Aku Atau Ibumu

Aku Atau Ibumu
AAI 52 - Pulang


__ADS_3

AAI 52 - Pulang


Tiga hari sudah Indah dirawat di rumah sakit. Hari ini ia sudah di perbolehkan untuk pulang. Ayah dan Ibunya sangat bahagia mendengar kabar itu.


"Jaga kesehatan Ibu baik-baik ya. Tolong jangan untuk angkat yang berat-berat dulu." Ujar dokter kepada Indah. Wanita itu tersenyum seraya menganggukkan kepala. Saat ini ia sudah berganti dengan pakaiannya sendiri dan telah menyelesaikan pemeriksaan yang terakhir sebelum kepulangannya.


"Terimakasih banyak, Dokter." Sahut Indah. Dokter itu hanya tersenyum dan meninggalkan ruangan itu diikuti oleh perawat.


"Ayah? Ibu?" Suara seorang laki-laki berasal dari pintu. Ketiga orang yang tengah bersiap itu menoleh. Mereka tersenyum melihat kedatangan si bungsu.


"Bagaimana? Sudah, Irsyad?" Tanya Ratih.


"Sudah, Bu. Aku juga sudah menebus obat dan vitamin yang diresepkan dokter." Jawab Irsyad seraya memperlihatkan kantung plastik kecil di tangannya.


"Bagaimana dengan koperku, Yah?" Tanya Indah dengan lirih. Ia teringat dengan koper yang ingin ia bawa saat hendak keluar dari rumah Galih. Ia sudah menceritakan semua permasalahannya dengan sang suami kepada kedua orang tuanya. Awalnya Doni geram dan ingin menghajar Galih, namun berkat bujukan Indah tidak jadi dilakukan.


"Tenang, semua sudah Ayah urus. Ayo, kita pulang sekarang." Ajak Doni pada sang putri. Keempat orang itu pun berjalan keluar dari ruang inap yang telah ditempati oleh Indah selama tiga hari lamanya.

__ADS_1


Sedangkan Galih, ia sudah diperbolehkan keluar sejak ia pulih. Sejak ia dihajar oleh Sini di ruangan Indah, Galih selalu berusaha tetap datang. Namun ia selalu dihadang oleh Doni maupun Irsyad. Oleh karena itu Galih tidak bisa bertemu dengan Indah. Dan itu membuatnya frustasi.


Dengan menggunakan mobil, Indah pulang menuju rumah kedua orang tuanya yang ada di jauh dari perkotaan. Setelah menghabiskan waktu hampir dua jam, mobil mereka tiba di depan sebuah rumah yang tidak terlalu besar tapi sangat nyaman dan asri. Sebuah pohon mangga besar menjadikan halaman rumah itu terlihat rindang. Terdapat pula pot-pot bunga yang merupakan koleksi Ratih membuat semakin betah untuk siapa saja orang yang melihat.


"Ayo, turun." Ajak Doni kepada istri dan anak-anaknya. Dengan patuh mereka semua keluar dari mobil. Indah menghirup dalam-dalam udara pedesaan yang sangat ia rindukan. Rencananya ia akan berkunjung bulan depan bersama sang suami, tapi sayang takdir berkata lain. Ia justru pulang membawa seluruh kenangannya dan kembali pada kehidupan awalnya.


Tes


Setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Indah. Dengan cepat ia menghapusnya agar kedua orang tuanya tidak melihat hal itu. Berbeda dengan Indah, kedua orang tua dan adiknya begitu antusias karena kepulangannya.


"Ayo, Sayang. Kita masuk ke dalam rumah," ajak Ratih seraya merangkul tubuh Indah. Namun perasaan seorang ibu tidak bisa di bohongi. Meski ia melihat putrinya itu memperlihatkan senyum manisnya, tapi kedua mata Indah tidak bisa bohong. Ada luka dan kekecewaan di dalamnya. Dan Ratih bisa merasakannya.


"Selamat datang kembali, Nak." Ujar Doni setibanya mereka di dalam rumah. Ia memberi Indah pelukan hangatnya. Indah sangat bahagia memiliki keluarga yang sangat menyayanginya.


"Terimakasih, Ayah. Aku bahagia bisa kembali ke rumah meski dengan cara seperti ini," sahut Indah dengan senyuman getir. Ia tidak pernah menyangka bisa berada dititik ini. Berpisah dengan suami dan memilih kembali ke rumahnya.


"Apa yang kau bicarakan, Nak? Ini adalah rumahmu juga. Jangan bicara seperti itu lagi, hm? Ayah dan Ibu hanya ingin kebahagiaanmu, Indah. Kami sangat menyayangimu," ucap Doni seraya memeluk tubuh Indah dari samping.

__ADS_1


"Jangan lupakan aku juga, Mbak. Aku juga sangat menyayangimu," tambah Irsyad seraya memeluk Indah dari arah samping kiri. Ratih sangat bahagia bisa melihat kedua jagoannya yang begitu protektif terhadap Indah dan menghiburnya.


"Terimakasih, Ayah, Irsyad. Kalian adalah pahlawanku di dunia nyata," ujar Indah dengan senyuman tulus. Mendengar itu membuat Irsyad melepas pelukannya dan memicing ke arah Kakaknya itu.


"Dunia nyata?" Tanya Irsyad dengan sebelah alisnya terangkat. Ia tahu betul bagaimana sang kakak, oleh karena itu ia memperjelas maksud dari ucapan Indah.


"Iyalah. Karena kalau di dunia hayalan kamu tidak ada apa-apanya dibanding Robert. Dia adalah laki-laki paling gagah yang pernah aku ciptakan." Sahut Indah dengan salah satu sudut bibirnya terangkat. Irsyad langsung tepuk jidat mendengarnya.


"Astaga, kuu bandingkan adikmu ini dengan tokoh novel jadul mu itu, Mbak? Ya Allah," keluh Irsyad dengan mengelus dadanya sendiri. Ia merasa sedih akan ketidakpedulian sang kakak padanya. Indah justru terkesan dengan salah satu tokoh yang ada di novel buatannya dibanding dirinya yang jelas-jelas adik kandungnya.


Sebelum menikah dengan Galih, Indah memiliki hobi menulis sejak ia duduk di bangku SMA. Dari tulisannya ia sudah memiliki dua cetak novel yang bisa diterbitkan. Dan Robert adalah pemeran utama dalam novel pertamanya. Ia sangat menyukai dan bangga dengan novelnya. Ia juga memiliki penggemar di sosial medianya karena tulisannya itu.


Namun karena sudah menikah dan tidak mendapatkan dukungan dari Galih, Indah pun hiatus dari kepenulisan.


"Novel jadul? Apa kau tidak ingat karena novel itu Mbak bisa membelikanmu ponsel baru dan laptop. Huh," ujar Indah dengan cemberut. Tak lupa kedua tangannya terlipat di depan dadanya. Irsyad yang mendengar hal itu langsung cengengesan. Mana mungkin ia lupa, bahkan sampai sekarang ponsel itu masih ia gunakan.


"Ah, Mbak bisa aja. Mana mungkin aku lupa, hehehe. Nih ponselnya juga masih ada," sahut Irsyad seraya menunjukkan ponsel kesayangannya itu. Doni dan Ratih hanya bisa tersenyum tipis melihat keduanya.

__ADS_1


"Sudah, sudah. Ayo kita duduk dulu. Kasihan Indah, dia baru saja keluar dari rumah sakit." Ucap Doni kepada mereka. Lalu keempat orang itu pun berjalan menuju ruang tamu dan mengistirahatkan mereka setelah perjalanan jauh dari rumah sakit.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2