
AAI 82 - Diagnosa dokter
Setibanya di rumah, Hesti langsung meletakkan bungkusan itu dengan kasar di atas meja makan. Raut wajahnya yang ditekuk mengundang atensi Gita yang saat itu tengah berkutat dengan laptopnya. Gadis itu mengerutkan kening, ingin bertanya tapi ia tak memiliki keberanian melakukan hal itu.
'Ada apa dengan ibu? Sepertinya sedang kesal,' batin Gita. Gadis itu melirik ke arah ibunya yang tengah berdiri di depan lemari pendingin.
"Dasar, wanita si alan. Berani-beraninya mereka membicarakanku," gerutu Hesti yang masih bisa di dengar oleh Gita. Gita menghentikan jarinya, ia memikirkan ucapan sang ibu.
'Siapa yang dimaksud ibu?' batin Gita yang bertanya-tanya tentang siapa yang tengah dibicarakan oleh Hesti.
"Awas saja kalian semua. Apa kalian pikir aku tidak berani membongkar kebusukan kalian, hah? Kalau arisan itu tidak ada aku, pasti sudah bangkrut dan sepi. Tidak akan ada yang mau datang ke arisan," Hesti begitu kesal, sampai ia lupa jika disana tidak hanya dirinya tapi ada Gita juga. Kekesalannya terhadap teman-temannya di arisan membuatnya tidak menyadari jika ucapannya bisa di dengar oleh Gita.
'Arisan? Oh, berarti ibu-ibu kompleks yang dimaksud oleh ibu.' batin Gita akhirnya paham. Ia pun melanjutkan tugasnya.
Tak lama kemudian Hesti datang dengan dua buah mangkok kosong beserta sendoknya. Ia mulai membuka plastik kresek itu dan menuangkan dua bubur itu ke dalam mangkok.
"Makanlah," ucap Hesti pada Gita. Lalu ia sendiri mulai memakan bubur itu meski mood nya buruk.
Gita menoleh, lalu senyumnya mengembang saat melihat bubur ayam kesukaannya itu.
"Makasih, Bu." Ujar gadis itu seraya mulai menikmati bubur itu dan meninggalkan tugas kampusnya. Keduanya makan dengan tenang, hingga bubur itu habis tak bersisa.
"Git, dimana letaknya guci bunga yang ibu beli tahun lalu waktu pameran kota? Kau ingat?" Tanya Hesti saat ia hendak meninggalkan meja makan. Ia ingat dengan guci yang akan ia gunakan untuk mengganti guci yang telah usang di kamarnya. Gita tampak berpikir keras, mengingat dimana ia pernah melihat guci yang dimaksud oleh ibunya.
"Sepertinya di gudang atas, Bu. Aku pernah melihatnya di sana." Ucap Gita. Ia ingat saat ia mengambil barang di atas sana.
"Baiklah," sahut Hesti. Lalu wanita itu segera berjalan menaiki tangga untuk menuju ke ruangan atas yang digunakan untuk tempat meletakkan benda yang tidak berguna atau belum digunakan. Sedangkan Gita melanjutkan aktivitas nya yang mengerjakan tugas sekolahnya.
Di dalam gudang Hesti mencari keberadaan guci yang dicarinya. Banyaknya barang disana membuatnya kesulitan untuk menemukannya. Sejauh mata melihat banyak kardus-kardus yang bertumpuk dimana-mana.
__ADS_1
"Dimana sih," gerutu Hesti yang mengolah alik kardus disana. Membutuhkan waktu lama untuk Hesti menemukan benda yang dicarinya.
"Ini dia," ucap Hesti yang berhasil menemukan guci yang tersembunyi di belakang tumpukan kardus berisi benda gampang pecah lainnya. Dengan hati-hati Hesti mengambil guci yang berukuran besar itu dan meletakkannya di lantai.
"Fiuh, akhirnya ketemu juga." Ucap Hesti lega. Wanita itu tersenyum saat melihat guci kesayangannya itu. Guci satu-satunya yang ia dapatkan dari hasil lelang yang diadakan di pemeran keramik tahun lalu di pusat kota. Harga ya yang fantastis membuat Hesti sayang untuk memajangnya. Oleh karena itu ia menyimpan guci itu dengan baik. Karena guci yang ada di kamarnya sudah tak enak di pandang, membuatnya berpikir untuk menggantinya dengan guci tersebut.
Tak mau berlama-lama di dalam ruangan tersebut itu, membuat Hesti segera membawa guci bunga itu ke kamarnya yang ada di lantai bawah. Hesti merasakan kram di kakinya saat ia hendak ingin melangkah turun dari atas.
"Kakiku," keluh Hesti seraya sedikit membungkuk. Ia merasa sedikit nyeri pada otot kakinya akibat tadi ia mengangkat -angkat barang di gudang sana. Dengan langkah hati-hati, Hesti mulai melangkahkan kakinya menuruni tangga. Namun baru saja ia melangkah, ia merasakan kakinya terkilir. Ia terkejut lalu tubuhnya langsung terjatuh dan berguling-guling menuruni tangga dengan cepat.
Prang
Ahhh
Teriakan dan suara pecahan guci Seketika membuat Gita terkejut. Gadis itu beranjak dan langsung berlarian menuju ke sumber suara. Alangkah terkejutnya Gita saat kedua matanya melihat sang ibu sudah jatuh di bawah tangga dengan beberapa luka di tubuhnya.
Dengan cepat Gita langsung menghampiri Hesti. Ia memanggil-manggil namanya tapi ibunya tak kunjung membuka matanya. Hesti kehilangan kesadarannya saat kepalanya terbentur lantai dengan kerasnya.
"Ibu, bangun Bu. Hiks hiks," air mata Gita mulai mengalir. Tubuhnya bergetar melihat ibunya yang tidak sadar di pangkuannya.
"Sebentar, Bu. Gita panggilkan ambulance," lalu gadis itu segera bangkit dan menghubungi ambulans. Tak butuh waktu lama mobil itu datang dan mengangkut tubuh lemah Hesti. Gita pun ikut masuk ke dalam mobil itu dan pergi ke rumah sakit terdekat. Tak lupa juga Gita menghubungi sang kakak untuk mengabarkan kondisi ibu.
Gita menunggu di luar ruangan dengan cemas. Air matanya sudah menganak sungai membanjiri kedua pipinya. Meski sang ibu sudah jahat padanya dan kakaknya, tapi Gita masih peduli dan sayang.
"Semoga ibu baik-baik saja. Ya Allah, sembuhkan ibuku." Gumam Gita yang berdoa kepada Tuhan yang maha kuasa. Gadis itu menunduk, menumpahkan air matanya yang menetes tanpa bisa ia cegah.
"Gita?" Suara Galih membuat Gita mendongakkan kepala. Tangis Gita semakin pecah, lalu ia berhamburan memeluk tubuh sang kakak.
"Mas, Ibu, Mas. Hiks," ucap Gita dalam dekapan sang kakak. Ia menangis tersedu, teringat akan kondisi ibunya yang memiliki luka di sekujur tubuhnya.
__ADS_1
"Sssttt .... Semua akan baik-baik saja. Tenanglah," ucap Galih menenangkan hati sang adik. Ia sendiri juga merasa khawatir dengan keadaan ibunya. Apalagi mendengar banyaknya luka yang dimiliki oleh ibu akibat terguling di tangga.
'Tolong selamatkan ibu, Ya Allah. Meski ia jahat, tapi dia jugalah yang melahirkanku. Hamba mohon, selamatkan ibuku.' ujar Galih dalam hati. Ia sendiri selama perjalanan ke rumah sakit tak pernah ia berdoa. Raut wajahnya sangat terlihat kalau khawatir dengan keadaan sang ibu.
Detik demi detik terlewati. Galih dan Gita senantiasa menunggu ibu mereka yang tak kunjung selesai ditangani. Gita sudah tidak menangis lagi, tapi gadis itu senantiasa menunduk menyembunyikan kesedihannya.
Cklek
Setelah hampir satu jam pintu tertutup, kini terbuka memperlihatkan seorang dokter yang keluar dari dalam sana. Galih dan Gita seketika langsung beranjak dan menghampiri dokter wanita itu.
"Keluarga pasien?" Tanya dokter.
"Kami anaknya, Bu. Bagaimana dengan keadaan ibu kami?" Tanya Galih. Terdengar helaan napas dokter itu sebelum menjawab pertanyaan dari Galih.
"Jadi begini, Pak. Saya sudah melakukan pemeriksaan menyeluruh. Ibu Hesti mengalami kelumpuhan di kedua kakinya, dan saya belum bisa memastikan apakah itu sementara atau permanen. Kami harus menunggu pasien siuman terlebih dahulu baru bisa memastikan," ujar dokter spesialis itu.
Deg
Baik Galih dan Gita langsung membeku. Keduanya begitu terkejut saat mendengar diagnosa yang diberikan dokter tentang ibunya.
"Lu-lumpuh, dok?" Tanya Galih. Ia begitu syok mendengarnya. Sedangkan Gita langsung memeluk tubuh sang kakak dan menangis sesenggukan.
"Bagaimana bisa, Mas? Bagaimana ini? Kenapa jadi begini?" Tanya Gita dalam dekapan Galih. Gadis itu begitu terpukul dengan kenyataan yang terjadi. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana respon ibunya dengan keadaannya saat ini.
"Itu baru diagnosa kami, Pak. Kita harus menunggu pasien siuman terlebih dahulu," jawab sang dokter.
'Cobaan apalagi ini, Ya Allah? Kenapa tak habis-habisnya kau memberikan cobaan bagi kami,' batin Galih.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1