
AAI 22 - Menjalankan Rencana
Sepulang dari kantor, Galih melihat sesuatu hal aneh yang terjadi pada istrinya. Meski Indah tidak mengatakannya, tapi Galih bisa melihat kegelisahan yang tengah di derita olehnya.
'Kenapa Indah seperti tengah bersedih? Apa yang terjadi? Apa Ibu berulah dan menyakitinya?' ujar Galih dalam hati.
Selama makan malam mereka berlangsung, tak ada sepatah katapun yang terucap dari mulut ketiga orang di sana. Hesti tengah fokus dengan rencana yang akan ia laksanakan besok hingga tak menyadari perubahan yang terjadi pada anak dan menantunya. Sedangkan Indah tengah berkutat dengan pikirannya. Terlalu banyak pertanyaan di dalam otaknya sampai membuat indah tidak mendengar ponselnya yang berdering.
Galih yang tengah sibuk dengan makanannya sampai menoleh. Ia berhenti, pandangan matanya tertuju pada wanita yang dicintainya itu. Wajah cantik indah terlihat murung dan tidak berselera makan.
"Sayang?" Panggil Galih. Tak ada sahutan dari Indah, wanita itu sepertinya tidak mendengar panggilan dari suaminya.
"Indah?" Panggil Galih ketiga kalinya dengan menyentuh pundak Indah hingga membuat wanita itu tersentak.
"I-iya, Mas." Jawab Indah dengan gelagapan. Ia menundukkan wajahnya karena kedapatan tengah melamun disaat ia tengah bersama dengan suami dan ibu mertuanya. Bahkan Hesti yang tadinya sibuk dengan pikirannya ikut menatap ke arah menantunya. Senyum seringainya tercipta di kedua sudut bibirnya saat melihat wanita kampung itu tengah menunduk takut.
"Apa yang sedang kau pikirkan, Sayang? Mas sudah memanggilmu sampai tiga kali tapi kamu tidak mendengarnya." Indah semakin menunduk karena mendengar pertanyaan itu.
'Apa yang harus aku katakan, Mas. Tidak mungkin bagiku untuk menanyakan masalah pribadi kita di hadapan ibumu. Tapi bagaimana bisa aku mengabaikan ini. Sedikit saja tingkahmu berubah, aku pasti akan mengetahuinya. Haruskah aku tanyakan semua ini padamu, Mas? Tapi apakah kau akan menjawab dengan jujur semua pertanyaan ku?' tanya Indah dalam hati. Meski ia dan Galih saling memandang, tapi keduanya tidak sepemikiran. Indah bukan tipe wanita yang selalu mengeluh kepada Galih. Ia selalu memendam sendiri semua yang ia rasakan. Tanpa ia sadari, itu berakibat pada kesehatan mentalnya sendiri.
"Ti-tidak apa-apa, Mas." Indah memaksakan diri untuk tersenyum di depan ibu mertuanya. Ia tak ingin sampai ibunya tahu tentang apa yang akan tengah rasakan atau ia akan berubah menjadi minyak pembakar yang nantinya bisa memperkeruh suasana.
'Aku tau kalau kau sedang berbohong, Indah.' batin Galih.
"Ponselmu sejak tadi berbunyi, Indah. Lihatlah, takutnya itu sesuatu hal penting." Ucap Galih.
Indah meletakkan sendok makan dan mengambil ponselnya yang tergeletak di samping tangannya.
__ADS_1
"Siapa?" Tanya Galih penasaran melihat istrinya sibuk dengan ponselnya.
"Ibu, Mas. Ini," Jawab Indah seraya mengulurkan ponsel itu pada Galih. Tapi laki-laki itu menolak dengan halus.
"Ya sudah. Apa ada hal penting?" Tanya Galih lagi. Indah menggeleng kecil mendengar ucapan tersebut.
"Tidak, Mas. Ibu hanya merindukanku sampai memimpikanku,'' jawab Indah. Galih hanya beroh ria sambil melanjutkan makannya. Sedangkan Hesti tampak diam saja dan tidak berkomentar atau ia akan mendapat teguran dari putranya itu.
Makan malam telah selesai. Galih bergegas beranjak dan pergi ke kamar. ia ingin melanjutkan pekerjaannya yang tadi belum selesai saat masih berada di kantor.
Melihat Galih yang beranjak dari tempat duduknya, membuat Hesti ikut melakukannya. Ia bangkit dan segera meninggalkan ruang makan begitu saja. Bahkan helaan napas saja tidak terdengar dari mulutnya.
Indah bergegas bangkit dan membersihkan semua yang ada di atas meja, sebagai mana biasanya. Dengan cekatan wanita itu mencuci semua peralatan makan dan juga memasukkan makanan yang masih tersisa banyak ke dalam lemari pendingin. Setelah semuanya selesai, Indah mematikan lampu dan berjalan menuju ke kamarnya.
Indah mendorong pintu kamarnya dengan perlahan hingga membuat Galih yang tengah fokus dengan pekerjaannya tidak menyadari. Wanita itu berjalan masuk menuju ke bilik penyimpanan baju dan berganti dengan pakaian tidurnya yang berbahan satin. Setelah itu ia membersihkan muka dan menggosok gigi sebelum ia naik ke peraduan mereka.
'Kapan Indah masuk kamar? Astaga, tak terasa aku sudah disini selama tiga jam. Pantas saja badanku terasa sangat kaku,' ujar Galih dalam hati saat melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
Laki-laki itu beranjak dari duduknya dan menuju kamar mandi. Ia membersihkan muka dan menggosok gigi sebelum tidur. Setelah ia berganti dengan pakaian tidurnya, Galih mulai naik ke atas ranjang di sebelah sisi Indah.
Cup
Galih mengecup kening Indah dan memeluknya dari belakang. Tak lupa Galih membisikkan kata selamat malam untuk istrinya tersebut sebelum ia benar-benar memejamkan matanya.
Dinginnya malam membuat Indah menginginkan kehangatan. Wanita itu membalikkan tubuhnya dan memeluk tubuh kekar suaminya. Galih tersenyum tipis sambil mengelus rambut milik indah yang tergerai bebas. Hubungan keduanya masih tetap hangat layaknya seperti pengantin baru meski mereka telah menikah beberapa tahun.
Keesokan harinya,
__ADS_1
Seperti Biasa mereka menikmati sarapan pagi mereka dengan tenang. Namun ada yang berbeda, Hesti terlihat sangat bahagia dan senyumnya selalu merekah membuat Indah heran.
'Tumben, Ibu kelihatannya senang sekali hari ini. Ah, semoga dia tidak memarahiku lagi hari ini.' doa Indah dalam hati. Ia tak mau banyak berpikir tentang ibu mertuanya. Ia hanya berdoa supaya wanita itu tidak mengusiknya seperti hari-hari biasanya.
Selepas Galih berangkat kerja, Hesti pun ikut keluar rumah. Indah yang sudah terbiasa ditinggal tidak ada komentar dan kembali melakukan pekerjaan rumahnya.
Hesti naik taksi yang telah ia pesan dari aplikasi online. Ia pergi ke apotik terdekat sebelum ia menuju tempat dimana ia bertemu dengan Melinda.
Ddrrrttt
Drrrt
Drrrt
Suara sebuah ponsel berdering keras di atas meja sebuah nakas. Deringnya yang berulangkali membuat sang pemilik terusik.
"Ponsel mu berbunyi terus, Babe. Uh, sangat mengganggu konsentrasi ku," ucap seorang laki-laki pada wanitanya yang tengah berada di bawahnya. Sepasang sejoli itu tengah melakukan aktivitas se ksnya pagi ini.
"Ah, biarkan saja. Tidak apa-apa, selesaikan ini dulu. Ah, aku sudah tak tahan lagi honey," teriak sang wanita dengan tubuhnya yang tergoncang hebat akibat hen takan keras sang kekasih.
"Wait, tunggu sebentar lagi. aku juga akan sampai," balas sang pria seraya mempercepat ritme permainannya. keduanya sama-sama bekerja keras demi meraup kenikmatan yang tengah menghampiri mereka. Hingga beberapa saat kemudian tubuh keduanya melengkung, mene gang, bersamaan dengan muntahnya cairan hangat di dalam sana. Kedua insan tersebut saling pandang dengan deru napas yang terdengar memburu satu sama lain. Peluh keringat membasahi tubuh mereka tak jadi masalah jika inilah saat-saat yang sangat mereka sukai.
''Kau sangat nikmat," bisik laki-laki itu seraya memberikan kecupan singkat di bibir merah nan sensual itu.
"Dan kau sangat per kasa," balas wanitanya dengan kerlingan sebelah matanya.
Keduanya saling berpelukan, menetralkan detak jantung yang sejak tadi berdetak cepat akibat permainan panas mereka.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...