Aku Atau Ibumu

Aku Atau Ibumu
AAI 64 - Di Rumah Sakit


__ADS_3

AAI 64 - Di rumah sakit


Melinda merasa ketakutan karena perbuatannya sudah diketahui oleh ibu mertuanya. Ia tidak menyangka jika Hesti akan datang hari ini. Padahal kemarin lusa wanita itu sudah datang ke rumah.


"Bagaimana ini, Dim?" Tanya Melinda dengan wajahnya yang ketakutan. Dimas yang tersadar langsung beranjak dan mulai memakai kembali pakaiannya.


'Si Al. Bisa-bisa aku di cincang sama ibuku kalau dia tahu semua ini. Si Al,' batin Dimas. Ia tahu watak sang ibu, dia pasti akan mendapat hukuman setimpal karena telah melanggar janjinya sendiri.


Melihat Melinda yang masih gemetaran di atas ranjang, semakin membuat Dimas gelisah. Ia juga tak menyangka jika situasinya akan menjadi seperti ini.


"Dengar, Mel. Sekarang kita harus cepat. Kita bawa Ibu Galih ke rumah sakit, oke?" Ujar Dimas dengan menangkup wajah ketakutan Melinda dengan kedua tangannya. Ia menyadarkan Melinda yang masih ketakutan dengan mertuanya itu.


"A-aku takut, Dim. Ba-bagaimana kalau Ibu menceritakan semuanya kepada Galih? Dia pasti akan menceraikan ku." Cicit Melinda dengan air mata yang sudah menganak sungai. Ia mulai menangis, takut akan perbuatannya itu akan diketahui banyak orang.


"Ssstt... Tenang, ada aku. Sekarang, ayo kita cepat-cepat Mel. Aku akan mengangkat Bi Hesti ke mobil. Kau cepatlah berganti pakaian," ujar Dimas. Dengan berderai air mata, Melinda menganggukkan kepala.


Dimas mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Melinda yang duduk di sampingnya terlihat gemetaran sambil terus berderai air mata. Setibanya di rumah sakit, Hesti langsung di bawa menuju unit gawat darurat yang ada di sana. Diluar ruangan Melinda dan Dimas menunggu dengan perasaan resah dan gelisah.


"Hubungi Galih, Mel. Katakan padanya kalau Ibunya masuk rumah sakit." Ujar Dimas kepada Melinda. Wanita itu mendongak, Dimas bisa melihat raut wajah putus adanya saat ini.


"Dia tidak akan mengangkat panggilan dariku, Dim. Dia sangat membenciku," cicit Melinda. Dimas mengacak rambutnya frustasi, lalu ia teringat dengan Gita yang kini tinggal bersama Hesti.


"Kalau begitu aku akan menelepon Gita. Semoga dia bisa datang kemari," setelah mengatakan itu, Dimas langsung berjalan menjauhi Melinda yang duduk di kursi tunggu seraya tatapannya kosong ke arah ruangan Hesti.


Sambil menunggu kedatangan Gita, Dimas membeli sebotol minuman air putih untuk Melinda. Keduanya belum minum sedikit air pun semenjak keduanya disana. Tak lama kemudian terdengar suara seorang wanita yang memanggil nama mereka berdua.


"Mas Dimas? Mbak Melinda?" Teriak Gita sepanjang koridor rumah sakit. Gadis itu berlarian menuju tempat dimana sang ibu berada. Penampilannya yang masih berantakan menandakan jika dirinya langsung berangkat ke rumah sakit setelah mendapatkan berita.

__ADS_1


Gita langsung duduk di samping Melinda yang masih menangis tersedu. Itu membuat Gita ikut mengeluarkan air mata. Keduanya berpelukan, saling menguatkan satu sama lain.


"Bagaimana ini bisa terjadi, Mbak? Tadi di rumah Ibu tidak apa-apa." Tanya Gita seraya melepaskan pelukan itu. Wajah Melinda menegang, ia bingung memberi jawaban apa sedangkan dirinyalah penyebab dari Hesti kehilangan kesadarannya.


"I-itu, Git..."


"Gita?"


Suara berat seorang laki-laki menghentikan mulut Melinda yang ingin bicara. Ketiga orang yang ada di sana menoleh. Melinda semakin dilanda ketakutan saat melihat kedatangan laki-laki yang merupakan suaminya sendiri.


"Ma-mas Galih?" Cicit Melinda.


"Iya, Mbak. Tadi aku menelepon Maa Galih dan mengatakan padanya bahwa ibu dibawa ke rumah sakit." Ujar Gita.


Deg


Deg


Deg


'Betapa bodohnya aku bisa tergoda dengan Dimas yang tak ada seujung jari pun dari Galih. Astaga,' batin Melinda. Dia yang tadinya bersedih Ki i justru terpesona dengan keindahan ciptaan Tuhan yang ada di depan matanya.


"Mas, Ibu Mas." Cicit Gita seraya berhambur ke dalam pelukan Galih. Ia menangis tersedu karena sang ibu tengah berjuang antara hidup dan mati di dalam sana.


Meski rasa benci masih mendominasi dalam diri Galih, tapi ia tidak bisa acuh saat ibu kandungnya itu tengah terbaring tak berdaya di rumah sakit. Saat dia menerima telepon dari Gita, ia tengah berada di kantor. Ia meminta ijin kepada atasannya untuk pergi meninggalkan pekerjaannya.


"Sssttt, tenanglah. Kita berdoa saja semoga Tuhan lekas mengangkat penyakit dari tubuh Ibu. Ayo, kita duduk dulu. Kita tunggu dokter keluar, hm?" Ujar Galih yang diangguki oleh Gita.

__ADS_1


Galih menuntun sang adik agar duduk di kursi yang berada satu jejeran dengan kursi Melinda. Tak pernah sekalipun Galih melihat atau melirik ke arah Melinda meski wanita itu tidak pernah mengalihkan pandangannya dari dirinya. Galih merasa jijik dengan wanita yang yang telah memisahkan dirinya dengan istri tercinta nya.


cklek


Pintu ruangan terbuka. Seorang dokter laki-laki keluar dari sana. Baik Galih, Gita, Melinda, dan Dimas segera menghampiri dokter tersebut. Kegelisahan sangat terlihat jelas di raut wajah mereka karena menghawatirkan keadaan Hesti di dalam sana.


"Keluarga Ibu Hesti?" tanya Dokter.


"Saya anaknya, dok." jawab Galih. Dokter itu menganggukkan kepala seraya menatap wajah Galih yang terlihat tegang sekali.


"Bagaimana dengan keadaan Ibu saya, dok? Apa penyebab ibu saya menjadi seperti ini?" tanya Galih.


"Anda tenang saja, Pak. Bu Hesti mungkin pingsan karena syok, tapi sejauh ini tidak terjadi apa-apa dengannya. Saya menyuntikkan obat penenang agar Bu Hesti bisa istirahat. Setelah ini Bu Hesti akan dipindahkan di kamar inap, tolong diurus administrasi nya." ujar sang dokter. Semua orang yang ada di sana akhirnya bisa bernapas lega. Ketakutan yang mereka rasakan kini seakan sirna tak bersisa.


"Baik, dok. Terimakasih banyak," ucap Galih seraya mengulurkan tangannya pada dokter itu. Dengan senyumannya, dokter itu menerima jabatan tangan Galih.


"Sama-sama, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu," setelah mengatakan itu, sang dokter kemudian pergi meninggalkan tempat itu diikuti oleh dua orang perawatnya.


Tak lama kemudian pintu ruangan Hesti kembali terbuka. terlihat dua orang perawat tengah mendorong ranjang Hesti keluar untuk dipindahkan ke kamar inap sesuai dengan perkataan dari dokter tadi.


Galih, Gita, dan Melinda mengikuti perawat itu. Sedangkan Dimas memilih menyingkir dari sana sebelum Hesti sadar dari tidurnya. Ia tidak mau sampai disalahkan apalagi dihajar oleh Galih karena sudah berani meniduri istrinya.


'Aku harus pergi meninggalkan kota ini. Ya, aku akan pergi ke luar kota untuk beberapa hari kedepan sampai keadaan benar-benar kembali seperti semula. Aku tidak ingin menjadi bulan-bulanan Galih apalagi kedua orang tuaku. Tidak mau, aku tidak mau.' batin Dimas seraya berjalan cepat menuju mobilnya. Ia memikirkan alasan yang akan ia katakan pada ibunya karena ia akan pergi ke luar kota secara mendadak.


'Sorry, Mel. Aku tidak bisa membantumu, tapi terimakasih. Terimakasih karena sudah membiarkan aku merasakan milikmu lagi setelah lama kita tidak melakukannya,' ujar Dimas dalam hati. Sudut bibirnya terangkat saat ia kembali mengingat kebersamaannya dengan Melinda siang ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2