Aku Atau Ibumu

Aku Atau Ibumu
AAI 18 Kedatangan Kartika


__ADS_3

AAI 18- Kedatangan Kartika


Setibanya di kamar, Galih tidak melihat keberadaan indah disana. Hingga suara gemericik dari dalam kamar mandi terdengar sampai rungunya. Galih berjalan pelan seraya melepaskan semua pakaiannya hingga menyisakan celana panjang nya saja.


Suara pintu terbuka. Galih mengalihkan pandangannya dari ponselnya. Ia melihat sang istri keluar dari sana dengan balutan selembar handuk yang menutupi asetnya. Jakun Galih naik turun melihatnya. Ia beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Indah.


"Kau sangat wangi," bisik Galih tepat di telinga Indah. Indah yang tak menyadari keberadaan Galih seketika terjingkat. Ia memegang ujung handuknya dan berbalik.


"Kau membuatku terkejut, Mas." Ucap Indah seraya mengelus dadanya. Galih hanya tersenyum menanggapi ucapan itu.


"Sebentar, Mas. Aku siapkan air hangatnya dulu untukmu mandi," ucap Indah lalu ia segera kembali masuk ke dalam kamar mandi. Galih yang tidak bisa menahannya lagi, ia mengikuti langkah sang istri dan masuk ke dalam sana.


"Ndah?" Panggil Galih. Saat ini keduanya sudah berada di atas peraduan mereka. Setelah menghabiskan waktu lama berdua di dalam kamar mandi, keduanya keluar dari sana saat waktu hampir tengah malam.


"Iya, Mas." Jawab Indah yang tengah tidur berbantalkan lengan suaminya.


"Maafkan perkataan Ibu tadi ya, Sayang?" Ucap Galih dengan lembut. Ia merasa bersalah kepada Indah karena perkataan dari ibunya, membuat Indah harus menahan malu dihadapan banyak orang.


Indah yang tadinya sudah memejamkan mata perlahan, membukanya kembali. Namun ia tidak beranjak ataupun bergerak dari tempatnya.


'Meski aku bisa memaafkan setiap perlakuan ibumu, tapi aku tidak bisa melupakannya begitu saja, Mas. Semua perkataannya secara otomatis tertanam di dalam pikiranku. Maafkan aku, Mas. Aku belum bisa menjadi istri yang sempurna untukmu,' ucap Indah dalam hati.


"Tentu, Mas. Tentu aku bisa memaafkan Ibu. Tapi aku tak bisa lupa. Tanpa bisa aku cegah, semua perkataan dari ibu itu tertanam dalam di pikiranku, Mas." Sahut Indah. Ia mencoba untuk jujur kepada suaminya tentang perasaannya saat ini. Selama ini ia hanya bisa diam tanpa memberi tahu Galih tentang perlakuan Hesti padanya. Dengan adanya insiden itu, Indah ingin lebih terbuka dengannya.


"Maafkan aku, Sayang." Ucap Galih seraya menghadap ke arah Indah dan memeluknya.


Indah memejamkan matanya, menghirup aroma segar yang menguar dari tubuh suaminya itu. Merasakan kehangatan yang tersalurkan padanya. Membalas pelukan dari laki-laki yang merupakan pemilik hati dan jiwanya.


"Tidak ada yang salah, Mas. Ini karena keadaan. Keadaan yang membuat semuanya terpecah seperti ini. Jika saja aku bisa memberikanmu seorang anak, ibu juga tidak akan bersikap seperti itu padaku." Ucap Indah dalam dekapan Galih. Sekuat tenaga Indah menahan laju air matanya yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Ia tak ingin Galih melihat tangis kesediaannya.

__ADS_1


Mendengar itu membuat Galih merasakan sesak di dalam hatinya. Ia melerai pelukan itu dan mendongakkan wajah Indah agar menatapnya.


"Lihat aku, Sayang." Titah Galih. Indah mengikutinya, keduanya kini saling bertatapan. Saling melemparkan tatapan cinta mereka yang sangat kuat, agar bisa menjadi pegangan untuk melewati segala rintangan yang dihadapi.


"Aku mencintaimu karena hatimu, Indah. Aku jatuh cinta dengan semua yang ada padamu. Persetan dengan anak. Jika seandainya kita tak bisa memilikinya, aku tidak mempermasalahkannya. Aku akan tetap mencintaimu dan akan selalu mencintaimu,'' ucap Galih dengan mengelus lembut wajah cantik Indah yang tampak polos itu. Setitik air mata mengalir dari sudut mata Indah. Air mata kebahagiaannya karena bisa dicintai oleh laki-laki sebaik Galih.


"Aku juga mencintaimu, Mas. Semoga cinta kita tetap kokoh dan tak bisa dipisahkan," sahut Indah seraya memeluk tubuh Galih.


"Ya, kita tidak akan terpisahkan. Karena Tuhan sudah menyatukan kita dalam takdirnya,"


Keduanya pun tidur dengan perasaan yang lebih baik dari sebelumnya. Saling melengkapi dalam kekurangan, saling menguatkan agar mereka bisa melewati segala rintangan yang harus mereka hadapi.


Keesokan harinya,


Seperti biasanya, ketiganya melakukan aktivitas masing-masing. Galih berangkat ke kantor setelah menikmati sarapan bersama ibu dan istrinya. Setelah itu, Indah segera mulai mengerjakan pekerjaannya. Hari ini agenda Indah ialah membersihkan lantai bawah.


"Sekalian nanti korden yang ada di dalam kamarku di ganti," ucap Hesti ketika Indah tengah mengumpulkan semua korden-korden kotor itu.


"Iya, Bu." Jawab Indah. Lalu ia segera membawa semua korden itu ke ruang laundry. Tak lupa ia masuk ke dalam kamar milik ibu mertuanya itu untuk mengganti korden jendelanya.


Meski Hesti tak suka dengan Indah, tapi ia mengakui jika kinerja Indah selama ini sangat baik. Ia mampu mengerjakan semua pekerjaan rumah tanpa ada bantuan siapapun. Indah mendedikasikan dirinya untuk rumah mereka.


Suara bel pintu rumah mengejutkan Hesti. Perlahan senyumannya terlihat saat ia mulai menerka-nerka siapa yang tengah mendatangi rumah nya. Tanpa pikir panjang, Hesti segera beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu utama.


Seketika senyuman Hesti semakin merekah saat melihat kedatangan adik perempuan yang telah ia tunggu-tunggu.


"Halo, Mbak." Sapa Kartika dengan senyum.


"Akhirnya datang juga. Ayo masuk," Hesti pun segera membawa Kartika masuk kedalam rumahnya.

__ADS_1


"Eh, buatkan minum untuk Kartika." Ucap Hesti saat ia berpapasan dengan Indah yang tengah membawa korden jendela kamarnya itu.


"Iya, Bu."


Indah segera meletakkan korden kotor itu d Li dalam ruang laundry. Setelah itu ia bergegas membuatkan minuman dingin untuk adik ibu mertuanya.


"Ini minumannya, Tante." Ucap indah seraya meletakkan segelas jus jeruk di hadapan Kartika.


"Pergilah. Lakukan pekerjaan mu," usir Hesti pada Indah. Wanita itu hanya bisa menurut dan pergi meninggalkan dua orang wanita yang bermulut pedas itu.


"Kenapa aku merasakan sesuatu yang tak biasa dalam hati ya? Semoga tidak ada apa-apa," gumam Indah seraya kembali menuju ruang laundry.


"Bagaimana, Mbak? Apa yang Mbak inginkan?" Tanya Kartika ketika ia ingin menyeruput jus buatan Indah.


"Aku ingin Galih menikahi Melinda. Melinda sendiri juga sudah setuju jika menikah dengan duda. Tapi masalahnya, Galih tidak mau menceraikan wanita itu. Aku harus bagaimana, Tika?" Ujar Hesti yang bingung dengan pikirannya sendiri. Kepalanya sampai pusing karena selalu bertengkar dengan Galih hanya karena topik yang sama. Kartika mengangguk kecil mendengarnya.


"Kalau jadi istri kedua?" Tanya Kartika. Hesti menggelengkan kepalanya saat mendengar ucapan tersebut.


"Galih tidak akan pernah mau. Aku sudah berulangkali bertengkar dengannya hanya karena wanita itu. Galih begitu mencintainya dan tak mau melepaskannya. Bagaimana mungkin dia mau menikah lagi? Sedangkan ia sangat mencintai istrinya yang tidak berguna itu," gerutu Hesti yang teringat dengan setiap pertengkaran nya dengan Galih. Helaan napas panjang terdengar dari mulut Hesti beberapa saat kemudian.


Kartika tampak berpikir sejenak hingga terbitlah seutas senyum misterius darinya.


"Jika memang tidak bisa dengan dibicarakan baik-baik, kita bisa menggunakan cara lain. Tapi cara ini sangat berisiko, Mbak." Ucap Kartika pada Hesti.


Hesti yang sudah buta mata serta hatinya itu tampak antusias. Ia menatap wajah adiknya dengan sangat penasaran.


"Bagaimana, Tika? Cepat beritahu aku," ujar Hesti seraya mencondongkan tubuhnya pada adik perempuannya itu. Kartika tampak tersenyum menyeringai, lalu ia mulai membisikkan kata-kata yang ada dalam pikirannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2