seraya ia terus menyetir. Indah yang tadinya menikmati pemandangan persawahan menoleh ke arah Irsyad.
"Ya, ada apa?" Tanya Indah.
"Apa dia masih menghubungimu?" Tanya Irsyad penasaran.
Indah tentu tahu siapa yang dimaksud oleh Irsyad itu. Dia yang tak lain adalah laki-laki yang kini sudah menjadi mantan suaminya.
'Ya, hampir setiap malam dia selalu mencoba menghubungi nomorku. Namun tak ada satupun yang kuterima meski kedua tangan ini sudah sangat gatal ingin menerimanya dan mengutarakan betapa aku sangat merindukannya.' ujar Indah dalam hati. Sosok laki-laki yang hingga kini masih merajai hatinya walaupun keduanya sudah berpisah secara hukum. Tak ada yang tahu dalamnya hati seseorang. Bahkan lebih dalam dari Palung Mariana yang letaknya berada di sebelah timur Kepulauan Mariana, Samudra Pasifik. Laut paling dalam sedunia.
"Tidak. Kenapa, Syad?" Tanya Indah. Seolah-olah ia memang tidak pernah menerima telepon dari mantan suaminya itu.
"Tidak apa-apa, Mbak. Aku hanya takut jika laki-laki itu masih berusaha untuk membujuk mu, Mbak. Aku tidak ingin Mbak Indah terluka lagi," jawab Irsyad tulus. Sudah cukup sekali baginya melihat kakaknya terpuruk akibat hancurnya rumah tangganya dengan sang suami akibat pihak ketiga yang dimunculkan oleh ibu mertuanya sendiri. Selama berbulan-bulan Indah tertekan, berat badannya turun drastis hingga membuat seluruh keluarga khawatir melihatnya. Beruntung suport sistem dari orang-orang disekitarnya membuat Indah bisa bangkit dan kini sudah mulai beraktivitas.
"Sudah, jangan pikirkan Mbak. Mending kamu pikirkan tentang gebetanmu itu. Dia cantik, pintar, yang pasti banyak cowok yang naksir sama dia. Kalau kau tidak cepat menjadikannya sebagai pacarmu, bisa-bisa keduluan sama yang lain." Ujar Indah mengalihkan pembicaraan. Irsyad mengeryitkan dahi, ia tidak mengerti apa maksud dari perkataan sang kakak.
"Dia? Siapa Kak?" Tanya Irsyad.
"Heleh, siapa lagi kalau bukan Aprilia. Kau suka padanya, kan?" Tanya Indah. Tanpa Indah ketahui kini rona merah mulai bermunculan di kedua pipi Irsyad. Mendadak ia merasa panas di sekitar wajahnya kalaendenagr nama itu.
"Hus, jangan asal bicara Mbak. Sudah, sampai sini saja." Ucap Irsyad seraya menghentikan laju motornya. Mereka berhenti di depan sebuah toko kecil yang berada di samping kampus Irsyad.
"Loh, kenapa berhenti di sini?" Tanya Indah bingung.
"Oh, ini aku mau fotocopy Mbak. Ya udah, terimakasih ya tumpangannya. Bye kak," setelah mengatakan itu, Irsyad langsung berlarian meninggalkan indah disana. Wanita itu hanya bisa menggelengkan kepala lalu bergegas meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...