
*
Dimas masuk ke dalam kamar dengan wajah ditekuk kesal. Aku hanya diam, karena sedang menemani Zya yang baru saja akan tertidur. Dimas langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Aku bangkit perlahan agar tak membangunkan Zya, lalu mengambilkan pakaian ganti buat Dimas.
Tak berapa lama Dimas keluar mengenakan celana pendek yang tadi sudah aku siapkan. Aku duduk mendekat padanya dan memijat - mijat bahunya, dia hanya diam saja.
" Mulai besok, tolong jangan paksa aku untuk menuruti kemauannya. Aku capek."
Aku menghentikan sebentar pijatanku di bahunya, terkejut dengan kata - katanya yang bernada tinggi.
" Dia bilang sudah janji dengan dokternya. Empat jam menunggu di sana dengan tangannya yang bergelayut di lenganku dan kepalanya yang bersandar dibahuku, ternyata dokternya tidak datang."
Dimas melanjutkan ceritanya
" Aku terpaksa mengcancle banyak kerjaanku. Toko sedang butuh banyak perhatianku, dia menuntut diperhatikan juga dan kau... kau menuntut aku mengikuti apa mau nya. Aku capek Di... "
" Makan aja butuh waktu 3 jam lamanya duduk di restoran, berpura - pura menjadi pasangan bahagia selama 7 jam, kau pikir aku tidak capek?"
Aku menghentikan pijatanku,
" Aku hanya manusia biasa. Aku bukan robot. Kalian seperti sedang sekongkol untuk membunuhku pelan - pelan. Badanku letih, otakku penat, aku harus dan wajib membahagiakanmu dan mama, kalian berdua memintaku untuk membahagiakannya. Lalu, kapan aku bisa tenang menikmati kebahagiaanku."
Dimas menghantam sofa dengan tangannya. Ini sudah di luar batas kekuatannya, aku tau kalau dia sangat letih. Aku jadi merasa bersalah padanya.
Dimas berdiri dan berjalan menuju tempat tidur, langsung membaringkan tubuhnya dan menutup matanya. Aku berdiri dan menggendong Zya, memindahkannya ke box bayi.
Aku naik ke tempat tidur dengan perlahan, mendekatkan tubuhku ke Dimas yang berbaring menyamping memunggungiku. Aku lalu memeluk nya dari belakang, menciumi kepalanya dengan lembut.
" Maafkan aku sayang..."
Aku kembali mengecup kepalanya.
Dimas membalik tubuhnya dan menyamping menghadap padaku. Matanya basah, aku cepat mengusap wajahnya dan meletakkan kepalanya di dadaku. Dia terisak di sana, Dimas terlihat sangat rapuh hari ini. Aku membelai rambutnya dengan lembut.
" Terlalu banyak masalah hari ini Di... Maafkan aku."
Dimas memeluk pinggangku dan mengusap air mata di wajahnya.
" Nggak pa pa sayang... aku tau, aku mengerti."
ucapku sambil terus membelai rambutnya.
" Besok, kau bisa menyelesaikan pekerjaanmu seharian. Aku tidak akan mengganggumu."
Dimas diam
Kami langsung tertidur dengan posisi yang sama sampai pagi.
**
" Dimaaasss... aku sudah buat janji hari ini dengan dokterku. Aku bersumpah, kau temani aku ya..."
Dimas diam sambil menikmati sarapannya, mama menatap lama pada Dimas.
" Dimaaasss..."
" Aku akan menemanimu ke dokter hari ini Sis."
Mata Siska melotot kesal padaku.
" Nggak, Dimas junior hanya ingin ayahnya yang menemaninya ke dokter, bukan orang lain."
" Kalau begitu, sampaikan pada Dimas junior kalau papinya sangat sibuk hari ini. Kalau dia mau, mamanya yang akan mengantarkannya. Kalau tidak, tunggu sampai pekerjaan papinya selesai."
" Kenapa kami harus patuh padamu, memangnya kau siapa?"
" Aku ke toko Di.. Ma..."
Dimas berdiri dan mengecup keningku. Aku menemani Dimas keluar.
Setelah melihat mobil Dimas keluar dari gerbang, aku kembali ke ruang makan.
" Aku akan jemput saja Dimas di toko nanti, kau tidak boleh melarangku. Ini masih hariku."
__ADS_1
Siska langsung berdiri, hendak berjalan meninggalkan aku dan mama
" Kalau kau berani mengganggu pekerjaaannya, aku akan mengambil kembali hak ku semuanya."
Siska menghentikan langkahnya dan berbalik melangkah menuju meja makan.
" Kau juga perempuan Di, kau tau kalau perempuan hamil sangat butuh perhatian suaminya. Bukankah kau juga pernah merasakannya?"
" Pernah, tapi aku tak pernah memaksa suamiku untuk mencintaiku. Aku tidak pernah memaksanya untuk menemaniku kesana kemari hanya untuk mempertontonkan kemesraan palsu. Aku tidak pernah mengganggu pekerjaannya."
" Dimas sedang sibuk soal toko Sis, ini waktunya kau untuk mengerti keadaannya. Berikan dia ruang untuk dirinya sendiri, menyelesaikan kewajibannya yang lain selain kau."
" Aku tidak main - main dengan ucapanku. Kalau kau berani mengganggunya di toko, aku akan membawanya pergi sangat jauh darimu. Kau camkan itu."
Mama hanya menjadi penonton hari ini, tidak berani menyela atau mengomentari keadaan. Setelah Siska kembali ke kamarnya, aku mendatangi mama dan menceritakan keluhan Dimas tadi malam padaku. Mama merasa sedih dengan keadaan Dimas saat ini. Beliau juga melihat banyak keletihan pada putranya, tapi tak mampu menahan Siska untuk membuat Dimas selalu sibuk menemaninya.
***
Aku dan mama terkejut mendengar pintu rumah yang dibuka dengan kasar. Kami cepat berdiri memandang ke arah pintu. Aku cepat meminta bantuan Ratih membawa Zya ke taman belakang begitu melihat Dimas masuk ke rumah dengan wajah sangat marah.
" Dimas... Sakit... Lepaskan aku!"
Dimas menarik tangan Siska dengan kasar dan menghempas tangannya.
" Dimas!!"
Mama berteriak kepadanya, tidak suka dengan perlakuannya mengasari Siska yang sedang hamil.
" Perempuan ini datang ke toko, merengek - rengek hanya untuk ditemani minum kelapa muda di pantai. Pekerjaanku lagi banyak!!"
Dia lalu menatapku
" Aku sudah ceritakan semua padamu Di, kenapa kau tidak melarangnya pergi menemuiku?"
Aku terkejut mendengar pertanyaan Dimas. Ini kali pertamanya dia memarahiku di depan mama.
" Aku tidak tau kapan dia keluar Dim... Aku sibuk dengan Zya hari ini."
Jawabku membela diri.
" Dimas..."
Hatiku sakit sekali mendengar tuduhannya kepadaku. Tidak pernah terpikir sekalipun di otakku untuk melakukan itu.
" Dimas, tenang nak... tenang. Emosi tidak menyelesaikan semua masalahmu sayang."
Mama mencoba menenangkan Dimas
" Aku capek ma... Aku capek dengan semua ini. Sudah tidak ada lagi waktu untukku beristirahat dan bahagia. Semua hanya untuk menuruti kemauannya saja."
Dimas memukul - mukul kepalanya, dia terlihat sangat kacau dan depresi hari ini.
" Dimas berhenti!!"
Aku mengucapkan kata - kata itu berbarengan dengan mama.
Dimas berhenti memukul kepalanya, menatap tajam padaku dan Siska, lalu pergi meninggalkan kami, berjalan cepat ke kamar.
Aku langsung menatap Siska, dia benar - benar sudah menguji kesabaranku.
" Ternyata, kau sedang mengujiku Sis."
Aku menekan suaraku, menahan emosi.
" Aku sudah bilang kalau aku tidak main - main bukan?"
Siska menatapku dengan sangat marah,
" Dia juga suamiku, ayah dari anak yang ku kandung. Aku juga berhak menerima perhatiannya."
Siska pergi ke kamarnya, meninggalkan aku dan mama, yang sedang menunduk sedih.
****
__ADS_1
Aku memanggil Andi dan menanyakan apa yang sedang terjadi di toko akhir - akhir ini, sehingga membuat Dimas begitu depresi. Andi menceritakan beberapa hal yang mengganggu pikiran Dimas saat ini. 3 tokonya di bobol maling, salah satu toko besarnya di rampok salah satu kepercayaannya sendiri. Banyak kerugian yang dia dapatkan. Belum lagi om Wisnu, papa Siska yang selalu meminta untuk dikirimi uang dalam jumlah besar setiap minggunya. Beberapa toko terpaksa harus ditutup dan gulung tikar karena harga emas yang melonjak tinggi, membuat penjualan jauh menurun. Sekarang waktunya Tuhan memberikan ujian pada Dimas.
Aku mulai belajar beberapa hal soal toko dengan bantuan Andi. Memang sangat sulit buatku belajar di usiaku sekarang ini, tapi berkat kesabaran Andi, aku mampu mempelajarinya.
Kedai sarapan ku kembali membuka cabang di tempat ke 4. Reni sudah banyak sekali membantuku menghandle kedai, sehingga aku tidak perlu terlalu banyak turun tangan mengurusi kedai.
Beberapa CC aku tutup penggunaannya, untuk mengurangi pengeluaran bulanan. Agar Dimas tidak perlu kehabisan banyak uangnya untuk kebutuhan ku dan anak - anak. Lagipula, beberapa kartupun sangat jarang aku gunakan.
*****
Dimas
Aku mengernyitkan kening melihat beberapa laporan yang ada di tanganku. Beberapa masalah toko selesai dengan baik, bahkan masih bisa bertahan tanpa harus ditutup. Aku yang merasa belum menyelesaikan masalah toko - toko tersebut bingung. " Apa Andi yang membantuku menyelesaikannya?" tanyaku dalam hati. Karena hanya dia yang mengerti urusan toko selain aku.
Aku memanggilnya ke ruanganku dan menatap tajam padanya,
" Siapa yang memintamu membantuku menyelesaikan urusan toko?"
Andi membalas tatapanku dengan tenang.
" Tidak ada."
Dia menjawab santai
" Lalu, kenapa kau melakukannya? Kau juga sedang mengincar tokoku rupanya."
Aku mulai menaruh curiga padanya, lantaran sudah 1x aku dikhianati orang kepercayaanku yang membuat masalahku bertambah besar.
" Aku tidak melakukan apa -apa."
Dia masih menjawab dengan santai.
" Kau mulai berbohong padaku Ndi?"
Andi menggelengkan kepalanya.
" Lalu, siapa lagi yang menyelesaikan masalah toko - toko d pasar, yang rencananya akan aku tutup, malah sekarang keadaannya membaik. Padahal, aku belum mengerjakan apapun untuk menangani masalah di sana."
Aku menatap curiga pada Andi.
" Tanyakan istrimu."
" Di?"
Aku membeliakkan mata menatap Andi.
" Kenapa aku harus bertanya padanya, dia tidak tau apa - apa soal toko. Dia tidak pernah mau tau soal pekerjaanku. Kau jangan coba - coba mengadu domba kami Ndi!"
" Itu sebelum kau marah - marah hanya karena Siska memintamu menemaninya minum kelapa muda. Setelah itu, apakah kau berkomunikasi dengannya?"
Kata - kata Andi benar - benar sudah menamparku. Aku sudah lama tidak mengajak Di bicara setelah kejadian itu. Pergi ke toko pagi - pagi sekali dan pulang larut malam, langsung tidur karena otakku yang letih.
" Apa yang sudah Di lakukan beberapa minggu ini Ndi?"
Andi mengernyitkan keningnya dan tersenyum sinis
" Berulang kali mengucapkan kata cinta, tapi bisa melewatkan untuk tau apa yang istrinya lakukan, miris..."
Andi mengejekku sekarang.
" Di mu itu sudah menyiksaku beberapa minggu ini. Suatu hari aku akan menuntut kompensasi dari suaminya atas apa yang sudah dilakukan istrinya padaku."
Sekarang, aku yang bingung dengan kalimat Andi, aku masih menatapnya tajam, berharap penjelasan tambahan
" Dia memaksaku untuk mengajarinya memahami keadaan toko. Setiap hari, setelah kau tertidur, dia mulai penyiksaannya sampai menjelang subuh."
" Kau lihat saja ke rumah sekarang, dia pasti sedang tertidur karena semalam pun dia masih mengerjakan pekerjaanmu."
" Dia juga membantu beberapa keuangan toko dengan uang kedainya. Apa kau tau, kedainya sudah berkembang jadi 4 sekarang? Istrimu lebih gila kerja dan cari uang daripada kau Dim."
Aku menghempaskan tubuhku ke sandaran kursi. Menyesal sudah mendiamkannya beberapa minggu ini. Di sudah turun langsung membantuku, dan aku tidak menyadarinya.
Aku mengacak - acak rambutku, lalu bangkit
__ADS_1
" Kau pulanglah dan istirahat, maaf sudah menuduhmu berbuat curang. Aku hanya sedang dalam ketakutan mempercayai orang sekarang. Maafkan juga istriku yang sudah mengganggu jam istirahatmu."
Ucapku sebelum akhirnya pergi meninggalkannya, untuk pulang menemui Di.