Aku Atau Ibumu

Aku Atau Ibumu
AAI 80 - Overdosis


__ADS_3

AAI 80 - Overdosis


Setelah urusannya selesai, Galih bergegas meninggalkan kediaman keluarga Melinda. Kini langkahnya menjadi seringan kapas tanpa sadar senyumnya mengembang.


'Alhamdulillah, terimakasih Ya Allah. Engkau telah lancarkan urusanku hari ini. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk kehidupan baruku.' doa Galih dalam hati. Laki-laki itu mulai menjalankan mobilnya meninggalkan tempat yang tidak akan ia datangi lagi.


Disaat Galih lega dengan status dudanya, lain halnya dengan Melinda. Wanita itu kini terlihat seperti orang yang kesetanan. Setelah kepergian Galih, Melinda masuk ke dalam kamar dan mengunci diri. Di dalam kamar ia menangis, meraung, serta melempar semua barang miliknya yang ada di sana.


Prang


Prang


Prang


Bunyi pecahan kaca bersahutan dari dalam kamar Melinda. Santi yang kebetulan lewat di depan pintu kamar Melinda sampai terkejut dibuatnya.


Prang


Prang


"Astagfirullah,"


Tok


Tok


Tok


"Mel? Melinda? Mel? Apa yang terjadi, Mel? Mel? Kau dengar suara Mama, Nak?" Teriak Santi seraya terus menggedor pintu kamar sang anak. Ia begitu khawatir dengan kondisi kesehatan Melinda. Apalagi ia barusaja keluar dari rumah sakit, dan keadaannya belum pulih total.


Santi bisa mendengar jelas raungan dan tangisan sang anak bersahutan dengan suara pecahan dari barang-barang yang dilemparkan oleh Melinda. Ia sangat tahu betul bagaimana tabiat Melinda jika ia tengah marah. Semua barang tak luput jadi amukannya.


Tok

__ADS_1


Tok


Tok


"Mel? Buka pintunya, Mel. Mel? Mama mohon, buka pintunya. Mel?" Pekik Santi dengan air mata yang mulai membanjiri kedua pipinya. Tak lama kemudian datanglah Agus yang barusaja selesai mandi di kamar tamu. Setelah pertengkaran hebatnya dengan Santi, ia tidur di kamar tamu. Itupun karena suruhan dari wanita yang masih menjadi istrinya itu.


"Ada apa ini, Santi? Kenapa berisik sekali?Melinda kenapa?" Tanya Agus.


"Santi sedang mengamuk di dalam sana, Mas." Jawab Santi tanpa menoleh ke arah suaminya.


"Mel? Mama mohon, cukup Mel. Buka pintunya, oke?" Teriak Santi.


"Apa? Melinda? Buka pintunya, Sayang. Jangan begini, bicarakan semuanya dengan kami. Ayo, buka pintunya." Imbuh Agus yang juga berteriak sekencang-kencangnya agar terdengar oleh Melinda di dalam sana.


Di dalam kamar Melinda belum berhenti. Ia masih melemparkan segala benda yang terlihat di kedua matanya. Ranjang, bantal, selimut kini telah berhamburan tak beraturan. Bulu-bulu bantal sampai bertaburan di lantai, bersamaan dengan berbagai macam pecahan kaca yang berasal dari botol-botol kaca parfum milik Melinda. Ia begitu marah, kesal dengan takdir yang menimpanya. Semua sudah ia lakukan, tapi pada akhirnya ia tidak mendapatkan apa-apa.


"Kenapa, Tuhan? Apakah ini balasan yang harus kuterima, hah? Apa kesalahanku? Apa aku salah mengharapkan cinta dari laki-laki baik seperti Galih? Hah? Kalau aku salah, lalu aku bisa apa jika kini hatiku tertuju hanya padanya." Teriak Melinda kepada Tuhan di atas sana. Riasannya pudar, seperti kepercayaan dirinya yang kian terkikis karena gunjingan yang ia terima dari orang-orang di sekitarnya.


"Bukankah kau tidak tidur, hah? Dulu aku mencintai laki-laki bernama Dimas. Aku begitu mencintainya dengan tulus. Tapi apa yang aku dapatkan? Kesetiaanku dihancurkan oleh seseorang yang memiliki kuasa penuh atas dirinya. Aku dijebak, dilecehkan, difitnah oleh ibunya sendiri karena dendamnya kepada papaku di masa lalu. Lalu, kenapa aku yang harus menanggung semuanya, Tuhan? KENAPA?" Pekik Melinda bertanya kepada Tuhan yang berkuasa atas segala yang ada di dunia ini. Masih jelas diingatan bagaimana dulu ia di caci-maki oleh Dimas karena tertangkap basah disebuah hotel bersama seorang laki-laki yang ternyata adalah konspirasi yang diciptakan oleh Kartika.


Setelah Melinda berpisah dengan Dimas, ia mulai menaruh hati pada sosok laki-laki tegas dan berwibawa seperti Galih. Awalnya ia tidak tahu jika Galih dan Dimas bersaudara. Pada saat hati Melinda mulai memiliki rasa pada Galih, Dimas kembali hadir. Dengan segala tipu daya dan rayuan, akhirnya Melinda kembali jatuh lagi kedalam pusaran cinta yang diciptakan oleh Dimas meski ia tahu jika Dimas hanya menjadikannya sebagai pelampiasan semata. Hingga pada akhirnya menimbulkan benih yang tumbuh di dalam rahimnya.


Disaat itulah, Hesti hadir menawarkan diri untuk menjadi mertua dan memintanya agar bersedia menikah dengan Galih. Meski laki-laki itu sudah menikah, tapi Melinda tetap setuju. Disisi lain ia menyukai Galih, disisi lain ia memerlukan seorang suami yang bisa menjadi ayah dari jabang bayinya setelah Dimas menolak untuk menikahinya.


"Aduh,"


Melinda merasakan pusing yang teramat sangat di kepalanya. Ia memegangi kepalanya yang terasa seakan ingin meledak.


"Akh, sakitttt..." Teriak Melinda yang kesakitan akibat pusing itu.


Wanita itu teringat dengan obat sakit kepala yang diberikan oleh dokter dari rumah sakit. Melinda membongkar laci mejanya. Mengobrak-abrik, lalu ia mengambil sebuah botol yang berisi banyak kapsul.


"Akh,"

__ADS_1


Sakit yang ada di kepalanya mulai menguat, Melinda langsung menuangkan banyak sekali obat dan langsung menelannya.


Bukannya mereda, justru itu membuat Melinda semakin merasa tersiksa. Tak lama kemudian tubuh wanita itu langsung terjatuh dari kursi rodanya.


Brak


Santi dan Agus terkejut saat mendengar suara sesuatu yang jatuh dari dalam kamar. Keduanya menggedor-gedor pintu dan meneriaki nama Melinda berharap wanita itu mau membuka pintu. Namun sayang, setelah sekian lama menunggu tidak ada sahutan dari dalam. Tadinya yang terdengar suara gaduh kini berubah senyap.


"Dobrak pintunya, Mas. Dobrak," teriak Santi kepada Agus.


"Baiklah, kau mundur dulu." Setelah mengatakan itu, Santi memundurkan tubuhnya dari sana.


Brak


Brak


Brak


Agus berulangkali mencoba mendobrak pintu kamar Melinda. Wajahnya sampai berkeringat karena pintu itu begitu sulit dibuka. Tak mau menyerah, Agus mencoba untuk kesekian kalinya.


Brakkk


Pintu kamar itu terbuka lebar. Agus sampai terjungkal ke lantai. Kedua mata Santi terbelalak saat melihat keadaan sang putri yang mengenaskan.


"MELINDA!"


Santi berlarian menghampiri Melinda yang sudah tergeletak di lantai. Tubuhnya kejang-kejang disertai keluarnya sedikit busa dari mulutnya yang pucat. Dunia ibu itu hancur seketika saat melihat tubuh mengenaskan Melinda. Putri manis yang ia cintai berubah menjadi seperti sekarang, yang rela melakukan apa saja demi tujuannya.


Agus pun juga menghampiri keduanya. Ia begitu syok sampai tidak bisa berbuat apa-apa selain terdiam di tempatnya.


'Cobaan apa lagi ini, Tuhan,?" Tanya Agus kepada Tuhan. Permasalah yang timbul di dalam rumah tangga nya seakan tiada habis. Selalu ada dan datangnya bergantian, membuat laki-laki itu frustasi.


"Mel? Mel? Bangun, Nak. Mama mohon," teriak Santi tepat di telinga Melinda. Tak ada jawaban, justru bisa yang ada di sudut bibir Melinda kian bertambah. Santi menjerit seketika lalu beralih meneriaki nama Agus, meminta bantuannya.

__ADS_1


"Agus, cepat bawa Melinda ke rumah sakit. CEPAT!" Teriak Santi kepada Agus.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2