
*
Aku tersenyum menyapa semua pegawai toko yang ada di sana dan duduk di salah satu bangku dekat etalase perhiasan. Aku tidak melihat si sintal di mejanya, tapi aku tidak perduli, aku lebih suka menikmati pemandangan perhiasan yang ada di depanku.
Tiba - tiba aku mendengar pintu ruangan yang ada di belakangku terbuka, dari cermin yang ada di sampingku aku bisa melihat si sintal keluar dari sana. Melihat kehadiranku, dia cepat - cepat berpura - pura merapikan pakaian dan rambutnya, lalu berjalan tersenyum dan melirik ke arahku seperti mengejek, tapi aku mengacuhkannya. Aku kembali memandangi perhiasan - perhiasan didepanku.
" Mana Dimas!"
Aku melonjak kaget dan melihat seorang badut berdiri di depanku, menatapku sombong. Aku mengedikkan bahu dan kembali menunduk ke etalase.
" Aku bertanya padamu, mana Dimas?"
Aku masih diam saja mengacuhkan, semua orang disana memperhatikannya.
" Hey, kamu... " dia menunjuk ke salah satu pegawai,
" Panggilkan bosmu!" katanya memberi perintah.
Si sintal datang dan berdiri di sampingku, aku masih diam menunduk
" Anda siapa? Apa tidak bisa bicara lebih sopan?" Si sintal bertanya dengan cara yang tak kalah " sopan" dari si badut.
" Aku calon istri bosmu."
Dia memulai halusinasinya. Si sintal memandanginya aneh,
" Apa anda yakin? atau hanya sedang berhalusinasi?" tanya si sintal setengah mengejek.
Mereka lupa kalau mereka sedang adu argumen di depan istri sah Dimas Arya.
Dimas tiba - tiba keluar dari ruangannya, terkejut melihat kehadiran si badut. Dia berjalan mendekati tempat dudukku, menyentuh lembut bahuku, lalu memberi kecupan di kepalaku. Dimas tidak pernah menunjukkan kepada siapapun kalau kami sedang ada masalah, dia selalu bersikap normal di depan orang, meski setelah itu akan kembali diam ketika kami sedang berdua saja.
" Kamu udah disini Di?" tanyanya lembut, aku menengadah menatap wajahnya dan tersenyum.
Dua wanita di depan dan samping kiriku nampak jengah dengan kemesraan yang kami perlihatkan, si sintal cepat kembali ke mejanya, sementara si badut melotot tajam padaku, tapi aku kembali mengacuhkannya.
__ADS_1
" Apa lagi ini Nadya???" tanya Dimas pelan menahan amarah.
" Dimaaasss... Kita harus bicara, ayolah sayang..."
Cuih... aku jijik mendengar cara bicaranya yang dibuat - buat.
" Ok."
Aku kembali menengadah, menatap wajahnya, " Ok katanya" kataku dalam hati. Si badut tersenyum penuh kemenangan.
" Bicaralah di sini, katakan apa maumu lalu pergi."
Hufffttt... ternyata... aku memindahkan tatapanku pada si badut. Wajahnya kembali merengut.
" Aku mau bicara berdua saja denganmu." katanya merajuk
" tidak bisa, bicara saja disini, didepan istriku." jawab Dimas tegas.
" Kau yakin mau bicara di depan istrimu?" tanyanya kembali seperti mengadu domba kami berdua.
" Ayo, silahkan bicara. Apa kau mau bilang kalau kau hamil dan sekarang sedang mengandung anakku?" tebak Dimas
" Dimaasss...." dia kembali menjawab manja
" Di depan semua orang disini, di depan istriku, aku bersumpah demi Tuhan kalau aku tidak pernah lagi menemuimu setelah apa yang kau lakukan padaku hampir 4 tahun yang lalu. Apa aku berbohong Nadya? Jawab!!" Aku kembali terlonjak kaget mendengar bentakan Dimas. Dia seperti sedang meluapkan kesalnya untukku kepada orang lain.
Seorang pegawai berdiri dan berinisiatif menutup rolling door toko, menyisakannya terbuka sedikit.
" Aku masih mencintaimu Dim... Aku minta maaf..." katanya lagi.
" Wanita ini benar - benar sudah kehilangan akal." pikirku.
" Aku sudah memaafkanmu dan melupakan semuanya, Ok." kata Dimas lagi
" Aku ingin kita perbaiki..."
__ADS_1
" Tidak!"
Dimas memotong cepat kalimat Nadya.
" Tidak ada yang perlu diperbaiki. Aku bersyukur karena sudah pernah kau sakiti. Biar semua tetap seperti ini."sambung Dimas
" Aku tahu kau masih mencintaiku Dimas... Jangan berbohong." tebaknya asal - asalan.
Dimas tertawa dan menggeleng - gelengkan kepalanya.
" Kau salah Nad.. Salah besar. Aku hanya mencintai perempuan ini Nad, hanya dia." kata Dimas sambil menyampirkan tangannya dibahuku. " Aku juga mencintaimu Dimas." kataku dalam hati.
" Aku tegaskan sekali lagi, di depan semua yang ada disini. AKU, DIMAS ARYA HANYA MENCINTAI ISTRIKU, DIRGANA PUTRI, DAN AKU HIDUP BAHAGIA BERSAMANYA DAN ANAK - ANAK KAMI!" Dimas berteriak - teriak seperti orang gila, sepertinya akan ada 2 orang wanita yang patah hati dan 1 orang wanita yang terharu mendengar kalimatnya tadi.
" Aku mohon... aku mohon Nadya... Berhentilah berbuat gila. Kau hanya mempermalukan dirimu sendiri. Di tahu semua ceritaku, tak ada yang ku tutup - tutupi padanya, bahkan setiap jengkal tubuhku pun dia tahu, percuma kalau kau ingin menghancurkan hubungan kami dengan cara mengarang cerita." Nada suara Dimas sudah mulai pelan sekarang.
Nadya menunduk, dia menangis.
" Tidak adakah 1 kesempatan lagi untukku Dim??" Dia kembali mengajukan pertanyaan bodoh.
" Tidak Nad... tidak ada dan tidak untuk siapapun. Aku sudah mendapatkan semua dari istriku, aku mau cari apa lagi dari kau atau wanita lain? "
Dimas dengan tegas menjawab pertanyaannya,
" Kau bilang kau menyayangiku, istriku sudah memberikan kasih sayangnya, dia tidak menuntut soal uang, bahkan dia mencari uang sendiri, dia hebat di ranjang... Oh... maaf, sangat hebat, kalian tidak akan tahan kalau aku ceritakan bagaimana dia memperlakukanku di ranjang, dan dia setia. Lalu apalagi? apa lagi yang harus aku cari dari wanita lain?"
Nadya mulai menangis terisak - isak, aku tiba - tiba merasa iba padanya. Tapi, Dimas memang harus tegas menolaknya agar dia berhenti menggila seperti tadi.
" Pulanglah Nad, terima semua perubahan ini, percuma saja kau tergila - gila pada seseorang yang jelas - jelas sudah tergila - gila pada orang lain. Kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri."
Nadya mulai mundur perlahan dari tempatnya tadi berdiri, masih terisak - isak menangis, lalu melangkah keluar toko dan hilang. Dimas menghembuskan nafas pelan, tenaganya habis terpakai untuk mengungkap perasaannya.
" Kita pulang sekarang yank... aku capek." katanya kemudian, aku mengangguk.
Dimas meminta pegawainya untuk menutup toko dan mengizinkan mereka pulang lebih awal, semua pegawai langsung menuruti. Dimas langsung mengajakku pergi meninggalkan toko yang sudah tutup.
__ADS_1
Tiba - tiba saja aku merasa kasihan padanya, tubuhnya nampak semakin kurus. Aku sudah membuatnya benar - benar letih, " Maafkan aku sayang." kataku dalam hati.