Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap

Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap
PENGGANGGU


__ADS_3

*


Akhirnya... Kedai siap dibuka, rumah pun sudah siap untuk ditinggali. Aku bersyukur atas semua bahagia yang diberikan Tuhan padaku. Aktivitasku bertambah mulai besok pagi, setelah selesai mempersiapkan bahan masakan untuk besok, aku langsung ke toko Dimas untuk pulang bersama.


Aku mencari - cari toko tempat Dimas saat ini berada, agak kesulitan buatku menemukannya karena ini adalah toko baru. Dimas memutuskan memindahkan beberapa toko dan aku tak tahu apa alasannya. Setelah hampir setengah jam aku berputar - putar, akhirnya aku menemukan juga toko yang dimaksud. Aku melangkah masuk ke toko dan melihat beberapa pegawai baru disana. Aku tersenyum kepada salah satu pegawainya yang menyapaku.


" Silahkan ibu... Lihat - lihat koleksi kami... bla.. bla.. bla.." Dia mulai mempromosikan koleksi terbaik di toko ini, aku tidak menyela perkataannya hanya diam membiarkan dia selesai bicara. Kemudian seorang wanita cantik berpostur padat berisi muncul dari sebuah pintu, dia berjalan ke sebuah meja di ujung toko dengan sangat percaya diri. Rambutnya yang panjang terurai bergerak mengikuti gerakan pantatnya yang bulat padat. Roknya ketat, meski panjangnya melewati lutut tapi belahannya jauh diatas lutut. Aku tiba - tiba saja merasa risih dengan penampilannya.


" Bagaimana ibu, mau pilih yang mana?"


Aku baru menyadari kalau pelayan didepanku sudah selesai bicara.


" Oh... maaf dek, saya mencari pak Dimas. Bapak ada kan?" tanyaku ramah.


Perempuan sintal tadi langsung melihat ke arahku begitu mendengar nama Dimas aku sebut.


" Ada perlu apa?" tanyanya. " Sungguh tidak sopan " pikirku, beginikah cara seorang pelayan toko melayani pembeli, pikirku.


Aku mengacuhkannya, kembali bicara pada pelayan yang ada di depanku.


" Saya sudah janji dengan beliau, adek boleh tanyakan langsung. Sampaikan kalau Di, saya, mencarinya." pelayan itu menunjukkan wajah bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukannya.


" Meski sudah janji juga harus lewat saya dulu mbak... Mbak ada perlu apa?" Dia kembali bicara dari jauh.


Pintu ruangan di depanku terbuka, Dimas keluar dari ruangan itu dan tersenyum kepadaku.


" Pak." pelayan didepanku menyapanya.


Si sintal berdiri dan menghampiri,


" Saya sudah tanyakan maksud dan tujuannya datang pak, tapi dia tak mau bilang." jelasnya. Dimas tersenyum menanggapi perkataannya, ini kali pertamanya aku membenci senyumannya. Tapi, aku menahan kebencianku, hanya tersenyum ramah sambil mengepalkan tangan menahan kekesalan.


" Beliau akan membeli toko ini."

__ADS_1


Semua yang berada disitu terperanjat, si sintal kaget dan berjalan lebih dekat pada Dimas, Dimas menggeser tempat berdirinya menyadari itu.


" Masuk yank..." katanya sambil berjalan melewati pintu pembatas, mendekatiku dan mencium keningku. Aku tersenyum, kesalku langsung hilang.


" Ini istri saya, jadi mulai besok jangan tanyakan apa kepentingannya datang menemui saya kesini, kalian tidak akan tahan mendengar alasannya nanti..." Dimas menjelaskan sambil tertawa. Suasana langsung cair, pelayan tadi berkali - kali minta maaf, si sintal memasang senyum yamg dipaksakan, sambil mengucapkan maaf dari tempatnya berdiri.


Dimas membawaku masuk ke ruangannya melewati si sintal, aku sengaja mengacuhkannya bahkan mengalungkan tanganku dipinggang Dimas. Dimas menatapku tersenyum seakan tahu apa yang aku pikirkan.


Setibanya di dalam, aku cepat menariknya menjauh dari pintu, memaksanya duduk di sofa, sementara aku duduk dengan melebarkan kaki diatas pangkuannya. Dimas tersenyum lalu meremas bokongku sambil menggigit bibir bawahnya.


" Kenapa pekerjakan yang seperti itu?" tanyaku kesal


" Rekomendasi teman sayang... Dia sedang butuh pekerjaan dan pekerjaannya bagus." jawab Dimas tersenyum.


" Pekerjaaannya yang mana yang bagus, yang melenggak lenggokkan pantatnya yang seperti kuda itu?"


Dimas tertawa terbahak - bahak mendengar pertanyaanku.


" Kau membuatku bernafsu sayang." Dia menaikkan salah satu alisnya lalu menunjuk sofa yang kami duduki dengan memonyongkan mulut, sementara remasannya di pantatku semakin keras.


" Aku tidak suka ditolak." katanya kemudian, sebelah tangannya digunakan untuk memaksa maju kepalaku, mengambil ciuman dariku, aku langsung membalas ciumannya lebih panas, memaksa masuk lidahku ke dalam mulutnya, dia mengerang, mengembalikan tangannya ke pantatku dan meremasnya lagi. Aku sedikit menaikkan pantat dan bergerak maju mundur diatas pangkuannya. Dimas semakin terbakar gairah, tubuhnya mulai terasa panas dikulitku, nafasnya mulai memburu,


" Pak, pesanan dari..."


Si sintal masuk tiba - tiba tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Kami terkejut dan berhenti bergerak, Dimas langsung menatap kesal padanya.


" eh.. maaf pak... " dia keluar dan menutup pintu.


Aku memindahkan tatapanku pada Dimas.


" Sangat bagus dan sopan." kataku kesal.


Dimas menjatuhkan tangannya dengan keras ke sofa, melampiaskan kekesalannya, lalu menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa. Aku jadi merasa iba melihatnya. Aku menarik pelan kepalanya dengan kedua tanganku, membawa wajahnya dekat denganku, menyatukan kening kami,

__ADS_1


" Aku berikan ekstra nanti dirumah, tenang saja." kataku merayu. Sebuah senyuman keluar, dia mengecup bibirku pelan.


**


Bayangan perempuan sintal itu tak mau lepas dari otakku, aku melihat gelagat yang tidak enak darinya. Ketakutan seketika melandaku, takut kalau - kalau Dimas termakan bujuk rayunya.


Aku melirik Dimas yang masih sibuk dengan laptopnya di sofa. Sesekali dia melirikku dan menaikkan alis matanya seperti sedang mengejek. Aku meninggalkannya dan berjalan masuk ke walking closet, memperhatikan pakaian tidur yang ada di tanganku. Aku belum sekalipun memakainya, padahal aku punya beberapa di dalam lemari pakaianku, entah siapa yang meletakkannya disana. Aku mengganti pakaian yang aku kenakan tadi dengan pakaian tidur seksi berwarna hitam itu, lalu mematut diri di cermin. Hampir seluruh bagian tubuhku terlihat, tapi aku suka. Aku keluar dan melihat Dimas sedang membelakangiku, sibuk dengan HPnya. Laptopnya sudah ditutup, artinya pekerjaannya sudah selesai. Aku berjalan pelan mendekatinya dan menyentuh punggungnya dengan kedua tanganku. Dimas langsung berbalik badan berhadapan denganku, terkejut melihat penampilanku, memandangi pakaian yang aku kenakan dari atas sampai bawah. Dia lalu meletakkan HPnya di atas meja kecil di samping tempat tidur, lalu kembali menatapku sambil tersenyum.


Apapun akan aku lakukan untuk membuatmu mencintaiku setiap hari di hidupmu Dimas. Aku tidak akan membuatmu merasa lapar ketika kau jauh denganku.


***


Dimas mengangkat tinggi bantal yang ada didekatnya, aku tertawa melihat tingkahnya.


" Hufffttt.. Di... Sudah Di... sudah..."


Dimas mengatur nafasnya, terlentang menengadah ke langit - langit kamar.


" Apanya yang sudah sayang??" kataku pelan, berbaring menyamping menghadapnya.


" Amunisiku sudah habis Di, aku menyerah."


Aku tergelak mendengar jawabannya, lalu bangkit


" Ahhhh... Dimas lemah." kataku mengejek sambil berlalu meninggalkannya.


****


" Ahhhh... Dimas lemah."


Dia langsung berlalu menuju kamar mandi setelah mengucapkan itu. Aku langsung terdiam,


Aku akui, Di memang hebat di ranjang. Dia selalu punya cara untuk memancing hasratku sekaligus memuaskanku. " Apakah aku sudah berhasil memuaskannya?" pertanyaan itu tiba - tiba mengganggu fikiranku. Di benar, aku lemah dan selalu kalah kalau urusan ranjang, tapi aku sangat menyayanginya. " Apa itu cukup buatnya? " pikirku lagi.

__ADS_1


" Udah Dim, bersihkan tubuhmu... Ayo..."


Di menarik tanganku memaksaku bangkit, aku menurutinya. Pikiranku langsung melayang ke hal - hal buruk yang mungkin akan dilakukannya di belakangku apabila dia selalu ku buat tidak puas. Apalagi mulai besok Di akan memulai kesibukan barunya. Dia akan bertemu banyak orang baru setiap harinya. Aku diam menatap cermin... lama... Kepalaku tiba - tiba terasa sakit. Aku mencari obatku di laci, membukanya dan langsung memasukkannya ke mulutku. Aku keluar dan mendapati Di sudah menutup matanya, aku berjalan ke arah meja di samping tempat tidur dan mengangkat gelas yang selalu ada disana, lalu menghabiskan isinya. Aku naik ke atas tempat tidur pelan - pelan, berbaring menghadapnya dan menatap wajahnya lama.... Sampai akhirnya aku pun tertidur.


__ADS_2