
AAI 09 - Aku tidak mandul, Bu
Prangg
Terkejut mendengar ucapan sang ibu mertua, membuat pegangan tangan Indah pada piring-piring itu terlepas. Tangannya bergetar hebat saat indera pendengarannya mendengar ucapan tersebut. Sambil berderai air mata Indah berbalik dan menatap sepasang Ibu dan anak disana. Napasnya tercekat seakan tercekik oleh kalimat yang berasal dari mulut ibu mertuanya.
Galih dan Hesti pun ikut menoleh ke arah sumber suara pecahan kaca. Galih begitu sakit lagi-lagi karena ibunya, sang istri menitikkan air mata.
'Maafkan aku, Indah. Lagi-lagi kau menangis karena perkataan ibuku,' batin Galih seraya melihat Indah yang perlahan berjalan menghampirinya dan ibunya.
Kaki Indah seakan tertahan disana, begitu berat kala ia ingin melangkah. Namun sekuat tenaga ia terus berjalan sambil menahan laju air matanya tapi sia-sia. Cairan bening itu laksana anak sungai yang mengalir deras dari kedua sudut air matanya.
"A-apa, Bu? Menikah?" Getaran suara Indah sangat terdengar jelas. Ia menatap ke arah wanita yang dihormatinya itu. Wanita yang merupakan ibu dari suaminya. Wanita pengganti ibunya sendiri yang ada di rumah ini. Wanita yang seharusnya bisa memahami sesama wanita. Tapi mengapa? Mengapa begitu kejam mengatakan kata-kata tersebut kepada suaminya? Sesak di dada Indah tak bisa ia elak.
Dengan kasar Indah menepuk-nepuk dadanya sendiri sambil menatap ke arah Hesti dan Galih. Dadanya begitu sakit, seakan mendapatkan ribuan hujaman sebuah belati.
"Kenapa, Bu? Kenapa Ibu tega padaku? Apa salahku, Bu?" Tanya Indah seraya menahan sesak yang ada dalam hatinya. Hesti terlihat biasa saja melihat menantunya itu menangis. Ia hanya menatapnya datar tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
"Kenapa? Kamu masih tanya kenapa? Apa kamu tidak tahu kesalahan kamu itu, hah? Kamu itu .... " Belum juga Hesti melanjutkan ucapannya, Galih lebih dulu menyelanya.
__ADS_1
"CUKUP, BU." Bentak Galih untuk pertama kalinya kepada Hesti. Bagi Galih, ibunya sudah sangat keterlaluan karena sudah melewati batasnya. Ia harus menghentikan ucapan Hesti sebelum ia kembali menyakiti hati istrinya.
Indah dan Hesti sama-sama tersentak mendengar bentakan dari Galih. Disaat Indah semakin merasa bergemuruh di dalam hatinya, justru Hesti meradang. Ia menilai putranya itu kini sudah menjadi anak yang membangkang.
"Kau berani membentak ibumu sendiri, Galih? Kamu mau menjadi anak durhaka, iya?" Cecar Hesti dengan kemarahan yang mulai menguasai. Galih sampai mengacak rambutnya sendiri karena frustasi dengan keadaan rumahnya saat ini.
"Itu karena perbuatan Ibu sendiri. Aku sudah berkali-kali memperingati Ibu, kan? Jangan lagi mengungkit masalah ini karena aku tidak akan pernah menikah lagi. Sampai mati aku mencintai Indah- istriku." Ucap Galih dengan tegas. Indah yang mendengar ucapan sang suami merasa sedikit lega. Namun lagi-lagi hatinya kembali sakit saat sang Ibu mertua mengeluarkan suaranya.
"Tapi istrimu itu tidak bisa memberimu keturunan, Galih. Dia itu mandul. Sampai kapan kamu akan menunggu, hah? Apa kamu mau menunggu Ibu mati dulu, baru mau menuruti semua kemauan Ibu? Iya?" Hesti meninggikan suaranya.
Indah yang biasanya hanya bisa diam, kini tiba-tiba mempunyai keberanian untuk melawan sang ibu mertua. Ia sudah lelah selama ini terus mengalah. Indah bukan seorang malaikat yang tidak bisa marah. Ia hanya manusia biasa yang juga bisa merasakan emosi karena ketidakadilan yang menerpanya.
Salahkan seorang istri melawan pada ibu mertua disaat keadaan yang memaksa nya? Istri bukanlah seorang boneka yang hanya bisa diam dan menurut dengan semua yang terjadi pada rumah tangganya. Entahlah.
"Ndah," panggil Galih yang seketika membuat Indah mengalihkan pandangannya dari sang ibu mertua. Indah semakin merasa sesak karena melihat suaminya itu kini ikut berkaca-kaca.
Tanpa pikir panjang e, Indah bergegas berlari meninggalkan tempat itu. Bahkan kaki kanannya terlihat mengeluarkan darah akibat terkena pecahan piring tadi.
Brak
__ADS_1
Indah menutup pintu kamarnya dengan keras. Tubuhnya merosot hingga terduduk di belakang pintu kamarnya. Indah menangis, meraung-raung sambil meluapkan segala emosi yang kini menguasainya.
"Kenapa, Tuhan? Kenapa ini harus terjadi padaku?" Ujar Indah yang menyalahkan takdir Tuhan yang terjadi padanya.
"Aku sudah melakukan semuanya, Tuhan. Aku selama ini diam, tak pernah sekalipun aku menyinggung perasaan ibu mertua. Tapi kenapa dia begitu tega mengatakan itu padaku? Hik hik,"
"Sudah empat tahun, Tuhan. Selama itu pula aku selalu mendapatkan perlakuan buruk dari ibu Mas Galih. Seakan belum puas, dia malah menyuruh suamiku untuk menikahi wanita lain. Apa yang harus aku lakukan, Tuhan?"
"Aku mohon, Tuhan. Aku mohon jangan pisahkan aku dengan Mas Galih. Aku sangat mencintainya,"
Tangis indah pecah. Ia begitu sakit hati dengan sikap ibu mertuanya yang kini semakin menjadi. Statusnya sebagai menantu di rumah ini ternyata hanya status di atas kertas. Sedangkan bagi Hesti, ia tak pernah menganggap Indah ada.
Perlahan tangis Indah berhenti. Pandangannya berubah kosong. Bahkan darah segar yang mengalir dari sela-sela jari kakinya tak membuatnya kesakitan. Meski darah itu sampai ada yang mengering Indah tak merasakan sakit itu. Sakit di dalam hatinya mengalahkan rasa sakit pada tubuhnya.
Ingatan Indah kembali pada saat dirinya dan Galih pertama kali bertemu. Tanpa ia sadari bibirnya membentuk sebuah lengkungan indah kala mengingat bagaimana keduanya salah tingkah. Rasa ketertarikan diantara keduanya perlahan menumbuhkan cinta dihati mereka.
"Aku tidak mandul, aku tidak mandul." Ujar Indah dengan lirih seraya beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ranjang.
Hati wanita mana yang tak terluka mendengar julukan yang sangat menyakitkan tersebut. Bahkan orang yang mengatakan itu merupakan keluarganya sendiri. Sakitnya melebihi rasa sakit jika orang lain yang mengatakannya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...