
AAI 20 - Irsyad Yusuf Pratama
"Eh sebentar, sebentar. Aku sepertinya melihat kakak iparku tadi." Ucap seorang laki-laki yang hendak meninggalkan restoran tersebut bersama teman-temannya. Laki-laki itu berjalan mundur beberapa langkah sambil arah pandangnya menyisir segala arah di dalam restoran yang ia datangi itu.
"Cepetan, Syad. Kita harus pergi, sebelum dosen killer itu menghukum kita lagi karena telat masuk." Ucap temannya kepada laki-laki bernama Irsyad Yusuf Pratama tersebut. Irsyad sedikit tersentak lalu pandangannya terkunci pada sepasang laki-laki dan perempuan tengah duduk di sebuah meja. Tampak keduanya saling bertatapan mesra.
Irsyad yang tak punya waktu banyak akhirnya memotret Galih dan juga Melinda yang saat itu tengah berhadapan. Apalagi mengingat waktu istirahat mereka yang tinggal tiga puluh menit, membuat Isryad tak punya waktu untuk mendatangi kakak iparnya tersebut. Kedua pemuda itu lantas berjalan meninggalkan restoran bersama teman-temannya yang lain.
"Sudah, ayo kita pergi." Ajak Isryad kepada keempat temannya seraya memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya. Dengan mengendarai dua buah sepeda motor, keempat laki-laki itu mulai menjauhi tempat itu.
'Tadi siapa ya? Kenapa Mas Galih bertemu dengan wanita itu? Apa dia teman kerjanya?' pikiran Irsyad melayang memikirkan hal itu. Ini pertama kalinya Irsyad melihat Galih dekat dengan wanita lain selain kakaknya. Sebagai adik dan seorang laki-laki, Irsyad tentu merasa khawatir dengan sang kakak. Apalagi kondisinya saat ini kakaknya berada di rumah, sedangkan Galih bekerja di luar sana dan Bertemu dengan berbagai manusia.
Disaat Isryad tengah sibuk dengan pikirannya, lain halnya dengan Galih. Ia tampak semakin kesal karena mendengar penolakan Melinda. Tadi Galih sudah mengatakan jika ia ingin Melinda jauh-jauh dari keluarganya dan tak akan lagi mendatangi kedai mereka.
"Tidak mungkin, Mas. Keluarga kita cukup dekat, dan Tante Hesti begitu baik padaku. Aku tidak bisa menjauh darinya." Ucap Melinda dengan nada bicaranya yang berusaha menggoda Galih. Laki-laki itu semakin jijik melihatnya.
"Takkan ku biarkan kau mendapatkan celah untuk masuk ke dalam keluarga ku," setelah mengatakan itu, Galih benar-benar pergi meninggalkan tempat tersebut. Ia begitu muak hingga membuatnya sulit bernapas disana. Ia ingin cepat-cepat pergi dari sana dan kembali ke kantor. Hilang sudah nafsu makannya karena melihat kehadiran wanita yang tak tahu malu itu.
__ADS_1
'Kita lihat saja nanti, Mas. Aku yakin ibumu sendiri yang akan menyatukan kita,' batin Melinda yang menatap kepergian Galih dengan perasaannya yang kesal. Tak pernah sekalipun ia diperlakukan laki-laki seperti itu sebelumnya. Melinda semakin dibuat penasaran dan ingin memiliki Galih. Penolakan darinya, menjadikan Melinda semakin ingin mendapatkannya.
"Loh, Mel. Kemana Aldo dan Galih?" Tanya Sakti yang baru kembali. Melinda menoleh, ia tersenyum tipis.
"Aldo pergi ke toilet, sedangkan Mas Galih kembali ke kantor. Katanya ada urusan," jawab Melinda yang mencari alasan. Tak mungkin ia ucapkan tentang kejadian tadi kepada Sakti. Itu bisa melukai harga dirinya sebagai wanita terhormat.
Sakti mengeryitkan dahi mendengar ucapan Melinda. Padahal ia ingat jika Galih lah yang mengajak mereka untuk makan siang diluar karena ia yang tengah kelaparan. Tapi mengapa sekarang Galih malah pergi?
"Lah, kenapa tuh anak malah pergi? Tadi katanya udah kelaparan dan pengen makan? Dasar, aneh lama-lama tuh anak." Gumam Sakti seraya duduk di tempat duduknya. Melinda yang mendengar gumaman itu hanya bisa diam saja.
'Sialan. Aku menjadi kesal kalau melihat wajahnya. Semua itu karena Ibu, dia-lah yang membuatku menjadi emosional melihat wanita itu.' gerutu Galih yang saat ini sudah berada dalam mobil taksi. Ia memilih kembali ke kantor dan makan siang di cafetaria yang ada di sana.
Melinda tersenyum tipis serta menganggukkan kepalanya.
"Iya, keluarga kami sangat dekat. Ibu Mas Galih berteman dengan kedua orang tua ku. Meski aku jarang mengobrol dengan Mas Galih, tapi kami sering bertemu jika ada acara keluarga." Jawab Melinda dengan senyumannya.
Semenjak Hesti yang dengan terang-terangan meminta dirinya untuk menjadi menantunya, Melinda merasakan getaran-getaran aneh di dalam hatinya saat bertemu dengan Galih. Bahkan ia mengabaikan kekasihnya sendiri yang notabenenya adalah sepupu dari Galih. Yang ada dalam hati dan pikiran Melinda hanyalah Galih seorang. Dan Melinda bertekad untuk bisa memiliki laki-laki yang penuh kharisma tersebut.
__ADS_1
"Benarkah? Tapi kenapa dia tidak pernah bercerita kepada kami? Kami sudah berteman lama, sekitar empat setengah tahun." Ucap Aldo yang merasa kesal karena Galih yang tidak pernah menceritakan kedekatannya dengan Melinda. Padahal Galih tahu jika Aldo begitu mendambakan wanita karir dan cantik seperti Melinda.
Sakti pun juga merasakan hal yang sama dengan Aldo. Ia menghela napasnya karena kesal mengingat cerita Melinda yang begitu dekat dengan ibu sahabatnya itu.
"Awas saja kau, Galih. Beraninya dia tidak bercerita sama sekali," ucap Sakti dengan dadanya bergemuruh.
Melinda yang mendengar nada kesal dari kedua laki-laki itu hanya bisa tertawa renyah. Ia begitu bahagia bisa menjadi wanita idaman para laki-laki tampan seperti mereka. Meski ia menomorsatukan Galih dalam benaknya.
"Sudahlah. Toh kalian juga sudah kenal dengan aku sekarang. Iya kan?" Melindas berusaha menenangkan hati kedua laki-laki itu.
Aldo dan Sakti seketika berbinar dan tersenyum manis mendengar ucapan dari Melinda. Keduanya masih tidak menyangka bisa duduk bersama wanita yang merupakan putri semata wayangnya pemilik dari tiga resto besar yang ada di kota Surabaya tersebut.
"Ya, kami beruntung sekali bisa duduk semeja denganmu." Ucap Aldo seraya menatap kearah Melinda dengan penuh harap. Kedua matanya tampak berbinar saat ini.
Mereka bertiga menikmati makan siang mereka dengan santai. Kadang terdengar suara gelak tawa dari meja tersebut.
'Kau pasti akan menjadi milikku, Mas. Pasti, aku akan menjadi ibu dari anak-anakmu. Menggantikan wanita mandul itu,'
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...