Aku Atau Ibumu

Aku Atau Ibumu
AAI 72 - Dalang dibalik Kecelakaan Santi dan Melinda


__ADS_3

AAI 72 - Dalang dibalik Kecelakaan Santi dan Melinda


Beberapa jam kemudian.


Saat ini Agus sudah berada di dalam kamar inap milik Santi. Wanita itu sudah dipindahkan setelah dinyatakan aman dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi selain proses penyembuhannya. Agus merasa lega dan senantiasa berada di samping sang istri untuk selalu menjaganya.


Dengan telaten Agus mengusap punggung tangan sang istri dan mengucapkan untaian kata maafnya karena telah melukai hati dan perasaan Santi.


"Maaf, maafkan aku, Ma. Maafkan aku yang tak becus menjaga keutuhan keluarga ini. Maafkan aku karena gara-gara diriku kita harus kehilangan calon cucu yang selama ini kita impikan, Ma. Maafkan aku," ujar Agus seraya menumpukan kepalanya pada punggung tangan sang istri.


Sementara itu, Melinda masih berada dalam ICU karena kondisinya yang sangat lemah. Pendarahan hebat saat pendarahan serta luka akibat benturan di dalam mobil membuat wanita itu hampir kehilangan nyawanya. Melinda bahkan sempat mengalami gagal jantung selama dua kali. Beruntung dokter yang menanganinya adalah dokter terbaik di rumah sakit tersebut sehingga nyawanya masih bisa tertolong.


Saat ini adalah dimana Agus merasakan ketakutan yang sangat besar karena istri dan anaknya yang tengah berjuang antara hidup dan mati. Sedangkan dirinya tidak bisa membantu selain berdoa kepada Tuhan.


Drrrtt


Drrrtt


Ponsel milik Agus berdering hebat di dalam sakunya. Tak ada keinginan sedikitpun Agus untuk mengangkatnya. Namun saat ia teringat dengan tugas yang diberikan olehnya pada orang suruhannya membuat Agus langsung mengambil ponsel itu.


Semangatnya kian membara saat melihat nama orang suruhannya yang terlihat di layar ponsel itu.


"Bagaimana? Apa kalian menemukan sesuatu?" Tanya Agus to the point.


"Benar, Bos. Kami menemukan mobil hitam itu, dan kami juga sudah menemukan mereka di sudut kota ini saat mereka hendak pergi keluar kota menggunakan jalur laut."

__ADS_1


Napas Agus kian memburu saat mendengar semua ucapan dari orang kepercayaannya itu. Ia merasa puas karena tidak ada satu tugas pun selama ini yang tidak dilakukan orangnya itu dengan baik, semua menemukan sumber dan titik terang.


"Lalu? Apa kalian sudah menanyakan pada mereka siapa dalang di balik ini semua, hah?" Tanya Agus.


"Sudah, Bos."


"Siapa dia? Dari pengusaha mana?" Tanya Agus. Ia berpikir jika ada seorang pengusaha lain yang tak menyukai usahanya dan berusaha mnyentuh keluarganya.


"Dia seorang wanita, Bos. Bukan pengusaha seperti anda,"


Dahi Agus berkerut, ia sedikit terkejut saat mendengar jika 0enyebab dari kecelakaan sang istri adalah seorang wanita. Tapi siapa? Siapa yang berani menyentuh keluarganya, padahal Agus adalah salah satu pengusaha sukses di kota itu. Tentu ada banyak sekali orang suruhannya yang selalu menjaga. Namun sesaat kemudian tatapan mata Agus berubah tajam, saat dirinya mengingat percakapannya dengan seorang wanita yang sangat dikenalnya. Dan dialah satu-satunya wanita yang mampu berbuat nekat demi mencapai tujuannya.


'Aku harap bukan kau yang melakukannya. Karena kalau ternyata benar kau orangnya, maka aku tidak akan pernah memaafkanmu meski kau adalah wanita masalaluku.' batin Agus. Pikirannya tertuju pada wajah seorang wanita yang sekian tahun ini tak mampu ia hapus dari tempat di hatinya.


"Hesti Wulan, Bos. Istri mendiang Hendra Surya Wibawa,"


Deg


Jantung Agus seperti dihantam sebuah batu besar hingga membuat laki-laki itu tanpa sadar menjatuhkan ponselnya. Meski ia tahu Hesti adalah sosok yang ambisius, tapi ia tidak mengira jika wanita itu mampu menghabisi nyawa seorang anak yang bahkan belum lahir ke dunia ini.


"Awas kau, Hesti. Aku tidak akan mengampuni mu," desis Agus dengan setitik air mata yang jatuh dari sudut matanya.


Agus menoleh ke arah sang istri. Ia merasa sedikit tenang karena melihat Santi yang terlelap dalam tidurnya. Tanpa pikir panjang, laki-laki itu bergegas pergi dari kamar tersebut setelah memungut kembali ponselnya. Tujuannya saat ini hanya satu, yakni mencari keberadaan wanita itu.


Di tempat lain, terlihat Gita tengah berada di apartemen milik sang kakak. Hari ini ia pergi mendatanginya karena meminta tandatangan sang kakak untuk menghadiri acara amal yang diadakan di kampusnya. Berada di sana membuat Gita merasa senang, tidak seperti di rumahnya yang serasa di neraka. Hesti selalu marah-marah kepadanya dan melampiaskan amarahnya pada tubuh Gita yang tak terlihat.

__ADS_1


"Habiskan, Git. Mas sudah kenyang," ujar Galih pada sang adik. Ia sudah tidak kuat lagi melahap pizza yang kini hanya tinggal dua potong saja. Gita pun sama, gadis itu tampak bermalas-malasan seraya menyandarkan punggungnya pada sofa empuk disana.


"Aku juga sudah kenyang, Mas. Sebentar, aku ingin ke kamar mandi." Ujar Gita seraya melepaskan tas yang ada di punggungnya. Namun, sudut mata Galih tak sengaja menatap kulit tubuh Gita yang terlihat saat bajunya ikut terangkat. Tubuh laki-laki itu membeku saat menyadari ada yang tidak beres pada sang adik, mengingat tubuh gadis itu yang semakin lama semakin kurus.


"Tunggu, Git." Ujar Galih saat Gita hendak berjalan menuju toilet yang ada di sebelah dapur.


"Ada apa, Mas?" Tanya Gita heran. Ia melihat Galih beranjak dan berjalan menghampirinya dengan tatapan matanya yang lekat.


"Angkat baju belakang mu, Gita. Mas melihat sesuatu tadi," ujar Galih yang seketika membuat Gita membeku. Tubuhnya gemetar saat teringat jika ia memiliki bekas cambuk yang diberikan oleh sang ibu padanya. Ia takut jika Galih akan kalap dan memarahi Hesti karena dirinya.


"Me-melihat apa, Mas? Em, sudah ya Mas. Aku mau ke toilet dulu," tanpa menunggu Galih, Gita langsung bergegas menuju toilet dengan jantung yang berdetak kencang. Ia tidak ingin jika Galih dan Hesti kembali bertengkar karena dirinya. Sudah cukup untuk Galih yang memilih pergi dari rumah, biarkan dia saja yang menemani sang ibu.


"Bagaimana ini, Ya Allah? Jangan biarkan Mas Galih melihat bekas lukaku. Hamba takut, Ya Allah. Berikan hamba jalan agar terbebas dari situasi ini," gumam Gita dalam toilet. Keinginannya untuk pee sirna sudah karena memikirkan sang kakak. Di dalam sana Gita mencari cara agar terhindar dari pertanyaan dan keinginan tahu sang kakak akan luka di punggungnya itu.


"Ya, aku harus pulang. Bukankah ini sudah malam, bukan? Ya, aku akan pulang sekarang agar Mas Galih tidak menanyaiku." Gumam Gita yang mendapatkan ide brilian saat ini. Gadis itu pun segera keluar dari dalam toilet setelah berulang kali menenangkan diri.


Tubuh Gita terasa gemetar saat melihat sang kakak yang duduk di sofa. Ingin rasanya Gita kabur dari sana saat ini juga. Tapi ia tidak bisa melakukannya tanpa seijin Galih pastinya.


"Mas Galih, aku pulang sekarang ya. Sudah jam tujuh lebih," ujar Gita seraya mendekati Galih dan mengambil tasnya yang ada di samping sang kakak. Saat Gita ingin melangkah ke pintu, tubuhnya membeku ketika mendengar titah Galih.


"Jangan pergi meninggalkan tempat ini sebelum kau mengatakan dengan jujur, Gita. Atau Mas sendiri yang akan menarik bajumu itu,"


'Mati aku. Ya Allah, apa yang harus aku lakukan sekarang? Tolong hambamu ini, Ya Allah.'


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2