
*
Kejadian kemarin sudah membuatku benar - benar merasa bersalah, aku memesan taxi on line dan berencana akan ke toko menemui Dimas lebih awal. Syukurnya hari ini daganganku habis lebih cepat.
" Ren... Aku ke toko dulu ya... Nanti balik lagi, kalian siapkan untuk pesanan besok, Ok." Kataku pada Reni yang sedang duduk memotong - motong sayuran.
" Dapat lembur kan ya??" katanya tersenyum
" Itu pasti... Nanti aku sekalian bawa makan malam, gak usah beli. Sampaikan pada tek Ra dan Dita ya."
Reni tersenyum senang, setidaknya dia akan dapat upah lebih besok dan hari ini dia tidak perlu keluar uang untuk makan malam.
Aku cepat naik ke taxi on line yang sudah menunggu, taxi pun mulai melaju.
Perutku sudah nampak membesar, beberapa pakaian pun sudah tak muat. Huffft... Aku mengelus perutku dengan lembut.
**
Setibanya di depan toko, aku melihat rolling door yang tertutup. Sama seperti kemarin, " apa Nadya datang lagi?" pikirku. Aku masuk dan melewati pintu yang terbuka sedikit. Semua mata tertuju padaku begitu aku masuk. Aku melihat wajah semua pegawai toko, mereka seperti orang yang ketakutan. Aku berjalan masuk hendak ke ruangan, baru saja memegang handle pintu, tiba - tiba seseorang membuka pintu dengan kasar dan keluar dengan wajah marah. Dia hampir saja menabrakku, aku cepat menutup perutku dengan tangan. Ada sebuah suara tangisan dari dalam, aku yakin sekali itu suara si sintal. Apa yang terjadi?
Dimas menyambut kedatanganku, menggeser laki - laki yang berdiri di dekatku, melakukan hal yang selalu dia lakukan ketika bertemu denganku. Aku menatap wajahnya, berharap dia mau bercerita apa yang sedang terjadi. Dimas hanya diam dan membawaku masuk ke ruangannya. Si sintal masih menangis sesunggukan di dalam, sambil menunduk.
Dimas mengantarkanku duduk di sofa, lalu dia kembali ke tempat duduknya menghadap si sintal.
" Aku harap kau belajar banyak dari kesalahanmu Sil, itu saja. Bereskan barang - barangmu segera." Dimas memberikan perintah.
" Tapi saya masih membutuhkan pekerjaan pak... tolong maafkan saya." katanya memelas
" Kalau tahu butuh pekerjaan, seharusnya kau menjaga sikap Sil. Aku benar - benar tidak menyangka kau senekat itu!" Laki - laki yang hampir menabrakku tadi ikut bicara, dia masih berdiri di pintu masuk ruangan yang terbuka.
" Aku tidak mau tahu Sil, aku hanya sedang menjaga kepercayaan seseorang. Kalau kau masih disini, aku tidak tahu hal apa lagi yang akan kau lakukan nanti. Aku tidak mau hubunganku dengan Edo jadi rusak karena masalah ini. Silahkan keluar."
Silvia menangis keras dan erlari ke arahku, duduk bersimpuh didepanku, aku kaget lalu memundurkan tubuhku, sehingga aku duduk dengan sangat tegak sekarang.
" Buk... tolong saya buk... Jangan biarkan saya dipecat." Ini kali pertamanya dia memanggilku ibu, aku bingung harus berkata apa. Dia menangkupkan tangan didepan dadanya, memohon.
" Maaf... saya bukan pimpinanmu. Saya tidak punya hak ikut campur dalam masalah ini." kataku kemudian.
Dia menunduk pasrah, menutup wajahnya dengan kedua tangannya, masih menangis.
" Sudah cepat, kemasi barang - barangmu. Kau sudah membuatku malu." Laki - laki itu kembali buka suara.
Si sintal melepaskan tangannya, berdiri dan berjalan perlahan keluar ruangan.
" Maafkan atas semua kekacauan ini Dim, aku benar - benar tidak percaya dia berani melakukan ini padamu, sekali lagi aku minta maaf." Laki - laki itu nampak sangat menyesal, Dimas hanya tersenyum, berdiri dan berjalan mendekatinya, lalu menepuk bahunya.
__ADS_1
" Untungnya ruangan ini punya CCTV,"
Mataku membesar karena kaget, berarti selama ini kegiatanku dan Dimas juga terekam, astaga...
" Jadi aku punya bukti yang kuat untuk menjelaskan semuanya padamu."
Mereka lalu keluar bersama, sekitar satu jam Dimas berada di luar, lalu masuk lagi ke ruangan, menutup pintu dan berjalan mendekatiku.
Dia duduk menghempas tubuhnya disebelahku, lalu berbaring dan meletakkan kepalanya di pahaku.
" Aku lelah, jangan menjauh dariku. Aku membutuhkanmu." katanya, lalu menutup mata.
Aku diam tak menjawab, tidak pula menjauhkan tubuhku darinya. Aku meletakkan tangan di atas kepalanya dan membelai rambutnya dengan lembut. " Maafkan aku sayang..." kataku dalam hati. Ku sandarkan kepalaku dan menutup mata, aku juga sudah lelah menghindarinya beberapa hari ini.
**
Aku melihat ke layar di laptop Dimas dengan mata membesar dan perasaan kesal. si sintal nampak mendekati Dimas yang berbaring di sofa. Dia duduk di bawah, memperhatikan wajah Dimas yang tertidur, wajahnya diletakkan sangat dekat dengan wajah Dimas. Tiba - tiba Dimas duduk dan nampak kalau dia sedang marah, mereka nampak beradu argumen, lalu si sintal berdiri dan menangis, menarik - narik baju kaos dan rok ketatnya. Dia bahkan menambah panjang robekan di pahanya, mengacak - acak rambut dan wajahnya. Lalu beberapa pegawai masuk, Dimas berdiri dan berjalan ke mejanya, mengambil HP dan seperti sedang menelpon seseorang.
***
" Sejak kapan kau memasang CCTV di ruangan ini Dim?" Tanyaku padanya, yang sedang asyik mengunyah makanan.
" Sejak aku merasa ada yang aneh padanya. " Dimas menjawab santai.
" Hmmmm... perhatian yang bagaimana?" tanyaku hati - hati. Dimas melirikku sebentar, lalu kembali pada makanannya.
" Gak usah di bahas, yang penting semua sudah selesai." jawabnya.
" Dim...." aku memanggilnya pelan
" Hmmm..." jawabnya
" Badanku bertambah besar." kataku sambil memegang perut.
Dimas tersenyum, " lalu?"
" Bajuku sudah banyak yang sempit, aku susah bergerak." kataku menjelaskan.
" Ya udah, kita ke toko pakaian setelah ini." Jawabnya, aku mengangguk.
" Dim..." aku memanggilnya lagi
" Hmmmm...."
" Temani aku lembur di kedai ya?" pintaku memelas.
__ADS_1
" Emang bosmu memberimu banyak pekerjaan?" katanya menyindir dan kembali tersenyum
" Besok ada pesanan, 100 bungkus." jawabku.
" Iya... iya... " jawabnya pendek
" Dim...." lagi - lagi aku memanggilnya.
Dia menatapku dengan mata melotot
" Apakah kau mencintaiku?"
Dimas meletakkan sendok yang dia gunakan, meminum habis air minumnya, lalu mengubah posisi duduknya sehingga berhadapan denganku.
" Iya, aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu, dan aku sakit kau diamkan. Apa kau tau itu?" jawabnya kesal, aku menunduk ketakutan melihat cara bicaranya yang keras.
" Aku hanya mengajakmu ngobrol soal ranjang, waktu itu. Kenapa kau pikir aku menuduhmu mencari laki - laki lain? Itu pikiran terbodohmu selama kita menikah, dan aku membenci itu." Dimas mulai mencurahkan perasaan kesalnya.
" Maaf Dim..." kataku sedih, sedih sekali rasanya dibentak seperti ini oleh orang yang kita sayangi.
" Memaafkan soal mudah Di, tolong berubahlah." pintanya
" Iya Dim... Maaf..." Lagi - lagi hanya kata maaf yang dapat aku sebutkan, aku benar - bemar menyesal.
Dimas bangkit dan berjalan keluar ruangan, dia tidak menyentuhku sama sekali kali ini. "Semarah itu kah dia padaku" tanyaku dalam hati. Aku merasa benar - benar sedih, aku menunduk dan menangisi keadaan ini.
****
Setelah selesai membeli beberapa pakaian, aku dan Dimas langsung ke kedai. Teman - temanku nampak sudah duduk ngobrol sambil menunggu kedatanganku. Mereka cepat berdiri ketika melihat Dimas datang bersamaku karena mereka sangat segan pada Dimas.
Karena pekerjaan mereka sudah selesai dan besok kami harus datang lebih pagi ke kedai, aku langsung meminta mereka pulang dan beristirahat. Mereka pun pulang membawa serta makan malam mereka yang tadi sudah aku beli.
" Kau tidak beli makanan yank?" tanya Dimas pelan, sambil tetap fokus pada jalanan di depan kami, senang sekali rasanya mendengarnya menyebutkan kata sayang lagi padaku.
" Hmmmm... apa ya??" kataku berpikir agak lama.
" nggak usah lah Dim, kita pulang saja. Aku lagi gak mau makan." kataku memutuskan
" Lalu kau mau apa?" tanyanya lagi.
" Aku mau suamiku malam ini. Aku butuh imun untuk besok." Dimas memalingkan wajahnya dari jalanan sebentar, melihatku yang sedang mengerling nakal padanya. Dimas tersenyum menggeleng - gelengkan kepala.
*****
Kami berbaring berpelukan, melepas kerinduan, menemukan cinta dalam peraduan. Aku tak berhenti memberikan ciuman di wajahnya. Rasanya seperti kami sudah lama tak bersua. Dimas hanya diam dan pasrah saja, tanpa melepas senyumannya.
__ADS_1