
AAI 43 - Terbongkar
Setibanya Galih di depan rumah Melinda, ia segera turun dan memencet bel rumahnya. Tak selang waktu lama keluarlah Melinda dengan menggunakan kimono tidurnya yang terkesan sangat seksi.
"Akhirnya kamu datang juga, Mas. Aku sangat merindukanmu," tanpa aba-aba Melinda langsung memeluk tubuh kekar Galih. Galih yang terkejut sampai membeku. Namun sepersekian detik kemudian ia langsung melepaskan diri dari Melinda.
"Apa kau gila, hah? Sudah kuperingatkan padamu, jangan coba-coba berbuat macam padaku. Kalau tidak," belum juga Galih menyelesaikan ucapannya, Melindas terlebih dulu menyela.
"Kalau tidak apa, Mas? Ingat, Mas Galih. Aku ini istri sahmu." Sahut Melinda dengan menatap lekat ke arah wajah Galih.
Tanpa keduanya sadari, Indah sudah sampai dan berdiri tak jauh dari tempat mereka berdiri. Jantungnya seakan dihujani ribuan belati yang begitu tajam hingga membuat nyawanya seperti terlepas dari raganya. Indera pendengarannya masih belum rusak, hingga dengan jelas ia bisa mendengar perkataan yang barusan terucap dari mulut Melinda.
Sebuah kenyataan pahit yang ternyata telah terjadi pada pernikahan nya dengan Galih. Tetesan air mata tak mampu lagi terelakkan, dengan deras mengalir membanjiri kedua pipinya yang mulus.
"A-apa yang kau bi-bilang? I-istri?" Suara Indah memecah konsentrasi Galih dan Melinda.
Galih sampai membeku dan hampir limbung saat menyadari bahwasanya Indah ternyata mengikutinya hingga di sana. Ia bisa melihat bagaimana tatapan hancur sang istri saat mengetahui kenyataan pahit yang telah terjadi.
"I-indah? Sa-sayang? Ka-kamu ngapain kesini?" Lidah Galih seakan kelu. Tak ada kalimat lain yang bisa ia ucapkan selain kata itu dari mulutnya. Ia merasa bersalah sekaligus takut dengan sang istri yang kini telah mengetahui kenyataan yang selama ini ia coba tutupi.
"Katakan sekali lagi, Melinda. Apa yang barusan kau ucapkan?" Tanya Indah sekali lagi. Kedua matanya hanya tertuju pada Melindas. Ia tidak melirik sama sekali pada Galih meski saat ini laki-laki itu tengah menatap ke arahnya.
__ADS_1
Melinda yang ditanya seperti itu melirik sekilas pada Galih. Ia bisa melihat tatapan maut yang dilayangkan oleh Galih padanya. Namun bukan Melinda namanya jika ia menurut begitu saja. Justru inilah saat-saat yang ia nantikan dimana semuanya diketahui oleh Indah, sang istri sah Galih dimata hukum.
'Ini saatnya. Inilah awal dimana aku bisa dengan bebas mengatakan jika aku istrinya Galih. Terimakasih, Mas. Tanpa kau sadari, kau sendirilah yang membuka rahasia ini pada istri pertamamu,' batin Melindas dengan seutas senyuman kemenangan nya, meski hanya sekilas.
"Yang kau dengar memang benar, Indah. Aku telah sah menjadi istri kedua Mas Galih. Mas Galih menikahiku karena saat ini aku tengah mengandung anak Mas Galih." Ujar Melinda tanpa rasa bersalah. Ia merasa menang karena telah memberitahukan semuanya kepada Indah. Ia yakin dengan begini, ia bisa memisahkan Galih dengan Indah.
Bak sudah jatuh tertimpa tangga pula, peribahasa yang saat ini dialami oleh Indah. Barusaja ia menyadari penghianatan yang dilakukan oleh sang suami, kini ia lebih terkejut lagi saat mengetahui jika madunya saat ini tengah mengandung benih suaminya. Tatapan mata Indah perlahan tertuju pada perut Melinda yang terlihat membuncit. Indah bisa melihat jari manis Melinda yang dilingkari oleh cincin emas saat tengah mengelus perutnya yang kini tak rata lagi.
"A-anak?" Indah seakan kesulitan dalam berbicara. Kerongkongannya kelu, ia susah berkata-kata lagi. Ia tak pernah menyangka jika laki-laki yang sekian lama ia cintai kini telah berdusta dan menodai kesucian pernikahan mereka.
"Apa itu benar, Galih?" Tanya Indah tanpa embel-embel sebutan Mas lagi untuk Galih setelah hampir sewindu kebersamaannya dengan sang suami. Galih tertegun. Ini kali pertamanya sang istri memanggilnya tanpa embel-embel Mas lagi. Galih masih diam. Ia bagaikan dikutuk hingga membuatnya tidak bisa berbicara apa-apa saat ini.
"JAWAB AKU, GALIH!" teriak Indah dengan kedua matanya sudah sangat merah karena menahan semua amarah yang ada dalam dirinya. Galih dan Melinda sampai terlonjak mendengar teriakan Indah itu.
"De-dengarkan penjelasanku dulu, Indah. A-aku akan mengatakan semuanya," ujar Galih. Indah semakin serasakan sakit namun tak berdarah pada dirinya. Ia menggeleng keras saat melihat Galih berusaha mendekatinya.
"Pada akhirnya kau memilih Ibumu demi mendapatkan seorang anak, Galih. Mungkin kau sudah lupa, tapi aku masih ingat dengan ucapanmu disaat ulang tahun kedua pernikahan kita." Setelah mengatakan hal itu, Indah langsung berbalik dan berlarian meninggalkan tempat itu dengan menaiki taksi yang tadi ia suruh untuk menunggunya.
Tubuh Galih membeku. Ingatannya kembali saat ulang tahun pernikahan mereka yang kedua. Ia tentu ingat bagaimana kepada sang istri disaat Indah tengah berada dititik terberatnya karena hinaan dari para tamu mereka.
"Aku kasihan sama Galih, sudah lama menikah tapi belum juga punya anak."
__ADS_1
"Jangan-jangan istrinya mandul."
"Padahal ibunya sudah ingin menimang cucu, tapi gimana mau punya kalau mantunya tidak bisa memberikan anak."
"Iya, bener. Kalau aku jadi Galih, aku pasti akan nikah lagi."
"Bener, tuh. Kasihan Hesti dan Galih, ya."
"Iya, Ibu ibu."
Kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut ibu-ibu yang merupakan tamu dari Hesti terdengar oleh Indah yang saat itu tengah berada tak jauh dari mereka. Hatinya begitu sakit hingga saat pesta sudah berakhir, ia meluapkan semuanya pada sang suami.
"Bagaimana jika Ibu menyuruhmu untuk menikah lagi, Mas? Apa Mas akan memilih Ibu dan menduakanku?" Tanya Indah dengan sesenggukan. Dengan sayang Galih meraih tubuh indah dan memeluknya.
"Ssttt, jangan bicara aneh-aneh, Sayang. Sampai kapanpun aku tidak akan menduakan cintamu. Aku sangat mencintaimu dengan segenap jiwa dan ragaku, Sayang. Percayalah," ujar Galih sambil memberikan kecupan hangat di pucuk kepala Indah.
"Tapi bagaimana jika ibu memaksamu untuk memilih, Mas? Siapa yang kau pilih? Aku atau Ibumu?" Tanya Indah. Ia membutuhkan jawaban pasti akan cinta sang suami padanya agar menjadi pegangannya. Galih terdiam, ia begitu sulit untuk menjawabnya. Tapi ia tahu watak sang istri, Indah akan terus mengajukan 3jika dirasa jawaban yang diterimanya belum memuaskan. Oleh karena itu, ia harus bisa memberikan jawaban sebaik mungkin agar bisa menenangkan hati sang istri.
"Meski aku milik ibuku, tapi hatiku hanya untukmu, Sayang. Aku tidak akan meninggalkanmu hanya untuk menyenangkan hati ibuku sedang dirimu tersakiti. Aku hanya bisa memohon untuk bisa lebih memahami sikap ibu dan menganggap semua omongannya hanya angin lalu. Yang harus kau percaya adalah cintaku. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu dan menghianati cintamu, karena aku hanya tercipta untuk dirimu." Ujar Galih meyakinkan sang istri. Indah yang mendengar ungkapan cinta dari sang suami hanya bisa mengangguk lalu mengeratkan pelukannya.
"Aku juga mencintaimu, Mas."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...