
Dimas POV
Di tiba - tiba terjatuh di samping meja makan. Aku yang semula hanya menatap Iza, terkejut dan tak siap melihat tubuhnya yang tiba - tiba melemah dan jatuh ke lantai.
" Dirgana!!"
" Mama!!"
Aku cepat berjongkok di dekat tubuh Di, disusul Iza dan Azi. Aku lalu mengangkat tubuh Di.
" Buka pintu kamar Zi!"
Azi dengan cepat berdiri dan berlari ke arah pintu kamarku dan membukanya. Uni dan kedua baby sitter yang semula hanya mendengarkan perdebatan kami dari taman dekat kolam renang, ikut panik dan berkumpul di ruang makan.
" Uni, telpon Andi dan suruh bawa dokter ke sini sekarang juga!"
uni dengan cepat mengeluarkan ponsel dari saku celana panjangnya dan menghubungi Andi, sementara aku membawa Di ke kamar dan membaringkannya di tempat tidur. Iza dan Azi ikut duduk di tepi tempat tidur sambil menangis dan memanggil - manggil Di.
" Aku peringatkan pada kalian berdua, jangan pernah pertanyakan cintanya untuk kalian berdua lagi!!"
aku mengungkapkan kekesalanku pada kedua anak - anakku setelah membaringkan Di.
" Dia bahkan rela meninggalkan aku demi cintanya pada kalian. Kalian tidak berhak menyalahkannya, apapun yang dia lakukan selama ini, semata - mata untuk melindungi kalian, membuat kalian bahagia, dia sangat mencintai kalian. Bahkan cintanya pada kalian melebihi cintanya padaku."
" Ampun Iza pa.. maafkan Iza pa.. huhuuu... huuuuu.."
" Kau sudah dewasa, kau harusnya tau betapa besar cintanya padamu dan adik - adikmu Za. Papa benar - benar kecewa padamu kali ini."
Iza terus menangis,
" Kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk pada mamamu, papa tidak akan pernah memaafkan mu dan ayahmu atas semuanya, camkan itu!!"
Aku berlalu meninggalkan Iza dan Azi yang masih menangis di dekat Di.
" Sudah telpon Andi ni?"
tanyaku begitu berada di luar kamar.
" Sudah pak, pak Andi sedang menjemput dokter."
Aku kembali ke pintu kamar, mengintip kedua anak itu yang masih menangis di dekat Di, kemudian kembali ke ruang makan dan duduk di sana sambil menunggu kedatangan Andi dan dokter.
*
Author POV
" Bagaimana dok?"
Dimas langsung bertanya pada dokter setelah melihat si dokter selesai memeriksa keadaan Di.
" Tensi ibu tinggi pak. Jangan membebani pikiran beliau, biarkan beliau istirahat dulu ya pak."
Dimas menoleh pada Iza, anak itu langsung menunduk merasa bersalah.
" Iya dok, terimakasih."
Dimas dan Andi melangkah keluar kamar mengantarkan si dokter, sementara Iza dan Azi masih menemani Di di dalam kamar.
" Tu lah kakak.. Mama jadi sakit gara - gara kakak."
Iza kembali menangis menyesali perbuatannya.
__ADS_1
" Ampun Iza ma... hwaaaa... huhuuuuuu."
" Udah, gak usah nangis, berisik. Nanti mama terbangun pula."
ujar Azi kemudian.
" Iza, Azi, kita bicara di luar. Biarkan mama istirahat dulu."
Iza dan Azi langsung bangkit begitu mendengar perintah dari Dimas. Mereka berdua melangkah keluar kamar, meninggalkan Di yang masih berbaring di tempat tidur.
Dimas sudah duduk di kursi santai di ruang keluarga menunggu kedatangan kedua anaknya.
" Kalian ingin tau kebenaran, papa yang akan menceritakannya semua. Setelah itu, terserah kalian. Papa memberikan kalian kebebasan untuk memilih, mau tinggal dengan ayah kalian atau tetap di sini bersama mama, papa dan adik - adik kalian."
Iza dan Azi hanya duduk diam di hadapan Dimas, menunggu cerita yang akan keluar dari mulut Dimas.
*
Iza POV
Aku turun dan melihat mama yang sedang menyiapkan sarapan untuk kami seperti biasa. Wajahnya masih terlihat lemas, tapi beliau tetap menjalankan tugasnya.
" Ma..."
Aku langsung memeluknya begitu berada di ruang makan. Mama membelai tanganku yang memeluk erat tubuhnya.
" Udah siap? sarapan lah dulu."
ujarnya memberikan perintah dengan lembut
" Iza cinta mama... huhuuuuu... Iza minta maaf soal semalam."
Air mataku langsung saja mengalir begitu merasakan belaian tangannya di kulit tanganku, aku benar - benar menyesal sudah menyakitinya dengan kata - kataku semalam.
" Ma... hik... hik."
aku mendaratkan ciuman di pipinya, meski isakan ku masih terdengar.
" Sudah, sarapan lah dulu. Mana Azi?"
" Azi di sini ma."
Azi ikut - ikutan memeluk mama dari sisi yang lain. Mama juga membelai tangannya dengan lembut.
" Mama jangan sakit lagi ya.. Azi sayang mama."
Azi mengecup pipi mama sambil berjingkat, mama mengangguk dan tersenyum.
" Sudah, sarapan dulu. Bentar lagi papa siap dan sarapan. Mama gak mau kalian terlambat ke sekolah."
aku dan Azi kembali memberikan kecupan di pipi mama, lalu melepas pelukan kami dan duduk untuk menyantap sarapan.
*
" Halo cucu oma sayang..."
Wanita tua itu kembali mendatangiku di sekolah dan memelukku. Aku hanya diam tak merespon pelukannya.
" Iza kenapa? Iza sakit?"
aku menggeleng lemah, seketika merasa benci pada wanita tua yang berdiri di depanku ini.
__ADS_1
" Bagaimana Za, apa kau sudah memutuskan. Oma dan ayahmu benar - benar kesepian, kami sangat merindukan kalian berdua. Kau sudah ajak Azi juga kan?"
" Bukannya oma senang kalau kami jauh, kenapa sekarang oma malah merasa kesepian?"
wanita tua itu membelalakkan matanya padaku,
" Mama dan papamu pasti sudah banyak bercerita bohong padamu. Mereka memang benar - benar kurang ajar."
wajahnya seketika merah seperti menahan marah
" Iza tidak akan kemana - mana oma. Iza akan tetap tinggal bersama mama dan papa Dimas."
kembali wanita tua itu melotot padaku
" Tapi Dimas itu jahat Za.. Mama gak mau dia menyakitimu nantinya. Dan mamamu itu buta, terlalu silau dengan harta."
" Cukup oma, papa menjagaku dengan sangat baik. Papa tidak pernah meninggalkan mama untuk wanita lain, papa tidak pernah menyakitiku, membentak sekalipun tidak. Sudah bertahun - tahun kami tinggal bersamanya, belum sekalipun papa Dimas menyakiti kami."
" Begitulah cara dia berpura - pura Iza.. Kau sekarang sudah tumbuh dewasa dan cantik. Suatu hari Dimas pasti akan tergiur untuk menyentuhmu. Oma takut kehilanganmu za.."
" Berhenti menjelek - jelekkan papa Dimas, oma! Papa Dimas tak sebejat laki - laki yang membiarkan istrinya melahirkan sendirian. Papa Dimas selalu menemani mama dalam keadaan apapun. Papa Dimas sangat menyayangi Iza dan Azi."
" Berani sekali kau berteriak padaku!"
" Karna aku tak suka orangtuaku di fitnah. Katakan padaku terus terang, apa yang oma dan ayah inginkan!"
" Kau..."
Wanita tua itu mengangkat tangannya hendak menamparku, tapi sebuah tangan menahan tangannya di udara.
" Jangan pernah menyentuh anakku!"
Aku menoleh ke samping, papa Dimas terlihat sedang menahan tangan wanita itu, sementara mama berdiri di samping papa.
" Ma.. Pa.."
" Kenapa harus lewat anakku buk, kau bisa meminta padaku secara baik - baik. Aku akan memberikan sedekah padamu."
" Kurang ajar kau Dimas, lepaskan tanganku!"
papa langsung melepas tangan wanita tua yang sedang murka di hadapannya
" Kenapa, apa semua tokomu sudah bangkrut? Kau butuh berapa toko lagi?"
" Aku hanya meminta hakku dan Radit!"
" Hak yang mana? Toko kecil itu? Itupun ingin kau ambil dariku?"
" Heyyy.. Toko kecil itu tidak ada apa - apanya. Bukan itu yang kami mau!"
" Toko yang lain adalah milik pribadiku. Tidak atas nama tuan Arya lagi, semua adalah hasil kerja kerasku dan mamaku. Semua adalah milik Dimas Arya dan anak - anaknya, bukan atas nama almarhum papa."
" Mana 10 toko yang papa tinggalkan untuk kalian? 2 villa dan 5 buah mobil yang papa beli atas namamu? 2 buah rumah mewah di Jakarta yang kau kangkangi? Tanah dan banyak aset lagi yang sudah kau bawa pergi dan nikmati bersama putra kesayanganmu?"
" Ada.. masih ada."
" Trus, untuk apa kau minta lagi padaku?"
" Aku meminta anak - anak Radit yang dibawa pergi wanita ini dulu!"
" Kenapa baru sekarang? Setelah mereka remaja dan dewasa? Apa rencanamu?"
__ADS_1
Dimas menatap jalang pada wanita tua itu, begitu juga mama. Aku dan mama hanya diam menahan kekesalan atas kata - kata yang keluar dari mulut si wanita tua. " Apa yang sebenarnya dia inginkan?" tanyaku dalam hati.