Aku Atau Ibumu

Aku Atau Ibumu
AAI 12 Ulang tahun pernikahan


__ADS_3

AAI 12- Ulang tahun pernikahan


Hari ini Galih sekeluarga diundang ke acara pesta ulang tahun pernikahan milik adik ibunya yang bernama Kartika Sari dan suaminy - Sudarman Seloaji. Acara yang dilakukan di area taman rumahnya membuat seluruh tamu undangan begitu menikmati suasananya yang meriah.


Indah datang menggunakan gaun pestanya yang berwarna soft pink simpel namun elegan, membuatnya begitu cantik meski tidak memperlihatkan bentuk tubuhnya. Galih pun menggunakan setelan toxedo yang berwarna hitam dengan dasi kupu-kupu nya yang berwarna senada dengan gaun yang digunakan oleh istrinya.


Sedangkan Hesti menggunakan gaunnya yang berwarna navy membuat aura kecantikannya keluar meski usianya tak muda lagi.


Kedatangan mereka tentu disambut begitu antusias oleh keluarga Kartika. Apalagi Dimas, putra semata wayangnya Kartika. Ia terlihat begitu terpesona melihat istri dari Galih yang begitu memukau malam ini. Itu dikarenakan Indah yang tak pernah menggunakan make-up yang berlebihan seperti saat ini. Setiap hari Indah hanya menggunakan riasan tipis saja.


"Akhirnya datang juga," ucap Kartika yang menyambut kedatangan kakak perempuan nya itu. Keduanya langsung cipika-cipiki sambil terus melemparkan senyum.


"Selamat ya, adikku. Semoga di ulang tahun pernikahan mu ini, kalian tetap harmonis dan bahagia selamanya." Sahut Hesti dalam pelukan itu.


"Selamat ulang tahun pernikahan, Tante. Semoga Tante selalu bahagia dan panjang umur," ujar Indah ketika Kartika dan Hesti melepaskan pelukan mereka. Kartika menoleh lalu melemparkan senyum terpaksa nya kepada Indah.


"Ya, terimakasih, Indah." Jawab Kartika dengan senyum tipisnya.


"Selamat, Tante. Semoga Tante dan Om Aji selalu bahagia," giliran Galih yang mengucapkan selamat kepada bibinya itu.


"Terimakasih, Galih." Sahut Kartika.


"Baiklah, silakan nikmati pestanya. Aku masih harus menyambut tamu yang lainnya. Aku kesana dulu, Mbak." Ucap Kartika seraya pergi meninggalkan mereka disana.

__ADS_1


Hesti pun langsung pergi menemui teman-temannya yang sudah melambaikan tangannya sejak tadi. Kini tinggal Indah, Galih, dan Dimas yang masih berdiri di sana.


"Bagaimana kabarmu, Dim?" Suara berat dari Galih berhasil membuyarkan lamunan Dimas yang sejak tadi menatap ke arah Indah. Sedangkan Indah yang tak menyadari, terlihat memandang sekitarnya.


"Ehem, baik, Mas. Mas Galih sendiri? Aku dengar Mas Galih mendapatkan promosi naik jabatan ya tahun ini?" Ucap Dimas yang menanyakan kabar burung yang diterimanya.


Galih hanya menganggukkan kepala seraya tersenyum tipis. Ia tahu pasti jika sang adik sepupunya itu mempunyai ketertarikan kepada istrinya. Galih hanya bisa menahan dirinya mengingat keberadaan nya saat ini tengah di acara milik orang tua sepupunya itu.


"Ya. Akhirnya setelah hampir enam tahun bekerja disana, aku bisa mendapatkan posisi ini. Bagaimana dengan Showroom mu?" Tanya balik Galih pada Dimas.


Dimas merupakan penerus dari bisnis papanya yang bergerak di bidang otomotif. Sudarman memiliki beberapa cabang showroom mobil yang tersebar di kota Surabaya dan sekitarnya. Semenjak Dimas sudah dianggap mumpuni, Sudarman memberikan wewenang penuh kepada Dimas untuk meneruskan pekerjaannya. Namun tetap saja semua Showroom tersebut masih atas nama sang ayah. Dimas hanay berwenang untuk menjalankan dan meneruskannya. Semua aset-aset wakan berpindah jika Dimas sudah menikah. Namun sayangnya sampai saat ini, laki-laki itu masih belum ingin mencari seorang istri. Ia masih menikmati petualangannya mencari cinta.


"Aman terkendali, Mas." Jawab Dimas seraya pandangannya terarah pada tautan tangan kanan Indah yang melingkar di lengan kiri Galih.


"Baiklah, aku kesana dulu ya. Ada seseorang yang harus ku temui. Ayo, Sayang." Pamit Galih seraya mengajak sang istri untuk pergi berjalan mengikutinya. Indah hanya mengangguk sambil mengikuti langkah kaki suaminya. Dimas hanya bisa menatap punggung mereka dari kejauhan.


'Beruntungnya Galih mendapatkan istri seperti Indah. Cantik, lembut, dan setia.' batin Dimas lalu ia pergi menyingkir dari sana. Ia mencari tempat untuk dirinya sendiri.


"Jangan dekat-dekat dengan Dimas, Indah. Kamu mengerti?" Bisik Galih di telinga Indah seraya terus berjalan. Indah mengeryitkan dahi lalu ia menatap ke arah wajah sang suami.


"Kenapa, Mas?" Tanya Indah penasaran.


Galih berhenti, diikuti pula dengan Indah. Keduanya saling tatap, lalu galih mendekatkan wajahnya ke wajah Indah.

__ADS_1


"Karena aku tak suka melihatnya, Ndah. Caranya yang melihatmu, layaknya seperti seorang arigala yang tengah mengintai mangsanya." Ucap Galih yang seketika mendapatkan kekehan dari Indah. Wanita itu sampai geleng-geleng kepala mendengar pernyataan tersebut.


"Astaga, Mas Galih. Dengerin Indah, ya. Mau seberapa banyak laki-laki yang menyukaiku, itu tak akan mempengaruhi diriku ini, Mas. Karena aku hanyalah milikmu seorang. Hanya Engkaulah, laki-laki yang berhak atas diri dan juga hatiku, Mas Galih." Ujar Indah seraya mengelus rahang kokoh milik Galih. Tak lupa ia memberikan senyuman manisnya yang membuat Galih kembali terpesona dengannya. Galih tersenyum tipis, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Indah.


"Rasanya aku ingin menikmati mu sekarang, Indah. Kau membuatku sangat menginginkanmu," hawa panas dari napas Galih mampu membuat tubuh Indah meremang. Ia sampai tersipu malu meski keduanya telah lama bersama dan saling menikmati satu sama lain. Indah menundukkan wajahnya menyembunyikan semburat merah yang kini menghiasi kedua pipinya. Galih yang melihatnya seketika terkekeh lalu merengkuh pinggang ramping Indah.


"Kau sangat menggemaskan disaat malu seperti ini, Sayang. Ayo, ikut aku menemui beberapa kenalanku disini." Indah hanya bisa mengangguk kecil seraya mengikuti angkah Galih yang mengajaknya menuju ke sebuah meja yang berisi beberapa pasang laki-laki dan perempuan disana.


Indah hanya bisa tersenyum tipis sambil terus menemani sang suami yang tengah bercengkrama dengan orang-orang disana. Indah hanya sesekali ikut bicara jika ada yang meminta pendapatnya. Selebihnya Indah akan diam saja. Ia tak begitu suka dengan pesta mewah seperti ini.


Disaat Indah melemparkan matanya melihat sekitar, tanpa sengaja kedua matanya menatap seorang wanita cantik berbaju merah yang tengah berdiri bersama beberapa wanita diantaranya yakni ibu mertua dan bibi Kartika.


Dada Indah seketika dibuat sesak saat melihat interaksi diantara mereka terlihat begitu akrab dan hangat, tidak seperti saat dengan dirinya. Apalagi melihat Hesti yang bisa sampai tertawa lepas disana, membuat Indah semakin merasa kecil.


'Dia juga diundang kesini? Begitu bahagianya raut wajah Ibu saat bersama dengannya. Berbanding terbalik jika saat bersamaku. Sampai kapan Ibu akan bersikap seperti itu kepadaku, Tuhan? Kapan beliau akan mengakuiku dan menyayangiku layaknya seorang putrinya?' batin Indah yang terluka saat melihat interaksi wanita itu dengan keluarga besar suaminya.


Galih yang menyadari jika ada yang tidak beres dengan sang istri, membuatnya mengikuti arah pandang Indah.


Helaan napas panjang terdengar dari mulut Galih saat melihat kedatangan wanita itu ke acara keluarganya tersebut.


'Kenapa wanita itu harus ada disini?'


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2