
AAI 86 - Kepergian Hesti
Dengan restu dari Santi, Dimas membawa Melinda terbang ke negeri tetangga tersebut. Namun tentunya juga dengan ijin dokter dan membawa hasil medisnya.
Hampir sama dengan mereka, Indah pun mulai menikmati hidupnya dengan tulisan-tulisan buatannya. Ia mencurahkan semua kegelisahan hatinya ke dalam sebuah karya sastra buatannya. Sebagai penulis lama, tentu sangat mudah bagi Indah untuk membuatnya meski ia sudah lama vakum dari dunia kepenulisan.
Sedangkan Galih? Laki-laki itu kini sudah hampir tiga bulan berada di jakarta. Disana ia begitu di hormati oleh para Bu karyawan mengingat jabatannya yang tinggi. Selain itu ia semakin menutup dirinya dari kehidupan luar. Selain kantor dan apartemen, ia tidak pergi kemana-mana. Jikapun ia pergi keluar, ia hanya ke supermarket untuk membeli kebutuhan hidupnya sehari-hari.
Drrrtt
Drrrtt
Ponsel Galih bergetar. Saat ini ia tengah berada di dalam ruangan kerjanya. Mengerjakan beberapa pekerjaan yang sudah seminggu ini menguras energi dan otaknya. Karena mendengar ponselnya terus bergetar membuat Galih mau tak mau harus mengangkatnya.
"Gita? Ada apa dia menghubungiku di jam seperti ini? Bukankah dia ada kuliah hari ini?" Gumam Galih bertanya kepada dirinya sendiri. Ia masih ingat jika hari ini Gita memiliki jadwal kuliah yang padat disaat ibu mereka tengah sakit. Ya, sudah tiga hari ini keadaan Hesti drop dan dibawa ke rumah sakit. Karena posisi Galih yang jauh, membuatnya tidak bisa langsung pulang dan baru akan pulang hari sabtu besok.
"Halo, assalamualaikum, Git?" Ucap Galih. Namun bukannya menjawab, malah suara tangis Gita yang menggema.
Deg
"Mas, Ibu, Mas. Huhuhu," ujar Gita. Jantung Galih berdetak lebih kencang, ia merasakan jika ada hal buruk yang terjadi.
"Ada ap ..." Belum juga Galih menyelesaikan ucapannya, Gita lebih dulu menyahut.
"Ibu meninggal, Mas. Ibu meninggalkan kota semua. Huhuhu," ucap Gita yang seketika membuat Galih memejamkan mata. Ia tidak mengira jika ibunya akan pergi secepat ini.
"Innalilahi wa innailaihi roji'un."
__ADS_1
Setelah mendapatkan telepon darurat dari Gita, galih pun langsung meninggalkan ruangannya dan menuju ke ruangan atasannya. Ia meminta ijin pulang saat itu juga karena ibunya telah meninggal dunia. Meski terpukul, sekuat tenaga Galih tidak memperlihatkan wajah kesedihannya. Ia terlihat sangat tegar meski di dalam hatinya ia sangat kehilangan sosok ibu walau bagaimanapun kelakuan Hesti padanya.
Setelah menempuh jarak hampir sepuluh jam lamanya, galih pun tiba di rumah duka yang dari luar sudah terlihat sangat ramai orang mendatangi rumahnya. Langkah kakinya begitu berat, seakan ia masih tidak percaya dengan kenyataan bahwa ibunya sudah meninggalkan dunia ini.
'Secepat inikah ibu meninggalkan kami? Kenapa ibu pergi begitu cepat?' dengan langkah perlahan, Galih terbayang dengan kenangan-kenangan masa kecilnya bersama sang ibu. Masa-masa indah bersama kedua orang tuanya membuat Galih akhirnya menitikkan air matanya.
Seluruh orang yang ada di sana terlihat sangat khawatir melihat kedatangan Galih. Apalagi jejak air mata Galih yang masih nampak memperlihatkan betapa hancurnya seorang anak yang kehilangan ibunya.
"Yang sabar, Nak Galih. Semua sudah kehendak yang ada di atas," ucap seorang laki-laki kepada Galih. Galih menoleh, meski berat ia berusaha menyunggingkan senyum tipisnya.
"Terimakasih, Pak RT. Saya mohon maaf jika ibu saya memiliki kesalahan kepada Bapak selama beliau hidup," sambil menangkupkan kedua tangannya, Galih minta maaf kepada laki-laki itu mewakili sang ibu. Ia ingin jalan sang ibu dimudahkan, oleh karena itu ia ingin meminta maaf kepada semua orang.
"Iya, Nak. Ayo, masuk. Adikmu sudah menunggu kedatanganmu."
Pak RT itu menuntun Galih menuju ke dalam rumah. Tepat seperti yang dikatakan oleh Pak RT, Gita langsung menyambut kedatangan Galih dengan tangisnya yang meraung-raung. Kakak beradik itu sama-sama menumpahkan air mata mereka, menangisi kepergian sang ibu yang mereka sayangi.
Karena saling menguatkan, galih dan Gita akhirnya bisa menjadi lebih tegar dan mulai bisa menerima kepergian sang ibu. Keduanya bersama-sama menyambut kedatangan para pelayat yang datang memberi ucapan bela sungkawa atas meninggalnya Hesti. Terlihat juga Kartika dan Sudarman yang datang dengan raut wajah kesedihan mereka.
"Yang sabar, Gita. Kita berdoa saja semoga Tuhan memberikan tempat yang terbaik untuk ibumu." Ucap Kartika pada Gita. Ia juga memeluk tubuh gadis itu untuk menyalurkan rasa sayangnya.
"Terimakasih, Tante. Maafkan semua kesalahan ibu," balas Gita. Kartika mengangguk, ia pun juga mempunyai salah kepada sang kakak yang kini sudah meninggalkan mereka semua.
"Ya, tentu saja. Kita hidup sebagai manusia biasa yang tak luput dari salah maupun dosa. Tante juga minta maaf kepada kalian berdua. Karena kesalahan Tante yang dulu pernah membuat keluarga kalian tercerai berai." Ucap Kartika menyesal. Kini ia pun sudah menuai karmanya. Ia ditinggalkan oleh sang anak karena ambisinya. Suaminya juga telah semua fasilitas yang ia gunakan selama ini. Selain menerima dengan ikhlas, Kartika tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Karena hari sudah larut malam, semua memutuskan untuk mengebumikan Hesti keesokan harinya. Selama semalam penuh, Galih tidak tidur. Ditemani oleh pam serta beberapa tetangga, Galih begadang seraya menunggui Ibunya. Tak ada lagi air mata, laki-laki itu benar-benar sudah ikhlas merelakan kepergian sang ibu ke Rahmatullah.
Tepat pukul tujuh pagi, seluruh rombongan jenazah tiba di area pemakaman. Prosesi pemakaman berlangsung singkat, hanya Gita yang masih saja menangis diatas gundukan tanah itu.
__ADS_1
"Ibu, huhuhu"
'Tenanglah disana, Bu. Aku akan menjaga Gita dan tetap mendoakan mu dari sini. Maafkan aku yang tidak ada disaat terakhir ibu. Semoga Allah mengampuni semua dosa ibu dan menempatkan ibu di surganya. Tunggulah kami, Bu. Sampaikan salamku pada ayah dan semoga kita berkumpul bersama lagi,' ujar Galih dalam hati. Ia menundukkan kepalanya, melantunkan ayat-ayat suci mengiringi kepergian sang ibu.
'Sekarang ibu sudah tidak sakit lagi. Ibu bisa berjumpa dengan ayah di sana. Maafkan Gita karena selama ibu ada, Gita belum bisa menjadi kebanggaan bagi ibu. Aku sangat mencintaimu ibu, dan akan selalu mencintai ibu. Selamat jalan, Ibu. Aku dan Mas Galih akan selalu mendoakan ibu dan ayah. I love you, Ibuku.' ujar Gita dalam hati.
Galih merangkul tubuh Gita dan mengajaknya pulang karena kini hanya mereka berdua yang berada di pusara sang ibu. Dengan berat hati Gita mengangguk dan bangkit meninggalkan tempat itu bersama dengan sang kakak.
'Tempatkan Ibuku di sisimu, Ya Allah. Kami hanyalah hambamu yang penuh dengan dosa. Pertemukan ibu dengan ayah, Ya Allah.'
Selama seminggu penuh Galih menghabiskan waktunya dengan sang adik. Ia akan kembali ke Jakarta keesokan harinya.
"Beneran kamu gak mau pindah sekarang ikut Mas?" tanya Galih memastikan. Sudah tiga hari ini ia terus menanyai Gita dan membujuknya agar mau pindah ke Jakarta bersama dengannya. mengingat Gita sekarang sendirian di kota itu. Selain karena tidak ada siapa-siapa lagi, pergaulan bebas anak jaman sekarang membuat Galih merasa sangat was-was. apalagi Gita seorang gadis, tentu akan mengundang banyak pihak yang akan berusaha menyakitinya.
"Tidak, Mas. Kuliahku tinggal satu tahun lagi, mana mungkin aku akan pindah. Lagipula aku baru saja pindah dari malang kesini. Apa kata siswi lain? Percayalah, aku bisa menjaga diri dengan baik selama disini. Lagian masih ada Om Sudarman dan Tante Kartika, Mas. mereka akan selalu sedia membantuku jika aku membutuhkannya." ucap Gita. Ia tahu jika sang kakak menghawatirkan dirinya. Tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa, ia memilih untuk bertahan sendirian di kota itu demi gelar sarjana akan sebentar lagi disandangnya.
"Kau memang keras kepala," sahut Galih dengan menjitak kepala Gita dengan gemas. Dita yang mendapatkan perlakuan itu hanya bisa mendengus kesal. Meski begitu ia sangat menyayangi kakaknya itu.
'Terimakasih, Ya Allah. Engkau telah memberiku seorang kakak yang sangat menyayangiku. Berikanlah kebahagiaan yang kakakku inginkan. Dia sudah la menderita, Ya Allah. Aku sangat menyayanginya,' ujar Gita dalam hati. Ia mendoakan sang kakak agar bisa mendapatkan kebahagiaan. Meski tak pernah bicara, tapi Gita tahu jika kakaknya itu sangat kesepian. Takdir sudah memisahkan Galih dari Indah yang mana keduanya saling mencintai. Sebagai seorang adik, Gita hanya bisa berdoa kepada Tuhan yang maha kuasa.
"Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusanmu. Mas hanya bisa berpesan kepadamu, jaga diri baik-baik. Jangan mudah percaya dengan orang lain, kalau ada apa-apa langsung hubungi Mas kapan saja." pinta Galih. Meski berat tapi ia harus membiarkan Gita hidup sendirian tanpa adanya dirinya di sampingnya.
"Siap, Bos. Aku sangat menyayangimu, Mas." ucap Gita seraya memeluk tubuh sang kakak. Galih terkekeh lalu membalas pelukan itu disertai dengan kecupan hangat di pucuk kepala Gita.
"Mas juga sayang padamu, Adik kecilkj."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1