
AAI 89 - Pertemuan tak terduga
Deg
Jantung Galih seakan berhenti berdetak mendengar ucapan dari Indah. Ia tidak menyangka jika mantan istrinya itu membuat novel tentang dirinya. Ada kebanggaan dan juga ada kekhawatiran dalam diri Galih. Apakah Indah menceritakan kisah cinta mereka atau malah penghianatan yang dilakukan olehnya.
"Apa yang kau tulis tentangku, Indah? Apakah itu tentang cinta kita? Atau justru luka itu?" Gumam Galih seraya kedua matanya menatap lurus ke arah wanita berkerudung putih itu.
Hari terlihat mengikut lengan feri saat melihat Galih yang tak mengalihkan pandangannya dari atas podium.
"Lihatlah, Fer. Kenapa sepertinya Pak Galih terus menerus melihat ke atas panggung ya?" Bisik Hari pada temannya. Feri melihat ke arah Galih, lalu ia menganggukkan kepala.
"Iya, tidak biasanya Pak Galih melihat cewek sampe segitunya." Balas Feri kepada Hari.
Ketiga laki-laki itu pun mengikuti acara tersebut. Feri pun juga ikut mengantri agar bisa berkenalan dan mendapatkan tandatangan Indah.
"Sekian acara hari ini. Kami selaku panitia mengucapkan banyak terimakasih kepada teman-teman yang hadir dan mengikuti serangkaian acara ulangtahun Kilomedia. Sampai jumpa tahun depan, Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh. Salam Literasi," ucap pembawa acara yang mengakhiri acara. Perlahan satu persatu orang-orang mulai meninggalkan tempat acara. Begitu pula dengan Indah, wanita itu tampak saling mengucapkan terimakasih kepada pihak penerbit dan teman-teman sesama penulis.
Setelah selesai, pihak penerbit dan penulis mulai berjalan meninggalkan aula hotel. Indah terlihat bahagia berjalan bersama dua wanita yang merupakan temannya. Saat ia melewati pintu aula, langkahnya terhenti seketika saat indera pendengarannya menangkap sebuah suara yang sangat familiar.
"Ndah?"
Deg
Jantung Indah seakan tertahan oleh batu. Air matanya menetes tanpa bisa ia cegah. Kedua teman Indah seketika terkejut dan khawatir dengan Indah.
"Ada apa, Indah?" Tanya Sukma kepada Indah.
__ADS_1
"Apa kau baik-baik saja, Mbak?" Imbuh Fatimah kepada Indah. Sedangkan Indah? Wanita itu masih diam membisu. Sepersekian detik kemudian Indah menatap kedua temannya lalu menggelengkan kepala. Setelah itu, tubuhnya berbalik perlahan.
Deg
Pandangan mata Indah terkunci pada sesosok laki-laki yang sangat ia rindukan. Matanya memanas hingga tanpa sadar kakinya melangkah maju menghampirinya. Begitu juga dengan Galih, laki-laki itu melangkahkan kakinya mendekat kepada wanita yang hingga kini masih merajai hatinya.
"Fer, Pak Galih kenal dengan penulis itu ya?" Tanya Hari dengan berbisik kepada Feri.
"Mana aku tahu," ujar Feri. Ia pun terkejut saat mengetahui atasannya mengenal penulis cantik itu.
Tak mau menjadi bahan tontonan, akhirnya Galih memutuskan untuk mengirim bawahannya itu kembali ke perusahaan. Begitu pula dengan kedua teman Indah, keduanya pun memilih untuk menyingkir dari sana dan memberikan ruang kepada kedua insan itu.
Dan di sinilah mereka, Galih serta Indah memilih duduk berhadapan di restoran hotel tempat indah menginap. Ditemani dua cangkir coklat hangat kedua insan itu masih setia dengan keterdiaman mereka.
"Bagaimana kabarmu, Ndah?" Tanya Galih membuka percakapan. Ia tidak kuat kalau harus saling diam sedang jiwanya seakan berontak ingin memeluk tubuh wanita yang dirindukan nya itu.
"Alhamdulillah, baik." Sahut Galih. Ia sendiri merasa kehilangan kata-katanya. Semua seakan menghilang dari dalam benaknya.
"Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini." Ucap Galih seraya mengambil cangkirnya dan menyeruput coklat itu.
Indah tersenyum tipis lalu ikut mencicipi minuman kesukaannya itu. Ia sendiri juga sangat terkejut dengan pertemuan mereka. Pasalnya, setelah keduanya berpisah, Indah sama sekali tidak pernah saling bertukar kabar dengan Galih. Bahkan ia telah menghapus dan memblokir nomor Galih setelah perceraian mereka. Indah tahu kalau Galih selalu mencoba menghubunginya dengan nomor baru, tapi ia tidak pernah mencoba untuk mengangkatnya.
"Aku juga, Mas." Gumam Indah namun masih terdengar di telinga Galih. Sudut bibir Galih berkedut, ia merasa deja vu dengan panggilan Indah padanya. Rasanya begitu hangat, mencairkan salju yang telah lama memjadi gunung.
"Jadi, kamu menulis lagi?" Tanya Galih.
"Iya, Mas. Mengulang kembali masa lalu yang sempat terhenti," ucap Indah tanpa sadar.
__ADS_1
"Maafkan ibuku yang dulu tidak menyukaimu menjadi seorang penulis, Indah. Mungkin jika beliau masih ada, pasti akan sangat bangga melihatmu berada di titik ini." Ujar Galih. Indah yang mendengar kabar itu seketika terkejut bukan main.
"A-apa? I-ibu me-meninggal?" Tanya Indah. Ia tidak menyangka jika ibu mertuanya telah pergi meninggalkan dunia ini. Padahal saat terakhir bertemu dengannya, Hesti masih sangat sehat dan tidak mempunyai penyakit serius.
"Iya, Indah. Setelah kepergian mu, berbagai masalah menerpa kami." Ucap Galih. Ia pun mulai menceritakan semua yang terjadi pada keluarganya. Indah yang mendengarnya hanya bisa menyebut nama Allah serta membesarkan hatinya. Ia merasa kasihan kepada Galih dan juga Gita atas semua yang menimpa mereka.
"A-aku tidak menyangka jika semua itu nyata dan terjadi padamu, Mas. Semoga Ibu ditempatkan di sisi Allah SWT." Ucap Indah dengan tulus. Meski sudah disakiti berkali-kali, tapi Indah tidak pernah memendam kebencian terhadap sang ibu mertua. Ya, awalnya memang sangat sakit. Tapi berkat dukungan dari sekitarnya, membuat Indah akhirnya bisa mengikhlaskan dan memaafkan semua kesalahan Hesti.
"Amin,"
"Lalu bagaimana dengan Gita, Mas? Dimana dia?" Tanya Indah. Ia tahu betul jika Galih sangat menyayangi Gita meski kenyataannya keduanya bukan saudara sedarah.
"Dia sekarang ada bersamaku di sini. Setelah selesai wisuda, dia langsung menyusulku dan bekerja di sini." Jawab Galih. Indah hanya beroh ria mendengarnya. Lama kelamaan keduanya sudah tidak kaku lagi dan semua mengalir begitu saja. Baik Galih maupun Indah, keduanya sudah dewasa dan sama-sama lebih bisa saling menerima legowo dengan semua yang telah terjadi. Mereka terlihat layaknya seperti seseorang yang bertemu dengan sahabat lama setelah sekian lama tak bertemu.
"Kamu disini berapa lama, Ndah?" Tanya Galih seraya mengurus steak daging nya. Akhirnya keduanya memilih untuk makan siang bersama karena waktu sudah menunjukkan pukul satu siang.
"Lusa baru pulang, Mas. Soalnya besok masih mau ngisi di radio Bahana," jawab Indah. Ia pun juga sudah menceritakan tentang kembalinya ia di dunia kepenulisan selama ini. Galih yang mendengarnya begitu bahagia, karena menulis adalah hobi Indah sejak kecil. Namun terpaksa berhenti saat ia menjadi istri Galih karena larangan ibunya.
"Besok selesai jam berapa?" Tanya Galih.
"Belum tahu, Mas. Paling jam empat sorean, soalnya aku ngisi di jam setelah istirahat siang dan biasanya radio siaran sekitar tiga jam-an." Jawab Indah. Galih tersenyum tipis mendengarnya.
'Apa aku masih punya kesempatan kedua, Ndah? Aku masih sangat mencintaimu,' batin Galih.
"Ndah, aku mau tanya sesuatu. Boleh?" Tanya Galih. Dengan ragu-ragu indah menganggukkan kepala.
"Apa kau sudah menikah lagi? Atau punya pacar?"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...