Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap

Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap
BERUNTUNG


__ADS_3

Aku Dirgana Putri, putri sulung dari 3 bersaudara. Aku seorang biker di salah satu ojek on line di kota Padang. Aku singel parent dan memiliki 2 orang anak.


*


Aku melirik jam yang melingkar di tangan, memastikan waktunya untuk kembali ke rumah dan istirahat bersama 2 malaikatku. Jarum jam menunjukkan angka 10 tepat, aku merogoh saku jaket kebesaran dan mengambil HP, baru saja aku berniat mematikan aplikasi ojek online, ponsel ku mengeluarkan nada keras tanda orderan baru masuk. Melihat nama pemesan yang tertera, aku langsung merasa ragu untuk menerimanya, tapi melihat tempat yang dituju oleh si pemesan tidaklah jauh dari tempat tinggal ku, aku cepat menerimanya. Sekalian pulang, pikirku. Aku menekan beberapa angka yang tertera di HP dan tersambung.


" Selamat malam, dengan pak Ardi." ujar ku membuka percakapan.


" Ya, benar." jawabnya di seberang.


" Maaf pak, bapak barusan pesan ojek ya pak?" tanyaku memastikan.


" Iya, maaf... koq suara perempuan ya? apa memang perempuan?" tanyanya balik. Seperti biasa, melihat namaku di aplikasi orang pasti menyangka aku laki - laki, karena nama Putri tidak tertera d sana, hanya tertulis huruf P saja, Dirgana. P.

__ADS_1


" Iya pak, benar. Jadi, bagaimana pak? apa bapak keberatan kalau yang mengantar perempuan?" tanyaku lagi.


" Oh, iya... tidak apa - apa. Jemput saya sesuai aplikasi ya." jawabnya langsung. Aku mematikan sambungan telepon setelah menutup pembicaraan dan langsung mengarahkan motorku ke tempat penjemputan yang juga tidak terlalu jauh dari tempatku berdiri tadi. Bismillah, aku meminta perlindunganNya selalu, apalagi di jam - jam seperti sekarang dan dengan customer laki - laki.


Tempat penjemputan sebenarnya sih di tengah kota, masih banyak kendaraan berlalu-lalang. Tapi, tetap saja aku harus waspada. Tiba - tiba aku mendengar seseorang memanggil dengan tepukan, ku arahkan pandangan ke sebuah warung yang gelap, aku melihat beberapa laki - laki berdiri di sana, memintaku datang ke arah mereka lewat lambaian tangan. Aku tak henti - henti mengucapkan nama Tuhan sambil mengarahkan motorku ke sana.


" Saya pikir laki - laki, namanya kayak nama laki - laki." kata salah seorang dari mereka setelah aku menghentikan motor di depan mereka. Aku hanya tersenyum, menenangkan hati dan perasaanku.


" Saya minta tolong antar kan nenek ini ya." aku menatap ke arah tangannya, seorang perempuan tua keluar dari belakangnya, " alhamdulillah" ucapku dalam hati dan cepat mengangguk.


" Alhamdulillah, iya nak... terimakasih banyak ya..." kata si nenek.


" sama - sama nek... hati - hati." jawab mereka berbarengan.

__ADS_1


" Hati - hati bawa motornya buk..." pesan mereka padaku. Aku tersenyum dan membunyikan klakson sebelum berlalu.


Aku kendarai motor dengan hati - hati, cenderung pelan. Mengingat kalau pelanggan ku adalah seorang nenek tua.


" Darimana nek, malam - malam sendirian?" tanyaku membuka pembicaraan.


" Baru sampai dari Bukittinggi, udah jam segini angkutan umum udah gak ada lagi." jawabnya ramah.


" Sendirian aja nenek ke Bukittinggi? Kenapa gak ajak anak atau cucu?" tanyaku lagi.


Mengalir lah cerita si nenek, kalau dia menemui anak dan cucunya di Bukittinggi. Anaknya hanya satu, tinggal bersama keluarganya di sana. Si nenek hanya tinggal sendirian di Padang. Karena lebaran pertama si anak dan cucu tidak pulang ke Padang, si nenek memberanikan diri datang mengunjungi sendiri di lebaran kedua ini, pengennya buat surprise ternyata si nenek yang surprise karena si anak justru sudah sampai di Padang ketika dia berada di Bukittinggi. Menurut beliau, beliau masih cukup kuat berjalan - jalan sendirian. Cara bicara si nenek yang lucu mampu menghangatkan suasana, teringat ibuku di rumah. Usianya belum setua si nenek, tapi kemana - mana masih aku temani. Tapi, itu juga karena aku yang memaksa. Aku tidak akan mungkin tega membiarkannya pergi ke sana kemari sendirian.


" Ini nak, terimakasih banyak, hati - hati... semoga berkah untuk anak - anaknya ya." pesan si nenek setelah aku mengantarkannya. Aku memang sedikit bercerita kepadanya tentang alasanku memilih jadi biker ojol untuk membiayai anak - anakku.

__ADS_1


" sama - sama nek, mari nek." kataku setelah memasukkan upah mengantarkannya langsung ke saku celanaku. Rasanya tidak perlu ku hitung, kalaupun kurang aku ikhlas. Aku kasihan melihatnya yang sudah tua, tinggal sendirian, dan sedang bahagia karena ternyata si anak dan keluarganya sudah berada di Padang untuk mengunjunginya.


Aku langsung mematikan aplikasi ku, sudah waktunya pulang dan berkumpul bersama mama dan anak - anakku. Aku tahu sekali, kedua anakku belum akan tertidur sampai aku tiba di rumah dan mengajak mereka tidur. Buat mereka, saat menjelang tidur adalah saatnya berbagi cerita tentang kegiatan mereka selama seharian, bercanda, saling ejek, rebutan pelukan dariku, dan aku sangat menikmati waktu - waktu seperti itu. Entah berapa lama lagi aku bisa bercanda bersama anak - anakku, mengingat semakin hari usia mereka semakin bertambah, waktu mereka akan semakin berkurang buatku nantinya.


__ADS_2