Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap

Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap
BERTEMU DIMAS ARYA


__ADS_3

Pengusaha emas sukses dengan puluhan toko yang sudah tersebar di beberapa kota di Sumatera Barat. Beberapa toko adalah milik ayahnya yang sudah meninggal, tapi di tangannya, usaha ayahnya berkembang.


*


" Dimas ke Bukittinggi 2 hari ma." ujar Dimas sambil menyendokkan nasi goreng ke atas piringnya.


" Sendirian?" tanya mama yang asyik mengupas apel sambil menemani Dimas sarapan.


" Sama Andi lah, mau pergi sama siapa lagi." jawabnya santai. Andi adalah sahabat sekaligus orang kepercayaannya dalam menjalankan bisnis selama ini.


" Gak sama Nadia kan?" tanya mama lagi, tanpa menghentikan kegiatannya mengupas apel. Dimas tercekat, langsung menyambar gelas berisi air putih yang ada di samping piringnya. Mama langsung melirik ke arahnya, membuatnya jadi salah tingkah.


" Kesuksesan hanya titipan Dim, semua akan hilang kalau kau melakukan hal - hal yang di larangNya." Mama berkata santai, memasukkan satu persatu buah apel yang sudah selesai dia kupas dan potong - potong menjadi bagian - bagian kecil, ke dalam mulutnya. Dimas diam.


Dimas banyak diam sejak berpamitan pada mama sebelum berangkat, Andi yang tidak mau mengganggu juga diam saja dan fokus pada jalanan di depannya. Mata Dimas tertuju pada sebuah motor yang berada di depan mobilnya saat lampu merah. Dia seperti pernah melihat motor itu, tapi lupa dimana. Seorang perempuan berjaket hijau khasnya pengemudi ojol yang mengendarainya, sekejap dia tersadar, motor ini yang mengantarkan mama pulang beberapa hari yang lalu.


" Ini uni yang mengantarkan mama pulang kemarin bukan ndi?" tanyanya pada Andi.


Andi melihat ke arah yang ditunjuk Dimas.


" Kayaknya sih iya Dim." jawabnya ragu.

__ADS_1


Lampu merah berubah menjadi hijau, semua kendaraan yang tadinya berhenti mulai jalan kembali. Tapi, motor yang berdiri di depannya tidak. Dimas dan Andi hanya diam memperhatikan, tampak perempuan yang mengendarai motor itu tiba - tiba turun dan mendorong motornya ke sisi jalan. Dia kesulitan meminta ruang kepada pengendara lain untuk untuk menepi sambil mendorong sendiri motornya, Dimas dengan cepat turun dari mobil.


" Tunggu gua di depan ndi." perintahnya, menutup pintu mobil dengan cepat, mengejar dan mengambil alih mendorong motor. Sementara si perempuan mengangkat tangan kirinya meminta ruang untuk menepi kepada kendaraan - kendaraan lain.


" Kenapa uni?" tanya Dimas setelah sampai di sisi jalan dan menegakkan motor tersebut, perempuan itu menaikkan bahunya tanpa membuka masker yang menutupi setengah bagian dari wajahnya. Keningnya sudah berkeringat, dia mengatakan sesuatu, tapi Dimas tidak bisa mendengarnya dengan jelas, karena mulutnya yang tertutup masker. Dimas memberikan tanda untuk menurunkan maskernya, perempuan itu menuruti.


" Tadi masih nyala, tiba - tiba aja mati." Fix, dia benar, ini perempuan yang sudah mengantarkan mama pulang beberapa hari yang lalu.


" Gimana Dim?" Andi datang menghampiri,


Dimas mencoba menekan starter motor itu, tidak nyala. Menekan klakson, berbunyi. Dia lalu mencoba menyalakan mesin motor dengan di engkol, berhasil. Perempuan itu bernapas lega.


" Iya.. iya... terimakasih banyak. " jawab perempuan itu sambil menangkupkan tangan di depan dada.


Dimas dan Andi menganggukkan kepala sambil tersenyum, lalu berbalik badan untuk kembali ke mobil. Tapi, Dimas tiba - tiba berbalik lagi ke arah perempuan tadi, ada yang terlupa, namun perempuan itu sudah tidak ada lagi di sana. Dimas menghela napasnya, dia benar - benar lupa sesuatu. Dimas melanjutkan kembali langkahnya menuju mobil untuk melanjutkan perjalanan ke Bukittinggi.


**


" Kenapa Di?" mama langsung menyambut kepulangan Di dengan pertanyaan. Masih sore, tapi dia sudah memutuskan untuk pulang.


" Mogok tadi ma. Tiba - tiba mesin motor mati dan gak bisa di starter... hufttt..." jawabnya lemah.

__ADS_1


" Trus?" tanya mama lagi.


" Ganti aki, habislah simpanan." jawabnya lagi. Mama hanya tersenyum.


" Anak - anak udah pulang ngaji ma?" tanyanya.


" Belum, kalau udah pulang pasti udah ribut lah lihat kamu pulang cepat." jawab mama.


" Udahlah, makan sana, istirahat." sambung mama, aku hanya menjawab dengan anggukan lemah dan melangkah menuju kamar mandi. Tubuhku benar - benar lengket, aku mandi dan mengganti pakaianku. Mencuci jaket yang ikut basah oleh keringat dan langsung menjemurnya. Untung saja tadi ada orang baik yang menolongnya mendorongkan motor. " Ups, tunggu... Rasanya aku pernah bertemu dengannya, tapi... dimana ya... arrgghhh!" otak Di nampaknya sudah terlalu letih sehingga tak bisa mengingat siapa laki - laki yang sudah menolongnya tadi.


" Mamaaaa!!!" teriakan dua bocah itu mengagetkan aku, mereka langsung memelukku.


" Mama udah pulang, jalan - jalannn..." Azi si bungsu merayuku. Bahagia mereka sangat sederhana, tapi itupun kadang tak mampu aku berikan.


" Iya ma... jalan - jalan yok..." Iza si sulung ikut merayu.


" Mama makan dulu ya, kalian udah makan?" tanyaku yang cepat di jawab dengan anggukan.


" Selesai mama makan, kita jalan - jalan ya." Azi kembali memastikan.


" Iya.. iya... Gantilah pakaian dulu." ujarku. Mereka berteriak girang, berlari masuk ke dalam rumah dan cepat mengganti pakaian. Aku mengikuti langkah cepat mereka dari belakang, sementara di dalam rumah suara mereka mengalahkan suara sinetron di TV yang sedang ditonton neneknya. Berkali - kali si nenek meminta mereka mengecilkan suara, tapi tetap saja suara mereka berdua memenuhi ruangan. Seolah - olah mamaku sedang menonton istri muda dan istri tua sedang merayakan kematian suaminya bersama - sama.

__ADS_1


__ADS_2