Aku Atau Ibumu

Aku Atau Ibumu
AAI 63 - Tercyduk Mertua


__ADS_3

AAI 63 - Tercyduk Mertua


"Aku sudah tidak tahan, Baby."


"Bagaimana dengan mainan barumu, Dimas? Lagi pula aku sedang hamil," ucap Melinda. Ia ingin memancing Dimas meski ia tahu laki-laki itu tidak akan mempedulikan hal lain jika ia sudah dalam kondisi on fire.


"Perse tan," desis Dimas.


Tanpa basa-basi laki-laki itu langsung menggendong tubuh berisi Melinda dan membawanya memasuki kamar khusus tamu yang ada di sebelah ruang tamu.


Kedua insan itu kembali menikmati gelora asmara seperti apa yang telah mereka lakukan selama beberapa tahun terakhir. Saling memuja, meneriakkan nama, meski napas seakan ingin terputus dari tubuh mereka tidak membuat keduanya peduli. Gai rah lama, pasangan lama melebur jadi satu menjadi kesatuan panas sepasang insan manusia yang seharusnya tidak boleh terjadi.


"Meski hamil, kau masih sangat nikmat, Baby." Desis Dimas seraya mempercepat ritme permainannya. Melinda tersenyum tipis mendengar pujian lama yang sudah tak ia dengar lagi.


"Tentu. Asal kau tahu, bercin ta dengan wanita hamil dapat membuatmu semakin terbakar gai rah. Itu karena naf suku berkali-kali lipat lebih besar dari sebelum hamil. Maka dari itu, terima semua gai rah milikku ini." Desis Melinda tepat di depan wajah tampan Dimas yang saat ini berada di atasnya.


Ia pun mendorong tubuh Dimas dan mulai mengambil alih kendali. Dimas semakin dibuat belingsatan menikmati apa yang diberikan oleh Melinda. Tak bisa dipungkiri, apa yang dikatakan oleh Melinda memang benar adanya.


'Ah, si Al. Ini benar-benar sangat nikmat. Oh, Tuhan.' batin Dimas.


Kedua manusia itu terus berpacu dalam melodi asmara yang tengah bergelora di siang ini. Pendingin ruangan tak lagi bekerja meski sudah di setel sedingin mungkin. Itu karena panasnya suhu ruangan terkalahkan oleh panasnya api nas Fu kedua orang yang saat ini tengah berpesta di atas ranjang besar itu.


Meninggalkan sepasang manusia yang tengah dimabuk gai rah, kini beralih pada seorang wanita yang saat ini tengah menata kotak makanan di dapur miliknya.


"Mana pudingnya, Gita? Cepatlah sedikit," ucap Hesti pada Gita yang saat ini tengah membantunya menata makanan yang akan ia bawa ke rumah sang menantu.


"Ini, Bu." Ujar Gita seraya menyodorkan tempat makan yang sudah berisi puding cokelat yang akan diberikan pada Melinda. Hesti menerimanya, lalu ia langsung menata-nata semua itu ke dalam sebuah paper bag.

__ADS_1


"Oh ya, buahnya, Bu?" Tanya Gita.


"Gak usah, Ibu akan beli di toko buah nanti." Sahut Hesti seraya berjalan menuju wastafel setelah menurut dirinya semua telah selesai. Gita hanya menganggukkan kepala.


Sejak pagi ia sudah berkutat di dapur demi memasakkan makanan untuk diberikan kepada Melida yang sedang mengandung.


Setelah selesai, Hesti segera menuju kamarnya untuk bersiap diri. Tak lupa ia membawa beberapa buah paperbag yang berisi pakaian kecil untuk calon cucunya. Kemarin ia sengaja ke mall untuk berbelanja kebutuhan si jabang bayi. Dengan riang gembira, Hesti membelikan semua perlengkapan bayi dengan harga yang tak murah. Ia sangat menantikan kelahiran sang pewaris keluarganya dengan suka cita. Bahkan ia juga sudah memesan beberapa pernak pernik bayi yang nantinya di tempatkan di kamar si jabang bayi tersebut.


Sedangkan Gita langsung membereskan semua peralatan masak yang sedari tadi ia gunakan. Dengan telaten Gita mencuci piring, panci, dan beberapa alat penggorengan lain yang sudah kotor karena kegiatan masaknya.


"Oh, astaga. Aku sudah tidak sabar menanti kelahiranmu, Cucuku." Ucap Hesti seraya memeluk salah satu paperbag berisis pakaian cucunya. Ia dengan senang bergantian memeluk paper bag itu.


Karena waktu sudah menunjukkan semakin siang, Hesti bergegas keluar kamar setelah memastikan penampilan nya sudah baik.


"Git, Ibu pergi dulu. Jaga rumah," ujar Hesti setibanya di dapur. Ia mengambil paperbag itu dan membawanya bersama paperbag lain yang diperuntukkan untuk calon cucunya.


"Iya, Bu. Hati-hati di jalan," sahut Gita.


"Melinda pasti sangat suka. Jagoan nenek pasti akan suka dengan baju yang di beli neneknya," gumam Hesti sendiri. Moodnya sedang sangat baik, oleh karena itu beberapa hari belakangan ini Gita merasa aman. Sang ibu tak lagi mengamuk dan melampiaskan amarahnya kepada dirinya.


Mobil taksi itu berhenti di depan alamat rumah Melinda. Saat turun kening Hesti berkerut saat melihat sebuah mobil yang terparkir di halaman rumah itu.


"Mobil siapa ini?" Gumam Hesti. Tanpa pikir aneh-aneh, wanita itu segera turun dari taksi dan menuju ke rumah Melinda dengan kedua tangannya penuh paperbag untuk menantu dan calon cucunya.


Karena sudah terbiasa datang, Hesti pun segera membuka pintu utama itu tanpa memencet bel terlebih dahulu. Hesti mulai merasa aneh saat melihat televusi di ruang tamu tetap menyala tapi tak ada seorangpun yang menontonnya.


"Kemana Melinda? Apa dia sedang ke kamar mandi?" Gumam Hesti. Ia pun meletakkan semua paperbag nya di sofa. Lalu ia berjalan menuju arah tangga rumah. Namun, belum juga kakinya melangkah, kedua telinganya mendengar suara aneh yang berasal tak jauh dari tempatnya berdiri.

__ADS_1


"Suara apa itu?" Gumam Hesti. Wanita itu berbalik, dengan perlahan ia berjalan menuju arah sumber suara yang didengarnya itu.


Kedua tangan Hesti mengepal kuat saat telinganya mendengar suara-suara jahanam yang ia yakini berasal dari kamar tamu yang ada di sebelah ruang tamu itu.


"Apa Galih datang ke sini? Ah, akhirnya anak itu sadar juga dengan hak dan kewajibannya." Gumam Hesti yang mengira jika laki-laki yang bersama dengan Melinda itu adalah Galih. Hesti geleng-geleng kepala menyadari pasangan mes sum yang ada di dalam kamar itu. Namun kepalanya seakan dihantam batu laut yang sangat besar kala kedua telinganya mendengar nama yang di gaungkan oleh Melinda di dalam kamar itu.


"Ayo, Dimas. Lebih kuat lagi,"


"Si Al. Terima ini, Baby."


Sorot mata Hesti berubah. Kedua matanya memancarkan api amarah yang mampu menghanguskan siapa saja yang ada di depannya. Ia tidak menyangka jika wanita yang ia gadang sebagai menantu idamannya itu tengah bertindak asusila dengan laki-laki yang bukan miliknya.


"Kurang a jar. Berani-beraninya mereka," desis Hesti.


Wanita itu melangkah cepat menuju pintu kamar tamu yang ada di sana. Dengan menghirup dalam-dalam napas panjang, Hesti membuka langsung pintu kamar tersebut.


Brak


Dua manusia yang tengah mengadu kasih itu terkejut dan langsung menutupi tubuh mereka masing-masing dengan selimut tebal. Sang wanita dan laki-laki itu tampak ketakutan saat melihat kemarahan yang ada di wajah Hesti saat ini.


"Bang sat. Berani-beraninya kalian berbuat seperti itu di sini, HAH? BERANINYA," Teriak Hesti sangat menggema di dalam kamar tersebut. Tubuh Melinda sampai terlonjak kaget mendengar teriakan yang menakutkan dari ibu mertuanya itu.


"I-ibu?" Cicit Melinda. Ia sungguh syok melihat kedatangan sang ibu mertua tiba-tiba tanpa pemberitahuan. Biasanya Hesti akan mengirim pesan padanya jika akan datang. Tapi hari ini tidak, membuat Melinda seakan kehilangan nyawa sekarang ini.


"BERANINYA, KAU..."


Brukk

__ADS_1


Belum sempat Hesti menyelesaikan ucapannya, tubuhnya limbung dan jatuh pingsan. Melinda dan Dimas sontak dibuat panik. Mereka pun langsung berpakaian dan membawa tubuh Hesti ke rumah sakit untuk di periksa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2