
AAI 83 - Karma
Setelah dokter menjelaskan semuanya kepada Galih dan Gita, tak selang beberapa waktu kemudian Hesti dipindahkan ke kamar inap. Keduanya senantiasa menunggu di dalam kamar. Saling menguatkan satu sama lain, berharap ada keajaiban yang nantinya bisa menyembuhkan Hesti dari penyakitnya.
"Apa yang harus kita lakukan, Mas? Kenapa sampai sekarang ibu belum juga sadar?" Tanya Gita kepada Galih setelah tiga jam lamanya, tapi sang ibu belum menunjukkan tanda-tanda akan sadar dari tidurnya. Galih yang mendengarnya juga bingung, tapi ia harus bisa menenangkan hati sang adik meski dirinya sendiri juga sangat khawatir.
"Ssttt, tenang saja Gita. Kita serahkan semuanya kepada Tuhan dan juga dokter di sini. Ibu pasti akan baik-baik saja," jawab Galih dengan memberikan pelukan hangat untuk Gita. Gita membalas pelukan Galih, disaat ia merasa takut dan khawatir, ia memiliki Galih yang menjadi tameng dan pelindung nya.
Eugh
Keajaiban benar-benar terjadi. Dokter mengatakan jika Hesti akan sadar setelah lima jam kemudian, tapi saat ini baru tiga jam Hesti sudah menampakkan kondisinya.
Galih dan Gita seketika berlarian menuju ranjang Hesti. Keduanya terlihat sangat bahagia bercampur khawatir melihat Hesti yang sudah siuman. Galih yang berada paling dekat dengan Hesti langsung memencet tombol emergency yang berada di atas kepala Hesti. Karena ia teringat pesan dokter jika Hesti sadar, Galih harus memebritahunya dengan cara memencet tombol emergency itu.
"Ibu?Bagaimana keadaan ibu? Apa ada yang sakit?" Tanya Galih. Ia dan Gita sangat khawatir, keduanya ingin mendengar suara ibunya. Meski kedua mata Hesti terbuka lebar, tapi mulutnya tetap tertutup rapat.
Deg
'Ada apa denganku? Kenapa aku tidak bisa bicara? Ada apa ini? Galih? Gita? Aaaa,' batin Hesti menjerit sekuatnya. Tapi nyatanya Galih dan Gita tidak mendengar apapun, hanya setitik air mata Hesti yang terlihat mengalir dari sudut matanya.
"Ma-mas? I-ibu menangis, Mas." Ujar Gita yang terkejut melihat reaksi yang ditunjukkan oleh Hesti. Gadis itu begitu khawatir melihat sang ibu yang hanya menangis tanpa bisa mengucapkan sepatah kata.
"Bu? Ibu kenapa nangis? Mana yang sakit, Bu?" Tanya Gita.
__ADS_1
"Bu, ibu lupa sama kami? Aku Galih, Bu. Ini Gita, anak ibu. Tolong bicara sedikit saja, Bu." Pinta Galih. Ia sangat ingin mendengar suara Hesti alih-alih melihat wanita yang melahirkannya itu menangis.
'ADA APA INI? GALIH? GITA? IBU TIDAK BUSA BERGERAK. KENAPA INI BISA TERJADI? GALIH? GITA? APA KALIAN TIDAK BISA MENDENGAR IBU? HAH?' teriak Hesti kepada keduanya. Ia berteriak sekencang-kencangnya, tapi baik Galih dan Gita bisa mendengarnya. Mereka hanya bisa melihat Hesti yang terus menerus meneteskan air mata.
Dengan sayang, Gita menghapus setiap jejak air mata Hesti. Gadis itu ikut menangis melihat keadaan ibunya yang sangat memprihatinkan. Apalagi perban kasa yang mengelilingi kepala Hesti membuat Gita tak bisa menahan laju air matanya.
"Maafkan Gita, Bu. Andai saja Gita membantu Ibu mengambil guci, semua ini pasti tidak akan terjadi." Sesal Gita. Andai bisa memutar waktu, gadis itu ingin dialah yang membantu mengambilkan guci Hesti. Namun apa daya, nasi sudah menjadi bubur, tidak mungkin bisa diputar kembali.
'Tidak, Gita. Ini bukan salahmu. Jangan menyalahkan dirimu, ibulah yang salah. Maafkan semua kesalahan ibu, Nak. Ibu sudah bersalah dan berdosa kepada kalian. Ibu tidak pantas menjadi ibu untuk kalian. Maafkan ibu,' jerit Hesti tetangisan. Wanita itu kini sudah menuai hasil dari apa yang ia perbuat selama ini. Hukum karma memang selalu ada, dan kini telah diterima oleh Hesti. Akhirnya ia sadar, inilah titik dimana ia harus bisa bertobat kepada Tuhan dan memohon ampun atas semua yang telah ia lakukan selama hidupnya.
"Tidak, jangan berkata begitu, Gita. Ini semua sudah kehendak takdir, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Ibu pasti juga tidak ingin kalau kamu menyalahkan diri sendiri. Iya kan, Bu?" Ujar Galih seraya menoleh ke arah Hesti. Hesti yang tidak bisa berkata apa-apa hanya mengedipkan matanya.
'Maafkan Ibu, Nak. Maafkan Ibu,' sesal Hesti. Penyesalan selalu tiba dibelakang. Dan inilah saat-saat Hesti merasakan penyesalan hidupnya.
"Tuh, lihatlah. Ibu mengedipkan matanya. Sudah jangan bersedih lagi. Kita tunggu dokter memeriksa ibu terlebih dahulu. Ok?" Ujar Galih seraya memeluk tubuh sang adik. Gita hanya bisa menurut dan menyembunyikan wajah kesedihannya di dalam pelukan Galih.
Tok
Tok
Tak lama kemudian pintu kamar itu terbuka, menampilkan sosok dua orang dokter yang didampingi oleh beberapa perawatnya mendatangi mereka. Galih mengajak Gita sedikit menyingkir, mempersilakan dokter itu untuk memeriksa keadaan ibunya. Kakak beradik itu memperhatikan dari kejauhan, terlihat dua dokter itu saling berbicara tentang pasien. Setelah hampir lima belas menit kemudian, kedua dokter itupun telah selesai memeriksa keadaan Hesti.
"Bagaimana keadaan ibu kami, dok? Kenapa Ibu tidak berbicara? Apa ada yang salah?" Tanya Galih. Ia merasa begitu khawatir apalagi raut wajah sang dokter yang tidak bersahabat. Terdengar helaan napas berat dari salah satu dokter.
__ADS_1
"Jadi begini, Pak. Dengan berat hati kami menginformasikan kepada anda jika Ibu Hesti mengalami kelumpuhan di kedua kakinya secara permanen. Itu dikarenakan otot syaraf yang ada di tulang ekornya rusak akibat benturan keras saat beliau terjatuh dari tangga. Sedangkan untuk bicara, sepertinya sedikit sulit karena beliau juga terkena serangan stroke tiba-tiba. Apa di keluarga ibu kalian ada yang pernah terkena stroke?" Ujar dokter itu. Mengingat kondisi stroke yang dialami oleh Hesti, membuat dokter berasumsi jika pasiennya memiliki penyakit stroke keturunan.
Deg
'Cobaan apalagi ini, Ya Allah? Kenapa ibu mengalami begitu banyak cobaan seperti ini,' batin Gita. Gadis itu menumpahkan tangis kesedihannya didada sang kakak. Ucapan sang dokter membuat dadanya sesak hingga tak selang beberapa detik kemudian gadis itu terjatuh dan pingsan.
"GITA? GITA? ASTAGFIRULLAH, BANGUN, GITA. GITA?" teriak Galih. Ia sangat terkejut dan hampir gila melihat sang adik yang malah pingsan setelah mendengar ucapan dari dokter.
Dokter dan perawat itu langsung bergegas membantu Galih untuk mengangkat tubuh Gita.
"Tolong, dok. Tolong adik saya," pinta Galih pada mereka.
"Baik, Pak. Anda tenang dulu," ujar salah satu perawat. Tubuh Galih merosot terduduk di lantai melihat ibu dan adiknya kini malah sama-sama terbaring lemah di hadapannya. Karena kamar inap Hesti berada di ruang VIP, membuat Galih meminta kepada para perawat agar Gita berada dalam satu kamar dengan ibunya. Dokter dan perawat pun segera bertindak cepat mengabulkan permohonan Galih. Kini Gita sudah dipasangi selang infus oleh dokter, dan memeriksa keadaannya.
"Bagaimana keadaan adik saya, dok?" Tanya Galih pada dokter. Dokter itu tersenyum kepada Galih.
"Tenang, Pak. Adik Bapak tidak apa-apa, mungkin dia syok dan akhirnya pingsan. Saya juga sudah memasangkan infus untuk mengganti cairan tubuhnya yang kurang. Sepertinya adik anda ini belum makan, makanya dia bisa pingsan. Iya kah?" Tanya dokter.
"Memang sejak tiba di sini, kami belum sempat memikirkan untuk makan ataupun minum, dok. Tapi beneran tida apa-apa kan? Kapan adik saya akan sadar?" Tanya Galih. Ia sangat khawatir melihat keadaan sang adik.
"Sebentar lagi pasti akan sadar, tenang saja. Nanti harap dihabiskan ya Pak, infusnya. Kalau sudah habis, bisa mencari perawat untuk mencabutnya." Ucap dokter itu menjelaskan. Galih menganggukkan kepalanya.
"Baik, dok. Terimakasih banyak," setelah mengatakan itu, dokter dan perawat itu pergi meninggalkan kamar inap dan Galih sendirian di sana.
__ADS_1
"Berikanlah keajaiban mu kepada ibu dan adik hamba, Ya Allah. Hanya kepada-Mu lah hamba memohon,"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...