Aku Atau Ibumu

Aku Atau Ibumu
AAI 85 - Cinta yang Tak Berubah


__ADS_3

AAI 85 - Cinta yang Tak berubah


Bulan demi bulan berlalu, semua kembali pada kehidupan mereka masing-masing.


Tiga kehidupan yang berbeda. Indah hidup dengan keluarga dan juga tulisannya. Galih bersama dengan pekerjaan dan kesunyiannya. Sedangkan Melinda hidup dengan pikiran kosong serta laki-laki yang telah ia lupakan namun senantiasa berada di sampingnya.


"Sampai kapan kau akan melupakanku, Mel? Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi?" Tanya Dimas kepada Melinda yang saat ini tengah berdiam diri menatap pemandangan diluar jendela kamarnya.


"Ma? Katanya mau belikan aku boneka Barbie?" Tanya Melinda sambil menengok ke arah Dimas yang saat ini berdiri di belakang kursi rodanya. Ia ingat perkataan mamanya yang kemarin berjanji akan membelikan Melinda sebuah boneka Barbie yang bisa bernyanyi.


Tes


Setetes air mata Dimas mengalir dari pelupuk matanya. Ia sangat terpukul melihat keadaan wanita yang dicintainya itu. Kehilangan jati dirinya, ingatannya, bahkan merasa asing dengan orang yang dicintainya, membuat Melinda kembali seperti ia saat masih kecil. Yang ada di kepalanya hanya papa dan mamanya seorang. Luka yang ditorehkan oleh semua orang padanya begitu merusak otaknya. Apalagi kecelakaan yang dulu ia alami bersama sang mama membuat salah satu kakinya harus diamputasi.


"Maafkan aku, Melinda. Maafkan aku. Aku yang paling banyak menorehkan luka di hati dan jiwamu sehingga membuat mu menjadi seperti ini. Ampunilah aku, Mel. Kembalilah padaku," ucap Dimas.


Air mata Dimas tumpah ruah disana. Ia memeluk tubuh wanita itu dengan eratnya. Hatinya begitu terluka, rasanya dunianya hancur berkeping-keping saat ini. Sedangkan Melinda hanya tersenyum tanpa mempedulikan Dimas yang menangis tersedu karenanya.


"Jangan menangis, Ma. Kan kata mama, yang menangis itu hanya anak kecil. Jadi jangan menangis," ucap Melinda menepuk pelan lengan Dimas yang melingkar di lehernya.


Mendengar ucapan Melinda membuat rasa bersalah Dimas semakin menjadi. Tak bisa ia bayangkan jika saja Melinda sadar dengan keadaannya saat ini. Kehilangan kaki kirinya, tak bisa berjalan, apalagi keluar seperti sedia kala.


"Kita berobat ke luar negeri saja, ya? Kita hidup berdua disana. Bagaimana? Aku berjanji akan menjagamu sampai kapanpun," bisik Dimas pada Melinda. Ia ingin pergi jauh bersama Melinda. Hanya berdua. Menjauh dari kehidupan toxic yang selama ini di sekitar mereka.

__ADS_1


Tanpa keduanya sadari, Santi memperhatikan mereka dari belakang pintu. Ia menyunggingkan senyum tipis lalu menghapus jejak air matanya yang menetes Karena mendengar setiap kata yang diucapkan oleh Dimas.


"Jika memang dia mampu membuatmu bahagia, Mama rela melepasmu, Nak. Karena hanya kebahagiaanmu lah prioritas Mama saat ini." Gumam Santi. Tak mau mengganggu keduanya, ia bergegas pergi meninggalkan kedua insan tersebut.


"Kamu mau kan, Mel?" Tanya Dimas. Ia melepas pelukannya dan berlutut di depan Melinda. Ia bisa melihat wajah cantik Melinda yang menatap kosong ke depan sana. Menatap jauh, hingga lupa dengan semuanya.


"Hm?" Hanya gumaman yang didengar Dimas dari Melinda. Dimas menghela napas, ia membutuhkan lebih banyak kesabaran untuk bisa berkomunikasi dengan Melinda.


"Tatap mataku, Mel. Jawab pertanyaan ku," titah Dimas. Perlahan Dimas mengarahkan Melinda agar mau menatapnya. Wanita itu tersenyum, meski senyumnya bukan seperti orang dewasa. Ia layaknya seperti anak kecil yang tersenyum takjub melihat wajah Dimas.


"Apa kamu mau hidup bersamaku? Kita akan pergi dari sini," tanya Dimas. Senyum Melinda memudar, kedua matanya terlihat memerah hingga akhirnya air mata itu mengalir dari sudut matanya.


"Aku tidak mau pulang. Aku mau di sini saja. Disini banyak temannya," ucap Melinda dengan sesenggukan. Dimas yang melihat itu langsung memeluk tubuh Melinda dan ikut menangis bersama. Rasanya begitu berat, melihat mental Melinda yang sudah hancur berkeping-keping. Mana bisa Dimas meninggalkan Melinda hidup sendirian di rumah sakit jiwa itu. Yang di dalamnya terdapat banyak sekali orang dengan gangguan jiwa seperti dirinya.


"Bukankah katamu aku temanmu? Kalau memang benar, teman selalu mendengarkan apa kata temannya kan?" Tanya Dimas.


"Tentu, aku adalah teman yang selalu ada untukmu." Ucap Dimas. Melinda yang terlampau senang langsung bersorak Sorai disertai dengan tepuk tangan meriah. Ia begitu bahagia memiliki seorang teman.


Semenjak Melinda dilarikan ke rumah sakit akibat Overdosis beberapa waktu lalu, Dimas senantiasa berada di sampingnya. Tak pernah sekalipun laki-laki itu pergi selain karena pekerjaannya. Sepulang dari bekerja, ia akan selalu menyempatkan waktu untuk mengunjungi Melinda yang ada di rumah sakit jiwa Mutia Bunda.


Dimas menemani Melinda bermain dengan teman sesamanya di sana. Senyum Melinda begitu tulus, layaknya seperti seorang anak kecil tanpa beban. Dimas juga sesekali berbincang-bincang dengan dokter yang menangani Melinda di sana. Meski berat, tapi masih ada harapan untuk Melinda bisa sembuh seperti sedia kala. Namun itu semua tidak mudah dilakukan. Dibutuhkan kesabaran, ketelatenan, serta medis yang sangat mumpuni untuk membantu mengembalikan semua ingatan serta menyembuhkan mentalnya.


Setelah Melinda benar-benar tertidur pulas, Dimas pun segera pergi meninggalkan kamar itu. Dengan wajah tertunduk, laki-laki itu berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Sampai-sampai ia tidak melihat keberadaan Santi yang duduk di bangku yang ada di bawah sebuah pohon besar. Layaknya seperti Dimas, Santi juga merasakan hal yang sama. Ia hanya ingin kesembuhan sang anak. Meski harus menempuh jalan berat sekalipun akan ia tempuh agar bisa mengembalikan putrinya seperti sedia kala.

__ADS_1


"Dimas?" Panggil Santi. Langkah Dimas berhenti, ia menoleh ke arah sumber suara yang memanggil namanya.


"Kemarilah. Saya ingin bicara sesuatu padamu," ucap Santi. Tak perlu pikir panjang, Dimas bergegas menghampiri Santi dan duduk di sebelahnya.


"Saya ingin bertanya padamu, Dimas." Ucap Santi.


"Ada apa, Tante?" Tanya Dimas.


"Aku perhatikan, belakangan ini kau hampir setiap hari mengunjungi Melinda." Ucap Santi. Kepala Dimas tertunduk, ia merasa sangat bersalah atas yang menimpa Melinda.


"Iya, Tante. Karena aku sangat mencintainya dan ingin berada di sampingnya selalu," sahut Dimas. Ia ingin menebus semua kesalahannya dengan selalu berada di samping melidna apapun yang terjadi. Santi menghela napas, tentu ia tahu apa yang dimaksud oleh laki-laki itu.


"Apa kau sungguh-sungguh dengan perkataanmu itu, Dimas?" Tanya Santi memastikan.


"Iya, Tante." Jawab Dimas.


"Maka dari itu jagalah dia untukku, Dimas. Hanya kau harapan Tante satu-satunya. Tante sudah semakin tua, tidak mungkin Tante akan selalu berada di sampingnya. Tadi, Tante tidak sengaja mendengar percakapan mu dengan Melinda. Tante hanya berharap jika kalian selalu bersama," ucap Santi.


"Iya, Tante. Aku juga ingin membicarakannya dengan Tante. Sebenarnya aku ingin mengajak Melinda berobat ke Singapura. Ada salah satu sahabatku yang tinggal dan bekerja disana. Tapi mungkin aku akan menikahi Melinda terlebih dahulu sebelum berangkat kesana," ucap Dimas yakin. Kali ini ia tidak ingin kehilangan cintanya, ia ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama Melinda meski keadaanya tidak seperti dulu lagi.


Santi yang mendengarnya merasa terharu sampai menitikkan air mata.


"Tante sangat bahagia mendengarnya. Tante hanya berharap kebahagiaan selalu menyelimuti kalian nanti. Tante titip anak Tante. Jagalah dia, cintai dia seperti Tante mencintainya selama ini." Ujar Santi. Dengan penuh keyakinan Dimas menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Terimakasih, Tante. Saya akan melindungi dan mencintai Melinda sampai kapanpun. Dialah wanita yang selama ini saya cintai."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2