Aku Atau Ibumu

Aku Atau Ibumu
AAI 53 - Tentang Galih


__ADS_3

AAI 53 - Tentang Galih


Di rumah Galih bagaikan seorang yang kehilangan jiwanya. Ia berdiam diri di dalam kamar yang masih seperti terakhir kali. Berantakan, foto pernikahan hancur, bulu bantal dimana-mana, Galih duduk bersandar di ranjang sambil termenung. Ia tidak menghiraukan lantai kamarnya yang dingin.


Jangankan bekerja, makanpun Galih tidak mau. Ia mengunci diri di dalam kamar. Rasanya seperti ingin mati, tapi ia tak rela. Ia masih ingin bertemu dengan Indah untuk meminta maaf atas semuanya. Tapi apa daya, ia tidak bisa menemui Indah karena Doni dan Irsyad.


''Bagaimana aku bisa hidup tanpamu, Indah? Bagaimana aku bisa melihat dunia jika dirimulah warna yang paling indah yang kumiliki. Aku sangat mencintaimu, Indah. Aku tidak ingin berpisah denganmu, Indah. Aku tidak ingin," ujar Galih dengan suaranya yang lemah. Kantung mata yang menghitam, jejak air mata yang masih mengalir deras di kedua pipinya menjadi saksi bagaimana hancurnya seorang Galih. Dijebak oleh ibunya sendiri, ditinggal pergi oleh istri tercinta dan juga calon buah hatinya menjadi pelengkap penderitaan Galih. Ia meraung, meluapkan segala emosi jiwa yang menguasai dirinya.


"GALIH? GALIH? SAMPAI KAPAN KAMU AKAN SEPERTI INI, GALIH?" suara Hesti begitu menggelegar di telinga Galih. Dari balik pintu Hesti terus menggedor-gedor pintu kamar itu berharap bisa membujuk sang putra agar mau keluar dari sana. Hesti sangat cemas mendengar teriakan dari dalam kamar.


"Bagaimana, Bu?" Tanya Melinda. Semenjak terungkap dan Galih keluar dari rumah sakit, Melinda bisa dengan leluasa keluar masuk rumah itu. Ia sangat bahagia mendengar kabar perceraian Galih dan Indah. Ia akan berdoa demi kelancaran sidang mereka.


Seperti halnya Melinda, Hesti juga tampak bahagia karena bisa selalu bersama menantu dan calon cucunya. Meski ia masih kesal karena Galih yang masih mengunci diri di dalam kamar. Ia tidak habis pikir, padahal ia sudah mencarikan istri secantik dan sepintar Melinda. Tapi kenapa Galih tidak sedikitpun ada ketertarikan padanya, malah bersedih karena kehilangan istri mandulnya itu.


"Anak ini lama-lama kurang aj ar. Dari tadi Ibu sudah menggedor-gedor pintunya, tapi tidak kunjung di buka. Sejak pulang dari rumah sakit Galih belum makan sama sekali." Terang Hesti. Meski kesal tapi di sudut hatinya ia menghawatirkan keadaan Galih. Mana ada orang yang akan bisa bertahan selama tiga hari tanpa makan.


"Itu artinya sudah tiga hari, Bu. Bagaimana kalau ada apa-apa dengan Mas Galih? Apa kita dobrak saja, Bu? Usul Melinda yang mendapatkan tatapan dari Hesti. Tak lama sudut bibir Hesti terangkat, setuju dengan usul yang diberikan olehnya.


"Ya, sepertinya kita memang harus mendobraknya." Ujar Hesti. Namun saat dirinya hendak melangkah, ia teringat dengan sesuatu.


"Sebentar, Mel. Sepertinya Ibu masih punya kunci cadangan dari kamarnya. Tunggu sebentar," setelah mengatakan itu, Hesti langsung buru-buru menuju dapur. Ia selalu meletakkan semua kunci di rumahnya di dapur agar bisa mudah untuk mendapatkannya.

__ADS_1


"Ini, dia." Ujar Hesti saat ia berhasil menemukan segerombol kunci di salah satu laci di dapur. Tanpa pikir panjang, Hesti langsung berjalan kembali ke kamar Galih. Namun saat kakinya menginjak anak tangga, kedua telinganya menangkap suara pecahan dari atas. Meski lelah, tapi Hesti berlarian menuju ke sana. Ia bisa melihat wajah Melinda yang terlihat khawatir dengan keadaan di dalam sana.


"Ada apa, Mel? Ibu mendengar suara pecahan dari kamar Galih." Tanya Hesti. Belum juga Melinda membuka mulutnya, terdengar suara pecahan lagi yang berasal dari dalam sana. Hesti dan Melinda sampai terlonjak kaget mendengarnya.


Prangg


Prangg


Hesti yang ketakutan tangannya sampai gemetar saat memasukkan kunci itu. Satu demi satu kunci di coba, tapi belum juga cocok. Semakin lama suara pecahan itu semakin menjadi. Hesti dan Melinda sangat khawatir mendengar itu.


Argh


Prangg


Bersamaan dengan suara pecahan itu, pintu kamar terbuka. Betapa terkejutnya Hesti dan Melinda melihat apa yang ada di depan mata mereka.


Brukk


Tubuh Galih terjatuh di lantai. Hesti menjerit seraya menghampiri Galih. Dengan di bantu Melinda, Hesti mengangkat tubuh Galih dan membaringkannya di atas ranjang.


"Tolong telepon dokter, Mel." Pinta Hesti.

__ADS_1


"Iya, Bu." Sahut Melinda. Ia pun segera keluar kamar dan mencari keberadaan ponselnya. Ia menghubungi dokter langganannya dan meminta untuk datang ke rumah itu. Setelah menunggu hampir dua puluh menit, akhirnya dokter datang. Melinda langsung mengantar dokter itu ke kamar Galih. Meski terkejut melihat kondisi dalam kamar, tapi dokter itu segera menghampiri tubuh Galih dan memeriksanya.


"Bagaimana, dok? Ada apa dengan anak saya?" Tanya Hesti setelah dokter menyelesaikan pemeriksaannya.


"Tenang, Bu. Pak Galih tidak apa-apa, hanya kurang asupan gizi. Oleh karena itu saya pasang infus untuk membantu memulihkan kesehatan nya. Apa dia sudah makan?" Tanya dokter itu.


"Belum, dokter. Sudah tiga hari ini dia mengunci diri di kamar. Ada masalah yang tidak bisa saya sampaikan," jawab Hesti. Tidak mungkin ia mengatakan masalah yang tengah dihadapi oleh keluarganya. Itu sangat memalukan bagi Hesti jika orang luar tahu tentang apa yang telah ia lakukan. Dokter itu hanya mengangguk paham, ia tahu bukan ranahnya saat ini.


"Berarti itu yang menyebabkan Pak Galih tumbang, Bu. Tidak ada asupan gizi yang masuk ke dalamnya sehingga membuat tubuhnya lemah seperti saat ini. Ini saya pasang infus, tunggu setelah kantong infus ini habis Pak Galih akan segera sadar. Dan ini resep obatnya, tolong tebus dan diminumkan sesuai dengan aturannya." Ujar sang dokter serta memberikan sebuah kertas berisi resep darinya. Hesti menerima resep itu dengan anggukan kepala.


"Baik, dokter. Saya akan memastikan sendiri Galih meminum obat itu. Terimakasih, dokter." Sahut Hesti seraya menerima kertas itu. Pandangan matanya beralih menatap Galih, ada kesedihan di matanya saat melihat tubuh lemah putranya.


"Kalau begitu, saya permisi dulu Bu. Hubungi saya jika terjadi apa-apa dengannya," ujar dokter. Hesti pun mengantar kepergian dokter keluar kamar, meninggalkan Melinda yang masih setia berdiri di samping ranjang Galih.


"Kenapa, Galih? Buka matamu, masih ada aku di sini. Kau membuang waktumu hanya untuk kepergian wanita itu. Kurang apa aku, Galih? Aku cantik, kaya, ibumu pun sangat menyukaiku." Gumam Melinda. Ia tak habis pikir dengan Galih. Laki-laki itu terlihat sangat menderita pasca kepergian Indah. Padahal menurut Melinda, Indah tidak secantik dirinya. Apalagi Indah mandul, itu membuat nilai kurang untuk nya.


Tak mau mengganggu tidur Galih, Melinda memutuskan untuk keluar dari kamar itu.


Dari sudut mata Galih, keluar setetes air mata. Entah apa yang Galih mimpikan hingga dalam tidurnya pun ia menangis. Tak ada orang yang tahu tentang itu. Hanya dia dan Tuhan-lah dzat yang mampu membolak-balikkan hati manusia.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2