
Author POV
*
Di dan Iza sedang menunggu Dimas mengurus administrasi rumah sakit untuk membawa pulang Iza. Anak itu menunduk takut pada Di, merasa sangat bersalah atas apa yang sudah terjadi. Di hanya duduk menatap televisi di depannya, dia sudah mempersiapkan semua barang - barang Iza, hanya menunggu Dimas selesai saja.
Tak berapa lama, Dimas masuk ke kamar. Dimas dengan cepat memperhatikan adanya jarak antara Di dengan Iza. Mereka bahkan tak saling bicara sejak kejadian malam itu.
" Sudah siap kak?"
Iza menoleh pada Dimas, lalu mengangguk pelan.
Di nampak berdiri dan mengambil beberapa tas Iza, Dimas melangkah mendekatinya.
" Di."
Di menoleh pada Dimas, lalu membalas tatapannya.
" Aku yang bersalah, jangan hukum dia seperti ini."
Dimas mengucapkannya dengan sangat pelan
" Aku hanya ingin dia tau, kalau aku tak menyukai caranya bergaul."
Di menjawab dengan nada yang sengaja dikeraskan, agar Iza mendengar. Iza kembali menundukkan kepalanya.
" Aku yakin dia sudah tau sekarang."
Di menghela nafas berat
__ADS_1
" Aku mohon yank."
Di kemudian menepis tangan Dimas yang ingin menyentuhnya, lalu beranjak menjauh dari Dimas. Di melangkah ke pintu sambil mengangkat tas Iza.
" Kalau ini terjadi lagi, aku akan pasrahkan saja nasibmu pada Tuhan. Aku tak akan pernah mencarimu. Terserah papamu mau mencarimu atau tidak, tapi aku tidak. Aku tidak perduli."
Iza menangis tersedu, belum pernah dia melihat mamanya semarah dan sekecewa ini padanya. Iza merasa sangat menyesal.
" Kau berlebihan sekali."
Di tiba - tiba berbalik badan menatap tajam pada Dimas
" Ya, aku memang berlebihan. Aku saja tersiksa dengan sikap berlebihanku ini."
" Aku berlebihan mencintai kalian, sehingga aku sendiri merasa tak sanggup memikirkan bagaimana aku jika salah satu dari kalian pergi dariku."
" Tapi nampaknya, semakin aku mencintai kalian, semakin besar pula cara kalian ingin jauh dariku. Termasuk kau Dimas."
Dimas membalas tatapan tajam Di
" Aku sudah minta maaf Di, aku juga tak melakukan apa - apa."
" Tapi kau berusaha mencari ketenangan bersama orang lain."
" Karna kau mengacuhkan aku. Kau tau aku sangat bergantung padamu, tapi kau mengacuhkan itu."
" Dewasalah Dimas... Ada kalanya aku tak mampu membagi kosentrasiku. Tolong kau mengerti di saat - saat seperti itu."
Dimas dan Di saling beradu tatapan tajam, Dimas tak mau menjawab lagi karena hanya akan memperkeruh suasana. Dia juga tak mau Di semakin mendiamkannya.
__ADS_1
" Maaf Iza mama.. papa.. Iza janji gak akan mengulanginya lagi."
Dimas menoleh pada Iza, seketika merasa iba melihat anak gadisnya itu. Sementara Di hanya diam, tak mengacuhkan sama sekali permintaan maaf Iza.
" Anakmu sedang meminta maaf, tak bisakah kau keluarkan suaramu sedikit untuk meresponnya?"
Di tetap diam
" Kau boleh mendiamkan aku, kau boleh marah dan murka padaku. Aku tau, ini semua salahku. Tapi tolong, maafkan dia."
" Aku masih kecewa padanya, aku tak mau bicara padanya."
" Kau kembali kekanak - kanakkan Di."
" Dia anakku, biar itu jadi urusanku."
Seketika emosi Dimas memuncak,
" Dia juga anakku, kau lupa Di!"
Di melonjak kaget, begitu juga Iza. Suara Dimas menggelegar, belum pernah Dimas sekasar itu bicara pada Di.
" Jangan kau coba - coba memutuskan hubunganku dengan anak - anakku. Kau yang memintaku untuk mencintai mereka, setelah aku mencintai mereka dengan sepenuh hati, kau seenaknya mengubah semuanya."
Dimas berjalan mendekati Iza yang masih menangis, lalu membantunya turun dari tempat tidur.
" Ayo kak, kita pulang."
Dimas dan Iza melangkah keluar kamar berdua, melewati Di yang hanya diam terpaku. Mereka berdua mengacuhkan keegoisan dan kemarahan Di saat ini, berlalu tanpa memperdulikannya.
__ADS_1