
AAI 50 - Murkanya Doni
Doni dan Ratih tertegun. Untuk pertama kali putrinya bersikap sekasar itu. Ia memegang lengan sang suami, meminta kekuatan padanya.
"A-apa yang kau bicarakan, Nak? Dia itu Galih, suamimu. Apa kau mengalami benturan di kepalamu?" Tanya Ratih pada Indah. Ia memindai seluruh tubuh sang putri dengan khawatir. Ia takut jika Indah mengalami hilang ingatan karena telah bersikap kasar pada Galih. Doni yang melihat kejanggalan pada sang putri hanya diam. Ia masih ingin memahami apa yang tengah terjadi di depan matanya.
Sedangkan Galih? Laki-laki itu hanya terdiam membeku di tempatnya. Namun pancaran kedua matanya sarat akan bersalahnya pada sang istri. Kedua matanya sudah berkaca-kaca melihat Indah yang saat ini malah menatapnya dengan tatapan sengit. Tak ada lagi Indah yang melihatnya dengan tatapan cinta, yang ada hanya kebencian terhadap nya.
'Apa tidak ada cinta lagi untukku, Indah? Tidak bisakah kau memahami keadaanku dan memaafkan kesalahanku ini? Aku sangat mencintaimu,' batin Galih seraya melayangkan tatapan mengiba pada Indah.
'Meski masih ada cinta untukmu, tapi kau sudah menduakannya. Aku mampu menahan semua luka yang ditorehkan oleh semua keluargamu tapi tidak dengan penghianatan ini. Aku butuh waktu untuk memaafkan mu, tapi aku tidak akan pernah lupa dengan luka ini.' suara hati Indah. Dengan sekaut tenaga ia menahan laju air matanya yang sudah ingin mengalir. Ia tidak ingin terlihat lemah dan terpuruk di hadapan ibu mertuanya.
"Ya, dia memang masih suamiku, Bu. Tapi setelah ini aku akan mengajukan permohonan cerai di pengadilan agama," ujar Indah. Tak ada gemetar dalam ucapannya, ia begitu yakin akan keputusannya.
Doni dan Ratih sangat terkejut. Keduanya sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi sejekap itu. Mereka syok ketika mendengar kalimat yang tidak pernah mereka ingin dengar seumur hidup mereka.
"A-apa yang ka-kamu katakan, Indah? A-apa maksudmu?" Ratih sampai tergagap mengutarakan pertanyaannya.
"Iya, Indah. Apa yang kau katakan? Jangan pernah main-main dengan kata-kata itu, Nak. Gusti Allah sangat membenci perceraian," imbuh Doni mengingatkan. Selama sang putri menikah, dirinya tidak pernah sekalipun mendengar rumah tangga mereka terkena badai. Tapi kenapa saat ini Indah justru mengucapkan kata-kata itu?
__ADS_1
"TAPI AKU TIDAK SUDI DIMADU, AYAH!" teriak Indah bersamaan dengan kedua matanya yang sudah menganak sungai. Ia tidak akan mampu menahannya, saat inilah titik terendah baginya selama hidup. Meski ia sakit mendengar begitu banyak hinaan untuk dirinya, tapi kali ini sakitnya berlipat-lipat ganda. Hingga membuat Indah merasa sesak napas.
"APA?"
"Iya, Ayah. Menantu yang Ayah sayangi itu telah menikahi wanita lain karena sedang mengandung anaknya." Ujar Indah bernada getir. Ia merasakan kegetiran pada takdir hidupnya. Pernikahan yang ia impikan dan banggakan kini telah hancur berantakan. Layaknya sebuah kertas putih yang telah ternodai oleh tinta berwarna hitam. Tidak akan bisa terhapus kan.
"Me-menikah lagi? A-anak?" Tubuh Ratih gemetaran. Ia tidak siap untuk mendengar kenyataan yang telah dialami oleh sang buah hati. Pikirannya kosong, tak lagi bisa berpikir apa-apa.
"Dia jugalah yang telah membunuh anakku, Ibu. Dia yang telah membunuhnya," imbuh Indah dengan suaranya yang telah berubah serak. Sedetik kemudian terdengar Isak tangisnya. Tangis kekecewaan akan hancurnya mahligai cinta mereka karena kehadiran wanita lain.
"BAJI NGAN!"
Doni berjalan tergesa menghampiri Galih. Setibanya di depan wajah sang menantu, laki-laki itu langsung menerjangnya. Pukulan demi pukulan dilayangkan oleh Doni pada Galih. Tak ada perlawanan, Galih menerima semua itu karena kesalahannya sendiri.
Sedangkan Hesti dan dokter yang tadi? Mereka hanya bisa melihat saja dari tempat mereka berdiri. Galih mencegah saat sang ibu ingin mendekatinya. Ia tidak ingin dibela, Galih akan menerima semua hukuman yang diberikan oleh Doni padanya.
"Aku pernah bilang apa padamu dulu, Galih? Apa kau sudah melupakannya? Aku menyerahkan putriku padamu karena janjimu yang tak akan pernah melukai hatinya. Bagiku air matanya adalah cambuk bagiku. Dan kini lihatlah, kau tidak hanya menyakiti putriku tapi juga belahan jiwaku. Kau tahu rasanya, Galih? Tentu tidak, karena jika kau bisa merasakannya, kau tidak akan pernah membuatnya menangis." Tegas Doni sambil telunjuknya mengarah pada Galih yang kini sudah terkapar di lantai rumah sakit. Sebenarnya ia belum puas, tapi ini bukan saatnya untuk meluapkan kemarahannya. Selain tempat, ia tidak ingin kedua budadarinya itu melihat bagaimana ia menangani Galih.
"Ma-maafkan aku, Ayah. Tapi percayalah, a-aku sangat mencintai Indah." Ujar Galih lemah. Perih di kedua sudut bibirnya akibat pukulan bertubi dari sang ayah mertua tidak membuatnya bisa merasa kesakitan. Justru melihat Indah menangis itu mampu membuat hatinya seakan dihujani ribuan belati.
__ADS_1
"Tidak, Galih. Karena jika kau memang mencintai Indah, maka kau tidak akan dengan mudahnya menikahi wanita lain. Dengarkan aku baik-baik, Galih," ucap Doni terjeda. Ia berjongkok di depan Galih yang saat ini tengkurap tepat di depan sepatunya.
"Jangan pernah kau menyebut nama putriku dengan mulut busukmu itu. Aku akan segera menghubungi pengacaraku untuk bisa mulai memproses perceraian kalian, seperti yang diinginkan oleh putriku." Lanjut Doni dengan tatapan matanya penuh amarah.
Galih terkejut. Ia mendongak seraya memegang kaki Doni. Ia tidak mampu untuk melepaskan cinta pertamanya itu. Ia rela jika harus mendapatkan hukuman yang lebih besar dari Doni tapi tidak dengan perpisahan mereka.
"Ti-tidak, Ayah. Aku mohon jangan pisahkan aku dengan istriku. Aku sangat mencintainya, Ayah." Galih mengiba. Kedua matanya sudah berlinangan air mata. Bahkan pelipisnya mengeluarkan darah tidak ia hiraukan. Yang ada di pikirannya saat ini adalah sang istri. Ia ingin memperjuangkannya.
Bugh
Suara pukulan dan tendangan kembali terdengar. Doni begitu geram hingga membuatnya kembali meluapkan amarahnya dengan menyerang tubuh tak berdaya Galih. Hingga dokter yang tidak bisa menahan dirinya lagi langsung melerai Doni dari Galih. Dengan dibantu perawat dan ibu Galih, dokter itu berhasil memisahkan keduanya.
Sedangkan Indah semakin mengeratkan pelukannya pada sang ibu. Ia menumpahkan semua air matanya yang sudah ia tahan selama hidup bersama dengan Galih. Sakit, saking sakitnya hingga membuat Indah merasa seperti dicekik. Ia tidak bisa bernapas lega seperti biasanya.
"Tenangkan diri Bapak, ini rumah sakit Pak. Anda bisa di tuntut," ujar dokter laki-laki itu seraya memegangi kedua bahu Doni.
"Jika dia melaporkan saya, maka saya juga bisa melaporkannya, Dok. Bahkan pukulan saya tidak sebanding dengan air mata yang sudah mengalir dari mata istri dan anak saya. Sebagai seorang Ayah saya berhak memperjuangkan putri saya." Desis Doni tanpa rasa takut. Sebagai orang yang paham dunia politik tentu ia tak kenal takut. Ia akan berada di garda depan melindungi seluruh keluarganya dari siapa saja yang berusaha mengusiknya.
"Bawa dia pergi dari sini, Dokter. Saya tidak sudi melihatnya lagi," ujar Doni pada dokter itu. Lalu pandangannya berlaih pada Galih yang tengah dibantu berdiri oleh ibu dan perawat.
__ADS_1
"Dan kau, Galih. Aku peringatkan bagimu untuk tidak menemui putriku lagi. Sebagai seorang Ayah aku tidak akan pernah membiarkan siapapun termasuk dirimu melukai perasaannya. Jika kau berani melakukan hal itu, maka aku akan menghabisi mu,"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...