
AAI 96 - Kado Terindah
Beberapa saat yang lalu,
"A-apa dok? Ti-tiga?" Tanya Indah kepada dokternya. Dokter wanita itu tersenyum seraya menganggukkan kepala. Ia pun begitu bahagia karena bisa melihat keajaiban Tuhan itu.
"Benar, Bu. Kembar tiga. Lihatlah, ada tiga kantung di sini." Ucap dokter bernama Meta itu seraya menunjukkan ke arah hasil usg. Indah menitikkan air mata kebahagiaan. Ia sangat bahagia mendengar kabar bahagia itu.
"Alhamdulillah. Terimakasih atas kado terindah ini, Ya Allah. Ini menjadi kado ulang tahun terindah untuk Mas Galih." Indah memanjatkan puji syukur kepada Tuhan atas rejeki ini.
"Jangan lupa jaga kesehatan, ya Bu. Kehamilan kali ini lebih beresiko dari kehamilan Ibu sebelumnya. Makan makanan yang bergizi, jangan terlalu banyak stres yang bisa mengganggu pikiran Ibu." Ucap dokter.
"Baik, dok." Sahut Indah dengan senyuman. Berulangkali ia mengusap jejak air mata yang sejak tadi mengalir dari sudut matanya.
"Nanti saya akan berikan vitamin untuk Ibu. Jangan lupa di minum ya." Imbuh dokter dan dijawab anggukan kepala oleh Indah.
"Baiklah, kalau begitu saya keluar dulu ya, Bu. Setelah ini Ibu harus dirawat sehari dulu disini untuk memulihkan kesehatan Ibu. Oke?" Indah hanya bisa menurut dengan semua perkataan dokternya. Setelah mengatakan itu, dokter Meta keluar untuk menemui keluarga Indah.
"Dengan keluarga Bu Indah?" tanya dokter itu. Galih dan adik serta kedua anaknya langsung menghampiri dokter tersebut. Wajah keempat orang itu terlihat sangat khawatir dengan keadaan Indah.
"Saya suaminya, dok. Bagaimana dengan istri saya?" tanya Galih. Dokter itu menghela napas.
__ADS_1
"Jadi begini, Pak. Saya sudah memeriksa keadaan istri Bapak. Istri Bapak hanya kelelahan, mungkin itulah yang membuatnya sampai pingsan. Apalagi Ibu Indah juga sudah menceritakan tentang tadi pagi kepada saya." Ucap dokter itu.
Blush
Wajah Galih berubah memerah, ia merasa malu karena kelakuannya diketahui oleh dokter sang istri. Ia juga merasa bersalah karena ia tidak bisa menahan dirinya jika sudah bersama sang pujaan hati.
"Maaf ya, Pak. Bukannya melarang, tapi mulai saat ini saya mohon jangan terlalu sering dan lama-lama ya, Pak. Soalnya kasihan nanti adek-adeknya yang ada di dalam." Imbuh dokter itu seraya tersenyum tipis. Sedangkan Galih hanya bisa menunduk malu seraya menganggukkan kepala.
"Baik, dok." Sahut Galih. Namun sepersekian detik kemudian ia tersadar. Kedua matanya terbelalak lalu menatap ke arah sang dokter.
"Adek? Apa maksudnya, dok?" Tanya Galih. Gita yang mendengar ucapan sang dokter langsung bersemangat. Sedangkan kedua anaknya hanya diam karena belum mengerti akan arah pembicaraan orang dewasa.
"Wah, Mbak Indah hamil ya, dok? Selamat ya kalian. Kalian akan mpunyai seorang adik." Ujar Gita seraya berjongkok dan memeluk tubuh sang keponakan. Sang dokter tersenyum dan mengangguk kecil.
"Betul, Pak. Istri anda sedang hamil. Tapi bukan satu ya, Bu Indah saat ini tengah mengandung bayi kembar tiga. Usia kandungannya sudah 5 minggu," ujar sang dokter dengan wajahnya yang berbinar, seakan ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh keluarga tersebut.
"APA? TIGA?"
Keempat manusia itu berteriak sekencang-kencangnya. Mereka sangat terkejut sekaligus tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh dokter itu.
"Iya, Pak. Selamat ya, kalian akan dikaruniai tiga orang anak yang lucu-lucu. Saya ikut bahagia mendengarnya. Mungkin dari keluarga Bapak atau Ibu Indah mempunyai gen kembar yang sangat kuat. Soalnya kehamilan pertama juga kembar dan kali ini kembar lagi bahkan kembar tiga." Ujar dokter. Galih sampai menitikkan air mata mendengar kabar itu. Ia mengangguk, membenarkan apa yang dikatakan oleh dokter itu.
__ADS_1
"Iya, dok. Ayah saya punya kembaran, tapi beliau sudah meninggal waktu masih kecil." Sahut Galih. Ayahnya dulu pernah menceritakan tentang kembarannya kepada Galih.
"Wah, gen Pak Galih paling top. Baiklah, silakan kalau mau melihat Bu Indah. Nanti akan dipindah ke kamar inap ya, Pak. Dirawat sehari dulu disini, baru nanti boleh pulang besok." Ujar dokter.
"Iya, dok. Terimakasih banyak," Setelah itu keempat orang itu bergegas masuk ke dalam ruangan setelah kepergian sang dokter.
Sesampainya di dalam ruangan, Galih langsung memeluk erat tubuh sang istri. Hatinya yang bagaikan hellokitty langsung menangis bahagia dalam dekapan Indah.
"Terimakasih, Sayang. Terimakasih, aku sangat mencintaimu." Bisik Galih kepada Indah. Ia ikut menangis mendengar ungkapan cinta sang suami meski Galih setiap hari mengucapkannya.
"Selamat ulangtahun, Ayah. Ini kado dari Allah SWT." Balas Indah dengan tersenyum manis. Galih yang mendengar itu langsung menghujani wajah Indah dengan ciumannya dan cintanya.
"Maaf, permisi. Disini ada anak dibawah umur ya," ujar Gita dengan nada sinisnya. Namun diakhir ada senyuman.
Galih dan Indah sama-sama saling pandang lalu tertawa bersama. Keluarga Galih kini semakin bertambah bahagia dengan adanya calon anggota keluarga yang baru. Tiga sekaligus.
'Terimakasih, Ya Allah. Engkau telah memberikanku laki-laki hebat seperti suamiku. Dia begitu sayang dan mencintaiku seperti aku mencintainya. Semoga kebahagiaan ini akan terus bertahan hingga sampai ajal menjemput kami. Terimakasih Mas Galih, karenamu aku baru bisa memahami bagaimana rasanya dicintai dan disayangi. Aku cinta padamu,' ujar Indah dalam hati seraya kedua matanya menyaksikan sang suami yang tengah bermain dengan kedua anaknya.
Cinta adalah anugerah. Untuk mendapatkan cinta harus ada perjuangan dan pengorbanan. Baik Galih dan Indah sudah sama-sama melalui berbagai cobaan dan ujian hingga akhirnya link keduanya bisa merasakan kebahagiaan. Kehidupan mereka semakin hari semakin bahagia sejak keduanya kembali menikah untuk kedua kalinya. Dan kini kebahagiaan mereka semakin bertambah dengan hadirnya malaikat yang telah Allah titipkan ke dalam keluarganya.
...TAMAT...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...