Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap

Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap
UJIAN UNTUK DIMAS


__ADS_3

*


Author POV


Dimas terbangun oleh gerakan tangan Di di kepalanya. Dimas mengerjapkan matanya, memastikan kalau yang dilihatnya adalah benar. Di kembali menggerakkan tangannya, Dimas cepat memencet tombol yang ada di dinding berkali - kali. Tak lama dokter dan beberapa perawat datang.


" Di bangun dok, dia bergerak tadi."


Dokter dengan sigap langsung memeriksa keadaan Di, kesibukan di dalam kamar membangunkan semua orang yang sedang menunggui Di.


" Ma... Di haus..."


Deg, jantung Dimas serasa berhenti. Di tidak memanggil namanya, mama Di datang mendekati


" Iya nak, sebentar ya."


Mama menangis terharu melihat Di yang sudah bangun.


" Istri anda sudah sadar pak, tapi jangan diajak bicara dulu ya. Biarkan dia beristirahat dulu."


Dimas mengangguk, masih bertanya - tanya di dalam hati, " Kenapa bukan aku yang dipanggilnya?"


" Ma..."


Di kembali memanggil mama, mama cepat mengambil gelas berisi air putih dan menyendokkannya perlahan ke mulut Di.


" Udah ma."


Mama berhenti menyuapi Di, meletakkan kembali gelas tadi.


" Anak - anak udah pulang sekolah ma?"


Mama dan Dimas saling melempar pandangan,


" Udah Di.. Udah."


" Kepala Di sakit ma, ingatkan mereka pergi ngaji ya ma."


Mama mengangguk, menutup mulutnya untuk menahan tangis sambil menatap Dimas. Dimas terdiam, Di tidak menanyakannya. Di melupakannya.


Dirgana melanjutkan tidurnya, Dimas melangkah keluar kamar dan duduk di bangku pengunjung di depan kamar. Hatinya bahagia, sekaligus sakit melihat Di yang sudah sadar tapi tak menanyakannya.


Mama Di ikut keluar dari kamar dan duduk di samping Dimas.


" Kamu sabar dulu ya Dim, Di belum sepenuhnya bangun."


Mama Di tau benar perasaan anak menantunya, tapi dia juga tidak bisa berbuat apa - apa.


**

__ADS_1


Di membuka matanya, mengedarkan pandangan pada tempatnya berada saat ini, lalu mencoba bangkit untuk duduk, tapi kemudian berhenti karena kepalanya terasa sakit.


" Di, kau tidak apa - apa?"


Dimas yang baru keluar dari kamar mandi, langsung datang mendekat begitu melihat Di yang menahan sakit sambil memegang kepala. Di menoleh pada Dimas dan melotot


" Anda siapa? Ma... Iza... Azi..."


Deg, Di benar - benar melupakannya


" Di, ini bukan waktu yang tepat untuk bercanda."


" Kepalaku sakit, kau bilang aku bercanda. Ehhh.."


Di kembali memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit. Dimas menekan kembali tombol di dinding. Dokter dan beberapa perawat masuk dan mendekat pada Di. Dimas perlahan mundur menjauh,


" Mama saya mana dok? Anak - anak saya tadi di sini."


" Mereka sedang pulang untuk beristirahat bu, sudah 2 malam menunggui ibu. Suami ibu kan masih disini menemani."


Di memukul dada dokter dan menatapnya tajam.


" Hati - hati kalau bicara dok, kalau mantan suami saya kesini, saya akan siram dia pakai air keras."


Dokter dan perawat menatap Di dengan bingung, lalu menoleh pada Dimas yang masih shock tertunduk.


" Oh.. Ok bu, maaf kalau begitu. Ibu beristirahat dulu ya, saya akan hubungi mama dan anak - anak ibu untuk memberikan kabar kalau ibu sudah bangun."


" Bisa kita bicara di luar pak Dimas?"


Dimas mengangguk pelan, lalu melangkah keluar kamar.


***


Setibanya di luar kamar perawatan Di, Dimas melihat mama Sandra dan Andi yang sedang berjalan ke arah kamar Di. Dimas cepat menghentikan langkah mama dan mengajak beliau mendengar penjelasan dokter.


" Begini pak Dimas, ibu Sandra. Saya rasa Di mengalami amnesia."


Deg, jantung Dimas seperti benar - benar berhenti berdetak. Mama Sandra menatap tajam pada dokter dan cepat memegang tangan Dimas untuk menguatkannya.


" Di gak kenal Dimas ma."


Mama menoleh pada Dimas, terenyuh melihat kesedihan di wajah anaknya


" Tapi bisa sembuh kan dok? gak parah kan?"


Mama Sandra mulai memberondongi dokter dengan pertanyaan


" Bisa, tapi keluarga harus membawanya kembali ke keadaan saat ini dengan pelan - pelan. Jangan di paksakan. Akibatnya akan sangat berpengaruh pada otaknya, ibu Dirgana bisa melupakan semuanya."

__ADS_1


Dimas menyandarkan tubuhnya yang terasa lemas ke dinding rumah sakit, mama menutup mulut menahan tangis atas kesedihan anak dan menantunya. Dimas baru kembali, sekarang Di yang menjauh.


Mama Sandra mengucapkan terimakasih atas penjelasan dokter tadi, sekaligus meminta perawatan terbaik untuk Di. Dokter lalu meninggalkan mama dan Dimas sambil menatap iba pada Dimas yang terlihat sangat terpukul.


****


Mama sandra memberanikan diri masuk ke kamar perawatan Di, Dimas mengikuti dari belakang. Di yang sedang terbaring, menoleh cepat ke arah mama Sandra.


" Ibu... Ibu kenapa di sini? Ibu mau saya antarkan pulang lagi?"


Mama Sandra bernafas lega, Di masih mengingatnya, tapi hanya sebatas mengingat perempuan tua yang dia antarkan pulang karena baru kecopetan.


" Nggak sayang... Ibu datang mau lihat keadaan kamu. Bagaimana keadaan kamu sekarang?"


Mama Sandra sangat hati - hati bicara saat ini. Di tersenyum, Dimas cepat membuang wajahnya, menghindari hanyut dalam senyuman itu.


" Kepala Di masih sakit bu, sedikit."


Lagi - lagi Di tersenyum


" Dia siapa?"


Mama Sandra cepat menoleh pada Dimas, Dimas memalingkan wajahnya ke televisi yang berada di dinding depan tempat tidur Di.


" Owh, ini anak mama.. eh anak ibu Di. Dimas Arya, Dimas... ayo kenalan dengan Di."


Dimas maju dan menyambut tangan Di yang sudah menjulur di hadapannya. Rasa hangat dari tangan Di menjalar ke seluruh tubuh Dimas, dengan penuh keberanian dia menatap mata Di yang juga sedang menatapnya, Di diam, ekspresinya berubah begitu melihat tatapan Dimas. Di cepat melepaskan tangan Dimas dan membuang wajahnya. Wajah Di tiba - tiba bersemu merah, seperti seorang anak gadis yang sedang jatuh cinta. Mama Sandra langsung mendapatkan ide untuk menggiring Di mengingat Dimas, meski harus pelan - pelan. Kalau dulu dia bisa membuat mereka menikah, maka sekarang dia akan melakukannya lagi.


" Baiklah Di, ibu permisi dulu ya. Jaga diri dan kesehatanmu ya nak."


Mama Sandra mendekati Di dan memberikannya pelukan dan sebuah ciuman di keningnya.


Dimas cepat membalik badan dan melangkah keluar kamar, mama Sandra mengikuti langkahnya dari belakang.


*****


Mama Sandra mengajak semua anggota keluarga, termasuk asisten rumah tangga, supir dan baby sitter berkumpul di rumah Dimas dan Di. Mereka mengatur rencana dan membuat banyak perubahan untuk membuat Di bisa mengingat kembali kehidupannya yang sekarang. Iza dan Azi terpaksa harus kembali ke rumah neneknya, mama Di.


" Kamu sabar ya Dim, tolong jangan tinggalkan Di."


Mama Di datang mendekati Dimas yang duduk di pinggir kolam renang.


" Mama jangan khawatir, Dimas gak akan ninggalin Di dalam keadaan apapun."


Dimas mengambil tangan mama Di dan mencium punggung tangan mama Di. Mama Di menangis, sedih melihat keadaan anaknya, sedih memikirkan nasib Dimas dan 3 anak mereka yang lain.


Dimas mengangkat kepalanya dan tersenyum,


" Setidaknya Di disini, berada dekat dengan Dimas dan anak - anak yang masih sangat membutuhkannya."

__ADS_1


Mama Di mengangguk, beliau percaya Dimas akan menjaga Di.


__ADS_2