Aku Atau Ibumu

Aku Atau Ibumu
AAI 46 - Dilarikan ke rumah sakit


__ADS_3

AAI 46 - Dilarikan ke rumah sakit


Hesti yang sudah tahu tentang Galih dan Indah langsung pergi ke kamarnya. Di dalam kamar wanita tua itu bersorak-sorai karena rencananya telah terjadi. Indah sudah mengetahui semuanya tanpa ia kasih tahu.


"Ha ha ha, akhirnya apa yang aku inginkan kini terwujud. Sebentar lagi aku bisa dengan bebas membawa Melinda ke rumah ini. Aku yakin Indah pasti ingin cerai dari Galih. Aku tidak akan malu lagi karena kini bisa memiliki seorang cucu yang sangat kuidam idamkan." Ujar Hesti dengan raut wajahnya yang berbinar binar. Hari ini hari bahagianya karena ia berhasil menyingkirkan menantu kampungannya itu dari kehidupan sang putra.


"Aku harus menelepon Melinda. Iya, aku harus menanyakan kronologi kejadian tadi seperti apa." Gumam Hesti. Lalu ia pun segera mencari ponselnya dan menghubungi nama menantu kesayangannya.


"Halo, Bu?"


"Halo, Mel? Bagaimana tadi, Mel? Saat ini Galih dan Indah sedang bertengkar. Aku ingin mengetahui kronologi kejadian tadi seperti apa?" Tanya Hesti yang sangat penasaran dengan apa yang telah terjadi pagi ini.


"Itu, Bu. Aku tadi meminta Mas Galih untuk membelikan bubur kacang hijau untukku. Tanpa sepengetahuan Mag Galih, ternyata istrinya mengikuti. Lalu dia tahu kalau aku sudah menikah dengan Mas Galih dan sedang mengandung anaknya." Jawab Melinda. Hesti sangat bahagia mendengarnya.


""Benarkah? Lalu, bagaimana reaksinya? Apa dia membuat ulah di rumahmu?" Tanya Hesti. Ia takut jika Indah mengamuk di rumah Melinda seperti kejadian yang belakangan viral di sosial media. Tentu Hesti tidak ingin itu atau harga diri keluarganya akan hancur.


"Tidak, Bu. Dia langsung pergi begitu saja sambil menangis. Sebenarnya tadi aku ingin menghalangi mas Galih, tapi dia mengancamku. Aku pun hanya bisa melihat kepergian mas Galih yang mengejar Indah," ujar Melinda.


"Biar saja. Tenang, saat ini mereka berdua sedang bertengkar hebat. Ibu yakin mereka pasti akan bercerai setelah ini." Sahut Hesti. Mengingat bagaimana watak menantunya itu, Hesti yakin kalau Indah pasti akan meninggalkan Galih. Apalagi mengingat Galih akan mempunyai seorang anak dari wanita lain.


"Apa Ibu yakin? Bagaimana kalau Mas Galih akan melampiaskan semuanya padaku?" Tanya Melinda.


"Tidak akan. Percaya sama Ibu, Ibu pasti akan melindungi mu dari Galih." Jawab Hesti meyakinkan Melinda.


Hesti dan Melinda mengobrol dalam waktu yang lama. Keduanya saling berbagi kebahagiaan karena telah berhasil membuat Galih dan Indah bertengkar hebat. Hingga suara teriakan dari Galih menginterupsi Hesti yang tengah mengobrol dengan Melinda.


"IBU! IBU! Tolong Galih, Ibu!"

__ADS_1


"Sebentar, Mel. Ibu dengar suara Galih yang minta tolong. Ibu tutup telponnya dulu, ok?" Setelah mengatakan itu pun Hesti bergegas keluar dari kamar.


"Ada ap.." belum sempat Hesti menyelesaikan ucapannya, kedua matanya terbelalak saat melihat Galih yang tengah menggendong Indah yang sudah berlumuran darah.


"Astaga, ada apa ini, Galih?" Tanya Hesti.


Galih yang sudah kalap malah membentak sang ibu hingga membuat Hesti terjingkat.


"Cepat cari taksi, Bu. Kita bawa Indah ke rumah sakit," titah Galih seraya perlahan menuruni tangga.


"Baiklah, Ibu ambil tas dulu." Tanpa menunggu waktu lama lagi, kedua orang itu segera membawa tubuh Indah yang sudah tak berdaya itu menuju ke rumah sakit yang berjarak tiga puluh menit dari kediaman mereka.


"Bertahanlah, Sayang. Aku mohon, bertahanlah." Bisik Galih seraya mengelus pucuk kepala sang istri. Pikirannya begitu tak karuan saat ini. Ia mengagungkan doa terbaik untuk keselamatan Indah.


Hesti yang duduk di kursi samping kemudi hanya bisa melihat putranya itu dari kaca spion. Ada rasa iba melihat keadaan Indah, namun ia dengan cepat menyadarkan dirinya.


"Tolong tunggu di luar, Pak. Biarkan dokter yang memeriksanya," ucap seorang perawat seraya menghalangi Galih yang ingin ikut masuk ke dalam ruangan putih itu. Meski enggan, tapi Galih tidak bisa berbuat apa-apa selain menurut. Kedua mata Galih bisa melihat bagaimana sang istri yang tengah ditangani oleh dokter serta perawatnya hingga daun pintu ruangan itu tertutup sempurna.


Cklek


Tertutupnya pintu ruangan itu bersamaan dengan terhuyungnya tubuh Galih. Galih merasa jiwanya terlepas dari tubuhnya melihat keadaan sang istri. Tubuh Galih merosot, terduduk di lantai putih seraya menatap pintu ruangan yang telah tertutup itu.


"Tolong selamatkan istriku, Ya Allah. Aku bersedia mati untuknya. Aku mohon, Ya Rabb." Lirih Galih seraya menangkupkan kedua tangannya ke atas. Ia berdoa kepada Rabb-nya demi keselamatan Indah. Ia sangat hancur karena telah mencelakakan Indah meski ia tidak sengaja melakukannya.


Perlahan Isak tangis mulai terdengar dari mulut Galih. Hesti yang ingin mendekat ia ur6ngkan saat melihat seorang perawat mendekatinya. Ia diminta untuk mengisi data diri Indah dan melakukan administrasi. Mau tak mau Hesti meninggalkan sang putra disana.


Tak butuh waktu lama, setelah selesai mengisi data diri, Hesti bergegas pergi menemui Galih. Setibanya di sana, Hesti bisa melihat tatapan kosong sang putra. Mengingat kondisi Indah yang serius, Hesti pun berinisiatif untuk menghubungi pihak keluarga Indah yang ada di desa.

__ADS_1


Ayah Indah tentu sangat terkejut saat menerimanya kabar kecelakaan yang dialami oleh sang putri. Ia pun mengatakan pada Hesti bahwasanya akan segera datang bersama istri dan juga anaknya.


Setelah selesai melakukan panggilan, Hesti kembali menghampiri Galih. Meski dalam hati Hesti sangat ketakutan melihat keadaan Galih yang bisa saja menyalahkannya, tapi ia harus bisa menyadarkan Galih.


"Galih? Ayo duduk di atas," ajak Hesti seraya meraih kedua tangan Galih. Namun sedetik kemudian laki-laki itu menghempaskan tangan sang ibu. Tatapan mata Galih berubah dingin dan beranjak dari duduknya. Hesti sampai memundurkan tubuhnya karena melihat tatapan tajam itu.


"Lihat, Bu. Apa Ibu sekarang puas, HAH? Ibu PUAS?"bentak Galih tepat di depan wajah Hesti. Tubuh wanita itu sampai gemetar saat mendengar suara menggelegar dari Galih. Selain itu, Hesti juga merasa malu karena teriakan Galih membuat keduanya menjadi pusat perhatian orang-orang.


"Pe-pelankan suaramu, Galih. Ini di rumah sakit," cicit Hesti seraya menoleh kesana-kemari. Seakan acuh, Galih semakin dibuat geram saat melihat sang ibu tidak merasa bersalah sedikitpun.


"Semua ini gara-gara Ibu. Apa Ibu tahu, HAH? Ibu telah menghancurkan rumah tanggaku," desis Galih seraya melayangkan tatapan tajam kepada sang ibu. Detak jantung Hesti seakan ingin keluar dari tempatnya saat melihat aroma kemarahan yang terpancar dari tubuh sang putra.


Belum juga Hesti mengeluarkan suaranya, terlihat pintu ruangan itu terbuka. Menampilkan sosok dokter yang tadi menangani Indah.


Cklek


Mendengar suara pintu terbuka, membuat Galih buru-buru beralih padanya. Hesti merasa lega sampai mengelus dadanya.


"Dengan keluarga Ibu Indah Permatasari?" Tanya sang dokter.


"Saya, Dok. Saya suaminya," sahut Galih seraya mendekat ke arah dokter yang kini menggunakan seragam hijaunya.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" Tanya Galih dengan raut wajahnya yang sudah sangat menghawatirkan sang istri. Namun sang dokter justru memperlihatkan raut wajahnya yang seakan tak baik.


"Saya mohon maaf, Pak..."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2