Aku Atau Ibumu

Aku Atau Ibumu
AAI 38 Galih Berbohong


__ADS_3

AAI 38 -


Setelah berhias diri, Indah bergegas keluar dari kamar. Dengan menggunakan dres selutut berwarna peach, wanita itu terlihat sangat menawan. Sepatu dan tas yang senada menambah kesan cantik, secantik nama pemiliknya.


"Ibu kemana ya? Aku ingin minta ijin keluar sebentar mengantarkan dompet Mas Galih." Gumam Indah saat dirinya telah sampai di lantai bawah. Namun sedetik kemudian ia menepuk jidatnya sendiri karena lupa dengan keberadaan sang ibu mertua.


"O iya, tadi kan ibu bilang mau belanja. Ya sudah, kalau begitu aku langsung pergi saja. Lagipula aku tidak akan lama juga keluarnya. Paling setelah mengantarkan dompet, aku akan segera pulang. Apalagi pekerjaan rumah yang masih belum selesai semuanya," imbuh Indah. Ia meluangkan waktunya untuk mengantarkan dompet suaminya karena takut jika Galih akan kesusahan mencari keberadaan dompetnya. Maka dari itu, Indah rela meninggalkan pekerjaan rumah nya demi ke kantor Galih.


'Belakangan ini Ibu sering sekali keluar rumah lama sekali, bahkan seharian penuh. Kemana ya? Ah, sudahlah. Kenapa aku jadi kepikiran sama Ibu? Lagian kalau di rumah pasti ada aja ulahnya. Aku bisa bernapas lega akhir-akhir ini,' pikir Indah dalam hati. Tak mau memikirkan hal itu, Indah bergegas keluar dari rumah setelah ia mengunci pintu.


Dengan mengendarai mobil taksi, Indah menuju gedung pencakar langit tempat dimana sang suami bekerja. Suatu kebanggaan tersendiri bagi Indah karena bisa menjadi istri seorang Galih. Ia lah wanita yang selalu berdiri didamping Galih, menemaninya dari titik nol hingga menjadi seperti sekarang.


Dengan memberanikan diri, Indah melangkahkan kakinya masuk ke arah lobi perusahaan. Setibanya di sana, ia sudah di sambut oleh dua orang keamanan yang membantu dirinya membuka pintu. Ia diarahkan menuju meja resepsionis yang ada di sebelah pintu masuk utama perusahaan.


Tiga orang gadis cantik dengan ramah menyapa Indah. Wanita itu tampak tersenyum mendapatkan sambutan baik dari karyawan yang bekerja di sana.


"Ada yang bisa kami bantu, Ibu?" Tanya salah satu dari ketiganya. Dengan senyum ramahnya, membuat Indah tanpa sadar menganggukkan kepalanya.


"Permisi, saya ingin ketemu dengan Pak Galih. Bisa?" Tanya Indah.


"Maaf, dengan siapa? Ibu sudah membuat janji?" Balas tanya sang resepsionis.


"Saya istrinya Pak Galih," dengan seutas senyuman, Indah menjawabnya. Sontak ketiga gadis resepsionis itu langsung gelagapan dan saling meminta ijin karena tidak mengenali istri dari salah satu eksekutif kantor.


"Ma-maafkan kamu, Bu. Kami tidak tahu kalau Ibu adalah istri Pak Galih," ucap mereka sambil menangkupkan kedua tangan mereka di depan dada. Dengan ramah Indah menganggukkan kepala. Selama menjadi istri Galih, Indah memang jarang sekali keluar bersama Galih. Kalaupun keluar bersama, mereka hanya akan pergi berbelanja dan ke tempat favorit mereka. Tidak pernah sekalipun Indah datang ke kantor atau menghadiri acara kantor karena Indah merasa malu.


"Tidak apa-apa kok, Mbak. Santai saja," sahut Indah yang langsung membuat ketiga gadis itu bisa bernapas lega. Mereka sangat bersyukur karena Indah tidak marah karena tidak bisa mengenalinya.


"O iya, Ibu tunggu sebentar dulu. Kami akan hubungi pihak Pak Galih nya," ujar resepsionis itu dan segera mengangkat gagang teleponnya di sana. Dengan menekan nomor telepon milik Pak Galih, resepsionis itu berusaha beberapa kali menghubunginya.

__ADS_1


"Maaf, Bu. Hari ini Pak Galih ambil cuti setengah hari. Nanti siang beliau baru masuk lagi. Saya mendapatkan informasi ini dari pihak HRD," kata resepsionis itu setelah ia menghubungi pihak HRD karena telepon milik Galih tidak diangkat. Indah yang mendengarnya langsung terkejut bukan main. Tak bisa dipungkiri, Indah merasa seperti tengah dibohongi oleh Galih dan itu sangat sakit rasanya. Tak ada hujan tak ada angin, Galih mengambil cuti tanpa memberitahu dirinya.


Entah apa alasan Galih berbohong dan tidak masuk kerja hari ini. Pikiran Indah seakan kosong, tak bisa mencari sebuah alasan yang kiranya digunakan oleh Galih.


"Bu? Ibu?" Panggil resepsionis itu kala melihat Indah terdiam seraya menatap kosong ke depan.


"Iya?"


"Ibu tidak apa-apa?" Tanya resepsionis itu lagi.


"Tidak, tidak apa-apa. Kalau begitu terimakasih atas informasinya," balas Indah. Ia pun segera menyingkir dari meja resepsionis lalu mengambil ponselnya.


Tut


Tut


''Halo?'' terdengar suara Galih dari seberang sana.


"Halo, Mas Galih? Mas Galih dimana sekarang?" tanya Indah. Ia berdiri di dekat jendela besar yang ada di lobi kantor.


''Di kantorlah. Memang dimana lagi," jawab Galih. Indah tidak menyangka jika Galih masih berbohong padanya. Hilang sudah kepercayaan yang tertanam di diri Indah pada suaminya itu.


"Mas bohong. Aku sekarang ada di kantor mu, Mas. Dan Mas ambil cuti," ujar Indah.


"Ka-kamu ke kantor? Ngapain, Sayang?" terdengar suara Galih yang terbata. Ia sungguh terkejut saat mengetahui sang istri mendatangi kantornya tanpa sepengetahuan dirinya. Andaikan ia tahu Indah akan datang, mungkin ia akan ke kantor.


"Kamu dimana, Mas?'' suara Indah terdengar meninggi. Ia sangat penasaran dengan keberadaan sang suami. Pasalnya ini pertama kalinya Galih membohonginya setelah kebersamaan mereka bertahun-tahun.


"A-aku sekarang ada di rumah teman, Indah. Kamu tahu Aldo, kan? Dia sedang sakit. Ini aku juga tidak sendiri, kok. Ada teman lain juga yang menemani," sahut Galih. Bersamaan dengan hal itu, kedua mata Indah melihat sosok laki-laki bernama Aldo tengah berjalan masuk ke lobi dengan dua teman laki-laki.

__ADS_1


tes


Setetes air mata mengalir dari pelupuk mata Indah. Hatinya seakan tertusuk duri kebohongan yang sakitnya teramat sangat. Ia tak menyangka jika suaminya kini mulai berbohong padanya. Entah sejak kapan dimulai, yang pasti kepercayaan Indah pada suaminya kini terkikis.


'Teganya kau bohongi aku, Mas. Sejak kapan kau membohongi aku dan apa yang sebenarnya terjadi? Hatiku sakit, Mas.' ujar Indah dalam hati.


''Indah? Sayang? Kamu mendengarku?'' suara Galih menyadarkan lamunannya.


Manik mata Indah berubah sendu, ia masih sakit hati akibat kebohongan yang diciptakan oleh Galih.


''Masih, Mas.''


'Masih tak bisa ku percaya ternyata kau tega berbohong pada ku, Mas.' lanjut Indah dalam hati.


''kamu ngapain ke kantor, Sayang?'' tanya Galih. Jika biasanya indah langsung tersipu mendengar panggilan sayang Galih, kini tidak lagi. Jangankan senyuman, raut wajahnya semakin terlihat masam.


''Aku ingin mengantarkan dompetmu, Mas. Ketinggalan di meja kamar,'' jawab Indah lesu. Ia merasa tak ada gairah lagi setelah mengetahui kebohongan galih.


''O ya? aku sampai tidak menyadari kalau dompetku tertinggal.'' sahut Galih.


"Hm, kalau begitu aku tinggal di meja resepsionis saja. Ambillah. Aku akan pulang dulu,'' tanpa mengucapkan salam Indah mematikan panggilan tersebut.


Wanita itu sudah tak bisa lagi menahan kesedihannya. Air matanya menetes tanpa henti mengingat kebohongan yang diciptakan oleh sang suami.


'Kau sudah mengikis kepercayaanku padamu, Mas. Aku hanya berharap jika ini adalah kebohongan pertama dan terakhir yang kau lakukan padaku. Karena jika tidak, demi Allah aku tidak sanggup jika harus hidup bersandingan dengan ketidakjujuran darimu. Aku tidak sanggup,' ujar Indah dalam hati. Tak mau berlama-lama di sana, Indah segera menghampiri meja resepsionis itu lagi dan menitipkan dompet milik suaminya di sana. Setelah selesai, Indah langsung pergi meninggalkan gedung itu menggunakan taksi.


'Apa kau masih mencintaiku, Mas? Jangan sampai ada kebohongan lain di dalam rumah tangga kita,'


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2