
AAI 57 - Bertemu Sahabat
Setelah menyelesaikan pekerjaan rumahnya, Gita bergegas menuju kamar untuk membersihkan diri mengingat hari sudah semakin sore. Tepat saat ia dan sang ibu sudah selesai dengan makan malam mereka, Gita memberanikan diri untuk meminta ijin keluar pada Hesti.
"Bu, aku ingin keluar sebentar." Ucap Gita. Ia pun segera bangkit dan mulai mengambil piring kotor miliknya dan ibunya.
"Mau kemana malam-malam begini, Gitu?" Tanya Hesti sambil memandang layar ponselnya.
"Em, itu Bu. Aku mau bertemu sama Sandra, teman baruku. Dia ingin mengajakku bertemu di cafe depan kompleks," jawab Gita. Raut wajahnya sudah terlihat sedikit berkeringat mengingat ini kali pertamanya ia berbohong kepada ibunya sendiri.
'Maafkan aku, Bu. Aku harus berbohong kepada Ibu karena permintaan Maaf Galih. Dia masih marah dan tidak ingin bertemu dengan Ibu sementara ini. Tapi Gita janji, Gita akan terus membujuk Mas Galih agar mau kembali ke rumah ini,' batin Gita. Ia merasa bersalah kepada Hesti karena berbohong demi kakaknya. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya menurut.
"Hm, pergilah. Jangan pulang malam-malam," sahut Hesti yang memeringati sang putri agar tidak pulang terlambat. Meski ia tak memiliki hati, tapi ia sangat protektif dalam mendidik anak-anaknya. Apalagi Gita seorang gadis, ia butuh ekstra hati-hati Padanya.
"Ok, Bu." Ujar Gita dengan riang setelah mendapatkan ijin dari Hesti. Gita segera membersihkan alat makan serta meja makan. Ia mengerjakan semuanya, menggantikan Indah yang biasanya mengerjakan pekerjaan rumah. Meski awalnya sedikit terkejut dan lelah karena mengurus semua, tapi Gita tidak mengeluh. Ia menjalani semuanya dengan ikhlas. Oleh karena itu ia tidak merasa berat sedikitpun dalam menjalaninya.
Hesti yang melihat Gita mulai mengerjakan tugas malam segera menyingkir. Ia memilih untuk bersantai di ruang keluarga sambil melihat siaran televisi. Tak lupa ia mengambil sepiring buah yang tadi disiapkan oleh Gita di atas meja.
"Akhirnya selesai juga," ucap Gita setelah semua dapur dan ruang makan terlihat rapi seperti semula. Raut wajahnya tampak tersenyum melihat hasil kerja kerasnya seharian ini.
"Astaga, sudah hampir pukul tujuh. Mam pus aku," ucap Gita seraya berlarian meninggalkan area dapur. Untung saja ia tak sadar melihat ke arah jam dinding, betapa terkejutnya saat dirinya melihatnya.
Setelah berkutat sekita tiga puluh menit di dalam kamar, akhirnya Gita selesai dengan penampilannya. Dengan menggunakan kaos crop dan celana jeans panjang, Gita terlihat sangat menawan. Jangan lupa dengan jaketnya yang berwarna senada dengan jeans nya itu.
Gita berjalan keluar kamar sambil menenteng tas hitam kecil kesukaannya itu. Rambutnya yang panjang Gita ikat menjadi satu di atas sehingga menyerupai ekor kuda. Dengan riangnya Gita menuruni tangga dan mencari keberadaan sang ibu.
__ADS_1
"Bu?" Panggil Gita. Ia melihat Hesti yang tengah fokus pada tayangan televisi di ruang keluarga.
"Bu, aku pergi dulu ya. Assalamualaikum," ucap Gita seraya mendekat dan menyalami tangan Hesti.
"Hm, pergilah. Hati-hati di jalan," sahut Hesti.
"Iya, Bu."
Dengan menggunakan motor bebek injeksi miliknya, Gita mulai berjalan keluar dari kompleks perumahan itu. Karena ia hendak mendatangi Galih di apartemen, Gita berinisiatif untuk membeli dua minuman dingin untuknya dan sang kakak. Ia membelokkan motornya ke sebuah cafe yang ada di pinggir jalan.
"Gita?" Sebuah suara membuat Gita menoleh. Ia tersenyum saat melihat teman semasa sekolah menengah pertama berdiri di belakangnya.
"Lia? Astaga. Gimana kabarnya? Sudah lama banget kita gak ketemu," Gita yang bahagia langsung memeluk tubuh sang sahabat saking lamanya tidak bertemu.
"Iya, ini aku. Aku baik, kamu gimana?" Tanya gadis bernama Lia tersebut.
"Iya, terimakasih ya." Gita langsung menerima pesanan itu dengan seutas senyum. Ia pun mengajak Lia untuk duduk di salah satu kursi yang ada disana.
"Kamu ngapain di sini, Li?" Tanya Gita. Aprilia Mahadevi adalah salah satu dari teman sekolah Gita yang sangat ia rindukan. Ia dan Lia selalu bersama sehingga membuat keduanya sering dikatakan sebagai sepasang anak kembar yang tak bisa dipisahkan.
"Oh, ini aku lagi nunggu pacarku. Kamu sendiri, Git? Bukannya kamu kuliah di Malang kan?" Tanya Lia. Seingatnya dulu Gita melanjutkan kuliah di Malang sesuai dengan impiannya. Maka dari itu ia sedikit terkejut saat mengenali sosok Gita tadi.
"Iya, tadinya. Sudah dua bulan ini aku pindah ke UNS, Li. Ada masalah di keluarga yang membuatku harus pindah ke sini. O iya, aku lagi buru-buru nih. Ini, bagi nomor telepon mu. Nanti aku kirim WhatsApp," ucap Gita seraya menyerahkan ponselnya kepada Lia. Dengan senang hati Lia menerima dan memasukkan nomornya. Keduanya sudah lost kontak sejak mereka berpisah setelah sekolah menengah pertama.
"Memangnya kamu mau kemana sih, Git? Aku masih pengen ngobrol," sahut Lia. Ia sedikit kecewa karena tidak bisa mengobrol banyak dengan sang sahabat yang ia rindukan.
__ADS_1
"Sorry, aku mau ke tempat kakakku. nanti saja, kita bisa meet up lagi. Ok?" Ujar Gita sambil menerima kembali ponselnya. Lia menghela napas mendengar ucapan dari Gita.
"Baiklah, kalau begitu. Tapi janji ya kita akan ketemu lagi," ucap Lia. Dengan senyum manisnya Gita menganggukkan kepala.
"Iya, bestiii. Nanti malam aku telepon deh, aku pergi dulu ya. Bye," Gita memberikan pelukan dan cium pipi kanan kiri pada Lia. Meski ia sendiri juga tidak rela berpisah dari Lia, tapi urusannya dengan Galih lebih penting. Maka dari itu ia bergegas meninggalkan tempat tersebut.
Bruk
Saat keluar dari cafe itu, tak sengaja Gita menabrak bahu seseorang. Untung saja minumannya tidak jatuh, Gita merasa lega akan hal itu.
"Maaf, Mas. Maaf," ucap Gita seraya membungkukkan badannya. Ia merasa bersalah karena kecerobohannya itu membuat ia menabrak orang.
"Hm, lain kali hati-hati kalau jalan." Suara seorang laki-laki seraya berjalan memasuki cafe. Gita mendongak, lalu ia mengikuti arah perginya laki-laki itu.
"Siapa tuh, dingin amat. Manusia apa bukan? Huh," ucap Gita seraya mendengus kesal. Ini pertama kalinya ia melihat seorang laki-laki yang terlihat cuek kepadanya. Padahal biasanya banyak kaum Adam yang menaruh hati saat melihatnya. Namun kali ini tidak, jangankan terpesona ramah pun tidak.
"Ah, sudahlah. Aku harus segera ke tempat Mas Galih," gumam Gita. Ia pun tak mau ambil pusing dan berjalan menuju motornya. Ia tidak mau membuat kakaknya menunggu kedatangan dirinya yang lama. Tanpa Gita sadari, laki-laki yang ia tabrak tadi menoleh. Tak ada senyuman di wajah laki-laki saat menatap kepergian Gita. Entah apa yang ada di pikirannya, yang jelas tatapan matanya menyiratkan sebuah arti yang mendalam.
Setelah mengendarai motor selama setengah jam, akhirnya Gita sampai di apartemen milik Galih. Gadis itu masuk ke dalam gedung dan langsung menuju ke lantai tujuh, tempat sang kakak tinggal.
"Akhirnya sampai juga," gumam Gita seraya memencet tombol bel pintu apartemen Galih. Dengan senyumannya, Gita kenangi dibukakan pintu oleh sang kakak tercinta.
Ting Tong
Cklek
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...