Aku Atau Ibumu

Aku Atau Ibumu
AAI 73 - Kebenaran yang Terungkap


__ADS_3

AAI 73 - Kebenaran yang Terungkap


Srak


Galih dengan cepat menyibak baju belakang milik Gita. Betapa terkejutnya saat kedua matanya melihat bekas luka yang sangat banyak menghiasi kulit putih sang adik. Tentu ia tahu jika luka itu bekas cambukan karena bentuknya yang memanjang dan banyak.


"Astagfirullah. Apa ini, Gita? Siapa yang melakukan semua ini, hah?" Tanya Galih seraya membalik tubuh sang adik dan menatapnya dengan penuh selidik. Terlihat jelas wajah ketakutan Gita dan caranya yang menunduk karena tidak memiliki keberanian menatap wajah sang kakak.


"Katakan, Gita. Siapa yang telah berani melukaimu, hah? Kenapa kau tak mengatakan padaku?" Tanya Galih dengan suaranya yang meninggi.


'Ya, Allah. Apa yang harus ku katakan? Apakah aku harus jujur? Tapi bagaimana kalau Mas Galih kembali berantem sama ibu? Tolong aku, Ya Rabb.' ujar Gita dalam hati.


Melihat Gita yang berubah menjadi diam membuat Galih kehilangan kesabarannya. Dengan kasar laki-laki itu menarik tangan Gita dan mencengkeram kuat kedua bahunya.


"Katakan, Gita. Katakan," bentak Galih tepat di depan wajah Gita yang mulai berlinangan air mata.


"I-ibu, Mas." Suara lirih Gita seketika membuat dunia Galih seperti runtuh seketika. Ia tidak menyangka jika wanita yang telah melahirkannya di dunia itu kini beralih menyakiti adiknya.


'Kenapa, Bu? Tidak puas kah ibu menyakitiku dan kini beralih menyakiti Gita? Kenapa Bu,' batin Galih yang tak percaya dengan ucapan sang adik. Ibu kandungnya tega menyakiti adiknya yang masih remaja.


Disisi lain Hesti tengah menikmati menu makan malam yang ia pesan dari aplikasi. Dengan wajahnya yang ditekuk wanita itu menyuapkan makanan ke mulutnya. Ia merasa kesal karena saat ini tengah sendirian di rumah. Gita meneleponnya dan mengatakan jika dirinya akan pulang terlambat.


Ting tong

__ADS_1


Suara bel rumahnya berbunyi. Hesti yang baru saja ingin bangkit karena makannya sudah selesai menjadi urung. Wanita itu mengeryitkan dahi saat mendengar kembali suara bel yang terdengar begitu nyaring dan berulangkali, membuat Hesti penasaran dengan siapa yang datang ke rumahnya itu.


"Siapa yang datang? Tidak mungkin Gita, kan? Lagipula kenapa dia harus pencet bel jika ia memiliki kunci rumah cadangan." Gumam Hesti. Karena suara bel yang begitu memekakkan telinganya, membuat Hesti mau tak mau membukanya.


Ceklek


Betapa terkejutnya Hesti saat melihat kedatangan Agus di rumahnya. Ia tak menyangka jika laki-laki itu akan berani datang disaat tidak ada acara keluarga.


"Agus? Ada apa kamu kemari? Bagaimana kalau ada orang yang tahu, hah?" Tanya Hesti dengan kedua matanya melihat sekitar rumah. Ia takut jika kedatangan Agus akan mengundang perhatian para tetangganya. Dengan cepat Hesti menarik tangan Agus dan menariknya ke dalam rumah. Namun saat Hesti ingin menutup pintu rumah itu, ia justru di dorong dengan kasar oleh Agus hingga membuatnya menabrak dinding.


Brak (suara pintu yang terbuka kembali)


Hesti yang terkejut menatap tajam ke arah Agus. Ini pertama kalinya ia diperlakukan dengan kasar oleh laki-laki itu. Sedangkan Agus? Raut wajahnya sangat terlihat garang layaknya singa yang tengah mengintai mangsanya.


"Kata-kata itu harusnya aku yang menanyakan itu padamu, Hesti. Apa yang sudah kau lakukan pada istri dan anakku?" Desis Agus tepat di depan wajah Hesti.


Deg


Tubuh Hesti membeku mendengar ucapan tersebut. Ia tak menyangka jika kejahatannya akan diketahui oleh Agus secepat ini. Namun ia tidak boleh terlihat takut, oleh karena itu ia mencoba untuk tidak terintimidasi oleh Agus.


"Memangnya apa yang sudah ku lakukan, Agus?" Tanya Hesti balik. Ia melipat kedua tangannya di depan dadanya, seolah-olah ia justru menantang laki-laki itu. Sedangkan Agus langsung menggeram, ia tidak percaya karena Hesti terlihat sangat santai meski ia tahu jika wanita itulah penyebab kejadian naas yang menimpa anak istrinya.


"Jangan bertele-tele, Hesti. Aku tahu bagaimana peringaimu selama ini. Tidak ada yang mengenalmu sebaik diriku." Bentak Agus dengan kedua matanya yang sudah memerah karena menahan amarahnya agar tidak meledak. Hesti sampai memejamkan matanya karena melihat kemarahan yang terpancar dari wajah Agus.

__ADS_1


"Perangaiku, Agus? Ha ha ha," tanya Hesti dengan diakhiri oleh tawanya yang sangat keras itu. Agus tidak mengalihkan pandangannya dari Hesti. Ia memperhatikan setiap gerak-gerik wanita di hadapannya itu.


"Berhenti tertawa, Hesti. Apa kau tahu, akibat perbuatannya itu kau telah membunuh nyawa seorang bayi yang tidak berdosa. Melinda ikut menjadi korban," teriak Agus dengan setitik air matanya yang mengalir dari sudut matanya. Ia sangat terpukul karena harus kehilangan calon cucu yang bahkan belum lahir di dunia. Melihat air mata Agus membuat Hesti meradang. Ia merasa jika Agus memiliki perasaan lebih kepada keluarganya dibanding dirinya. Padahal selama ini dialah yang menjadi prioritas utama Agus.


'Melinda? Kenapa wanita itu berada di dalam mobil Santi? Tapi tak apa, justru itu lebih baik. Galih sudah bisa lepas dari wanita menjijikkan itu.' pikir Hesti.


Keduanya terlibat cekcok satu sama lain. Agus terus menerus menyudutkan Hesti. Sedangkan wanita itu berusaha terus mengelak meski ia sendiri yakin jika Agus sudah mengetahui semuanya. Disaat bersamaan Galih datang bersama Gita. Laki-laki itu mengantar pulang sang adik dan ingin mempertanyakan luka-luka yang dimiliki oleh gadis itu. Namun setibanya keduanya di halaman rumah, mereka terkejut mendengar suara gaduh yang berasal dari dalam rumah mereka.


"Siapa yang teriak-teriak, Mas? Suaranya berasal dari dalam rumah ibu,'' ujar Gita.


''Entahlah. Ayo kita lihat,'' ajak Galih seraya menarik lembut tangan Gita.


Kakak beradik itu jalan bergandengan menuju pintu rumah. Karena keadaan pintu yang terbuka membuat mereka bisa melihat siapa gerangan yang tengah beradu mulut. Galih dan Gita saling pandang lalu memperhatikan apa yang tengah terjadi di depan mata mereka.


"Tidakkah kau berpikir kalau kau itu sangat kejam, Hesti. Kau tega melenyapkan calon cucuku yang sebentar lagi akan lahir. Kau sangat kejam, Hesti." bentak Agus seraya menuding ke arah wajah Hesti. Api kemarahannya seakan ingin melalap habis wanita yang ada di depannya itu.


"Aku kejam katamu, Agus? Serius? Siapa yang membuatku seperti ini, hah? Lebih kejam mana, aku atau kamu? Jangan lupa, kau juga melenyapkan suamiku demi bisa bersamaku, Agus. Atau kau lupa dengan semua kejadian itu, hah? Kita berdua sama-sama kejam, Agus. Kau lenyapkan suamiku, maka aku melenyapkan cucumu. Jadi, kita impas sekarang. Asal kau tahu, Agus. Aku sudah lama ingin menyingkirkan istrimu agar aku bisa memilikimu seutuhnya, tapi belum juga terwujud. Bagaimana rasanya kehilangan calon cucu mu, Agus? Hah? Sakit? Itulah yang kurasakan saat kau dengan kejam menyabotase mobil Mas Hendra," pekik Hesti dengan berlinangan air mata. Rasa kehilangan yang dulu ia rasakan kini muncul lagi ke permukaan. Tatapan matanya tajam terarah pada laki-laki yang dulu merupakan penyebab meninggalnya sang suami.


tes


setitik air mata mengalir dari sudut mata Galih saat ia mendengar kebenaran yang terungkap dari mulut ibunya sendiri. Kini ia tahu kenapa peristiwa meninggalnya sang ayah seakan misterius, ternyata inilah jawabannya. Ayahnya tidak meninggal dalam sebuah kecelakaan murni, tetapi karena kecelakaan yang sudah direncanakan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2