
AAI 66 - Kepulangan Hesti
Karena tak kuat berada di dalam kamar itu, Galih memutuskan untuk segera pergi dari sana. Meninggalkan Hesti dan Melinda yang masih saling teriak. Bahkan panggilan dari ibu dan adiknya tidak ia hiraukan. Yang ada di pikiran Galih saat ini adalah ia ingin menghirup udara bebas, tidak seperti di dalam kamar inap Hesti yang rasanya mencekik lehernya.
"Lihat, lihat itu Ja Lang. Gara-gara kau di sini, Galih memilih pergi daripada menemaniku di sini. Pergi kau dari sini, aku pastikan Galih akan menceraikan mu." Bentak Hesti pada Melinda. Ia bahkan menudingnya tepat di depan wajahnya.
"Tidak, Bu. Jangan pisahkan aku dengan Mas Galih. Aku sangat mencintainya," sesal Melinda. Ia tidak ingin berpisah dengan laki-laki yang ia sukai sejak lama itu. Impiannya menjadi istri Galih sudah berada di genggamannya. Ia tidak rela jika harus melepaskan impiannya itu.
"Dasar tidak tahu malu," pekik Hesti. Gita berusaha menenangkan sang ibu dengan duduk di samping Hesti dan mengelus punggung tangan nya.
Melinda mendekat dan bersimpuh di bawah ranjang Hesti. "Kumohon, jangan pisahkan aku dari Mas Galih, Bu. Aku mohon, berikan aku kesempatan sekali lagi." ucapnya.
Hesti kembali meradang menghadapi Melinda yang begitu keras kepala itu. Ia tidak mengira, selain ja Lang, wanita itu tak tahu malu.
"Usir wanita ini dari kamarku, Git. SEKARANG," teriak Hesti pada Gita. Gadis itu tidak punya pilihan lain selain menuruti semua perkataan sang ibu.
"Ayo, Mbak. Aku bantu," ucap Gita seraya membantu Melinda beranjak dari tempat nya. Meski Melinda menggeleng keras, tapi Gita tetap melaksanakan perintah sang ibu.
"Mbak mohon, Git. Jangan lakukan ini padaku," pinta Melinda mengiba. Air matanya sudah berlinangan membasahi kedua pipinya.
"Maafkan aku, Mbak." Cicit Gita.
"Cepat usir wanita itu dari sini, Gita."
Mendengar teriakan dari sang ibu membuat Gita segera menuntun Melinda yang masih menangis menuju ke luar kamar. Gita mengantar kepergian Melinda sampai di lobi rumah sakit. Gadis itu juga yang mencarikan taksi untuk Melinda.
Didalam kamar Hesti memikirkan tentang semua yang telah terjadi pada keluarganya. Kejadian demi kejadian besar melintas di benaknya. Dari mulai rencananya, pertengkaran Galih dan Indah, perpisahan mereka, dan puncaknya hari ini.
"Ternyata selama ini aku sudah terhasut oleh wanita ja Lang itu. Dia yang selama ini mencuci otakku agar aku memisahkan Galih dan Indah. Ini tidak bisa di biarkan, aku pasti akan memberi pelajaran besar padanya." Tekad Hesti.
__ADS_1
Wajah wanita yang selama ini ia sayangi ternyata telah merencanakan semuanya dengan apik. Bahkan dia sampai tidak menyadarinya.
"Maafkan Ibu, Galih. Maafkan Ibu," sesal Hesti dengan setitik air mata yang jatuh dari pelupuk matanya.
Selama tiga hari Hesti di rawat dan Gita senantiasa menemaninya. Hari ini hari terakhir Hesti berada di rumah sakit. Semua urusan administrasi sudah ditangani oleh Galih. Namun, laki-laki itu tak kunjung memperlihatkan batang hidungnya hingga sekarang. Hesti merasa kesal sekaligus bersalah kepada putranya tersebut.
"Bu?" Panggil Gita. Gadis itu masuk bersama seorang dokter yang akan memeriksa kondisi Hesti untuk terakhir kali sebelum ia pergi meninggalkan rumah sakit.
"Pagi, Bu Hesti. Saya akan memeriksa kondisi Bu Hesti sebelum Ibu pulang," ujar sang dokter.
"Iya, dok." Sahut Hesti. Sang dokter pun memulai pemeriksaannya. Hasilnya semua sudah normal dan sehat, oleh karena itu Hesti sudah diperbolehkan pulang dengan catatan bisa mengatur waktu untuk istirahatnya.
"Jangan lupa diminum vitaminnya ya, Bu." Ujar dokter itu seraya meringkas peralatannya.
"Iya, dok."
Setelah kepergian dokter, Gita mulai meringkas semua barang miliknya dan ibunya.
"Mas Galih kerja, Bu." jawab Gita.
"Apa anak itu sudah tidak menganggapku sebagai ibunya? apa dia tidak tahu kalau hari ini aku keluar dari sini?'' tanya Hesti.
''Pekerjaan Mas Galih sedang banyak-banyak nya, Bu. Ibu mohon mengerti keadaan Mas Galih,'' ujar Gita. Hesti membalasnya hanya dengan decihan. Setelah semua barang sudah dikemas,, Hesti dan Gita langsung keluar dari kamar dan menuju ke lobi rumah sakit.
Dengan menaiki mobil taksi, Hesti dan Gita pulang menuju rumah mereka. Perasaan bahagia dirasakan Gita akhirnya ia bisa menghirup udara bebas tanpa mencium aroma obat-obatan seperti yang ia rasakan tiga hari ini di rumah sakit.
"Ah, akhirnya aku bisa bebas menghirup udara segar ini." Ucap Gita setibanya mereka di halaman rumah. Gadis itu merentangkan kedua tangannya sesaat setelah keluar dari mobil. Hesti yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala karena tingkah aneh sang putri.
"Bawa tasnya, Ibu mau langsung istirahat." Ujar Hesti seraya menenteng tas kecilnya.
__ADS_1
"Siap, Bu." Ucap Gita lalu gadis itu segera mengangkat tas besar berisi pakaian mereka dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Karena hari masih pagi, oleh karena itu Gita memasakkan bubur untuk sang ibu. Dengan riang gadis itu mulai mencari bahan dan memulai aktivitas memasaknya. Semenjak Gita memutuskan untuk sekolah di luar kota, membuat gadis itu hidup mandiri. Gita mulai belajar memasak hingga akhirnya dia menjadi seorang gadis yang bisa memasak. Sedangkan Hesti langsung menuju kamar dan berbaring di atas ranjang miliknya. Namun saat ia hendak memejamkan mata, wanita itu teringat dengan seseorang.
"Dimana dia? Aku hampir lupa tidak menghubunginya tiga hari ini. Aku akan mengatakan bagaimana kelakuan anak kesayangannya padaku." Ujar Hesti seraya beranjak dari tempat nya. Ia merogoh tas dan mengambil ponselnya.
"Halo?"
"Dimana kau?" Tanya Hesti to the point.
"Di rumah. Ada apa? Cepatlah,"
"Aku ingin membicarakan sesuatu mengenai anakmu," ucap Hesti.
"Jangan sekarang, temui aku hari kamis lusa di tempat biasa. Kita bicara saja di sana, jangan sekarang. Aku sedang ditunggu oleh istri dan anakku,"
'Si alan.' umpat Hesti dalam hati. Inilah yang tidak ia sukai darinya. Sejak dulu ia tidak pernah bisa menjadi prioritasnya. Jangankan diutamakan, untuk bertemu saja mereka dibatasi oleh waktu dan keadaan keduanya.
"Baiklah, kalau begitu pulanglah. Temui istri tercinta mu itu," ucap Hesti ketus.
"Hahaha, jangan begitu, Sayang. Kenapa kau harus cemburu pada istriku, hm?"
Hesti semakin dibakar api cemburu kala mendengar tawa ejekan dari mulut laki-laki itu. Ia sangat kesal, tidak ayah maupun anaknya sama saja. Membuat Hesti merasa pusing.
"Cukup, aku akan tutup teleponnya. Bye," ujar Hesti. Setelah mendengar jawaban dari seberang sana, barulah Hesti mengakhiri panggilan tersebut. Kedua matanya menatap lurus kedepan, seakan melihat wajah orang yang sangat ia benci.
"Tunggu saja kau, perempuan lak Nat. Aku akan mendatangi rumah mu besok, ku pastikan kau akan bersujud dihadapan ku karena perlakuan anakmu padaku." gumam Hesti membayangkan apa yang akan terjadi besok. Ia merencanakan sesuatu yang besar, yang akan membuat mereka yang terlibat akan malu karena penghianatan Melinda dan Dimas.
"Tunggu saja, kalian.''
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...