
*
Dimas dan Di menyusuri pantai sambil terus berpegangan tangan, sesekali mereka berhenti, saling berpelukan dan berciuman. Suasana malam yang gelap memungkinkan mereka melakukan apapun tanpa di lihat orang.
Dimas berhenti pada sebuah gubuk gelap tanpa dinding di pinggir pantai, hanya tempat duduk segi empat yang cukup lebar beratapkan daun kelapa, tempat yang setiap pagi sampai sore disewakan untuk pengunjung. Hanya ada lampu temaram di warung yang terletak beberapa ratus meter dari gubuk itu. Dimas menarik tubuh Di dan mendudukkannya di atas pangkuan Dimas sambil menghadap ke pantai, memunggunginya.
Dimas menciumi punggung Di sambil memeluk erat tubuh Di. Sesekali Dimas menggigit dan memberi kecupan pada punggung Di yang berbalut dress tipis berwarna gelap.
Dimas menuntun Di untuk berdiri sebentar, membuka kancing celana pendeknya dan mengeluarkan senjatanya yang sudah mengeras. Lalu kembali mendudukkan Di di pangkuannya setelah mengangkat rok panjang Di sampai ke pinggang.
Dimas memang sudah meminta Di untuk tidak mengenakan underwear sebelum mereka meninggalkan villa. Di melotot mendengar permintaannya, namun tetap menuruti apa mau Dimas.
Keadaan Di yang tanpa underwear, memudahkan Dimas mempertemukan miliknya dan milik Di. Dengan sedikit mengangkat kaki kanan Di, Dimas memasukkan senjatanya dan mengerang oleh rasa hangat dan nikmat yang membalut senjatanya. Dimas kembali menurunkan kaki Di dan diam sebentar merasakan hangatnya gua Di.
Dimas lalu mengarahkan tubuh Di untuk bergerak turun naik di pangkuannya, perlahan dan santai.
" Kau semakin gila sayang."
" Aku gila karena merindukanmu Dirgana Putri, kau tau itu."
Dimas mengangkat dress bagian belakang Di dan mengecup kulit Di. Di melengkungkan tubuhnya karena merasa geli oleh kecupan hangat Dimas. Dimas kemudian menggigit pelan kulit punggung Di, lalu memberikan kecupan hangat dan menghisap kulit Di. Di mulai bergerak turun naik di atas pangkuan Dimas tanpa tuntunan lagi.
Sesekali Di berhenti dan menggoyangkan pinggulnya, Dimas melepaskan hisapannya di kulit punggung Di dan mendesah menyebutkan nama Di. Desahan dan erangan yang keluar dari mulut Dimas membuat Di merasa bangga karena mampu membuat suaminya merasakan kenikmatan dari dalam tubuhnya, berulang kali Di melakukan goyangan pinggul, sampai Di merasakan puncaknya sudah dekat.
Di mulai bergerak cepat berirama, turun naik dan bergerak memutar di atas pangkuan Dimas. Dimas yang juga mulai merasakan ingin lepas, meremas pinggul Di dan mengarahkan gerakan Di. Mata mereka terpejam, kepala mereka menengadah, mereka mengerang dan mendesah, nafas mereka berpacu indah. Dimas lalu menahan gerakan Di dan memuntahkan isi senjatanya di dalam gua milik Di, sementara Di masih menggoyangkan pinggulnya lebih kencang, lalu menekan bokongnya ke pangkuan Dimas dan menundukkan kepalanya. Di menahan tubuhnya dengan meletakkan kedua tangannya di atas kedua lututnya. Sementara Dimas yang tadi menyandarkan wajah di punggung Di, mengangkat kepalanya dan merebahkan pelan tubuhnya di lantai gubuk dari kayu. Dimas Berbaring terlentang mengembangkan kedua tangannya dengan bebas.
Di bangkit berdiri melepaskan tubuhnya dari pangkuan Dimas, menurunkan rok dan dress belakangnya, lalu berbalik menatap Dimas yang terkulai. Di membungkuk dan memasukkan senjata Dimas ke dalam celana pendeknya, Dimas yang juga sengaja tak mengenakan underwear tadi, hanya diam membiarkan Di merapikan celananya.
Di lalu bergerak maju dan membungkukkan wajahnya di atas wajah Dimas, kemudian memberikan kecupan di bibir Dimas.
" Ayok Dim, kita kembali ke villa."
" Bentar lagi yank.."
" Kau capek?"
Dimas seketika bangkit, Di kaget dan bergerak mundur
" Aku masih kuat yank, jangan remehkan aku."
Dimas berdiri dan mengangkat tubuh Di ala - ala pengantin, Di berteriak kaget menerima perlakuan Dimas
" Turunkan aku Dimas."
" Aku ingin kau tau, kalau aku masih kuat."
" Iya iya... aku tau, kau laki - lakiku yang sangat kuat, ok."
__ADS_1
Dimas menurunkan tubuh Di perlahan, lalu menatap wajah Di.
" Aku mencintaimu setiap hari sayang."
Lalu memberikan kecupan di kening Di.
" Aku juga yank, kau membuatku menginginkan sentuhanmu setiap waktu."
Di mengecup dada Dimas .
*
Dimas dan Andi duduk di kursi santai menghadap pantai, anak - anak dan baby sitter asyik bermain dan bersenda gurau di tepian pantai. Di datang mendekati Dimas membawa snack dan minuman yang dibawanya dengan baki.
Baru saja Di mendaratkan bokongnya di kursi santai Dimas, Azi dan Iza berteriak - teriak memanggil mereka,
" Maaa!! Pa!! Kakak Andiennn!!"
Dimas, Andi dan Di bangkit dan berlari mendekati mereka. Di cepat menarik Zya ke dalam gendongannya, sementara Azi dan Iza dengan cepat menarik tangan Dimas sambil menunjuk ke ombak yang bergulung dan memecah.
" Kakak Andien, pa..."
Wajah Iza pucat menatap Dimas,
" Iya iya sayang... sebentar, Ndi..."
Perlahan Andi melangkah kembali ke tepian, bersama Andien yang terkulai lemah dalam gendongannya. Setelah beberapa kali menabrak gulungan ombak, Andi berhasil menuju tepian dan membaringkan Andien di pasir. Tanpa di minta, Andi membungkuk di dekat tubuh Andien dan memberikan nafas buatan.
Dimas melirik pada Di, Di membalas lirikan Dimas sambil tersenyum penuh arti.
" Kak Andienn..."
Iza dan Azi serentak memanggil namanya sambil menangis, Dimas membawa mereka berdua mendekat padanya, Andi dengan sabar berkali - kali memberikan nafas buatan dan menekan - nekan dada Andien.
" huuufffkkk... uhuk uhuk.. uhukk uhukkk"
" Kak Andiennnn!!"
Iza dan Azi memeluk Andien bersamaan, menangis lega melihat Andien yang sudah bangun. Dimas mengambil baby Hifza dari gendongan baby sitternya dan meminta baby sitter Hifza untuk membawa Andien kembali ke villa dan beristirahat.
Andi membantu Andien berdiri dan menyerahkan tangannya pada baby sitter Hifza. Andi menatap langkah Andien, wajahnya yang tadi cemas berubah lega dan sedikit tersenyum.
" Ehemmmm"
Andi dengan cepat mengubah ekspresinya melihat Dimas dan Di memperhatikannya
" Manis Ndi?"
__ADS_1
" Apaan sih?"
Andi melangkah cepat melewati Dimas dan Di
" Botak, ke sini kau!!"
Di menepuk lengan Dimas sambil tertawa, Andi melangkah ke villa mengikuti Andien dan baby sitter Hifza, untuk menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah
" Aku pikir dia homo yank."
Dimas menatap Di dan mengernyitkan kening
" Kalau dia homo, sudah dari dulu aku berhentikan sayang... Aku pasti takut di perkosa."
Di kembali tertawa terbahak - bahak.
" Dia hanya terlalu pemilih, trauma dengan kejadian ayahnya yang di tinggal ibunya menikah lagi saat dia SMP."
Di mengangguk, mulai mengerti kenapa Andi belum juga menikah sampai saat ini.
" Andien itu yatim piatu, bertahan hidup sendiri tanpa bantuan keluarga ayahnya ataupun keluarga ibunya. Dia baik, aku menyukainya."
" Aku juga."
Di, menoleh cepat pada Dimas
" Maksudmu?"
Dimas tersadar akan ucapannya, dan gelagapan
" M..mm.. maksudku, aku suka..."
" Kau mau macam - macam Dimas Arya?"
Di mendekatkan tubuhnya pada Dimas, meremas bokong Dimas dengan tangan kanannya, sementara di tangan kirinya ada Zya yang memain - mainkan rambutnya yang diterpa angin.
" Nggak yankkk... nggakkk... sakit!"
Di melepaskan tangannya dari bokong Dimas dan menatap Dimas dengan kesal.
" Aku hanya mencintaimu pembangkit gairahkuuu."
Dimas mengerling pada Di,
" Awas saja kalau sampai berani kau menyukai orang lain, ku ikat ujung senjatamu!"
Di kemudian berlalu meninggalkan Dimas yang seketika bergidik ngilu.
__ADS_1