Aku Atau Ibumu

Aku Atau Ibumu
AAI 07 Menemui seseorang


__ADS_3

AAI 07 - Menemui seseorang


Hendra Surya Wibawa. Suaminya yang telah lama meninggal sejak sepuluh tahun silam karena sebuah kecelakaan. Kecelakaan hebat yang merenggut nyawanya membuat seluruh keluarga besar terpukul.


Tak pernah sekalipun Hesti berniat berpisah dengan Hendra meski ia merasa tak bahagia dengannya. Namun saat Hendra meninggal, Hesti lah yang paling sedih. Begitu banyak kesalahannya selama menjadi istri seorang anggota DPR yang sangat terpandang itu.


Kesalahan yang mungkin saja tak pernah bisa dimaafkan oleh keluarganya jika mengetahui hal itu. Hanya Hesti yang mengetahui dan ia akan membawa rahasia besar itu hingga mati.


Hari ini Hesti berencana untuk menemui seseorang. Oleh karena itu, setelah putranya itu berangkat kerja, Hesti bergegas menuju kamarnya untuk bersiap-siap.


Sedangkan Indah mulai berkutat dengan pekerjaannya. Ia membersihkan meja dan mencuci semua piring gelas yang kotor kemudian berlanjut ke dapurnya. Dengan cekatan Indah mengerjakan semua kerjaan rumah karena ia memang sejak dulu suka membantu ibunya dalam mengurus rumah.


Indah ingin memperlihatkan kualitasnya sebagai seorang menantu pada ibu mertua. Tapi sayangnya Hesti tak pernah melihat itu. Dalam pikirannya hanya harkat, martabat, dan kekayaan yang menjadi tolak ukur dalam menilai seseorang. Apalagi Indah yang merupakan anak kepala desa, jauh dari kriteria mantu idamannya.


Tap


Tap


Tap


Saat Indah tengah membersihkan lantai bawah, ia mendengar suara hentak kaki yang bisa dipastikan itu merupakan langkah kaki ibu mertuanya. Indah tampak diam saja sebelum ia mendengar suara yang mengajaknya bicara.


"Hei. Aku akan keluar, kau jaga rumah baik-baik. Jangan pernah meninggalkan rumah tanpa seijin ku ataupun Galih." Ucap Hesti seraya menuju meja makan. Sesampainya di sana ia menuangkan air putih dan meminumnya.


"Iya, Bu." Balas Indah lalu ia melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai. Salam hati ia bersorak karena ibu mertuanya yang hari ini tidak berada di rumah.


'Akhirnya aku bisa menikmati waktuku sebagai manusia pada umumnya. Maafkan aku, Bu. Tapi aku memang merasa tertekan jika ada Ibu dirumah.' batin Indah seraya mengintip ibunya dari balik korden jendela rumahnya. Setelah memastikan Hesti naik taksi dan pergi, Indah pun segera menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum ia benar-benar bisa bersantai sendirian di rumah.


"Hm, sepertinya sambil minum segelas jus jambu seger nih. Bikin ah, buat teman baca novel." Gumam Indah seraya menuju dapur dan mulai membuat jus jambu merah kesukaannya.

__ADS_1


Sambil membuatnya, bibir Indah mulai bersenandung kecil menyanyikan lagu kesukaannya. Tampak sekali raut wajah bahagianya sepeninggal ibu mertuanya.


Ckitt


"Sudah sampai, Bu." Ucap sopir taksi itu saat mereka sudah berhenti di sebuah apartemen elit yang ada di kota itu.


"Ini, Pak." Sahut Hesti seraya memberikan dua lembar uang seratus ribuan kepada sang sopir. Setelah itu ia pun bergegas turun dan memasuki lobi apartemen.


Hesti melangkahkan kakinya memasuki ruangan lift yang berada di sebelah meja resepsionis disana. Setelah memencet tombol lima belas, lift itupun segera neik membawa Hesti menuju ke lantai yang diinginkannya.


Ting


Hesti berjalan santai menuju sebuah pintu yang tertulis nomor satu dua lima. Ia memencet tombol password dan tak lama setelah itu pintu tersebut terbuka.


Ceklek


Hesti masuk dan langsung disambut oleh seorang laki-laki yang tengah berdiri menghadapnya dengan hanya menggunakan bathrobe nya.


Hesti tersenyum menggoda seraya melepaskan tasnya dan jatuh di sana. Perlahan tapi pasti Hesti melepaskan kancing demi kancing gaun navy yang ia gunakan itu lalu ia membiarkannya jatuh begitu saja di bawahnya.


Kedua mata laki-laki itu tampak berbinar melihat pemandangan indah ada di depannya itu. Pemandangan yang tak pernah ia lihat selain bersama dengan Hesti. Tubuh Hesti masih sangat bagus meski usianya tak lagi muda, bahkan tubuh istrinya pun tak sebagus milik Hesti.


"Aku sangat memuja tubuh ini, Hesti. Bahkan sejak dulu aku sangat tergila-gila padanya." Setelah mengatakan itu, laki-laki itu pun segera menggendong tubuh Hesti menuju ke peraduannya.


Keduanya mulai saling memuja, meluapkan cinta yang tak seharusnya mereka miliki. Saling pandang, berpelukan erat, saling mengucapkan kata cinta seirama dengan gerakan kedua insan tersebut. Peluh keringat tak keduanya hiraukan. Hanya kesenangan, kenikmatan yang mereka kejar hingga sampai permainan mereka berhenti disaat gelombang besar itu datang menghampiri keduanya.


Hah


Hah

__ADS_1


Hah


Napas mereka saling beradu. Hesti yang tak kuat menopang lagi tubuhnya yang masih berada di atas laki-laki itu seketika ambruk.


Dengan sayang laki-laki itu mengelus pucuk kepala Hesti dan memberikan kecupan hangat di kening nya.


"Aku suka milikmu, Sayang. Tak kalah dengan gadis di luaran sana," puji laki-laki itu yang seketika mendapatkan pukulan di dada bidangnya.


Hesti memang sangat rajin menjaga bentuk tubuhnya. Setiap pagi Hesti berolahraga meski hanya yoga dan beberapa gerakan dasar agar bisa mengeluarkan keringatnya. Hesti juga selalu rajin mengonsumsi minuman herbal yang mampu membuat miliknya tetap wangi dan terjaga kenikmatannya.


Mendengar gombalan maut yang dilontarkan oleh laki-laki dibawahnya itu membuat Hesti kesal.


"Jadi kamu masih suka jajan di luaran sana, Mas? Lalu, kenapa kamu masih mau sama aku? Huh, pergi sana." Gerutu Hesti seraya beranjak dari tubuh laki-laki itu. Ia pun mengeluarkan milik laki-laki itu yang tadinya masih bersarang di dalamnya.


Ah


Tanpa sadar Hesti mendesah kala ia mencabut itu dengan cepat. Meski sudah tak lagi tegang, tapi milik laki-laki itu tetap memiliki ukuran yang sama besarnya disaat ia tegang. Bedanya kalau sekarang sudah tak sekeras tadi.


Hesti menggulingkan tubuhnya hingga tidur membelakangi laki-laki itu. Sedangkan laki-laki itu tampak tersenyum tipis lalu memeluk tubuh Hesti dari belakang.


"Tidak lagi, Sayang. Tidak ada yang lebih nikmat selain milikmu," gombal laki-laki itu lagi dengan tangannya yang mulai menuju lembah surgawi yang dipujanya. Sekuat tenaga Hesti menahan diri agar tak mulai terpancing lagi dengannya.


"Le-lepaskan tanganmu," ucap Hesti dengan menyingkirkan tangan kekar itu dari sana.


Karena miliknya yang mulai bereaksi lagi, membuat laki-laki itu tak bisa menahan dirinya lagi. Dengan cepat ia bangkit dan mulai memposisikan Hesti agar membelakanginya.


"Si Al. Kau membuatku benar-benar kecanduan dengan milikmu yang legit ini," ucap laki-laki itu seraya mulai melancarkan aksinya.


Hesti yang mampu lagi menahan diri akhirnya kembali menikmati indahnya percintaan mereka yang selalu panas. Menikmati hari dengan cinta yang telah lama bersarang di hati keduanya. Meski dunia menentang mereka, tapi lagi-lagi mereka dipertemukan dengan cara yang tak sengaja. Membuat jiwa muda mereka yang tadinya padam akhirnya berkobar kembali.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2