
AAI 55 - Sebuah surat
Dua bulan berlalu.
Ayah Indah sudah mulai memproses perceraian anaknya. Ia bersama Pak Sandi mulai membuat laporan dan akan segera naik ke pengadilan. Indah sendiri sudah mulai bisa bangkit dari keterpurukannya dengan menulis seperti saat dirinya masih sendiri. Ia memilih kembali menekuni hobinya yang sempat dilupakan demi mengisi waktu luang. Meski begitu ia belum bisa keluar rumah dikarenakan malu jika ada orang yang menanyainya tentang perpisahannya dengan Galih. Seluruh keluarganya mendukung apa yang dilakukan Indah, mereka selalu mendampingi dan selalu memberi semangat kepadanya agar bisa bangkit dari keterpurukannya.
Sedangkan Galih? Laki-laki itu berubah. Ia sudah tidak tinggal di rumah sang Ibu dan memilih untuk membeli sebuah apartemen. Ia juga memerintahkan sang adik perempuannya untuk pindah kuliah di universitas kota agar bisa menemani sang ibu di rumah. Secara materi Galih masih membiayai semua keperluan Ibu dan juga Melinda. Namun untuk bertemu, ia tidak bisa. Atau ia bisa melampiaskan amarahnya kepada sang ibu seperti kejadian dua bulan lalu. Tepat dua bulan lalu saat dirinya mengamuk karena melihat keberadaan Melinda yang tinggal dirumahnya. Untung saja Hesti menghalangi saat Galih ingin mencekik leher Melinda. Jika tidak, mungkin wanita itu tinggallah nama dan Galih masuk ke dalam bui.
"Git? Gita?" Teriak Hesti dari lantai bawah. Seperti biasanya, semenjak kepergian sang menantu, kini semua pekerjaan rumah menjadi tanggung jawab Hesti seorang diri. Rumah yang tadinya bersih mengkilap kini sedikit berantakan. Meski sang putri pulang, tapi gadis itu begitu sibuk dengan kuliahnya sehingga tidak ada waktu untuk membantu ibunya.
"Iya, Bu. Gita turun," suara gadis cantik yang kini berjalan menuruni tangga. Hari ini Sabtu, Gita tidak ada mata kuliah. Itu artinya dia akan menghabiskan waktunya di rumah. Dengan hanya menggunakan celana pendek dan kaos oblong, Gita berjalan menghampiri sang ibu yang ada di dapur.
"Ada apa, Bu? Pagi-pagi udah teriak-teriak," tanya Gita seraya meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku karena tidurnya.
"Bantuin Ibu beres-beres rumah. Ibu capek kalau harus membersihkan rumah ini sendirian," keluh Hesti sambil mendudukkan tubuhnya di kursi. Ia barusaja membuat menu sarapan pagi untuk dirinya dan Gita.
"Nasi goreng?" Tanya Gita saat ia hanya melihat dua piring berisi nasi goreng di atas meja. Tak ada menu lain seperti saat masih ada Indah di rumah. Hesti yang mendengar pertanyaan itu langsung kesal.
__ADS_1
"Kenapa? Tak suka? Ibu sudah capek-capek masak, bukannya dimakan malah protes." Ketus Hesti seraya beranjak dari tempat duduknya. Tanpa basa-basi wanita itu segera meninggalkan meja makan tanpa menghiraukan teriakan Gita yang memintanya untuk berhenti.
"Saat masih ada Mbak Indah, Ibu selalu saja mengganggunya. Kini, disaat Mbak Indah pergi barulah Ibu merasa jika Mbak Indah yang terbaik bagi Mas Galih dan juga keluarga kita." Gumam Gita seraya melihat kepergian sang Ibu. Gadis itu tahu tentang semua yang terjadi pada sang kakak. Gita tidak menyalahkan Galih seratus persen. Tapi ia tetap menyalahkan Galih karena tidak jujur dari awal pada sang kakak ipar hingga membuat Indah memilih pergi dari rumah.
Perlahan Gita duduk dan mulai menyantap menu sarapan paginya. Sambil melihat-lihat sosial media gadis itu menikmati nasi goreng buatan ibunya. Setelah selesai, Gita beranjak dari sana dan memulai kegiatan bersih-bersih rumah.
Seharian Gita membersihkan rumah tanpa bantuan sang ibu. Ia tahu semua permasalahan yang ada di rumah dan dia memilih diam tidak mau ikut campur. Gita tahu peringai kakaknya, sekali Galih bilang tidak maka itu yang akan terjadi. Saat ini ia tengah beradaptasi dengan lingkungan universitas barunya. Mengenal teman-teman baru, serta mendapatkan relasi baru demi kelangsungan kuliahnya yang tinggal satu tahun lagi. Sebenarnya saat Galih memintanya pulang, Gita sempat menolak. Tapi setelah mendengar semua penjelasan yang dikatakan oleh Galih, akhirnya Gita mengalah. Ia kasihan kepada sang ibu yang harus berada di rumah sendirian sedangkan Galih memilih keluar dan tinggal di apartemen.
Ting
Bunyi ponsel milik Gita membuatnya berhenti bekerja saat ia tengah sibuk mengelap kaca jendela ruang tamu. Bergegas Gita meletakkan kain itu dan mengambil ponsel yang ada di dalam saku celananya.
"Apa tidak ada kata maaf untuk Ibu, Mas? Apa Mas sudah tidak peduli lagi dengan kami?" gumam Gita yang mengingat kakaknya kini menjadi dingin. Ia masih ingat bagaimana raut wajah Galih saat menjemput dirinya di Malang dua bulan lalu.
'Apa Mas tidak ada keinginan untuk datang menjenguk Ibu, Mas? Aku tahu kesalahan Ibu sangat besar. Tapi meski begitu, beliau masih ibu kandung kita, Mas.' balas Gita.
Gita sangat menyayangkan sikap ibunya saat mendengar semua permasalahan yang menimpa keluarganya. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa, Hesti merupakan sosok wanita yang sangat keras kepala dan tidak mau mendengar ucapan dari orang yang lebih muda darinya, sekalipun itu anaknya sendiri. Apa yang dianggapnya benar, maka itu yang akan ia yakini. Tidak ada yang bisa mengganggu gugat keputusannya selain jika ia menemukan kebenaran lain.
__ADS_1
'Tidak.' jawab singkat Galih.
Gita mendesah berat kala membaca satu kata itu. Ia tidak menyangka akan berada diantara kakak dan ibunya. Keduanya sama kerasnya hingga tidak ada yang bisa membujuk mereka.
Ting tong
Belum juga Gita meletakkan kembali ponselnya, ia mendengar suara bel rumahnya berbunyi. Tak mau menunggu lebih lama lagi, gadis itu segera pergi untuk melihat siapa gerangan yang datang disaat seperti ini.
"Permisi, apa benar ini kediaman Pak Galih Surya Wibawa?" tanya seorang laki-laki kepada Gita.
"Iya, benar. Ada perlu apa ya?" sahut Gita. Dari seragam yang dipakai oleh laki-laki itu, Gita bisa menebak jika dia merupakan pegawai pos Indonesia yang berwarna orange.
"Saya dari petugas Pos, Mbak. Ini ada surat untuk Pak Galih. Mohon diterima," ujar laki-laki itu seraya memberikan sebuah amplop cokelat yang ia ambil dari tasnya dan memberikan itu kepada Gita. Tanpa ragu Gita menerimanya dengan seutas senyum.
"Terimakasih, Pak." ucap Gita saat dirinya menerima surat tersebut.
"Sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu, Mbak. Mari," setelah mengatakan itu, petugas pos segera pergi meninggalkan kediaman mereka. Bersamaan dengan itu, kedua mata Gita terbelalak saat membaca asal usul surat tersebut.
__ADS_1
"Pe-pengadilan Agama?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...