
AAI 87 - Ke Jakarta
3 tahun berlalu,
Indah beserta keluarganya dalam perjalanan menuju bandara internasional Juanda Surabaya. Selama perjalanan, Ratih tak henti-hentinya memberi nasehat serta wejangan kepada sang putri yang hendak pergi jauh darinya untuk pertama kalinya. Beberapa waktu yang lalu Indah mendapatkan apresiasi sebagai penulis pendatang baru dengan karyanya yang best seller tahun ini. Oleh karena itu, ia diminta datang ke acara ulangtahun sebuah penerbit mayor. Disana ia juga sekalian akan jumpa fans beserta dua orang penulis lainnya.
"Sudahlah, Bu. Indah sudah dewasa, tidak usah terlalu seperti itu. Malu, dilihatin banyak orang." Ucap Doni kepada sang istri. Bagaimana tidak malu, setibanya di bandara Ratih selalu mendekap tubuh Indah sampai mereka tiba di tempat check in barang.
"Iya, ibu nih. Mereka semua melihat ke arah kita," keluh Irsyad dengan wajahnya yang sedikit menunduk. Indah yang mendengar ucapan tersebut hanya bisa mengulum bibir. Ia merasa lucu dengan sikap ibunya seakan melepas dirinya yang pergi jauh dan tak kembali lagi. Padahal ia pergi ke Jakarta hanya sekitar tiga sampai empat hari saja.
"Kalian ini ya," sentak Ratih seraya mengusap sudut matanya yang terasa basah. Indah yang melihat itu langsung terkekeh dan memeluk tubuh sang ibu.
"Sudah, Bu. Indah bisa jaga diri, hm? Indah akan menelepon ibu kalau sudah sampai sana." Ucap Indah pada Ratih. Meski berat, mau tak mau Ratih mengiyakan perkataan dari putrinya. Tak lama kemudian terdengar suara pengeras suara yang mengatakan jika pesawat yang akan ditumpangi oleh Indah akan segera boarding.
Selamat pagi. Boarding untuk Maskapai ABC dengan nomor penerbangan 56K76 tujuan Jakarta akan segera dimulai. Para penumpang dimohon untuk menuju gerbang C2 dan persiapkan pas naik dan identifikasi Anda. Terima kasih.
"Kalau begitu, Indah berangkat dulu Yah, Bu." Ucap Indah lalu ia memeluk tubuh anggota keluarga nya satu persatu. Kedua orang tua serta adik Indah melepas kepergian nya dengan senyuman. Sambil melambaikan tangan, Indah mulai berjalan menuju tempat dimana ia akan boarding.
Tak lama setelah Indah memasuki kabin dan duduk di kursinya, pesawat yang membawanya pergi itu mulai beroperasi. Untuk pertama kalinya indah bisa melihat keindahan alam Indonesia dari ketinggian.
'Indahnya negeriku,' ujar indah dalam hati seraya melihat ke luar jendela pesawat. Kebetulan indah mendapatkan nomor bangku yang berada di dekat jendela, mudahkan dirinya untuk melihat pemandangan luar sana.
Selama satu setengah jam mengudara, akhirnya pesawat yang ditumpangi indah kini telah sampai di bandara internasional Soekarno-Hatta. Setelah melewati pengecekan serta mengambil koper, akhirnya Indah keluar dari bandara.
"Hotel Moderna, Pak." Ucap Indah kepada seorang sopir taksi yang ia jumpai di depan bandara. Sopir itu pun langsung sigap dan membantu indah memasukkan barang bawaannya ke dalam bagasi mobil. Perjalanan menuju hotel memakan waktu sekitar setengah jam lamanya. Dalam perjalannya, Indah tampak menikmati seraya melihat pemandangan gedung-gedung tinggi pencakar langit di sana.
"Ini, Pak. Ambil kembaliannya," Ujar Indah seraya memberikan dua lembar uang seratus ribuan kepada sang sopir saat mereka sudah sampai di lobi sebuah hotel mewah.
"Terimakasih, Nona." Balas si sopir. Lalu ia membantu indah mengambil koper dan membawanya menuju meja resepsionis.
"Kalau begitu, saya permisi dulu, Nona. Mari,"
__ADS_1
"Terimakasih banyak, Pak." Setelah melihat kepergian sopir itu, Indah langsung berbincang dengan dua perempuan yang bertugas di meja resepsionis itu.
"Ada yang bisa saya bantu, Bu?" Tanya resepsionis itu.
"Saya akan menginap disini, Mbak. Ini suratnya," jawab Indah seraya memberikan selembar kertas kepada keduanya. Keduanya mengecek kebenaran dari surat itu dan menginformasikan kepada atasan mereka.
"Iya, Bu. Kami sudah mendapatkan informasi tentang anda. Kamar anda sudah siap, dan ini kartu kamarnya." Ucap resepsionis itu seraya menyodorkan sebuah kartu berwarna hitam emas kepada indah.
"Terimakasih," sahut indah dengan senyuman manisnya.
Setelah mendapatkan akses masuk kamar, indah bergegas menuju kamarnya yang berada di lantai 6 dengan nomor 187. Indah menempelkan kartu itu ke sensor yang ada di pintu kamar. Tak lama kemudian pintu berwarna abu-abu itu pun terbuka.
Cklek
Sambil menarik kopernya, Indah memasuki kamar yang akan ia tempati selama beberapa hari disana. Kesan pertama yang ditunjukkan oleh Indah adalah takjub karena keindahan interior hotel mewah itu.
"Wah, bagus banget kamarnya. Kira-kira berapa harganya, ya? Jangan-jangan mahal ini," gumam Indah sambil berjalan mengitari kamar itu. Ia membuka tirai jendela besar yang ada di sana.
Srak
"Jadi seperti ini kota jakarta," gumam Indah. Tak lama kemudian terdengar suara dering ponselnya yang menandakan ada seseorang yang menghubunginya.
"Halo, assalamualaikum?" Sapa Indah kala ia mengangkat panggilan tersebut.
Tak lama senyum manis Indah muncul, ia bahagia akhirnya bisa menginjakkan kaki di tanah jakarta karena prestasinya.
"Walaikumsalam, Mbak Indah. Bagaimana perjalannya, Mbak? Lelah?" Suara seorang wanita dari seberang sana.
"Alhamdulillah, lancar Mbak. Kalau lelah enggak sih, Mbak. Soalnya aku tadi tidur selama di pesawat. Mbak Fatimah sendiri sudah sampai di hotel?" Tanya Indah kepada salah satu teman sesama penulis yang mendapat kesempatan yang sama dengannya untuk menghadiri acara esok hari.
"Syukurlah, kalau begitu. Ini aku masih dalam perjalanan kesitu, Mbak." Sahut Fatimah.
__ADS_1
"Kalau begitu, hati-hati dijalan Mbak. Kita bertemu disini nanti saja. O ya, Mbak Sukma bagaimana?" Tanya Indah.
"Mbak Sukma kan tinggal disekitar sana mungkin dia langsung datang besok ke tempat acara, jadi gak usah menginap di hotel." Jawab Fatimah. Indah manggut-manggut mendengar ucapan dari temannya itu.
"Iya, ya Mbak. Lagi pula Mbak Sukma punya anak kecil jadi palingan gak mau repot-repot menginap di sini." Sahut Indah.
"Bisa jadi. Yasudah, nanti kalau aku udah sampai situ, aku akan menelepon mu."
"Iya, Mbak. Assalamualaikum,"
"Walaikumsalam,"
Setelah mengobrol dengan teman sesama penulis, Indah beralih menghubungi kedua orang tuanya. Ia mengabarkan dirinya dan memperlihatkan suasana kamar yanh ditempatinya.
Ting
Tong
Terdengar suara bel kamarnya berbunyi. Indah yang masih mengobrol dengan ibunya langsung mengakhiri panggilan tersebut.
"Indah tutup dulu ya, teleponnya Bu. Ada yang memencet bel kamar." Ucap Indah.
"Yasudah, sana. Assalamualaikum,"
"Walaikumsalam,"
Setelah sambungan telepon itu terputus, indah berjalan menuju ke arah pintu kamar. Saat ia membuka pintu, indah melihat seorang laki-laki berseragam hotel me datanginya dengan mendorong sebuah meja yang berisi penuh oleh makanan.
"Selamat siang, Bu. Saya mau mengantarkan makan siang untuk Ibu," ucapnya. Indah cukup terkejut melihatnya.
'Ternyata dapat jatah makan siang juga. Wah, enaknya.' batin Indah. Ia pun menyingkir, membukakan pintu itu lebar-lebar mempersilakan pelayan itu masuk. Setelah meletakkan berbagai makanan di atas meja, laki-laki itu pun pergi meninggalkan kamar tersebut.
__ADS_1
"Ternyata sudah hampir jam satu. Pantesan perutku sudah keroncongan," gumam Indah saat melihat jam dinding yang telah menunjukkan pukul satu siang. Ia tidak menyangka jika waktu berjalan begitu cepat. Lalu tanpa menunggu waktu lama lagi, Indah langsung mulai menikmati makan siangnya ditemani oleh tayangan televisi yang tersedia di sana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...