
AAI 13-
"Selamat malam, semuanya." Terdengar suara seorang wanita yang menarik perhatian para wanita yang tengah berkumpul di sebuah meja. Mereka berempat pun menoleh lalu tersenyum senang melihat kedatangan wanita itu.
"Kamu juga diundang kesini, Mel?" Tanya Hesti yang tak menyangka bisa bertemu dengan wanita yang ia gadang-gadang menjadi calon istri kedua anaknya. Ia langsung memeluk tubuh Melinda dan cipika-cipiki dengannya.
Melinda pun juga senang bisa berkumpul dengan Hesti dan juga Kartika.
"Iya, Tante. Tante Kartika yang mengundangku. By the way, happy anniversary ya buat Tante dan Om. Semoga Om dan Tante selalu bahagia dan panjang umur." Ucap Melinda seraya beralih memeluk tubuh Kartika setelah memeluk Hesti. Kartika menyambut hangat pelukan itu dan membalasnya.
"Terimakasih, Cantik. Dimana kedua orang tua mu?" Tanya Kartika seraya menoleh kesana-kemari mencari keberadaan orang tua Melinda.
"Itu, Tan. Mereka masih mengobrol dengan Om Aji disana," ujar Melinda seraya menunjuk ke sebuah meja yang terletak tak jauh dari pintu masuk ke dalam rumah. Pesta yang saat ini berlangsung berada di taman belakang rumah yang sangat besar dan mewah itu.
"Oh, disana. Baiklah, biarkan mereka. Ayo duduk, Sayang." Ujar Kartika mengajak Melinda untuk duduk bergabung dengan mereka. Mereka pun perlahan duduk, disusul oleh Hesti yang tadinya tengah menatap ke arah sepasang suami istri yang ada sedikit jauh dengan mejanya.
Pandangan matanya yang datar, membuat siapa saja yang melihatnya tak bisa menebak apa yang tengah dipikirkan oleh wanita itu.
"Makin kesini, makin cantik saja kamu, Mel." Ucap teman Kartika yang bernama Clara. Melinda seketika tersipu mendengar pujian itu.
"Ah, Tante bisa aja." Sahut Melinda seraya merapikan anak rambutnya ke belakang telinga. Ia begitu cantik dan berperilaku selembut mungkin dihadapan para wanita itu.
Melinda mengedarkan pandangannya ke sekeliling hingga kedua matanya menatap seorang laki-laki yang juga tengah menatap kepadanya. Melinda tersenyum tipis padanya lalu beralih menatap ibu-ibu yang berada semeja dengannya.
Melinda dan keempat wanita itu terlihat perbincangan ringan hingga tawa renyah terdengar dari meja mereka.
Indah yang berdiri di samping Galih hanya bisa menundukkan kepalanya. Dalam hati ia sangat menginginkan dirinya bisa sedekat itu dengan sang ibu mertua. Tapi apa daya, ketidaksempurnaan nya membuat hubungannya dengan Hesti tak harmonis.
__ADS_1
"Iya kan, Nak Indah?" Tanya salah satu lawan bicara Galih yang tengah mengajak Indah untuk mengobrol santai. Galih yang melihat istrinya tengah melamun seketika merengkuh tubuh ringkih itu.
"Sayang?" Panggil Galih. Indah tersentak lalu menatap ke arah Galih.
"I-iya, Mas?" Sahut Indah gelagapan.
"Kamu lagi mikirin apa? Itu, Pak Robi bertanya padamu loh." Ujar Galih dengan lembut. Indah merasa tidak enak kepada Tuan Robi lalu ia pun segera meminta maaf padanya.
"Maafkan saya, Pak." Ucap Indah merasa sangat bersalah karena seakan tak menghargai orang yang ada di sana.
"Tidak apa-apa, Nak Indah. Santai saja," ujar Pak Robi dengan senyuman hangatnya.
Saat ini Indah dan Galih tengah duduk bergabung dengan Pak Robi beserta sang istri. Keduanya merupakan teman bisnis Sudarman sehingga membuat mereka juga diundang dalam acara tersebut.
Disaat mereka berempat tengah mengobrol, terlihat Hesti mendatangi meja mereka. Ia berjalan tergopoh-gopoh menghampiri anak dan menantunya.
"Permisi. Galih, ayo ikut Ibu kesana." Ucap Hesti yang langsung memegang lengan sang anak. Galih yang hendak meminum minumannya seketika terhenti. Ia melirik sekilas ke arah sang istri. Galih bisa melihat raut wajah istrinya yang tengah menunduk menyembunyikan wajahnya yang tengah bersedih.
"Tidak apa-apa, Galih. Pergilah," ucap Pak Robi. Istrinya pun ikut mengangguk kecil mengiyakan perkataan dari suaminya itu.
"Tuh, kan. Ayo," ucap Hesti seraya menarik lengan putranya. Galih masih tak beranjak dari sana, ia menoleh ke arah Indah.
"Sebentar, Bu. Ayo, Sayang. Kita ke sana," ucap Galih yang seketika membuat Indah mengangkat wajahnya. Hesti seketika tak suka saat menyadari anaknya itu malah mengajak Indah.
"Tidak, Galih. Kamu saja. Biarkan dia disini," sahut Hesti yang seketika mendapatkan tatapan tajam dari Galih. Galih begitu geram karena sang ibu bisa bersikap seperti itu di hadapan banyak orang.
"Aku tidak akan kemana-mana tanpa istriku, Ibu. Harap ibu bisa mengerti itu," desis Galih dengan suaranya yang rendah. Ia tak ingin sampai drama rumah tangga nya diketahui banyak orang. Hesti yang tak bisa berbuat apa-apa hanya bisa menghela napas.
__ADS_1
"Iya, iya. Terserah mu saja," sahut Hesti pada akhirnya.
Galih pun segera beralih kepada sepasang suami-isteri yang ada di hadapannya itu.
"Baiklah, Pak Robi. Saya dan istri saya ke sana dulu. Lain kali kita sambung lagi obrolan tadi. Mari, Pak, Bu." Dengan menggenggam erat tangan sang istri, Galih meminta ijin kepada kedua orang itu. Pak Robi beserta istrinya hanya bisa mengangguk dan menatap kepergian ketiganya.
"Aku kasihan sama istrinya Galih, Pa. Sepertinya dia tidak akur dengan ibu mertuanya," ujar sang istri kepada Suaminya.
Pak Robi hanya bisa tersenyum tipis sambil mengajak istrinya itu kembali duduk di kursi mereka.
"Biarkan saja. Itu bukan urusan kita, Santi. Kita doakan saja yang terbaik untuk mereka. Hm?" Ucap Robi yang mendapatkan anggukan kepala dari sang istri.
Keduanya pun kembali menikmati pertunjukan musik yang ada disana dengan menikmati hidangan mereka.
'Kuatkan aku, Tuhan. Jangan biarkan air mata ini kembali menetes di hadapan para tamu undangan.' batin Indah yang tengah berjalan di belakang Galih. Ia tahu jika ibu mertuanya itu hendak mengajak mereka bergabung dengan orang-orang yang nantinya bisa melukai perasaannya.
Namun Indah bisa sedikit lega karena sang suami menemaninya dan berada disampingnya. Memberi kekuatan pada Indah untuk menghadapi semua orang yang ada di sana.
"Selamat malam, semuanya." Sapa Galih ketika ia sudah berada di salah satu meja besar yang berisi seluruh keluarga besarnya. Ada sekitar tiga pasang suami istri yang berada di sana serta dua orang laki-laki dan perempuan di antara mereka.
"Selamat malam," imbuh Indah yang juga mengucap kan dalamnya kepada mereka semua.
"Oh, Galih dan Indah. Ayo, duduklah. Sudah lama kita tidak pernah bisa bertemu seperti ini." Ucap Sudarman selalu tuan rumah dari acara tersebut.
Hesti, Galih, dan Indah pun segera duduk bergabung dengan mereka semua yang ada di meja besar itu.
Raut bahagia jelas tercetak di wajah Hesti, berbanding terbalik dengan Indah yang justru tengah menundukkan wajahnya.
__ADS_1
'Kita lihat. Seberapa kuat kamu menahannya, Indah.' ucap Hesti dalam hati sambil melirik sekilas ke arah menantunya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...