Aku Atau Ibumu

Aku Atau Ibumu
AAI 34 Ancaman Hesti


__ADS_3

AAI 34 - Ancaman Hesti


Selama dua hari Galih selalu menghindari Hesti. Ia memilih berangkat pagi-pagi dan pulang larut malam agar dirinya terbebas dari sang ibu.


Indah yang tidak tahu apa-apa mengira jika Galih memang tengah sibuk dengan pekerjaannya di kantor. Galih memang beralasan lembur agar tidak menimbulkan kecurigaan sang istri.


Seperti saat ini, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam Galih baru tiba di rumah. Dengan sangat perlahan ia membuka pintu rumah agar tak membuat penghuni rumah lainnya tahu.


Tapi sayang, perkiraannya meleset. Baru saja ia melangkahkan kakinya masuk, lampu utama ruang tamu mendadak menyala. Galih sampai terkejut saat menyadarinya.


"Baru pulang, Galih? Jam segini?" Tanya Hesti yang ternyata sudah sengaja menyambut kepulangan sang putra. Sejak tadi sore ia sudah merencanakan hal itu. Dan benar saja, tepat di pukul sepuluh malam Galih pulang dari kantor.


"I-ibu?" Ucap Galih terbata. Ia sangat terkejut melihat sosok ibunya yang selama dua hari ini sengaja ia hindari. Tapi hari ini ia harus berhadapan kembali dengannya, membuat Galih merasa detak jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.


"Kenapa, Galih? Kamu terkejut melihat ibu disini, iya? Kenapa kamu melihat ibu seperti sedang melihat hantu? Apa ibu semenakutkan itu?" Rentetan pertanyaan dari Hesti semakin membuat kerongkongan Galih terasa seperti tercekat. Dengan cepat ia menggelengkan kepalanya mendengar ucapan dari sang ibu. Apalagi keberadaan keduanya yang saat ini tengah berada di ruang tamu. Galih takut, jika suara mereka terdengar sampai di kamarnya yang ada di lantai atas.


"Ti-tidak, Bu. A-aku hanya terkejut melihat ibu berdiri di situ," jawab Galih dengan melangkahkan kakinya menuju tangga.

__ADS_1


"Kau mau kemana, Galih? Ibu belum selesai bicara," ucap Hesti yang seketika membuat Galih menghentikan langkahnya.


" Sudah malam, Bu. Besok saja," sahut Galih seraya melanjutkan langkahnya menaiki tangga.


"Itu berarti aku akan menanyakannya besok pagi dihadapan istrimu," ujar Hesti dengan melipat kedua tangannya. Ia benar-benar geram pada Galih yang seakan mengabaikan dirinya. Oleh karena itu Hesti memilih cara instan untuk menarik putranya itu agar dalam genggamannya.


Galih yang hendak melangkah naik tangga mendadak urung dan berbalik menatap Hesti. Wajahnya yang terlihat berubah merah padam karena mendengar ancaman dari ibunya. Dengan cepat ia berbalik dan menatap ibunya.


"Ibu mengancam ku?" desis Galih. seringaian tipis terlihat jelas di bibir Hesti. ia tahu jika Galih pasti akan terpancing dengan ancamannya.


"Tentu tidak, Galih. kau menolak bicara dengan ibu saat ini. itu artinya ibu akan menanyai mu lagi besok pagi saat kita bertemu di meja makan. bukankah kita setiap pagi akan sarapan bersama?" sahut Hesti.


"Cukup? Tentu saja belum, Galih. Jika kau tak ingin menceraikan istri mu itu, maka kau bisa menjadikan Melinda menjadi istri keduamu. lagipula dia tengah hamil darah dagingmu," ucap Hesti mengingatkan.


Galih yang mendengar hanya bisa geleng-geleng kepala tak percaya dengan sang ibu yang terlalu gampang percaya dengan ucapan wanita itu.


"Sepertinya ibu sudah di cuci otak oleh wanita itu. Aku tidak pernah melakukan itu dengannya, Bu. ibu sudah di bohongi," sahut Galih. sebagai seorang laki-laki tentu ia bisa menilai seseorang dari penampilannya. apalagi wanita itu adalah Melinda, ia sangat yakin jika wanita itu bukan wanita yang baik-baik seperti yang diketahui oleh ibunya.

__ADS_1


"Tidak mungkin. Melinda adalah gadis yang baik dan berasal dari keluarga yang terpandang, sama seperti keluarga kita."ucap Hesti yang tak terima jika Melinda dihina oleh orang lain meski itu putranya sendiri. Galih hanya bisa diam mendengar setiap kata yang diucapkan oleh ibunya.


"Jika kau menolak pernikahan ini, maka aku akan memberitahukan kepada istrimu." imbuh Hesti dengan kedua matanya yang sudah menatap tajam putranya. Melihat keterdiaman Galih, membuat Hesti naik pitam. Ia pun menatap ke lantai atas dan berteriak.


"INDAH! INDAH! KELUAR KAU, INDAH!" suara Hesti menggelegar di keheningan malam. Galih yang tak menyangka ibunya itu berteriak memanggil sang istri langsung meluruhkan tubuhnya di hadapan Hesti.


"I-ibu, tolong Bu. Jangan beritahu Indah mengenai ini semua. Aku tidak ingin dia sampai tahu apa-apa," dengan suaranya yang bergetar Galih memohon kepada ibunya.


Ia tak bisa berbuat apa-apa selain hanya bisa memohon. Semua bukti sudah di tangan ibunya, menyangkal pun ia tak mungkin bisa. Melinda begitu hebat saat mengambil gambar mereka.


Hesti tersenyum puas saat melihat putranya itu bertekuk lutut dihadapannya. Ia sangat puas bisa mengalahkan Galih yang selama ini tak bisa ia kalahkan. Hesti yang licik tidak akan mungkin menyerah dalam melaksanakan apa yang ia inginkan. Dan saat ini kemenangan ada di tangannya.


Untung saja indah yang berada di dalam kamar tidak keluar meski sang ibu mertua sudah berteriak-teriak memanggil namanya. Tapi tak apa, melihat ketidakberdayaan Galih mampu membuat Hesti bersorak-sorai.


"Bagus, ini baru anakku. Ibu tidak akan pernah mengatakan apa-apa kepada istrimu. Tapi kamu harus mengikuti semua perintahku tanpa bantahan sedikitpun. Jika kau berani menolak atau mencari celah agar bisa lari dariku, maka ibu akan bongkar semuanya kepada istri dan keluarganya. Kau paham itu, Galih?" ujar Hesti dengan arogannya. Kedua tangannya berkacak pinggang seraya menatap kepala sang putra yang tengah menunduk di bawahnya itu.


Galih tak sanggup mengeluarkan suara selain anggukan kepalanya. Setelah melihat respon itu, Hesti pergi ke kamarnya dengan senyum yang terpatri di bibirnya. Meninggalkan Galih yang kini sudah berderai air mata di sana.

__ADS_1


''Inikah akhir dari hidupku, Tuhan? Atau inikah awal kehancuran rumah tanggaku? Ingin rasanya aku menyerah, tapi bagaimana dengan istriku, Tuhan? Aku sangat mencintainya,''


__ADS_2