Aku Atau Ibumu

Aku Atau Ibumu
AAI 27 Melinda berakting


__ADS_3

AAI 27 - Melinda berakting


Sebenarnya hari ini Galih ingin mengajukan cuti, tapi karena tuntutan pekerjaannya membuat ia tak bisa mengambil cuti satu hari penuh. Ia akan berangkat ke kantor setelah jam makan siang. Oleh karena itu, ia manfaatkan waktu pagi ini dengan beristirahat.


Galih bahkan enggan untuk turun kebawah sarapan. Hingga membuat Indah harus membawakan sarapan itu ke kamarnya.


"Mas?" Panggil Indah saat melihat suaminya itu berbaring dengan memejamkan mata di ranjang. Perlahan Galih membuka mata. Tapi sekelebat bayangan kejadian pagi ini kembali terlintas membuatnya memejamkan matanya lagi. Rasanya tak kuat ia untuk membuka mata sekedar memandang wajah cantik istrinya.


"Ada apa, Mas? Mas Galih sakit?" Tanya Indah yang terlihat khawatir dengan kondisi suaminya itu.


Perlahan Galih menggelengkan kepalanya. Ia tak mau semakin merasa bersalah karena membuat Indah menghawatirkan dirinya setelah apanya terjadi padanya.


"Enggak, Yang. Hanya sedikit lelah karena terlalu banyak yang dipikirkan," ucap Galih lemah.


'Memikirkan apa yang akan terjadi pada rumah tangga kita jika kau mengetahui semuanya, Ndah. Akankah kau percaya padaku dan bersedia bertahan untukku? Aku sangat takut jika aku sampai kehilanganmu, Ndah.' imbuh Galih dalam hati.


"Jangan bekerja terlalu keras, Mas. Lebih penting kesehatanmu. Sini, aku akan memijat kepalamu." Ucap Indah dengan senyumannya. Galih memindahkan kepalanya hingga berada di pangkuan sang istri.


Dengan telaten Indah memijat kepala Galih agar bisa mengurangi rasa sakitnya. Galih sampai memejamkan matanya merasakan sentuhan tangan lembut itu. Hingga tanpa disadari, Galih tertidur. Indah tersenyum tipis melihat itu.


"Bagaimana, Mel? Apa kau berhasil melakukannya dengan Galih?" Tanya Hesti pada Melinda. Saat ini dia tengah berada di dalam kamarnya setelah sarapan. Karena penasaran membuat Hesti langsung menghubungi wanita itu.


"Beres, Tante. Lihatlah," ucap Melinda seraya menyertakan sebuah foto berisi seprai yang terdapat noda kemerahan.


Hesti yang melihat itu seketika langsung berbinar.


'Aku tak salah memilih menantu. Melinda masih suci dan Galih harus bersedia mempertanggung jawabkan perbuatannya jika sampai Melinda hamil. Dan aku sangat berharap jika itu terjadi,' batin Hesti yang kegirangan melihat foto itu. Dia tidak salah memilih wanita. Ia sangat mengenal Melinda begitu juga dengan keluarganya. Bahkan Hesti menganggap keluarga Melinda merupakan keluarganya dan miliknya.


"Galih benar-benar beruntung mendapatkan wanita suci seperti dirimu, Mel. Tante sangat berterimakasih karena kau telah memberikannya kepada Galih," ucap Hesti pada Melinda.


"Karena aku mencintai Mas Galih, Tante. Makanya aku bersedia memberikan diriku ini. Tapi sepertinya Mas Galih tidak menginginkanku, Tante. Hiks," suara bergetar Melinda hingga suara tangis mulai terdengar di telinga Hesti kala mengatakan itu. Hesti langsung khawatir dengan kondisi wanita tersebut.

__ADS_1


"Kamu kenapa, Mel? Apa yang sudah Galih lakukan padamu? Beritahu Tante, Tante akan memberikan keadilan untukmu." Ucap Hesti yang berusaha menenangkan hati Melinda. Ia khawatir jika putranya itu melampiaskan amarahnya pada Melinda karena kejadian itu.


"Mas Galih menolak jika aku sampai hamil, Tante. Lalu kemana aku meminta pertanggung jawaban jika Mas Galih tidak bersedia, Tan? Apalagi semalam Mas Galih beberapa kali melakukannya padaku," ucap Melinda.


Hesti merasa sangat senang karena Galih yang melakukan itu pada Melinda. Tapi satu pertanyaan terlintas di benak Hesti.


"Tapi bagaimana bisa, Mel? Apa dia tidak menyadari jika yang ada di sampingnya itu kamu bukannya Indah?" Tanya Hesti penasaran. Melinda tak langsung menjawab, hening sejenak.


"I-itu, Tante. Kemarin aku sengaja mematikan lampu kamar saat tidur dan Mas Galih langsung melakukannya tanpa menyalakan lampu terlebih dulu." Ucap Melinda. Hesti hanya manggut-manggut saja mendengarnya. Ia tersenyum menyeringai sambil memikirkan berbagai rencana yang akan ia lakukan pada Galih dan Melinda.


"Beruntung kamu sempat mengabadikannya, Mel. Itu yang akan menjadi senjata kita untuk menekan Galih agar mau menikahmu nanti. Tante juga akan mencari cara agar bisa memisahkan kedua orang itu secepatnya." Janji Hesti pada Melinda. Semangatnya kian berkobar untuk bisa memisahkan Galih dan Indah.


"Iya, Tante. Aku tak ingin menanggung malu karena hamil diluar nikah," ucap Melinda masih dengan suaranya yang serak karena tangisnya.


"Tidak, apa pun yang terjadi kau akan menikah dengan Galih. Tante janji padamu, Mel. Yasudah, kamu istirahatlah. Tante yakin kamu pasti sangat kelelahan semalam." Ucap Hesti.


"Iya, Tante. Terimakasih, karena sudah berpihak padaku, Tante." Ujar Melinda.


"Baik, Bu." Setelah mengatakan itu, Melinda mengakhiri panggilan tersebut. Setelah mengobrol dengan Melinda dan menanyakan keadaannya, Hesti berganti menelepon sang adik. Ia harus mendiskusikan semua padanya. Ia harus menyusun rencana lain untuk menyatukan Galih dengan Melinda. Disaat Hesti tengah berbicara serius dengan Kartika, berbeda dengan Melinda. Wanita itu langsung tertawa terbahak-bahak karena aktingnya mampu membuat Hesti percaya padanya.


Ha ha ha


"Begitu mudah wanita tua itu kubohongi. Jangankan melakukan itu, miliknya saja tidak bangun. Dasar bo doh, mau saja dibohongi." Ucap Melinda yang saat ini tengah berada di apartemennya. Sepeninggal Galih tadi, Melinda pun ikut keluar dan check out dari sana.


"Dengan bantuan dari Tante Hesti, aku pasti bisa mendapatkan nya. Lagipula aku takut jika nanti aku benar-benar hamil karena Dimas yang selalu memuntahkan semuanya didalam sana. Padahal aku sudah berulangkali melarangnya, tapi ia seakan tak peduli dan terus menghajar ku tanpa ampun." Tambah Melinda seraya menghempaskan tubuhnya di ranjang empuknya. Tubuhnya memang merasa kelelahan akibat aktivitas se ksnya. Tapi bukan dengan Galih, melainkan dengan kekasihnya - Dimas Seloaji.


Satu bulan kemudian


Oek


Oek

__ADS_1


Oek


Suara perempuan yang tengah muntah terdengar begitu nyaring. Tak lama kemudian pintu kamar mandi itu terbuka, menampilkan sosok wanita dengan wajahnya yang sudah terlihat sangat pucat.


Drrrt


Drrrt


Drrrt


Benda pipih yang tergeletak di atas meja kamarnya terus berdering sejak beberapa menit yang lalu. Dengan langkah pelan, wanita itu berjalan menghampiri meja tersebut dengan memegang perut ratanya.


"Halo?" Ujarnya dengan suara lirih. Tangan kirinya berpegangan pada pinggiran meja itu agar bisa membantu dirinya yang tengah merasa sakit di kepala dan perutnya.


"Halo? Kamu dimana, Nak? Tumben jam segini belum ke restoran. Papa sekarang lagi ada di sini," ujar laki-laki yang merupakan ayah dari perempuan itu.


"Maaf, Pa. Sepertinya Meli tidak bisa ke resto hari ini. Badanku terasa tidak nyaman pagi ini," ucap perempuan yang tidak lain adalah Melinda. Sejak pagi tadi ia bolak-balik kamar mandi karena merasakan mual yang sangat hebat di perut dan pusing di kepalanya.


"Kamu sakit, Sayang? Apa perlu Papa kesana jemput kamu? Kita bisa ke rumah sakit sekarang juga," ucap sang papa yang terdengar sangat khawatir mendengar ucapan dari sang putri. Melinda seketika merasa tidak tenang mendengarnya.


"Ti-tidak usah, Pa. Aku sudah minum obat tadi. Hanya perlu istirahat sebentar saja kok. Papa gak usah khawatir, Ok?" Ucap Melinda agar papanya bisa tenang. Selain itu, ia juga takut kalau papanya itu tahu akan kebenarannya.


"Benarkah? Apa perlu Papa panggilkan dokter keluarga untuk memeriksanya di apartemen? Sekarang kamu masih di apartemen mu kan? Bagaimana kalau kamu pulang saja ke rumah, hm? Biar mama yang nanti menjagamu," tawar Agus Dewanto yang tidak lain adalah ayah Melinda.


"Tidak-tidak, Papa. Percaya sama aku, ok? I'm fine, dan aku akan ke restoran sore ini. Mungkin karena aku kelelahan saja, Pa." Sahut Melinda.


"Kau memang keras kepala, Mel. Yasudah kalau begitu, beristirahatlah sekarang. Telepon papa kalau kamu perlu bantuan. Oke?" Ujar Agus.


"Iya, Pa. Bye, Pa." Setelah mendengar sahutan dari sang papa, Melinda akhirnya menutup sambungan telepon itu.


"Aku harus mengeceknya, iya. Aku harus mengeceknya,"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2