Aku Atau Ibumu

Aku Atau Ibumu
AAI 91 - Kegelisahan Galih


__ADS_3

AAI 91 - Kegelisahan Galih


Di dalam kamar hotel, Indah merenung. Ia memikirkan ucapan dari Galih yang memintanya untuk menjadi istrinya lagi.


Fiuh,


Indah menghela napas. Ia sangat bingung dengan situasi saat ini. Di satu sisi ia merasa bahagia karena Galih masih mencintainya seperti dirinya yang juga mencintai dirinya. Namun disisi lain ia harus mendapatkan restu dari orang tuanya. Apalagi kejadian masa lalu yang membuat Ayahnya sangat membenci Galih.


"Apa yang harus ku lakukan, Ya Allah? Tunjukkanlah jalanmu," gumam Indah. Karena berada di tengah-tengah jalan, akhirnya Indah memilih untuk mengambil air wudhu. Ia ingin meminta pertolongan kepada yang maha kuasa untuk jawabannya.


Indah terdiam begitu lama setelah menyelesaikan shalatnya. Masih dengan menggunakan mukena, Indah bangkit dari sajadahnya dan mencari keberadaan ponselnya.


"Lebih baik aku menceritakan semuanya kepada Ayah dan Ibu. Aku tidak mungkin mengabaikan mereka. Karena tanpa restu mereka aku tidak mungkin bisa kembali kepada Mas Galih.


Disaat Indah sibuk dengan ponsel dan kedua orang tuanya, lain halnya Galih. Laki-laki itu dilanda kebingungan serta gelisah yang tak kunjung mereda. Sejak kepulangannya dari hotel tempat Indah menginap, Galih seperti manusia yang kehilangan kesadarannya.


Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Tapi Galih masih setia dengan gelas kopi yang hanya berisi ampasnya saja. Pandangannya kosong kedepan, seakan tengah memikirkan masalah berbagai negara. Disaat Galih asyik dengan lamunannya, tiba-tiba terlihat Gita berjalan menuruni tangga seraya membawa gelas kaca kosong di tangannya. Mulutnya yang menguap serta matanya yang masih sesekali terpejam menandakan jika dirinya tengah terbangun dari tidurnya.


Gadis itu tidak menyadari jika kakaknya tengah duduk di kursi bar yang ada di dapur. Dengan santainya, Gita menuang air putih yang ia ambil dari dalam lemari pendingin. Setelah penuh, Gita menutup kembali lemari pendingin itu dan berbalik.


Astagfirullah,


Alangkah terkejutnya Gita saat dirinya melihat sang kakak yang tengah menatap ke arahnya. Gita sampai berulangkali menyebut nama Allah serta mengelus dadanya saking terkejutnya.


"Mas? Maa Galih ngapain disini malam-malam, ha? Bikin orang kaget aja. Untung saja aku gak punya penyakit jantung. Bisa-bisa nyawaku melayang karena terkena serangan jantung," ucap Gita bersungut-sungut. Ia begitu kesal karena kakaknya itu mengagetinya. Tidak biasanya Galih berada disana saat tengah malam seperti ini. Ingin rasanya Gita memukul kepala Galih dengan gagang spatula karena Gita sempat mengira jika kakaknya itu adalah hantu.

__ADS_1


"Mas? Mas Galih?" Panggil Gita lagi. Tampak Galih tidak memperhatikan dan mendengar suara Gita. Gita yang kesal langsung mencubit bahu Galih sampai membuat laki-laki itu mengaduh.


Aduh,


"Gita? Kok Mas di cubit sih?" Tanya Galih yang kesal. Lamunannya buyar seketika karena perbuatan sang adik. Galih menghela napas, ia mengambil gelas kopi itu dan ingin meminumnya. Tapi saat ia melihat gelas itu kosong, Galih meletakkannya kembali.


Semua tingkah Galih tak lepas dari pandangan Gita. Ia mengeryitkan dahi saat melihat wajah murung sang kakak. Kedua mata Gita menyipit, ia merasa ada y6tidak beres dengan Galih saat ini.


"Habis, dari tadi aku panggil berkali-kali tapi Mas Galih diam saja. Ada apa sih, Mas? Kayaknya banyak pikiran," tanya Gita seraya ia mendudukkan dirinya di kursi hadapan Galih. Kini Gita bisa melihat kekhawatiran yang semakin jelas di wajah Galih. Bahkan berulangkali Galih menghela napas panjangnya hingga membuat Gita semakin penasaran.


"Mas lagi bingung, Dik." Ucap Galih memecah keheningan.


'Waduh, seperti hal serius nih. Gak biasanya Mas Galih memanggilku adik kalau tidak tentang masalah serius. Ada apa ini, Ya Allah? Aku menjadi sedikit takut,' batin Gita.


"Mas tadi ngungkapin perasaan Mas sama Mbakmu." Jawab Galih. Kedua mata Gita terbelalak, sedetik kemudian ia menyemburkan air nya.


Byur


Galih yang terkena muncratan air minum Gita sampai terkejut lalu ia mengibaskan tangannya yang terkena olehnya.


"Apa? Mas Galih serius?" Tanya Gita semangat. Ia tidak menyangka jika kakaknya itu mempunyai keberanian untuk mengungkapkan perasaanya kepada Indah setelah semua yang terjadi.


Dengan lesu Galih menganggukkan kepalanya. Ia merasa hilang kepercayaan diri karena melihat Indah yang sekarang sangat berbeda dari yang dulu. Sedangkan Gita malah bertepuk tangan kegirangan karena yang dilakukan oleh Galih. Namun tepuk tangan itu tak berlangsung lama setelah Gita menyadari jika sang kakak justru tidak sebahagia dirinya.


"Lalu kenapa wajahmu murung, Mas? Apa ada yang salah?" Tanya Gita. Helaan napas Galih terdengar sangat berat.

__ADS_1


"Tidak, tidak ada. Tapi Mas merasa jika Mas tidak pantas memiliki Indah. Kamu lihat sendiri kan bagaimana dia sekarang?" Gita menganggukkan kepala mendengar pertanyaan itu. Tak bisa ia pungkiri jika Indah berubah seratus delapan puluh derajat. Indah yang sekarang lebih tertutup bahkan menggunakan hijab, tidak seperti saat masih bersamanya.


"Iya sih, Mas. Mbak Indah semakin cantik dan populer karena prestasinya. Tapi bagaimana dengan perasaannya? Apa dia juga mencintaimu, Mas?" Tanya Gita. Lagi-lagi Galih menghela napas lalu menggelengkan kepala.


"Aku tidak tahu, yang jelas dia meminta waktu dan akan menjawabnya besok. Besok aku akan mengantarnya sampai bandara." Ujar Galih. Kini giliran Gita yang mengehela napas. Ia merasa ikut pusing memikirkan drama percintaan kakaknya.


"Apa Mas Galih sangat mencintai Mbak Indah?" Tanya Gita. Kedua alis Galih terangkat ia merasa heran dengan pertanyaan dari sang adik.


"Pertanyaan macam apa itu? Tentu aku sangat mencintainya. Dari dulu hingga sekarang tak pernah berkurang sekalipun kami sudah berpisah bertahun-tahun." Jawab Galih tegas. Ia paling tidak suka jika perasaannya diragukan atau dipertanyakan oleh orang lain. Tak ada niatan sekalipun Galih untuk mencari cinta yang lain. Baginya, Indah satu-satunya wanita yang pantas memenuhi hati dan pikirannya. Tak ada yang lain, hanya Indah. Indah Permatasari, mantan istrinya.


Sudut bibir Gita terangkat, ia merasa senang dengan sang kakak yang kini mau berbagi perasaan atau keluh kesah dengannya. Pasalnya dulu Galih sangat tertutup dan hanya terbuka dengan istrinya saja.


"Jadi kini tinggal Mbak Indah nya bagaimana. Kita tunggu jawabannya besok. Daripada Mas Galih tidak bisa tidur karena kepikiran, lebih baik mengadu dan berdoa kepada Tuhan. Minta kepada-Nya agar menyatukanmu dengan Mbak Indah. Mas kan tahu kalau Allah itu mampu membolak-balikkan hati manusia. Jika memang Mbak Indah jodoh Mas Galih, Allah pasti akan menyatukan kalian kembali. Percaya padaku, hm? Ok?" Ucap Gita kepada Galih. Perlahan laki-laki itu menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu, Indah masuk dulu ya Mas. Udah ngantuk banget ini," keluh Gita seraya menutup mulutnya yang kembali menguap. Entah sudah berapa kali ia menguap disana.


"Hm, makasih, Dik. Tidurlah," suruh Galih.


"Iya, selamat malam, Mas." Ujar Gita seraya beranjak dari tempat duduknya.


"Hm, selamat malam. Have a nice dream," sahut Galih yang dibalas dengan anggukan kepala Gita karena ia sudah tidak sanggup lagi menjawab. Perlahan gadis itu mulai meninggalkan dapur dan kembali ke kamarnya.


"Gita benar. Aku hanya punya Allah tempatku mengadu. Aku akan berdoa malam ini untuk diriku dan Indah. Semoga Allah mendengar doa dan impianku." Gumam Galih. Tak ingin menunda-nunda lagi, Galih beranjak dan bergegas menuju ke kamarnya sendiri untuk melakukan shalat malam serta berdoa kepada yang maha kuasa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2