Aku Atau Ibumu

Aku Atau Ibumu
AAI 30 Kehamilan Melinda


__ADS_3

AAI 30 - Kehamilan Melinda


"Jadi bagaimana, Mel? Apa yang ingin kamu bicarakan sama Tante? Sepertinya serius," Tanya Hesti pada Melinda. Terlihat Melinda berubah murung sambil mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


"Aku hamil, Tante. Ini," ucap Melinda dengan lirih seraya menyodorkan hasil testpack miliknya pada Hesti. Kedua mata Hesti menyipit, menatap benda pipih itu dengan seksama.


Tak butuh waktu lama, raut kebahagiaan terpancar jelas di wajah Hesti. Wanita itu langsung beranjak dan memeluk tubuh Melinda dan mengucap syukur dengan berita yang di dengarnya itu.


"Benarkah ini, Sayang? Kamu hamil? Astaga, Tante sangat bahagia mendengarnya. Lalu, apa kau sudah memeriksanya?" Tanya Hesti setelah melepaskan pelukannya. Sedangkan Melinda tersenyum dalam hati, saat ini wajahnya masih terlihat bersedih meski Hesti sangat bahagia mendengarnya.


"Ada apa, Mel? Kenapa kamu bersedih?" Tanya Hesti yang melihat wajah sedih Melinda. Sepatutnya Melinda mendapatkan mendali karena aktingnya yang begitu luwes hingga membuat wanita julid seperti Hesti bisa terkecoh.


"Aku takut, Tan. Bagaimana kalau Mas Galih tidak mau bertanggung jawab?" Tanya Melinda.


Hesti langsung menangkap kedua tangan Melinda dan mendekapnya dengan kedua tangannya.


"Tidak, Sayang. Dia pasti akan menikahi mu, Tante yang akan menjaminnya. Kalau perlu kita harus mengancamnya dengan foto-foto kalian itu," ucap Hesti yang meyakinkan Melinda.


Meski hubungannya dengan Galih berubah dingin semenjak kejadian itu, tapi kali ini tidak akan. Hesti memikirkan rencana untuk memberitahu perihal kehamilan Melinda kepada Galih dan akan menyuruhnya untuk menikahi Melinda demi jabang bayi yang ada di dalam kandungannya.


"Terimakasih, Tante. Hanya dengan Tante aku berani bicara. Kedua orang tua ku pun belum mengetahui berita ini," ucap Melinda dengan senyumannya.


'Yes, inilah yang aku inginkan. Wanita tua ini pasti akan membantuku agar bisa menikah dengan Galih dan menjadikanku ratu di rumah mereka.' batin Melinda seraya membayangkan kehidupannya setelah menjadi bagian dari Galih.


"Itu kita pikirkan nanti saja, Ok? O iya, Mel. Apa kau sudah memeriksakan kehamilanmu ini ke dokter?" Tanya Hesti.

__ADS_1


"Belum, Tante. Aku masih belum berani datang ke dokter apalagi harus sendiri," jawab Melinda dengan wajah tertunduk.


"Kenapa, Sayang?" Tanya Hesti bingung dengan reaksi Melinda.


"Bagaimana aku bisa ke dokter kandungan jika aku belum memiliki suami, Tante? Aku takut jika nanti ada orang yang mengenalku dan memberitahukan semuanya kepada kedua orang tua ku," ucap Melinda dengan kedua matanya yang tampak memerah.


Hesti langsung memeluk tubuh Melinda dan mencium pucuk kepalanya.


"Tenang, Sayang. Tante akan cepat-cepat bersama dengan Galih datang ke rumahmu untuk melamar mu. Sekarang, kamu jangan terlalu banyak pikiran ya. Serahkan semuanya pada Tante. Oke?" Ucap Hesti seraya melepaskan pelukannya dan menatap wajah cantik Melinda. Senyum manis Melinda mulai terlihat. Ia menganggukkan kepala mendengar ucapan dari Hesti.


"Baiklah, Jangan bersedih lagi. Kamu mau apa? Kata orang-orang, kalau hamil pasti ingin sesuatu. Sekarang, kamu ingin apa Mel? Mau makan apa? Ibu akan menuruti semua keinginanku. O iya, mulai sekarang, biasakan dirimu untuk memanggil ku dengan Ibu," dengan wajah berbinar-binar, Hesti menanyakan hal itu pada Melinda. Ia begitu memanjakan wanita itu karena saat ini tengah hamil cucunya. Cucu yang sangat ia idamkan sejak dulu.


Setelah seharian menghabiskan waktu bersama, Hesti mengantarkan Melinda pulang ke apartemennya. Meski berat berpisah dengan calon cucunya, tapi Hesti juga harus memperhatikan keduanya. Makanya dia ingin Melinda benar-benar istirahat.


"Iya, Bu. Aku pasti akan menelepon Ibu jika membutuhkan sesuatu," sahut Melinda seraya memeluk tubuh wanita yang akan menjadi ibu mertuanya itu. Di balik punggung Hesti, salah satu sudut bibir Melinda terangkat.


'Akhirnya, sebentar lagi aku akan menjadi nyonya Wibawa.' ujar Melinda dalam hati.


"Baiklah, Ibu pulang dulu ya. Bye," keduanya pun saling cipika-cipiki sebelum berpisah. Melinda menunggu mobil taksi yang ditumpangi oleh Hesti benar-benar pergi dari sana. Setelah itu, ia berjalan melenggang masuk menuju apartemennya yang ada di lantai dua belas.


Karena hari sudah mulai petang, akhirnya Hesti memutuskan untuk memberitahu perihal kehamilan Melinda kepada Galih disaat mereka menyelesaikan makan malam. Sedari pulang menemui Melinda, Hesti begitu sibuk berselancar di dunia maya. Ia membuka market place yang ada di ponselnya dan mulai mencari referensi pakaian bayi untuk calon cucunya nanti. Tidak, bukan hanya pakaian tapi segala hal yang berkaitan dengan anak kecil. Tak jarang menimbulkan tanda tanya besar di benak Indah saat melihat senyum merekah di wajah ibu mertuanya itu.


Bahkan disaat mereka makan sekalipun, Hesti masih sibuk dengan ponselnya. Galih yang memang cuek tidak memperhatikannya. Berbeda dengan Indah, ia begitu penasaran tapi apa dayanya. Ia hanya bisa diam dan bertanya dalam hati mengenai perubahan dari ibu mertuanya hari ini.


"Galih," panggil Hesti saat ketiganya sudah selesai dengan makanan mereka.

__ADS_1


Tanpa mengeluarkan suara, Galih hanya menoleh ke arah ibunya. Hesti terlihat kesal dengan sikap putranya itu.


"Ibu ingin mengatakan hal penting. Setelah ini temui ibu di kamar," ucap Hesti. Kemudian wanita itu pergi meninggalkan Galih dan Indah yang masih berada di kursi mereka. Indah tampak menatap kearah Galih, menanyakan apa yang dimaksud oleh ibu mertuanya itu.


"Aku tak tahu, Sayang. Jangan menatapku seperti itu," sekaan tahu apa yang ada di pikiran Indah, Galih mengatakan hal itu.


"Sebaiknya kamu cepat pergi ke kamar Ibu, Mas. Takutnya nanti dia marah lagi. Lagian kalian kenapa menjadi dingin seperti ini? Sudah sebulan Lo, Mas. Gak baik marah sama orang tua terlalu lama," ujar Indah seraya beranjak dari duduknya dan mulai mengumpulkan piring-piring kotor.


Hanya helaan napas panjang yang terdengar dari mulut Galih. Dengan langkah gontai, laki-laki itu berjalan menuju kamar milik ibunya tersebut. Indah yang melihatnya hanya bisa geleng-geleng kepala.


Tok


Tok


Setelah mendengar suara sahutan dari dalam sana, Galih memutar kenop pintu dan masuk ke dalamnya. Ia bisa melihat ibunya yang tengah duduk di pinggiran ranjang miliknya. Wanita itu tampak mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Ditangannya ada selembar kertas persegi dan meletakkannya di nakas dekatnya.


"Lihatlah," titah Hesti pada Galih. Tanpa bersuara, laki-laki itu mendekat lalu mengeryitkan dahi saat melihat gambar berwarna kehitaman pada kertas itu. Tadi siang Hesti membawa Melinda untuk menemui dokter kandungan untuk memeriksakan jabang bayi yang dikandungnya. Meski masih berupa kantung, nyatanya mampu membuat Hesti bahagia sekali. Ia begitu menjaga Melinda setelah keduanya selesai periksa dari salah satu klinik terkenal di kotanya.


"Apa ini?" Tanya Galih tanpa memegangnya.


"Itu anakmu. Melinda saat ini sedang hamil, Galih. Dia hamil anakmu, dan kamu harus bertanggung jawab terhadap dirinya dan bayinya." Ucap Hesti yang seketika membuat tubuh Galih seperti dihantam sebuah batu besar.


Deg


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2