
AAI 90 - Galih dan Indah
Indah merasa jantungnya semakin berdetak kencang mendengar pertanyaan itu. Tak bisa ia pungkiri bahwa hatinya masih belum bisa move on dari laki-laki yang ada di hadapannya itu. Pertemuan tak sengaja ini membuat hati wanita itu bertaburan bunga-bunga cinta yang mekar. Ia sampai menundukkan kepalanya, menyembunyikan Rona merah tersipu nya.
'Kenapa aku tidak bisa menolak mu, Mas? Hatiku masih saja bergetar saat mendengar ataupun melihatmu, seperti pertama kita bertemu.' batin Indah.
"Belum, Mas." Jawab Indah lirih. Memang benar, meski keduanya telah berpisah namun hati mereka masih belum bisa saling melupakan. Sedangkan Galih yang mendengarnya tersenyum tipis..
'Ijinkan aku kembali padamu, Indah. Aku janji akan membahagiakanmu dan menjadikan kamu wanita paling bahagia di dunia ini.' batin Galih. Keduanya kembali diam, mulai merasakan canggung setelah pertanyaan itu.
"Em, kau ingin keliling Jakarta? Sudah sampai di sini, masa' gak kemana-mana?" Tanya Galih. Ia mengalihkan pembicaraan agar mengusir kecanggungan diantara keduanya.
"Tapi, waktuku hanya sampai lusa. Ditambah lagi besok masih ada acara di radio."jawab Indah. Tidak ada yang tidak ingin memiliki kesempatan bisa keliling ibukota Jakarta, begitu juga dengan Indah. Namun karena waktunya yang terbatas serta tak ada yang menemani membuat Indah harus mengubur keinginan itu.
"Apa kau sudah membeli tiket pulang?" Tanya Galih. Perlahan Indah menganggukkan kepalanya. Ia memang sudah memesan jauh-jauh tiket itu dan membelinya untuk pergi -pulang.
Galih menghela napas, ia memikirkan bagaimana ia bisa mengajak Indah berkeliling kota sedangkan waktunya sangat mepet.
"Bagaimana kalau tambah tiga hari disini? Aku yang akan membelikanmu tiket pulang ke Surabaya nanti." Ucap Galih. Indah tentu terkejut mendengar ucapan dari Galih. Dalam hati ia sangat kegirangan karena bisa memiliki lebih banyak waktu bersamanya, tapi disisi lain ia tidak bisa melakukan hal itu tanpa ijin orang tuanya.
"Tapi, Mas. Aku tidak mungkin menambah waktu disini lebih lama tanpa memberitahu Ayah dan Ibu." Sahut Indah.
"Kalau begitu, biarkan aku yang berbicara kepada mereka dan meminta ijin untuk dirimu." Ucap Galih tegas.
Setelah itu, indah menelepon kedua orang tuanya. Namun kali ini bukan Indah yang berbicara, melainkan Galih. Tentu saja itu membuat terkejut Doni dan Ratih. Mereka tidak menyangka jika putrinya akan bertemu dengan mantan suaminya di jakarta. Karena kegigihan dan janji yang diberikan oleh Galih, akhirnya Doni mengijinkan putrinya untuk tinggal lebih lama di sana.
Selama tiga hari penuh Galih mengajak Indah berkeliling kota Jakarta. Tidak hanya ke tempat wisata, Galih juga mengajak Indah berjalan-jalan ke setiap tempat yang memiliki sejarah.
"Aku sangat bahagia bisa bertemu dengan Mbak Indah lagi," ucap Gita seraya memeluk tubuh Indah. Saat ini ketiganya tengah berada di salah satu pusat perbelanjaan besar di kota. Hari ini adalah hari terakhir Indah berada di sana. Besok pagi Indah akan kembali ke Surabaya.
"Mbak juga senang bisa bertemu lagi dengan mu. Bagaimana dengan kerjaanmu? Kata Mas Galih, kau sekarang membuka toko baju ya?" Tanya Indah. Galih sudah menceritakan tentang adiknya kemarin.
"Sangat menyenangkan, Mbak. Meski tokonya baru buka, tapi Alhamdulillah sudah ramai pembeli. Mayoritas pelamgganku saat aku masih bekerja di butik bosku dulu." Jawab Gita dengan ceria. Ia mencoba membuka usaha dengan bermodalkan uang tabungan yang selama ini ia tabung. Sedangkan tokonya adalah hadiah ulang tahun yang didapatkan dari sang kakak. Galih yang mengetahui impian Gita langsung mencari sebuah ruko dan membelikannya.
"Syukurlah kalau begitu. O ya, bukankah kamu temannya Irsyad dan Lia ya? Apa kalian masih saling bertukar kabar sampai sekarang?" Tanya Indah. Ia teringat dengan adik dan juga teman wanitanya yang dulu adalah teman kuliah Gita. Raut wajah Gita mengalami perubahan meski tak begitu besar. Namun sepersekian detik kemudian ia berusaha menyembunyikannya.
"T-tentu, Mbak. Kami masih seringkali berbalas pesan. Memangnya kenapa, Mbak?" Tanya Gita.
'Maafkan aku yang telah berbohong padamu, Mbak. Aku tidak berani mengatakan semua hal yang terjadi pada mereka berdua.' batin Gita.
__ADS_1
"Ayo kita makan siang dulu," ucap Galih kepada keduanya. Indah dan Gita mengangguk lalu mengikuti langkah Galih yang berjalan menuju ke salah satu restoran di mall tersebut.
Karena sama-sama pecinta bakso, baik indah dan Gita sepakat memesan makanan yang sama. Sedangkan Galih memilih untuk memesan nasi Padang untuk memenuhi perutnya yang terasa sudah lapar sejak tadi.
"Wah, baksonya enak sekali. Iya kan, Mbak?" Tanya Gita.
"Iya. Enak sekali." Jawab Indah dengan kembali menunduk bulatan bakso kembali. Galih yang mendengarnya seketika tergiur, apalagi melihat cara keduanya makan membuat air liur Galih seakan ingin tumpah.
"Benarkah? Boleh ku coba?"
"Tentu. Aa..." Sahut Indah seraya menyodorkan garpunya yang berisi pentol bakso kepada Galih tanpa sadar.
Ting
Waktu seakan berhenti. Galih dan Indah sama-sama saling memandang. Keduanya terkejut akan keadaan masing-masing saat ini. Keduanya seakan lupa dengan status mereka yang sudah tidak lagi menjadi sepasang suami istri. Sedangkan Gita hanya cekikikan melihat tingkah lu ucu Galih dan Indah.
"Wah-wah .... Mas Galih dan Mbak Indah memang ditakdirkan bersama. Sudah pisah saja tapi masih uwu banget. Aku sampai meleyot melihatnya," ucap Gita seraya memangku dagunya dengan kedua tangannya. Tak lupa juga ia menatap manis kedua kakaknya itu. Indah yang tersadar langsung menurunkan garpunya. Sedangkan Galih langsung berdeham demi menghilangkan rasa canggungnya.
"Kenapa gak balikan aja, Mas, Mbak?" Tanya Gita tanpa rasa bersalah. Galih dan Indah saling pandang lalu keduanya memanggil nama Gita secara bersamaan.
"GITA!"
"Iya, iya. Aku diam saja lah," ucap Gita pada akhirnya.
Setelah mereka menghabiskan waktu bersama seharian, kini tiba saatnya Galih dan Indah berpisah. Galih menurunkan Gita terlebih dahulu sebelum ia mengantar Indah ke hotel.
"Aku seneng banget bisa seharian sama Mbak Indah." Ucap Gita. Indah tersenyum tipis sambil menganggukkan kepala.
"Iya, Mbak juga senang. Jaga diri baik-baik ya di sini. Besok pagi Mbak akan pulang ke Surabaya." Sahut Indah.
"Hati-hati di jalan ya, Mbak. Salam buat Ayah dan Ibu di rumah. Semoga kita bisa bertemu lagi nanti, aku akan merindukanmu." Ucap Gita seraya memeluk tubuh sang mantan kakak ipar. Saat ini ketiganya tengah berada di luar rumah Galih yang dibelinya di kota itu. Kedua wanita itu saling berpelukan untuk terakhir kalinya sebelum Indah meninggalkan kota jakarta dan kembali ke Surabaya.
"Sudah, sudah. Keburu malam," ucap Galih seraya melihat ke arah jam tangan yang ada di pergelangan tangannya. Gita langsung melepaskan pelukannya sedangkan Indah hanya tersenyum tipis melihat wajah cemberut gadis itu.
"Cih, memang sudah malam kali, Mas. Dasar, ya sudah. Bye Mbak Indah, assalamualaikum." Ucap Gita dengan riang. Lalu ia berjalan menuju rumahnya seraya melambaikan tangan ke arah Indah. Indah membalasnya dengan lambaian juga serta salamnya. Namun, baru beberapa langkah, Gita menghentikan langkahnya. Ia berlarian kembali ke arah Indah. Galih dan Indah hanya mengeryitkan dahi.
"Awas, Mbak. Nanti di modusin sama Mas Galih, soalnya sepertinya dia belum bisa move on dari Mbak Indah. Ha ha," sebelum mendapatkan amarah dari sang kakak, Gita berlari memasuki rumahnya dengan tawanya yang renyah.
Blush
__ADS_1
Semburat merah langsung tercipta di kedua pipi Indah saat mendengar ucapan Gita. Sedangkan Galih hanya bisa menghela napasnya karena merasa malu karena tingkah adiknya itu. Tak lama kemudian Galih dan Indah hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Gita.
"Ayo, aku antar pulang ke hotel." Ucap Galih seraya mengajak Indah masuk ke dalam mobil.
Mobil itupun mulai berjalan. Selama perjalanan, baik Indah maupun Galih hanya diam karena merasa canggung dan bingung mau berbicara apa. Bahkan hingga mencapai hotel pun keduanya masih saja diam, hanya langkah kaki keduanya saja yang terdengar.
Galih mengantar Indah sampai di depan kamar Indah. Pikirannya sedang campur aduk, ia kesulitan merangkai kata yang akan ia ucapkan pada Indah.
"Indah?" Panggil Galih.
"Ya?" Jawab Indah seraya menoleh ke arah Galih.
Subhanallah,
Tanpa sadar Galih menyebut nama Allah saat melihat kecantikan Indah yang tak tertandingi. Bahkan cantiknya ratu Cleopatra kalah dengan cantiknya Indah.
"Mas?" Panggil Indah. Ia bingung dengan Galih yang malah terdiam setelah memanggilnya.
"I-iya. Em, Indah. Sebenarnya ada yang ingin aku katakan," ucap Galih.
"Tentang apa, Mas?" Tanya Indah.
"Sebenarnya, aku ingin mengungkapkan sesuatu." Ucap Galih.
"Selama hampir empat tahun ini tak sedetikpun aku melupakanmu. Bahkan disetiap malam aku selalu menyebut namamu di atas sajadahku. Berharap ada keajaiban aku bisa bertemu karena aku ingin mengatakan jika aku tidak bisa menghapus mu dari hati dan jiwaku." Imbuh nya. Indah hanya terdiam dengan jantungnya yang terus bertalu-talu.
"Kau tahu, Indah. Aku sudah menceritakan semua kejadian dulu dimana kita sampai harus berpisah karena ibuku. Sejak saat itu, aku tidak bisa menatap dunia lagi. Kau membawa pergi cinta dan warna hidupku. Dan kini, kita bisa bertemu atas kehendak Allah." Galih menarik napasnya dalam-dalam sebelum ia mengucapkan kalimat selanjutnya.
"Indah, namamu masih terukir indah di dalam hatiku. Aku ingin bisa merajut cinta denganmu seperti dahulu lagi. Apakah kamu bersedia? Menjadi pasanganku dan menghabiskan waktu bersama selamanya? Aku masih sangat mencintaimu, Indah. Sangat merindukanmu," Galih menyelesaikan kalimatnya dengan kedua matanya menatap lekat Indah. Ia tidak ingin kehilangan wanita yang dicintainya itu lagi. Galih ingin bisa kembali merajut cinta dengan Indah. Mantan istri yang ia cintai.
"A-aku..." Indah tergagap. Ia merasa bingung dengan jawaban yang akan ia katakan.
"Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi, Indah?" Tanya Galih.
"Bu-bukan begitu, Mas."
"Berarti kamu setuju dengan ku? Kau mau menikah denganku?" Tanya Galih. Ia merasa tidak sabar menanti jawaban dari Indah. Indah menghela napasnya, ia membutuhkan waktu untuk bisa berpikir jernih sebelum menjawabnya.
"Boleh kasih aku waktu, Mas? Besok, aku akan memberi jawabannya besok. Bukankah Mas akan mengantarku ke bandara? Aku akan menjawabnya saat kita berada di sana,"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...