Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap

Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap
4 KALI


__ADS_3

*


Dimas


Aku cepat menggendong dan membawa Di yang tak sadarkan diri ke rumah sakit. Begitu kami tiba di rumah sakit, Di dengan cepat ditangani dokter dan perawat yang berjaga di sana. Setelah beberapa pemeriksaan dan darah di wajah Di dibersihkan, dokter meminta izin membawa Di ke ruangan lain, aku mengizinkan.


" Lakukan yang terbaik dok."


Dokter tersenyum ramah dan mengangguk. Beliau meminta perawat membawa Di ke ruangan lain, aku mengikuti langkah mereka dari belakang.


" Bagaimana dok?"


Aku langsung bertanya pada dokter, setelah melihatnya selesai memeriksa Di. Aku harus segera memastikan kalau Di baik - baik saja meski baru melewati hari yang berat.


" Kapan istri tuan terakhir menstruasi pak Dimas?"


Aku mengernyitkan kening, tidak tau apa jawaban untuk pertanyaannya. Apa hubungannya semua ini dengan menstruasi Di.


" Sa.. Saya.. Saya tidak tau dok, memangnya kenapa dok?"


Dokter yang memeriksa Di tersenyum


" Istri anda hamil pak."


Aku membelalakkan mataku,


" Iya pak... istri anda hamil."


Dokter itu mengulang pernyataannya untuk meyakinkan aku.


" Bayi lagi? Ada bayi lagi? Alhamdulillah... ya Allah... "


Berulang kali aku mengucap syukur sambil mengangkat kedua tanganku seperti orang yang sedang berdoa.


" Selamat ya pak Dimas."


Aku berdiri dan menyalami dokter yang tetap memberikan senyuman padaku.


" Terimakasih dok... terimakasih banyak."


" Iya pak... sama - sama... Tolong jaga kesehatan ibu dan bayi - bayinya juga ya pak."


Aku menghentikan senyumanku, membelalakkan mata padanya,


" Bayi - bayi?"


" Iya pak Dimas... Ada 2 bayi di dalam kandungan ibu, jadi bapak harus ekstra ketat menjaga kesehatannya."


" Maksud dokter, kembar?"


Aku mencoba meyakinkan hatiku


Dokter menganggukkan kepalanya mantap


" Allahuakbar.. Allahuakbar... Maha besar engkau ya Allah..."


Aku kembali mengucap syukur atas segala nikmat yang Ia berikan setelah segala masalah yang harus kami hadapi.


" Pak.. maaf pak... pak Dimas..."


Aku cepat melepaskan tanganku yang masih menyalami si dokter dan menggerak - gerakkannya dengan cepat tanpa aku sadari. Senyumnya tiba - tiba menghilang, berganti ringisan menahan sakit di tangannya.


" Maafkan saya dok... saya terlalu bahagia mendengar berita ini. "


" Iya pak... gak pa pa."

__ADS_1


Aku cepat meninggalkan dokter, yang sedang memberikan pijatan pada tangannya yang ku salam tadi, setelah mengucapkan terimakasih lagi dan pamit untuk menemui Di.


**


Aku langsung memberi kabar pada mama Sandra dan mama Di, kalau Di sudah berhasil ku selamatkan dan dia dalam keadaan sangat baik saat ini. Aku menunda memberikan kabar tentang kehamilan bayi kembar. Menunggu Di sadar dulu dan mengetahui keadaannya saat ini.


***


Dokter sedang memeriksa keadaan Di yang sudah bangun dari pingsan. Aku terus tersenyum menatap Di yang masih nampak lemah. Tidak sabar rasanya memberikan kabar baik ini padanya.


" Ok, pak... Keadaan ibu sudah membaik, tapi masih sangat lemah. Kami menyarankan ibu untuk dirawat dulu satu atau dua hari di sini, agar kami bisa mengontrol kesehatannya... ."


" Saya istirahat di rumah saja dok."


Di menyela ucapan dokter, wajahnya seperti sedang menahan sesuatu.


" Di... ."


" Pokoknya aku mau pulang, titik."


" Kalau istri saya istirahat di rumah, apakah boleh dok?"


Aku menyerah melihat tatapan marah Di,


" Boleh... tapi bapak harus menjaga ibu dengan sangat baik, harus sering kontrol. Lagipula, bapak tau kan kalau ibu sekarang ini... "


" Saya punya dokter keluarga dok."


Sekarang aku pula yang menyela ucapan dokter, aku ingin menyampaikannya sendiri pada Di tentang kehamilannya. Dokter sepertinya mengerti dengan maksudku, dia tersenyum


" Ok lah kalau begitu. Saya buatkan resep dulu untuk ibu, bapak silahkan selesaikan administrasinya ya... Agar ibu bisa cepat pulang dan beristirahat di rumah."


Aku dan Di mengangguk bersamaan.


Aku yakin ini karena kehamilannya, hidungnya jadi sensitif pada bau - bauan.


" Iya sayang... iya... Tapi, ada yang harus aku sampaikan padamu dulu Di... Ini... ini menyangkut keadaanmu."


" Bisakah kau sampaikan nanti Dim, perutku sudah sangat mual dengan aroma tidak enak ini. Aku tidak mau muntah di sini. Cepatlah urus semuanya dan bawa aku pulang!"


Aku menunduk lemah, terpaksa menunda lagi keinginanku untuk menyampaikan kabar baik ini padanya, segera pergi meninggalkannya untuk mengurus administrasi rumah sakit dan mengambil obat yang sudah di resepkan oleh dokter.


****


" Kau lama sekali tadi Dimas, aku benar - benar tidak tahan dengan bau rumah sakit itu! Apa mereka tidak membersihkan lantai dan memberikan pengharum ruangan di sana? Mereka aneh, bisa tahan dengan aroma tak sedap di sana."


Di terus mengomel sejak kami naik ke mobil, " kau yang aneh sayang." kataku dalam hati.


" Matikan ACnya Dim, aku mau menghirup udara segar!"


Aku lagi - lagi menuruti kemauannya, langsung mematikan AC mobil. Di membuka habis jendela mobil di sisinya dan menghadapkan wajahnya ke udara segar dari luar yang menerpa wajahnya. Aku menggeleng - gelengkan kepala melihat tingkahnya.


" Di... "


" Hmmmmm..."


Dia menyahut, tapi tak melihatku.


" Di...."


" Apa sih Dimaaassss? Katakan saja, aku mendengarkan!"


Aku menghela nafas berat, cepat meredam kekesalanku. Kalau saja dia tidak sedang hamil saat ini, akan ku berikan serangan mendadak padanya.


" Kau hamil."

__ADS_1


Rencana untuk menyampaikan kabar bahagia dengan cara yang romantis, gagal total. Di cepat berbalik menatapku. Aku tak mengacuhkannya, memandang ke jalanan yang ada di depanku.


" Kau serius Dim? Jangan coba - coba mempermainkan aku!"


Dia malah mengancamku


" Aku serius, kau hamil, minggu kedua dan... ."


Aku sengaja menggantung ucapanku untuk mengganggunya.


" dan apa... dan apa?"


hening


" dan apa Dimas? Aku menunggu!"


Di memukul lenganku, aku mengelus - elus lenganku yang terasa panas.


" Kau mau mempermainkan aku Dimas?"


Kedua kakinya naik ke atas kursi dan menggerakkan tubuhnya menghadapku dengan posisi menjongkok. Aku menepikan mobil perlahan, mematikan mesin mobilku dan menghadapkan tubuhku padanya.


" Kau hamil,"


" Iya... aku sudah dengar... dan... ."


Di menatapku penasaran


" kembar."


" What!! Berhenti mempermainkan aku Dimas, aku mohon... Seriuslah!! dan apa?


Di memukuli lenganku, aku berusaha mengelak tapi tubuhku tertahan oleh pintu mobil.


" Aku serius Di.. Aku bersumpah... Aku mohon berhentilah memukuliku... . "


Di menghentikan pukulannya, bergerak perlahan memperbaiki posisi duduknya yang tadi berjongkok. Termangu menatap ke jalanan di depan.


Hening


" Kembar... anak kembar?"


Aku mengangguk sambil mengelus - elus lenganku.


" Alhamdulillah ya Allah..."


Aku terperanjat kaget, kenapa emosinya cepat sekali berubah - ubah. Tadi kesal, lalu marah, diam, sekarang berteriak kesenangan.


" Kita akan punya anak kembar Dim... Dimaaassss...."


" Iya Di... Iya... hentikan teriakanmu. Jangan buat keramaian di sini."


" Kita akan punya anak kembar Dimaaas... ya Allah... Dimaaasss!!!"


Di mengacuhkan permintaanku, dia mengeluarkan kepalanya dan,


" Aku mencintaimu ya Allah... Aku akan punya anak kembaaarrrr..."


Aku cepat menyalakan mesin mobilku dan tancap gas meninggalkan tempat kami berhenti tadi.


" Aku mencintaimu ya Allah... Aku mencintaimu Dimaaasss.... Aku me.. Dim... eeehh... Dimess... Dimesss kepelekuuu!!!


Aku menutup cepat kaca jendela di sisinya yang tadi terbuka lebar. Karena terlalu gugup, aku menekan tombolnya terlalu cepat, kaca jendela jadi bergerak cepat, menjepit leher Di. Aku cepat menurunkan kaca jendela itu lagi dengan menekan tombol di dekatku. Kepala Di terbebas, tapi aku tidak... .


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAKNYA YA MY READERS... SUPPORT ME ALWAYS PLEASE... THANK YOU...

__ADS_1


__ADS_2