Aku Atau Ibumu

Aku Atau Ibumu
AAI 47 - Kedatangan keluarga Indah


__ADS_3

AAI 47 - Kedatangan keluarga Indah


Tubuh Galih limbung saat indera pendengarannya menangkap berita yang sangat mengejutkan itu dari sang dokter. Laki-laki itu seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya itu.


"A-apa yang anda katakan, Dok? Tolong ulangi sekali lagi," tanya Galih untuk kedua kalinya.


Sedangkan Hesti yang berdiri tak jauh dari sana ikut terkejut. Wanita itu semakin dilanda rasa takut karena berita itu bisa saja membangunkan sisi lain dari Galih. Galih yang biasanya penurut bisa saja menjadi tak terkendali saat ini.


"Saya mohon maaf, Pak. Anda telat membawa istri anda kemari, dan juga benturan yang terjadi begitu keras dan menimbulkan kontraksi pada janinnya. Maka dari itu, saya dan beserta tim terpaksa mengeluarkan janin yang sudah tidak dapat ditolong itu dari rahim istri Bapak." Ujar dokter spesialis kandungan tersebut.


Tubuh Galih terhuyung sampai membuat dokter itu sigap menangkapnya dan mnuntunnya untuk duduk di kursi tunggu.


"I-itu artinya istri saya tengah hamil, dok?" Tanya Galih dengan suaranya yang terdengar serak. Air matanya kembali menetes, menangisi kepergian sang jabang bayi yang merupakan buah cintanya dengan sang istri.


Mendengar ucapan tersebut, tentu sang dokter terkejut.


"Jadi anda tidak tahu kalau istri Bapak tengah hamil?" Tanya dokter itu. Dengan tatapan kosong, Galih menggeleng lemah. Ia memang tidak mengetahui apa-apa karena Indah memang tidak mengatakan apapun padanya.


"Sebenarnya janin itu berusia sebelas minggu, sekitar dua bulan lebih. Namun karena benturan keras itu, membuatnya tidak bisa bertahan. Oleh karena itu, kamu harus mengeluarkannya. Untuk Ibunya, saat ini masih belum sadar karena obat bius yang diberikan padanya. Setelah dua jam kedepan, kami akan memindahkan istri anda ke ruang inap. Mohon bersabar dan terus berdoa untuk istri Bapak. Kalau begitu, saya permisi dulu," setelah mengatakan itu dokter itupun meninggalkan Galih beserta ibunya disana. Perlahan tirai jendela ruangan itu terbuka membuat Galih langsung beranjak. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat tubuh lemah sang istri yang saat ini sudah mengenakan pakaian rumah sakit yang berwarna biru itu.


"Indah. Indah. Indah." Galih merasakan pening pada kepalanya hingga perlahan dirinya pun ikut kehilangan kesadarannya. Hesti yang melihat Galih pingsan segera berteriak.


"Tolong, tolong. Tolong akan saya," teriak Hesti dengan khawatirnya. Dua orang perawat menghampiri Hesti dengan membawa sebuah ranjang pasien. Dengan bantuan orang yang ada di sana, dua perawat itu segera membawa ranjang berisi Galih menuju ke ruangan pemeriksaan. Hesti yang melihat itu hanya bisa saling menautkan kedua tangannya. Ia menjadi takut akan keselamatan sang putra.


"Kenapa semua jadi begini? Jangan sampai Galih kenapa-kenapa," Hesti terus melihat keadaan sang putra dari jarak jauh. Saking takutnya, Hesti pun segera menghubungi nomor adiknya.

__ADS_1


"Halo," Hesti segera menyingkir dari sana ketika terdengar sahutan dari seberang sana.


"Halo, Tika?" Panggil Hesti.


"Iya, Mbak. Ada apa?" Tanya Kartika.


"Sekarang aku sedang ada di rumah sakit. Bagaimana ini? Aku takut," ujar Hesti. Kartika begitu terkejut mendengar ucapan dari sang kakak.


"Di rumah sakit? Ada apa, Mbak? Siapa yang sakit?" Tanya Kartika.


"Indah, Tika. Aku tidak tahu bagaimana bisa terjadi, tapi saat ini Galih ikut pingsan. Datanglah kemari, temani aku." Ucap Hesti. Ia meminta pertolongan kepada adik satu-satunya itu.


"Baiklah, aku akan datang sama Mas Darman." Sahut Kartika. Hesti mengangguk kecil mendengarnya.


Wanita itu menunggu kedatangan sang adik di kursi tunggu yang ada di sana. Sesekali kedua matanya menatap tubuh sang putra yang kini sudah tertancap selang infus disana. Ini kedua kalinya ia menunggui seseorang di rumah sakit setelah kepergian sang suami dulu. Tiba-tiba bayangan kematian Hendra melintas begitu saja. Tubuh Hesti bergetar, ia sangat ketakutan jika harus kembali merasakan kehilangan untuk yang kedua kalinya.


"Tidak, Galih tidak mungkin akan mati. Dia laki-laki yang kuat, tidak seperti ayahnya. Ya, aku yakin dia tidak apa-apa." Gumam Hesti yang berkata pada dirinya. Ia berusaha menenangkan dirinya sendiri dari rasa takutnya akan keselamatan Galih.


Tak beberapa saat kemudian datanglah seorang perawat menghampiri Hesti. Mendengar keadaan Galih yang hanya syok membuat Hesti bisa bernapas lega. Ia tidak bisa membayangkan jika Galih pergi meninggalkan dirinya, Hesti tidak ingin hal itu.


"Terimakasih, Sus." Ucap Hesti seraya melihat kepergian sang suster itu. Baru saja Hesti akan duduk, terdengar suara panggilan dari arah belakangnya.


"Mbak Hesti?" Hesti semakin merasa lega saat melihat kedatangan sang adik. Dengan cepat wanita itu memeluk tubuh Kartika dengan erat.


"Akhirnya kamu datang juga, Tika. Mbak takut, Mbak takut jika Galih akan pergi meninggalkan Mbak." Ucap Hesti. Kartika mengelus punggung sang kakak berusaha menenangkannya.

__ADS_1


"Sebenarnya ada apa ini, Mbak? Kenapa mereka berdua bisa sampai seperti ini, hm?" Tanya Kartika seraya melepaskan pelukan dari Hesti. Kartika pun menuntun Hesti agar duduk di kursi bersama dirinya. Sedangkan Sudarman hanya diam dan ikut duduk di samping sang istri.


"Jadi begini ceritanya," lalu Hesti pun mulai menceritakan duduk permasalahannya. Ia menceritakan dari terbongkarnya pernikahan siri Galih dan juga kehamilan Melinda. Hesti pun juga menceritakan bagaimana Galih bisa bertengkar dengan Indah sampai berakhir seperti ini.


Dalam lubuk hati Kartika terdalam, ia merasa kasihan pada Indah. Tapi saat ia teringat akan wajah Melinda, Kartika menyunggingkan senyum seringaian nya.


'Maafkan aku, Indah. Meski aku ikut andil dalam semua rencana Mbak Hesti, tapi aku terpaksa. Semoga kamu bisa memahami ku,' ujar Kartika dalam hati.


"Yang sabar, Mbak. Kita berdoa saja demi kesadaran mereka berdua," sahut Kartika pada Hesti. Ketiga orang itu pun duduk menunggu di depan ruangan Galih.


Waktu terus berlalu. Dua jam kemudian Indah sudah dibawa keluar dari ruangan tadi dan kini dipindahkan ke ruang inap biasa. Hesti meminta pada pihak rumah sakit agar menempatkan Galih dan Indah di ruangan yang bersebelahan agar memudahkan bagi keluarga mereka yang akan menjenguk.


Saat Hesti keluar dari ruangan Indah, dari arah kiri wanita itu bisa melihat kedatangan Ayah, Ibu, serta adik Indah. Raut wajah mereka terlihat sangat khawatir dengan keadaan Indah. Hesti menyiapkan dirinya agar bisa memberikan jawaban yang tepat pada mereka.


"Bagaimana keadaan Indah, Bu Hesti?" Tanya Doni selaku Ayah dari Indah.


"Saat ini masih belum sadar, Pak. Kita hanya bisa menunggu dan berdoa untuk nya," ujar Hesti.


"Lalu dimana Galih, Bu Hesti?" Kini giliran Ratih yang merupakan ibu Indah. Ia menanyakan Galih yang tidak terlihat batang hidungnya.


"Sebenarnya Galih juga tengah dirawat, Pak, Bu. Dia begitu terkejut sampai pingsan karena mendengar kondisi Indah dari dokternya," sahut Hesti. Ayah, Ibu, serta adik Indah seketika terkejut mendengarnya. Mereka semakin dibuat khawatir saat mengetahui hal itu.


"APA?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2