Aku Atau Ibumu

Aku Atau Ibumu
AAI 29 Mainan baru Dimas


__ADS_3

AAI 29 - Mainan baru Dimas


Prangg


Prangg


Prangg


Suara pecahan berasal dari dalam apartemen Melinda. Setelah kepergian Dimas, wanita itu meluapkan amarahnya kepada semua barang yang ada di sekitarnya. Pertengkarannya dengan Dimas tak menemukan titik terang. Yang ada justru penolakan Dimas yang mengharuskan dirinyalah ayah dari jabang bayi yang tengah dikandung oleh Melinda. Dengan tega Dimas malah memutuskan hubungannya dengan Melinda setelah mengetahui berita tentang kehamilan itu.


"Tidak, aku tidak boleh begini. Aku harus mencari akal. Oh ya, masih ada Galih. Iya, Galih. Masih ada dia yang bisa menyelamatkan aku dari situasi ini. Lagipula Tante Hesti sangat menyukaiku dan berharap aku menjadi menantunya. Hanya dia harapanku saat ini. Ya, aku harus mengajaknya bertemu dan mengatakannya." Dengan kasar Melinda menghapus jejak air mata yang mengalir di kedua pipinya. Senyuman seringainya mulai tercipta setelah mendapatkan jalan keluar untuk permasalahannya kali ini.


Melinda berjalan menuju telepon rumah dan memencet no pihak apartemennya.


"Tugaskan beberapa orang untuk membereskan apartemenku. Aku ingin semua kembali seperti semula hari ini juga," setelah mengatakan itu, Melinda menutup saluran telepon tersebut. Wanita itu berjalan menuju kamar pribadinya untuk bersiap-siap menemui calon mertuanya.


Drrrt


Drrrt


Suara getaran dari ponsel merusak konsentrasi Hesti yang saat ini tengah melakukan aktivitas yoganya. Wanita berumur lima puluh enam tahun itu sangat aktif dan teratur melakukan olahraga tersebut.


Hesti berusaha tak menghiraukan ponsel itu, namun berulangkali juga benda pipih itu kembali berbunyi hingga membuatnya kesal bukan main.


"Astaga, siapa sih ini orang? Gak tahu orang lagi yoga, apa? Ganggu aja." Gerutu Hesti namun tetap saja ia beranjak mengambil ponselnya.

__ADS_1


Wajah yang tadinya kesal seketika berubah berbinar kala melihat nama calon mantu yang tengah meneleponnya.


"Melinda? Kenapa dia meneleponku?" Ucap Hesti seraya mengangkat panggilan tersebut. Tanpa ia sadari ada Indah yang tengah lewat di belakangnya itu terlihat memandangnya.


'Melinda?' batin Indah. Namun istri Galih itu buru-buru pergi karena tak ingin menguping pembicaraan antara ibu mertuanya dengan wanita itu.


"Halo? Ya, ada apa Sayang?" Ucap Hesti dengan sumringahnya. Ia menghampiri meja dan meneguk air putih yang tersedia untuk dirinya.


"Halo, Tante apa kabar? Lagi dimana Tante?" Tanya Melinda.


"Ini lagi dirumah, yoga. Memangnya kenapa, Mel?"jawab Hesti.


"Aku ingin mengajak Tante ketemuan sekarang. Bisa gak, Tan? Soalnya ada hal penting yang mau aku omongin sama Tante." Sahut Melinda.


Hesti mengeryitkan dahi saat mendengar ucapan tersebut. Ia menerka-nerka apa yang akan dibicarakan oleh Melinda kepadanya.


"Boleh, tapi Tante mandi dulu ya. Mau ketemu dimana?" Tanya Hesti seraya berjalan menuju ke kamarnya.


"Bagaimana di cafe Solanda, Tante?" Tanya balik Melinda.


"Baiklah," balas Hesti.


"Makasih Tante. Bye, sampai ketemu disana Tante." Ucap Melinda. Hesti tersenyum mendengarnya.


"Hm, bye anak manis." Balas Hesti lalu menutup telepon itu. Ia bergegas membersihkan tubuhnya dan bersiap untuk pergi menemui perempuan itu.

__ADS_1


Sedangkan Melinda? Wanita itu saat ini tengah bahagia setelah menelepon Hesti. Wajahnya berubah bahagia seraya mengaplikasikan lipstik merahnya di permukaan bibirnya yang tipis. Setelah selesai, ia tersenyum puas saat melihat pantulan dirinya sendiri di dalam kaca riasnya.


"Tak apa, aku tak bisa menikah dengan Dimas. Toh masih ada Galih yang akan bersedia menjadi suamiku sekarang. Lagipula Tante Hesti sangat mendukungku untuk merebut galih dari tangan istri kampungnya itu." Gumam Melinda sendiri seraya memperhatikan kembali penampilan paripurnanya. Dengan menggunakan dres ketat berwarna merah senada dengan lipstik yang dipakainya, Melinda tersenyum puas dengan pilihan terakhirnya. Menyandang sebagai istri dari Galih Surya Wibawa tentu menjadi kebanggaan tersendiri mengingat jabatan tinggi yang dipegang oleh Galih di bank.


"Melinda Dewanto Pratama. Sepertinya itu lebih baik daripada Melinda Dewanto Seloaji." Ucap Melinda dengan senyum seringainya.


Melinda kemudian segera keluar dari apartemennya dengan menjinjing tas hitam berlogo H yang merupakan salah satu brand terkenal di dunia. Kecantikan serta tubuh proporsional nya membuat Melinda selalu menjadi pusat perhatian di manapun ia berada.


Seperti halnya saat ini, mata semua orang yang ada di dalam cafe Solanda terlihat melihat kearah Melinda ketika perempuan itu masuk dan berjalan ke dalamnya. Ia mencari tempat kosong hingga mendapatkan tempat yang berada di dekat jendela agak ke belakang. Tak apalah, itu bisa membuat dirinya lebih leluasa mengobrol dengan Hesti mengingat bahan obrolan mereka sangat pribadi.


Melinda menunggu kedatangan Hesti dengan berselancar di sosial media. Saat ia menscroll ponselnya, kedua matanya melihat salah satu postingan yang mampu membuat dirinya meradang.


"Jadi ini mainan baru Dimas? Ternyata laki-laki itu punya wanita baru makanya tidak mau menikahi ku. Dasar bang sat, awas saja kau Dimas. Aku akan membuat hidup kalian menderita," desis Melinda dengan salah satu tangannya yang bebas kini sudah mengepal kuat. Ia melihat sebuah foto dimana Dimas tengah memeluk tubuh sintal seorang wanita di pinggir pantai. Sang wanita tengah menggunakan setelan bikini sek si berwarna hitam sangat kontras dengan kulitnya yang putih, sedangkan Dimas hanya menggunakan kolor hitamnya memperlihatkan tubuh sixpack miliknya.


Tanpa ba bi bu, Melinda langsung membuka akun tersebut. Kedua mata Melinda kian terbelalak saat melihat Dimas dan wanita itu memiliki banyak sekali foto berdua di laman pribadi milik akun yang Melinda yakini merupakan milik sang wanita.


"Kurang a jar. Jadi Dimas sudah bersama dengan wanita ini cukup lama ternyata. Siapa wanita ini? Tunggu, kenapa aku mengenal dengan pakaian yang digunakan oleh wanita ini?" Gumam Melinda sendiri. Ia tampak familiar dengan seragam hitam yang digunakan oleh wanita di salah satu koleksi fotonya. Beberapa saat kemudian kedua mata Melinda terbelalak saat sudah mengingatnya.


"Ini kan seragam waiters club' Blue Moon? Jadi wanita ini bekerja disana? Ha ha ha, Dimas, Dimas. Aku tak menyangka jika seleramu sangat rendahan. Bisa-bisanya dia lebih memilih pelayan ini dari aku," ucap Melinda yang seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tapi itulah kenyataannya. Dimas menjalin hubungan dengan pelayan sebuah club' malam terkenal di Surabaya tersebut. Club' malam yang hanya berisi orang-orang dari kalangan atas seperti dirinya.


Saking fokusnya Melinda pada kedua insan yang ada didalam ponselnya, ia sampai tak menyadari jika Hesti telah sampai di depannya. Hesti senang bisa bertemu lagi dengan Melinda dan mengobrol banyak dengannya.


"Mel?" Panggil Hesti.


Melinda langsung mendongak dan tersenyum padanya. Keduanya saling sapa dan cipika-cipiki sebelum Melinda mempersilakan Hesti untuk duduk di sampingnya.

__ADS_1


'Kita lihat, bagaimana reaksi ibu Galih ini saat mengetahui kehamilanku.' ucap Melinda dalam hati. Sebelum masuk ke dalam obrolan serius, Melinda pun memesan makanan dan minuman untuk mereka berdua.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2