
AAI 42 - Berbeda arah
Semenjak kejadian hari itu, hubungan antara Galih dan Indah menjadi sedikit merenggang. Lebih tepatnya Indah yang mulai berubah. Ia terlihat menjadi lebih pendiam dari biasanya. Meski berulangkali Galih meminta maaf padanya, namun nyatanya Indah hanya mengiyakan permintaan maaf itu dibibir nya saja.
Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Indah masih merasakan hal lain yang tak ia ketahui. Ia merasakan ada hal lain yang tengah terjadi pada dirinya namun ia tidak menyadarinya.
Seminggu sudah berlalu. Hari ini adalah hari Sabtu, hari dimana Galih tidak memiliki pekerjaan yang mengharuskan dirinya masuk ke kantor. Namun tidak, sepertinya hari ini pengecualian. Ponselnya berdering dikala ia tengah sarapan bersama istri dan juga ibunya.
Tring
Tring
Tring
Tak ada niatan Galih untuk mengangkat panggilan itu. Indah yang duduk di sebelahnya tampak melirik dari sudut matanya.
'X? Siapa dia? Kenapa Mas Galih seakan enggan untuk mengangkat panggilan nya?' tanya Indah dalam hati. Meski dirinya tetap menyendokkan nasi ke dalam mulutnya, nyatanya pikirannya melayang jauh memikirkan siapa gerangan yang tengah berusaha menghubungi nomor suaminya.
"Siapa sih, Galih? Angkatlah dulu. Suara teleponnya mengganggu makan Ibu," gerutu Hesti yang merasa kesal dengan suara dering telepon milik Galih. Dengan cepat Galih memutus sambungan itu tanpa mau mengangkatnya terlebih dahulu. Tentu itu menimbulkan berbagai spekulasi yang bermacam-macam di benak Indah. Namun wanita itu hanya bisa diam sambil terus memperhatikan sang suami dari sudut matanya.
Ting
Sebuah pesan masuk ke dalam nomor Galih. Mau tak mau Galih pun harus membukanya, barangkali itu pesan penting dari kantornya.
__ADS_1
Brak
Saking terkejutnya Galih saat membaca pesan itu, membuatnya tanpa sadar bangkit dan mendorong kursinya dengan keras hingga membuatnya terguling ke belakang.
"Kenapa, Galih? Kau mau membuat Ibu jantungan, iya? Astaga," keluh Hesti dengan kesal seraya memegang dadanya. Ia begitu terkejut dengan kelakuan putranya pagi ini.
Begitu pula dengan Indah. Wanita itu sampai menatap lekat ke arah manik mata Galih, seakan mempertanyakan apa yang tengah terjadi hingga membuat laki-laki itu bersikap seperti itu.
"Maafkan aku, Bu. Maafkan aku, Sayang. A-aku, a-aku mendapat pesan dari kantor. Dan aku harus kesana sekarang, ada pekerjaan yang membutuhkanku." Ujar Galih lalu laki-laki itu pergi meninggalkan tempat ruang makan. Indah bisa melihat langkah tergesa Galih yang menuju ke lantai atas. Indah hanya diam, memikirkan pesan apa yang diterima oleh Galih pagi ini.
'Kenapa tingkah Mas Galih semakin berubah? Sepertinya aku harus mengikutinya,' ujar Indah dalam hati.
"Aku ke atas dulu, Bu." Ujar Indah. Hesti yang mendengarnya tampak acuh lalu melanjutkan kembali sarapannya.
Dengan kedua tangan yang saling bertautan, wanita itu terus menyuruh sang sopir taksi untuk mengikuti mobil Galih.
Sedangkan Galih? Di dalam mobil ia sudah menahan emosinya dengan mencengkeram kuat setir mobil itu hingga buku-buku jarinya berubah memutih. Ia masih teringat jelas sebuah pesan yang membuatnya naik darah tadi.
Dari : X
Mas, aku ingin makan bubur kacang hijau yang ada di dekat lapangan tenis. Belikan sekarang, ya? Kalau tidak, aku akan menghubungi Indah dan memintanya untuk membuatkan bubur itu untuk aku dan bayi kita.
"Lama-lama wanita itu semakin kurang a jar. Dia mengabaikan ucapanku," geram Galih. Padahal ia sudah mengancam Melinda untuk tidak menghubungi dirinya, tapi wanita itu tidak menurut. Ia selalu berusaha membuat Galih agar mau datang ke rumahnya dengan dalih acara nyidamnya.
__ADS_1
Saking fokusnya Galih pada Melinda, membuat dirinya tidak sadar bahwa sang istri tengah mengikutinya dari belakang. Tak lupa Galih membeli sebungkus bubur permintaan Melinda di pinggir jalan dekat pintu masuk lapangan tenis yang ada di dekat rumahnya.
"Mas Galih beli bubur? Tapi untuk siapa? Bukannya Mas Galih alergi sama kacang hijau ya? Apa mungkin buat temannya di kantor?" Tanya Indah. Ia menghentikan taksinya tak jauh dari tempat Galih berhenti. Ia terus menatap lekat setiap gerak gerik sang suami yang saat ini tengah membeli bubur kacang hijau khas Madura.
"Terimakasih, Pak." Ucap Galih seraya memberikan selembar uang dua puluh ribuan untuk Abang penjual bubur itu.
"Ini kembaliannya, Mas." Balas penjual bubur seraya memberikan selembar uang sepuluh ribuan pada Galih. Laki-laki itu hanya menganggukkan kepala sambil menerima kembali yang kembaliannya.
Kedua mata Indah tak lepas barang sedetikpun dari Galih. Ia benar-benar memperhatikan semua yang dilakukan oleh sang suami di luaran sana. Feeling-nya hari ini entah mengapa menyuruhnya untuk mengikuti sang suami. Padahal tidak biasanya ia mencurigai Galih seperti hari ini. Tapi itu semua tak lepas karena tingkah sang suami yang belakangan ini mulai berubah padanya.
"Maafkan aku, Mas. Tapi aku hanya ingin tahu apa yang kau lakukan hari ini. Bukan maksud ku untuk memata-matai mu, tapi entah mengapa naluriku sekaan menuntunku untuk mengikutinya." Gumam Indah. Detak jantungnya saat ini bahkan berdetak lebih kencang dari biasanya. Disaat ia melihat mobil sang suami mulai bergerak kembali, Indah pun dengan cepat menyuruh sang sopir untuk mengikutinya lagi.
"Jalan, Pak. Ikuti terus mobil hitam itu," titah Indah.
"Baik, Bu." Sahut sang sopir taksi seraya mulai menjalankan mobilnya. Ia mengikuti arahan dari Indah untuk menjaga jarak dari mobil Galih agar tidak diketahui olehnya. Indah semakin bingung saat menyadari jalan yang diambil oleh Galih berbeda dengan jalan yang seharusnya menuju ke kantornya.
"Kenapa Mas Galih belom ke kiri? Bukannya seharusnya masih lurus ke depan ya? Mau kemana dia?" Gumam Indah. Ia pun kembali menyuruh sopir taksi untuk terus mengikuti mobil sang suami. Pikiran Indah semakin tak menentu, dirinya diliputi oleh rasa deg-degan yang semakin lama semakin meninggi. Hingga puncaknya saat melihat mobil hitam milik Galih masuk ke dalam sebuah pelataran rumah minimalis yang ada di deretan perumahan yang ada di kota tersebut.
Deg
Detak jantung Indah seakan tertahan, tak berdetak saat dirinya melihat dengan kedua matanya sendiri akan apa yang telah terjadi di teras rumah berwarna putih itu.
"Me-melinda?"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...