
*
Dirgana POV
Anita memeriksa keadaan Dimas di kamar, ditemani mama Sandra. Aku menyiapkan sarapan di dapur. Tak berapa lama, aku mendengar percakapan mama Sandra dan Anita.
" Bapak itu butuh banyak istirahat nyonya, apalagi istirahat malam. Setiap pagi tensi bapak naik terus, artinya bapak kurang istirahat di malam hari."
Mama Sandra menganggukkan kepalanya, aku mengerti kemana arah pembicaraannya.
" Bapak butuh perawatan dan penjagaan khusus 24 jam, agar semua kegiatan yang melelahkan dapat di hindari."
prang
Piring yang sedang aku cuci terjatuh dari tanganku, ada firasat buruk ketika mendengar kata - katanya.
" Kau tidak apa - apa Di?"
Mama bertanya, setengah berteriak
" Nggak pa pa ma."
Jawabku pelan.
" Baiklah, begini saja. Kalau mendengar hasil pemeriksaan kamu tadi, ini berarti masalah serius."
" Benar nyonya."
Mama Sandra diam sejenak,
" Saya akan bawa Dimas ke rumah sakit saja, biar dirawat disana."
" Lho, saya kan ada disini untuk merawat bapak, saya sangat siap menjaga beliau 24 jam."
Aku tersenyum, mama Sandra selalu mengerti perasaanku meski tanpa menanyakan dulu padaku.
" Ini masalah serius, saya harus menanganinya dengan serius juga An.. Tenang saja, gajimu tidak akan saya potong meskipun Dimas berada di rumah sakit."
" Bbbukan begitu maksud saya nyonya."
" Di setuju ma."
Mama Sandra dan Anita menoleh padaku, kilat marah dari mata Anita menyerang mataku, tapi aku tak perduli.
" Biar Dimas dirawat saja lagi, disana juga banyak dokter, jadi dokter bisa memeriksa Dimas secara rutin."
" Ok, Di sudah setuju. Andi!!"
Andi cepat masuk ke rumah dan berdiri di dekat mama.
" Antar kami ke rumah sakit sekarang."
Andi mengangguk, Anita merengut.
__ADS_1
**
Tibalah kami di rumah sakit, aku, mama Sandra, Andi dan Anita.
Dokter cepat menangani Dimas setibanya kami disana. Memeriksa keadaan Dimas dengan sangat teliti, lalu duduk di mejanya menghadap kami dengan tersenyum.
" Keadaan tuan sudah sangat baik, kenapa minta dirawat lagi bu?"
Mama Sandra cepat melirik pada Anita, aku dan Dimas saling berpandangan.
" Kata Anita, setiap pagi tensi Dimas selalu tinggi, artinya Dimas butuh perawatan 24 jam. Makanya saya minta Dimas dirawat lagi."
Dokter menoleh kepada Anita yang masih tertunduk.
" Maaf dok, ada yang mau saya tanyakan."
" Silahkan pak Dimas."
" Apa saya sudah boleh melakukan aktivitas suami istri?"
Aku menoleh cepat pada Dimas, begitu juga dengan mama. Kami sama - sama kaget dengan pertanyaan Dimas. Andi yang ikut masuk ke ruangan dokter menahan tawanya. Dokter tersenyum
" Sangat boleh pak, kita laki - laki sangat membutuhkan itu, agar kita tetap waras."
Dokter menjawab serius tapi sambil bercanda.
" Jadi, Dimas tidak perlu dirawat dok?"
" Pemeriksaan rutin itu wajib, tapi tidak dengan dirawat di rumah sakit juga. Ibu bukannya punya dokter pribadi, kenapa tidak menggunakan jasa beliau untuk datang memeriksa 2 kali sehari."
***
Setibanya di rumah, aku mengantar Dimas ke kamar untuk beristirahat, lalu keluar lagi menemani mama.
" Ok, begini Anita. Seperti yang dikatakan dokter tadi, Dimas sudah dalam keadaan sangat baik. Jadi, rasanya kami tidak membutuhkan jasamu lagi di sini."
Anita menatap mama, air mata mengalir dari sudut matanya.
" Jujur, saya kecewa dengan cara kerjamu. Andai saja kau mau berbaik hati, tulus dan tidak berharap lebih dari apa yang kau terima, aku pasti akan mempertimbangkan lagi keputusanku."
" Dimas sudah sering mengeluh tentangmu, Dimas ya.. Bukan Di. Jadi, aku hanya ingin kau tau, tidak ada rahasia di rumah tangga ini, kecuali rahasia mereka berdua didalam kamar, dan itupun karena aku tak mau tau."
" Antara aku dengan bisan, anak - anak dan cucuku, bahkan dengan semua orang yang bekerja disini, kami biasa terbuka. Silahkan tanya pada uni yang sudah bertahun - tahun bekerja dengan kami."
" Maafkan saya nyonya, saya mohon jangan pecat saya, saya butuh pekerjaan ini."
Anita memohon dengan memasang wajah super sedihnya.
" Saya orang yang tidak bisa menerima kehadiran orang ketiga, baik itu dalam hidup saya ataupun anak - anak saya. Buat saya, menantu saya hanya satu, Dirgana Putri. Jadi, jangan pernah mencoba memaksa masuk ke keluarga saya dengan cara nakal."
Semua kedok Anita dibongkar habis oleh mama, dia tidak dapat mengelak.
" Baiklah, ini gaji terakhir kamu, silahkan bereskan semua barang - barangmu."
__ADS_1
Anita bergerak cepat mendekati mama, duduk memohon di hadapannya.
" Saya mohon Nya, maafkan saya."
" Kami sudah memaafkanmu Anita, tenang saja. Tapi masalahnya, kami tidak butuh lagi jasamu disini. Dimas sudah punya perawat pribadi yang siap merawat, menemani dan melayaninya 24 jam, setiap hari, tanpa libur dan tanpa dibayar."
Anita makin mengeraskan suara tangisannya, Azi dan Iza keluar dari kamarnya dan memperhatikan apa yang sedang terjadi dari lantai atas.
" Uni!!"
Uni bergegas keluar kamar dan mendekati mama Sandra.
" Kosongkan kamar tamu, segera!"
Uni langsung berlari ke lantai dua, merapikan kamar tamu yang digunakan oleh Anita selama dia disini. Anita meraung - raung seperti anak kecil yang memaksa untuk dibelikan sesuatu. Iza dan Azi tertawa melihat tingkahnya.
" Anita!"
Dimas berteriak dari depan pintu kamar, kami semua menoleh pada Dimas. Dimas kemudian menoleh pada Iza dan Azi, lalu meminta mereka masuk ke kamar hanya menggunakan sedikit gerakan kepalanya. Iza dan Azi berlari masuk ke kamarnya masing - masing.
" Berhenti membuat keributan, keputusan sudah dibuat. Silahkan pergi dari rumah ini!"
Anita bergerak mundur menjauh dari mama Sandra dan berdiri di samping meja makan, dadanya turun naik menahan amarah, wajahnya pun tampak sangat kesal. Dia lalu mengusap air mata di wajahnya.
Aku berdiri dan melangkah hendak mendatangi Dimas, tapi
plak
" Ahhh..."
" Di!!"
Aku merasakan sesuatu yang sangat keras mengenai kepalaku, cairan merah kental mengalir dari keningku, lalu...
Gelap.
Author POV
Di terbaring lemah tak sadarkan diri. Beberapa perawat sedang membersihkan darah yang tak berhenti mengalir dari kepalanya. Mama Sandra dan Iza menangis saling berpegangan tangan. Dimas hanya bisa diam terpaku menatap Di. Azi berdiri di samping Dimas melakukan hal yang sama dengan Dimas.
" Ma..."
Dimas menarik bahu Azi yang tiba - tiba menangis mendekat padanya. Azi memeluk pinggang Dimas dan membenamkan tangisannya disana. Dimas menggosok - gosok bahu Azi untuk menenangkannya, tatapannya tak lepas dari perempuan yang sangat dicintainya.
" Dirgana perempuan kuatku, tetaplah kuat untuk menguatkanku dan anak - anak kita."
Air mata Dimas mengalir, cepat dia singkirkan dengan tangannya sambil tetap menenangkan Azi.
****
Di sudah dibawa ke kamar perawatan dan belum juga sadar. Dimas sudah meminta mama dan anak - anak pulang untuk beristirahat, tapi semua menolak. Mama Di juga sudah datang, beliau shock melihat keadaan Di. Beliau hanya bisa terduduk lemah ditemani Azi.
" Banyak sekali cobaan untuk kalian nak... Semoga Tuhan menguatkan kalian semuanya."
__ADS_1
Mama Di menangis setelah mengucapkan kalimat itu, Azi yang sudah tenang berganti menenangkan neneknya. Mama Sandra dan Iza masih menangis bersama, tak kuasa melihat keadaan Di saat ini.