
*
Dimas
Aku berjalan gontai menuju salah satu kamar hotel, mengetuk pintunya dan langsung masuk begitu pintu terbuka.
" Lemes banget sihhh... Ribut ya sama istrimu?"
Aku menghempaskan tubuhku di sofa dan memijat kepalaku yang mulai terasa sakit.
" Udah dehhh... gak usah terlalu dipikirin... santai aja..." Siska duduk tepat di sampingku, membantu mengurut kepalaku yang sakit.
" Di itu sebenarnya baik Sis... Dia juga mudah berteman, gak tau kenapa dia seperti ini hari ini."
" Yahhh... dia mungkin cemburu karena aku lebih cantik."
Aku menoleh ke Siska yang memasang senyum dan menggerak - gerakkan bibirnya. Aku tersenyum sedikit dan membuang muka sambil menggeleng - geleng.
" Biasa aja."
Dia tertawa terbahak - bahak mendengar perkataanku.
" Emang kamu gak pernah ya ngerasa nafsu lihat aku, laki - laki lain malah langsung ikut lihat kedipanku."
" Karena mereka gak tau kegilaanmu miss sex... hahahaha..."
Aku tertawa menanggapi pertanyaan gila Siska, lalu teringat bagaimana cara Di melayaniku selama ini. Di itu panas, lembut, manis dan selalu hangat. Itu karena dia tulus ingin membahagiakanku.
" Sex itu Di... She is the best."
Aku langsung benar - benar mengingat wajah dan caranya menaklukkanku, tiba - tiba saja hasratku bergelora, badanku terasa panas.
" Aku pulang Sis... "
" Dimaaasss!!"
Aku mengabaikan teriakan Siska dan cepat keluar dari kamarnya, berlari menuju mobilku di bawah, " Di... aku menginginkanmu."
**
Hening... rumah sepi... itu yang aku dapati ketika aku membuka pintu rumah dan masuk ke dalam. Anak - anak masih di sekolah, uni juga pasti udah pulang. Aku langsung berjalan ke kamar, tapi Di tidak ada di sana, hanya Zya yang sedang tertidur lelap. Aku berjalan ke kamar mandi dan mendapati Di sedang menenggelamkan tubuhnya di dalam bathtub. Kepalanya menengadah dengan mata tertutup. Aku membuka pelan semua pakaianku dan meletakkannya di lantai. Lalu, berjalan pelan menuju bathtub dan masuk ke dalamnya.
Di terkejut melihat kehadiranku yang tiba - tiba saja di dalam bathtub. Dia menatapku tajam dan dingin. Aku membalas tatapannya dan hanya diam. Lama kami saling bertatapan dalam diam, lalu Di bangkit ingin keluar dari dalam bathtub, aku cepat meraih tangannya dan menarik tubuhnya untuk mendekat. Di yang tidak siap menerima tarikan tanganku tak mampu melawan, tubuhnya jatuh tepat di atas tubuhku. Di lalu menatap mataku dengan marah.
" Kau pikir semua masalah akan selesai dengan sex?"
Di bertanya dengan pelan dan dingin.
" Aku menginginkanmu Di."
Jawabku lembut
" Tapi aku tidak."
__ADS_1
Dia menolak tubuhnya menjauh dariku, aku cepat memeluk tubuhnya agar tak bisa menjauh dariku.
" Lepaskan aku Dimas!! Aku tidak mau bercinta dengan laki - laki yang lebih membela temannya daripada aku, istrinya!"
Di kembali mencoba menolak tubuhnya, namun tentu saja pelukanku yang erat sudah mengunci gerakannya.
" Bisakah kita bicarakan lagi nanti Di?"
Aku memintanya dengan lembut
" Aku tidak mau membicarakan apapun lagi soal Siska. Aku tidak perduli."
Di melepaskan tubuhnya dari pelukanku, aku sengaja melonggarkan pelukanku, melihat ekspresi wajahnya yang benar - benar tak mau berada dekat denganku.
Di keluar dari bathtub dan mengambil handuk untuk menutupi tubuhnya, lalu keluar dari kamar mandi meninggalkanku yang sudah tegang di dalam bathtub.
***
Sudah seminggu Di tidak memberikan sapaan, senyuman bahkan sentuhan cintanya untukku. Aku sudah benar - benar stress dengan keadaan seperti ini. Mama dan mertuaku pun belum kembali dari liburannya, aku jadi tidak tau harus membujuk Di lewat siapa, karena hanya beliau berdualah yang mampu melunakkan hati Di. Aku mengacak - acak kepalaku, letih untuk berpikir keras cara membuat Di memaafkanku.
" Dimaaaassss...."
Seseorang masuk tanpa mengetuk pintu dan memanggil namaku dengan manja, siapa lagi kalau bukan Siska. Dia berjalan melenggak lenggok ke arahku lalu memelukku begitu kami sudah berada sangat dekat.
" Jalan yuukkk..."
Aku hanya diam tak melayani ajakannya.
" Ayolah Dimmm... kita segarkan otak, biar tetap waras." Dia tertawa lalu mencubit pipiku.
Jawabku lemah,
" Iiihh... trus siapa yang bakal nemenin aku kalau bukan kamu? "
" Duhhh... cowok yang semalam nemenin kamu, kemana dia?"
Tanyaku yang langsung di sambut tawanya yang cempreng.
" Nggak ah... miskin dan lemah."
Dia kembali tertawa terbahak - bahak.
" Hmmm... aku lagi males kemana - mana ka.. otakku lagi mumet."
Jawabku lalu kembali merapikan rambutku yang acak - acakan
" Makanya, biar gak mumet kamu temani aku jalan... Kita senang - senang."
Siska tambah merapatkan tubuhnya, menggesek pelan dadanya di tanganku, sesuatu terbangun akibat gesekan itu. Aku cepat berdiri dan melangkah ke kursiku untuk menjauhkan diri darinya. Tubuhku dengan cepat bereaksi akibat kelamaan tidak disentuh Di. Siska seperti tau apa yang sedang terjadi padaku, tertawa dan melangkah mendekatiku.
" Ayolah sayang... Temani aku... aku akan membuat mumetmu hilang. Kau akan tenang nanti."
Siska duduk di atas meja yang berada di depanku, berhadapan denganku yang duduk di kursi, tapi posisinya lebih tinggi. Kemudian dia membuka lebar kakinya dan aku bisa melihat jelas celana dalam seksi yang dia kenakan. Kembali tubuhku bereaksi, ada yang menuntut haknya untuk dilepaskan. Aku menelan salivaku melihat pemandangan menggoda yang terbentang. Siska lalu sedikit merebahkan tubuhnya ke belakang, menumpunya dengan kedua tangan, dadanya nampak menantang untuk di sentuh dan di kecup, kembali aku menelan salivaku dengan susah payah.
__ADS_1
" Ayolah sayang, bermainlah sebentar denganku, aku sangat bersedia untuk dinikmati."
Suaranya lembut dan merayu, menenggelamkan aku dalam keinginan untuk menyentuhnya, kakinya yang di letakkan di pegangan kursi, turun ke pahaku dan bergerak lembut di sana
brakkk
Aku cepat berdiri dari kursiku mendengar pintu yang terbuka dengan kasar,
" Di."
Mati aku... Di berdiri di sana, tatapannya berkilat marah padaku dan Siska. Tapi anehnya, Siska tetap santai melihat kedatangannya. Di lalu menutup dan mengunci pintu ruanganku. Kemudian dia berbalik badan dan menatapiku yang berdiri ketakutan, sementara Siska masih tetap duduk mengangkang di atas meja, sambil tersenyum menolehkan wajahnya ke samping.
Sekarang Di berjalan mendekati kami berdua, tanpa melepaskan tatapannya pada Siska. Dia berhenti tepat di depanku, sambil memandangi Siska seperti santapan aneh untuk makan siang.
" Kau lapar sayang?"
Tanya Di padaku, aku menggeleng - gelengkan kepala dengan cepat, bermaksud menjelaskan kalau aku... kami, tidak berbuat apa - apa.
Di mendekatkan wajahnya ke wajahku, lalu menciumiku dengan nafsu yang membara panas, melesatkan lidahnya dengan cepat dan menyapu seluruh mulutku, aku kembali merasakan si kecilku berdiri dan bergerak di sana, setelah sempat tertidur tadi begitu melihat kedatangan Di yang tiba - tiba. Aku menarik Di lebih dekat ke tubuhku dengan meremas pantatnya, Di mengerang, dan melepaskan ciumannya dengan pelan.
" Kalaupun kau sangat lapar, jangan pernah berpikir untuk makan makanan sembarangan apalagi yang tidak dibungkus. Aku takut kau sakit."
Aku mengangguk pelan menurut, seperti anak kecil yang sedang dimarahi ibunya karena sudah melakukan kesalahan, sulit sekali menahan hasratku kalau sudah Di yang menyentuhku. Dia kembali memberikan ciuman panasnya, kami saling membelai mulut dan lidah dengan lidah kami masing - masing, nafasku sudah mulai memburu, tanganku sudah menggerayangi tubuhnya kemana - mana. Siska turun dari meja dan menjauhi kami, dia membuang pandangan ke arah lain, tak mau menonton aktivitas mesum kami. Dia berjalan mengambil tas tangannya yang terletak di sofa, lalu berjalan ke pintu hendak keluar. Tapi, pintu terkunci... Di menyimpan kunci di saku rok yang dikenakannya. Berulang kali Siska menaik turunkan handle pintu dan menariknya dengan paksa, tapi sia - sia. Dia lalu memukul pintu.
Sementara Di sudah berhasil membuka baju dan celana panjang yang aku kenakan, sekarang Di sedang jongkok di depanku, menyapa si kecilku, aku menengadah sambil mengerang nikmat, si kecil sangat senang dengan sapaan Di yang lembut di tubuhnya. Di kemudian berdiri dalam keadaan telanjang menghadapku, merapatkan dadanya di dadaku. Aku menggendong tubuhnya dengan kaki terbuka dan berhadapan denganku, Di tak membiarkan bibirku beristirahat.
" Bukakan pintu ini!"
Siska berteriak marah pada kami, dia mulai gerah melihat aksi kami, tapi kami tidak perduli. Akupun tak kuasa menghentikan permainan ini, aku sudah di hanyutkan oleh Di.
" Dimaaasss... aku jijikkkk..."
Siska berteriak lagi, tapi bagaimana caraku untuk meladeninya, nafsuku sedang bergerak lari mengejar kenikmatan, dia meminta dilepaskan sebentar lagi, aku sibuk memaju mundurkan pinggulku, begitu juga dengan Di yang tak mau menikmati hanya dengan diam saja.
" Dimaaaassss!! Cepat buka pintu ini!!"
" Aaaahhhhhhh, Diiiii!!!"
teriakan Siska di sambut dengan teriakanku, melepaskan kerinduanku yang tertahan. Di berteriak pelan di tahan, tangannya meremas lenganku yang basah.
Aku menunduk, menghembuskan nafasku perlahan, mengatur hela yang tak beraturan, menatap wajah penuh hasrat yang ada di bawahku. Wajahnyapun belum kehilangan hasrat.
Tiba - tiba sesuatu terlempar ke kaki Siska, dia memungut benda yang terlempar itu dengan wajah merah menahan malu dan marah. Benda itu di masukkan ke sebuah lubang di bawah handle, terbuka.
" Kau yakin tak mau melihat sesi berikutnya Sis?"
Di bertanya mengejek, sementara aku hanya menatap wajahnya mengumpulkan kekuatan untuk membawanya kembali berlayar, karna adik kecilku masih butuh sapaannya.
" Kalian berdua gila!"
Dia kemudian membuka pintu ruangan dengan kasar dan berteriak pada pegawaiku sebelum dia membanting pintu.
" Bos kalian gila!"
__ADS_1
Aku tidak perduli pada apa yang dilakukan dan dikatakan Siska, ada yang lebih menuntut keperdulianku di bawah sini. Aku melanjutkan ciumanku pada tubuhnya dan berhenti turun setelah ciumanku berada di atas puncak gunung yang menggoda, Di bergelinyang, sesi berikutnya pun harus diselesaikan.
" Aku mencintaimu Di, hanya kamu." kataku dalam hati.